Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 149: Menyadari Jebakan


__ADS_3

Perubahan situasi di istana kekaisaran belum sampai ke telinga Baili Qingchen. Dia bersama bawahannya sampai di gerbang menuju kota perbatasan utara setelah menempuh perjalanan selama lima hari.


Saat itu, gerbang kota perbatasan utara ramai seperti biasa. Beberapa penjaga kota tampak sedang memeriksa dokumen beberapa pendatang yang hendak masuk ke kota.


Begitu melihat Baili Qingchen, para penjaga menunduk memberi hormat. Karena sudah tahu adat kebiasaan Raja Changle saat bekerja, mereka tidak ribut dengan memberitahukan kedatangannya. Rombongan itu masuk ke dalam kota dengan menyamar.


“Tuan, mata-mata melaporkan bahwa beberapa hari yang lalu ada tentara Kekaisaran Chen datang ke kota ini,” ucap Cui Kong saat ia kembali setelah memeriksa informasi.


Baili Qingchen mengernyit. Mungkinkah laporan itu benar-benar ada? Tetapi, mau dipikirkan bagaimanapun, Baili Qingchen tidak mempercayainya. Ia hanya menyuruh Cui Kong untuk kembali mencari informasi dan menyusuri kota, menemukan di mana orang-orang dari Kekaisaran Chen singgah.


Tubuhnya sedang lelah. Baili Qingchen beristirahat di pos bersama beberapa bawahan lain. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, hatinya menjadi gelisah dan khawatir. Sepanjang malam, Baili Qingchen tidak bisa tidur. Ia terjaga dan beberapa kali terlihat bolak-balik di halaman pos.


Baili Qingchen mengkhawatirkan Qingyi yang ia tinggalkan di mansion. Entah mengapa ia merasakan firasat buruk yang mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu di Bingyue sana. Namun, ia tidak bisa memprediksi atau memikirkan hal lain, karena permasalahan di sini juga tidak sederhana.


Apakah ia baik-baik saja? Baili Qingchen berharap begitu. Saat ini mungkin permaisurinya sedang bermain-main di halaman barat, mempermainkan hewan peliharaannya atau mengerjai para pelayan. Atau bisa jadi dia sedang menyelinap masuk ke dalam istana dan mengerjai adik kurang ajarnya. Seandainya saja hanya itu, Baili Qingchen tidak akan punya kekhawatiran besar.


“Ah, tiba-tiba saja aku merindukannya,” gumamnya pelan.


Tidak lama kemudian, Cui Kong datang setelah berjam-jam menghilang. Di belakangnya ia melihat beberapa orang yang sangat familier mengikuti Cui Kong. Saat mereka sampai, Baili Qingchen mengernyitkan dahi. Begitu pula dengan orang-orang yang mengikuti Cui Kong.


“Kakak, kau benar-benar ada di sini?” tanya Baili Qingyan.


Rupanya, kabar itu benar. Ada beberapa orang dari Kekaisaran Chen yang masuk ke kota perbatasan utara ini. Melihat Baili Qingchen yang mengernyit, Baili Qingyan jadi merasa heran.


“Aku justru mendengar pasukanmu masuk ke perbatasan utara dan bergerak diam-diam. Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Baili Qingchen malah bertanya balik.


Sekarang, giliran Baili Qingyan yang keheranan. Dia menatap kakak keduanya dengan aneh, lalu bergiliran menatap Liu Qingti yang ada di sampingnya. “Bukankah kau sendiri yang meminta kami datang kemari?”


“Ah? Maksudmu?”


“Kakak, aku menerima surat yang mengatakan bahwa perbatasan utara Bingyue sedang diserang oleh orang selatan dan kau meminta bantuan pada Kekaisaran Chen. Kakekku langsung menyuruhku mengirim pasukan dan datang kemari. Melihat reaksimu, tampaknya kau juga tidak tahu?”


Baili Qingyan tidak mengerti, jelas-jelas surat itu datang dari Raja Changle. Segelnya juga segel Bingyue dan ia sudah memastikan itu asli. Karena itulah Baili Qingyan baru berani datang kemari membawa pasukannya.

__ADS_1


Sampai sekarang, ia masih belum bertindak karena ia mendapati kota ini damai seperti biasa. Bahkan ia baru mendengar kedatangan Raja Changle beberapa jam yang lalu.


Baili Qingchen tampak sedang berpikir keras. Kekaisaran Chen selalu mematuhi perjanjian diplomasi dua negara sejak puluhan tahun yang lalu.


Tidak mungkin mereka datang ke perbatasan tanpa izin atau tanpa kabar sama sekali. Kalaupun terpaksa, setidaknya selalu ada pemberitahuan berupa surat atau kabar darurat.


Tapi, kali ini tidak sama sekali. Baili Qingchen malah menerima laporan adanya pergerakan mencurigakan dari Kekaisaran Chen. Itu artinya, seseorang telah mengatur ini dengan baik. Orang itu sengaja ingin mengecoh Baili Qingchen dengan menjauhkannya dari kota kekaisaran!


“Celaka! Kita dijebak!” seru Baili Qingchen.


