Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 38: Rahasia dan Rahasia


__ADS_3

“Kelak berhati-hatilah jika Janda Selir Sun memanggilmu ke istana,” ucap Baili Qingchen kepada Qingyi saat mereka berada di dalam kereta kuda.


“Oh? Mengapa?”


“Orang istana tak sesederhana yang kau pikirkan.”


Tidak perlu dikatakan oleh pria itu. Qingyi pun jelas tahu tentang hal itu. Orang-orang istana memang tidak sederhana, tetapi merupakan orang-orang yang punya muka dua dan pemikirannya susah ditebak.


Namun, yang membuat Qingyi tertarik ialah perkataan awal Baili Qingchen. Jika dipikirkan, sepertinya hubungannya dengan ibunya itu juga kurang baik. Jika tidak, dia tidak mungkin akan mengatakan itu.


“Termasuk kau?” tanya Qingyi.


“Apa maksudmu?”


“Jangan berpura-pura. Kau juga berasal dari sana.”


“Aku sudah keluar bertahun-tahun.”


“Yah, siapa tahu. Kau seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.”


Baili Qingchen justru berpikir kalau Qingyi-lah bom waktu sebenarnya. Seberapa banyak rahasia gadis ini, seberapa mendalam pemahamannya terhadap semuanya, seberapa banyak yang ia tahu, Baili Qingchen sampai saat ini belum bisa mengukurnya.


Qingyi mengatakan apa yang ingin ia katakan, melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa memperhatikan yang lain. Jika begini terus, itu akan berbalik mencelakai dirinya sendiri.


Baili Qingchen sudah menduga kalau ibunya akan memanggil Qingyi ke istana untuk melihat seberapa tidak sopannya gadis itu. Di depan istri-istri kaisar dari tiga generasi, ibunya mencoba mengujinya dengan meminjam tangan Kaisar Baili.


Baili Qingchen menduga kalau gadis itu akan menyerah, namun siapa yang menyangka tindakannya justru mencengangkan. Dia membuat semua orang tidak bisa berkata-kata karena kelugasan dan kejujuran perilakunya.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Qingchen.


Entah mengapa ia merasa kalau gadis ini mengetahui sesuatu yang tidak pantas diketahui orang lain tentangnya.


Qingyi menyilangkan lengannya di dada. Sejak pergi ke Xizhou, Baili Qingchen telah melakukan banyak hal untuknya. Ketidakpeduliannya sebelumnya berubah menjadi ikut campur yang menurut Qingyi terlalu berlebihan.


Pria itu banyak mencampuri masalahnya, padahal Qingyi bisa menyelesaikannya sendiri. Semakin hari, Qingyi semakin merasa aneh karena pria itu bersikap tidak biasa. Selain lebih banyak bicara, dia juga sering menemuinya meski tanpa disengaja.


“Kau punya banyak rahasia,” jawab Qingyi.


Baili Qingchen tidak menanggapi. Ia memejamkan matanya sepanjang perjalanan pulang. Qingyi tersenyum misterius. Sekali lagi, ia menemukan keanehan. Pria berkuasa dan berpengaruh seperti Baili Qingchen juga tidak sederhana.


Pikirannya tertuju pada permasalahan utama pria itu: hobinya menyukai pria. Semakin dipikirkan, Qingyi jadi semakin penasaran.


“Kau yang membuat Kaisar mengembalikan semua jatah bulanan mansionku secara penuh?” tanya Baili Qingchen.


“Kenapa? Kau ingin berterima kasih padaku?”


“Bagaimana caramu melakukannya?”


“Kau ingin tahu? Kalau begitu, katakan dulu rahasiamu baru akan kuberitahu.”


Baili Qingchen memalingkan wajah. Tawar menawar seperti ini tidak akan berguna, pikirnya.


“Jangan pernah melakukan sesuatu yang tidak perlu kau lakukan.”


“Aku punya hak atas penagihan itu. Lagipula, aku tidak mau punya suami miskin. Apa kau harus menunggu sampai semua asetmu habis baru bertindak? Baili Qingchen, kau tidak bisa mengalah selamanya,” tukas Qingyi. Baili Qingchen tidak menanggapinya kembali dan hanya berdehem, lalu kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Baili Qingchen sengaja diam, tapi tidak benar-benar mengabaikannya. Sesekali ia mengintip Qingyi yang terus menatapnya sambil menyeringai aneh. Isi kepala permaisurinya yang tidak bisa ditebak ini membuatnya sedikit gelisah.


Berawal dari sikap acuh tak acuhnya, tanpa sadar Baili Qingchen telah berjalan kepadanya secara perlahan. Ada banyak perkataan yang tidak bisa dikatakan.