Ia mendapat kesimpulan setelah beberapa saat berpikir. Rupanya, orang itu sengaja mengundang Baili Qingyan dengan surat palsu dan membuatnya datang kemari, kemudian membuat laporan ke istana dengan dalih pergerakan mencurigakan Kekaisaran Chen. Kaisar Baili yang khawatir akhirnya mengirimnya pergi untuk memastikan. Pada saat ia telah pergi, aksi yang sesungguhnya baru dimulai!


Dugaan ini semakin kuat. Baili Qingyan membelalak, ia juga mulai menyadari bahwa saat ini ia telah dijebak! Dia ditipu dan dimanfaatkan orang! Baili Qingyan menatap kakaknya, menginginkan sebuah penjelasan dan solusi. Tidak mungkin ia memulangkan pasukannya secara mendadak.


“Lalu, kita harus bagaimana?” tanya Baili Qingyan dengan khawatir.


“Kembali ke kota kekaisaran!” jawab Baili Qingchen.


Sepasang kakak beradik berbeda ibu itu kemudian berdiskusi panjang. Mereka sepakat akan pergi ke kota kekaisaran Bingyue untuk memperjelas situasi.


Di dalam kamar, Baili Qingchen tidak bisa memejamkan mata. Dia sudah ceroboh sampai masuk ke dalam jebakan orang. Sekarang ia menduga bahwa kota kekaisaran sudah tidak aman.


Pasti telah terjadi sesuatu di istana sepeninggal ia pergi. Kemudian, ia tiba-tiba teringat akan perkataan Qingyi yang mengatakan bahwa Liu Erniang mungkin saja mengenal orang selatan.


Pemikirannya langsung tertuju pada sosok itu. Baili Qingchen telah membuat Kaisar Baili menunda penobatannya, Liu Erniang pasti sangat dendam. Wanita itu mungkin telah beraksi lebih awal dengan mengirimnya pergi, memberinya siasat sampai Baili Qingchen lengah.


“Aku sudah ceroboh. Kuharap wanita itu tidak melakukan sesuatu pada Baili Jingyan,” desis Baili Qingchen sembari menahan emosinya.


“Yang Mulia,” panggil Cui Kong.


“Apa lagi?”


“Ada sepucuk surat datang bersama seekor merpati.”

__ADS_1


Tengah malam itu, Cui Kong menangkap seekor merpati putih yang sepertinya tidak asing. Baili Qingchen memperhatikannya dan menyadari jika merpati ini adalah merpati yang pernah digunakan Qingyi saat mengirim surat ke Kekaisaran Chen untuk menyelamatkan Baili Qingyan dari pernikahan. Segera saja ia melepaskan ikatan tali yang ada di kaki merpati itu, kemudian mengambil gulungan kertas kecil yang diikatkan kepadanya.


“Yang Mulia, apa surat ini dari Yang Mulia Putri?” tanya Cui Kong. Baili Qingchen mengangguk.


“Apa isinya?”


“Liu Erniang sudah mengambil alih istana kekaisaran. Dia memaksa Kaisar Baili untuk mempercepat penobatannya,” Baili QIngchen menjawab dengan menahan emosi. Ketenangannya hampir saja hilang gara-gara kabar itu.


“Ah? Lalu apa Yang Mulia Kaisar menyetujuinya?”


“Liu Erniang meracuni Kaisar Baili. Sekarang istana sedang kacau.”


“Lalu bagaimana dengan Yang Mulia Putri?”


“Dia baik-baik saja.”


Baili Qingchen tidak menceritakan perihal mansion yang dikepung oleh pasukan pengawal kekaisaran atas perintah Liu Erniang. Dia juga tidak menceritakan bahwa dirinya difitnah dan dituduh berencana melakukan pemberontakan sehingga mansion disegel dan semua penghuninya tidak diperbolehkan keluar.


Ia pikir, urusan mansion dan fitnah itu nanti saja, yang terpenting sekarang adalah kembali ke kota kekaisaran dan Qingyi baik-baik saja.


Cui Kong menarik napas lega. Ia juga tidak menyangka jika ini adalah jebakan untuk menjauhkan Raja Changle dari istana. Dengan perginya Raja Changle, maka istana kekaisaran kehilangan sejenak pengawas mereka, dan itu akan menjadi kesempatan bagi orang untuk bertindak.


Cui Kong juga khawatir Putri Permaisuri Changle dalam bahaya, karena selama ini ia selalu berharap dia baik-baik saja meski terkadang orang itu sangat menyebalkan.


“Syukurlah jika Yang Mulia Putri baik-baik saja.”


“Kau khawatir?”


“Mengapa tidak? Apa Yang Mulia tidak khawatir?”


Sorot mata Baili Qingchen berubah tajam. Ia menatap Cui Kong seolah-olah ingin memakannya. Cui Kong menyadari tatapan itu, lalu menggaruk pundaknya yang tidak gatal.


“Yang Mulia, Yang Mulia Putri itu juga majikanku. Jika dia dalam bahaya, bukankah Yang Mulia juga akan menendangku dan menyuruhku menyelamatkannya?”

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, Baili Qingchen mendengus dan menyuruhnya keluar.


__ADS_2