“Berhenti menatapku.”


“Kenapa? Mataku tidak akan keluar hanya karena terus menatapmu.”


“Terserah padamu.”


Tanpa terasa, kereta telah berhenti di depan mansion. Kusir memberitahu mereka bahwa mereka sudah sampai, lalu menyiapkan sebuah tangga untuk turun. Qingyi dan Baili Qingchen saling mendahului untuk turun. Namun karena gerakan mereka sama-sama cepat, keduanya terjepit di ambang pintu kereta.


“Aku yang lebih dulu!” ucap Qingyi.


“Tidak. Aku lebih cepat darimu!” ujar Baili Qingchen tak mau kalah.


“Kau tidak mau mengalah?”


“Tidak.”


Mereka berdebat. Kusir dan penjaga pintu terheran-heran akan kelakuan majikan mereka yang dua ini. Satu adalah pria dingin tanpa perasaan yang tidak menyukai wanita, satu lagi adalah wanita pembuat onar yang suka melawan siapapun yang menggertaknya.


Mereka harus memilih siapa? Putri Permaisuri Changle atau Raja Changle sendiri?


Entahlah. Mereka hanya menyaksikan perdebatan itu sampai salah satunya mau mengalah. Pada saat itu, Xiao Junjie kebetulan baru pulang dari kunjungan ke keluarganya. Melihat sahabat sehidup semati yang tampak seperti suaminya berhimpitan dengan Qingyi, hatinya jadi gatal.


Xiao Junjie pikir Qingyi sedang dihukum di istana karena tidak tahu etika, tetapi nyatanya gadis itu malah pulang dan berdebat dengan Baili Qingchen.


“A-Chen? Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya.


“Ah, Putri Permaisuri terjepit bersamaku,” jawab Baili Qingchen.


“Aku tahu. Tapi, tidak bisakah salah satu dari kalian keluar lebih dulu?”


Ekspresi Qingyi berubah garang.


“Dia yang seharusnya mengalah! Xiao Junjie, cepat tarik orang ini keluar!” seru Qingyi.


Meski kesal, Xiao Junjie menghampiri kereta, lalu menarik tangan Baili Qingchen agar pria itu mau keluar lebih dulu.


“A-Chen, mari,” ujarnya.


Baili Qingchen menerima uluran tangan Xiao Junjie dan turun terlebih dahulu. Qingyi mendecih, memperhatikan interaksi sepasang lovebirds yang aneh dan super menyebalkan tersebut. Ia melompat turun dari kereta, lalu berjalan di belakang Baili Qingchen dan Xiao Junjie.


Gatal melihat pemandangan mesra yang terasa menjijikan itu, Qingyi berjalan cepat, lalu menubruk keduanya sampai Baili Qingchen dan Xiao Junjie terpisah setengah meter.


Xiao Junjie menggeram kesal, mengumpati Qingyi yang berani-beraninya menubruknya dari belakang. Dia hendak membalas, namun Baili Qingchen menahan tangannya dan menggelengkan kepala.


“Biarkan saja dia,” ucapnya. Xiao Junjie terpaksa menurut.


...***...


Malam harinya, Qingyi baru ingat kalau dia meninggalkan Yinghao di istana. Panda kecil itu tadi masih berada di gendongan Janda Pemaisuri Ming. Ia tanpa sadar telah melupakannya karena fokus mengikuti Baili Qingchen. Sekarang, Qingyi kebingungan bagaimana cara mendapatkannya kembali.


Tidak mungkin dia harus menerobos istana malam-malam begini hanya untuk mengambil pandanya dari tangan sang Ibu Suri, bukan?

__ADS_1


Bisa-bisa dia dianggap gila dan Kaisar Baili pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk kembali menjatuhkannya. Pertunjukan tadi siang saja hampir membuatnya setengah gila.


“Yang Mulia, apa anjing kecil ini milikmu?” tanya Cui Kong saat Qingyi larut dalam pemikirannya. Pengawal itu datang sambil menggendong Yinghao. Mata Qingyi berbinar lalu langsung merebutnya dari Cui Kong.


“Bagaimana caramu mendapatkannya?”


“Yang Mulia menyuruhku pergi ke istana untuk mengambilnya. Dia bilang, peliharaan Putri Permaisuri Changle yang berharga masih tertinggal di sana. Jadi, aku pergi dan memintanya kembali dari Ibu Suri,” tutur Cui Kong.


“Baili Qingchen? Wah, ada apa dengannya hari ini?”


Cui Kong mengedikkan bahu. Ia hanya menerima perintah untuk mengambil peliharaan sang Putri Permaisuri Changle, lalu menjalankannya tanpa bertanya apa-apa. Cui Kong tidak memungkiri kalau ada yang telah berubah dari majikannya.


Orang yang biasanya tidak peduli pada hal-hal sepele seperti ini, kini berubah menjadi perhatian yang bentuknya tidak biasa. Cui Kong bisa melihat kalau Raja Changle beberapa kali melanggar batas toleransinya sendiri pada Putri Permaisuri Changle-nya.


“Berhubung kau ada di sini, beritahu aku bagaimana hubungan Baili Qingchen dengan Janda Selir Sun!” pinta Qingyi.


“Mengapa Yang Mulia tidak menanyakannya sendiri?”


“Kau pikir pria itu akan memberitahuku jika aku bertanya? Yang ada dia malah akan mengusirku. Aku saja malas bertemu dan berdebat dengannya.”


Qingyi dapat melihat kebimbangan pada ekspresi yang ditunjukkan oleh Cui Kong. Sebagai bawahan yang setia, membicarakan hal-hal pribadi seperti hubungan dengan orang tua memang agak kurang pantas dilakukan.


Tapi, Qingyi tidak punya pilihan lain karena satu-satunya orang yang ia tahu telah mengikuti Baili Qingchen bertahun-tahun hanyalah Cui Kong. Demi mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, ia tidak punya pilihan lain lagi.


“Ayo, katakan!” ulang Qingyi.


“Tapi, aku tidak bisa memberitahumu semuanya. Yang perlu Yang Mulia tahu, beberapa tahun lalu hubungan Raja Changle dengan Janda Selir Sun tidak renggang seperti sekarang.”


“Apa gara-gara Xiao Junjie?”


Cui Kong menggelengkan kepala. Bukan, bukan karena Xiao Junjie. Hubungan keduanya renggang jauh sebelum Xiao Junjie datang ke dalam kehidupan Baili Qingchen.


Jika bukan Xiao Junjie, lalu siapa lagi? Kaisar Baili? Ibu Suri Ming? Atau mungkin….


“Istri pertama Raja Changle?” tebak Qingyi. Cui Kong memilih tidak menjawab. Dia tidak mengangguk, juga tidak menggelengkan kepala.


“Yang Mulia Putri, aku harus pergi. Yang Mulia Pangeran memberiku sebuah tugas,” ucap Cui Kong.


Ia rasa tidak ia tidak perlu bicara lagi. Biarkan Putri Permaisuri Changle yang mencari tahu sendiri, atau Raja Changle yang mau memberitahunya. Cui Kong meninggalkan halaman barat, lalu menghilang di balik kegelapan malam.


Usai Cui Kong pergi, Qingyi menggoyang-goyangkan tubuh Yinghao dan menjewer telinganya. Yinghao memberontak, lalu melompat ke atas meja. Qingyi menyuruhnya mengubah wujud menjadi manusia, lalu dalam hitungan detik Yinghao sudah bertransformasi menjadi seorang gadis yang seusia dengannya.


“Apa kau begitu senang dipeluk dan digendong wanita secantik Janda Permaisuri Ming?” cibir Qingyi.


“Tuan, kau yang melupakanku! Aku hampir saja menjadi boneka guling jika pengawal itu tidak mengambilku,” keluh Yinghao.


“Katakan, apa aku berhasil menjalankan misi hari ini?” tanya Qingyi. Tentu saja ia tidak melupakan misinya hari ini. Yinghao mengangguk.


“Kau bukan hanya mendapatkan kepercayaan Janda Selir Sun, tapi juga Janda Permaisuri Ming. Hadiahnya empat set kostum baru sudah disimpan di lemari ruang dimensi.”


Yinghao curiga pada tuannya. Reaksi Qingyi biasa saja ketika menerima hadiah, tidak seperti biasanya. Pikiran Qingyi melayang pada perkataan Cui Kong tadi, yang bercerita perihal hubungan Baili Qingchen dan Janda Selir Sun. Di luar, mereka tampak sangat dekat, namun ternyata terdapat benang yang kusut dan sulit diputuskan.


“Yinghao, saatnya beraksi!”


“Tuan, kau mau melakukan apa?”

__ADS_1


Qingyi tidak menjawab, ia menyuruh Yinghao kembali ke wujud panda. Sementara malam kian larut, dan Qingyi pergi ke ruang dimensi untuk mengganti kostumnya. Malam ini, ia tidak akan tidur, ia harus pergi ke suatu tempat.


__ADS_2