
Pagi-pagi sekali, Yinghao sudah muncul dan membangunkan Qingyi. Qingyi terpaksa bangun, padahal dia masih mengantuk. Dia sedikit terkejut karena posisi tidurnya ternyata benar dan selimut itu menutupi tubuhnya. Qingyi kemudian menatap Yinghao, dan menanyakan mengapa panda kecil itu membangunkannya sepagi itu.
“Ada misi khusus yang harus kau lakukan di Xizhou,” ujar Yinghao.
Masih setengah sadar, Qingyi tampaknya belum memahami perkataan Yinghao. Barulah ketika Yinghao mengulanginya, Qingyi langsung membuka matanya lebar-lebar.
Xizhou?
“Bukankah itu sangat jauh?”
“Ini misi khusus. Akan ada imbalan besar setelah kau menyelesaikannya.”
Bukan masalah imbalan besar. Tapi, Xizhou sepertinya sangat jauh. Di zaman ini tidak ada pesawat atau mobil yang bisa mempersingkat perjalanana. Kalau menggunakan kereta kuda, itu akan memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Qingyi yang belum terbisa menggunakan kereta kuda dalam jarak jauh pasti tidak akan kuat. Belum lagi tantangan dan bahaya yang mungkin datang padanya di tengah perjalanan.
Lagipula, bagaimana caranya mendapat izin keluar ibukota?
Keluar mansion saja dia sering dicari-cari. Apalagi ke kota yang jauh, mungkin Baili Qingchen malah akan mengikatnya dan mengurungnya agar dia tidak bisa pergi ke mana-mana. Namun, bila tidak pergi, bukankah dia malah akan menerima hukuman sistem?
“Bukankah ibumu juga ada di sana?” tanya Yinghao.
Itu benar. Malam itu, Qingyi mengirimnya ke Xizhou, lalu meminta bantuan pada seseorang yang berdasarkan naskah merupakan teman kecil Liu Qingyi yang pernah bertemu di pasar.
“Baiklah, tapi beritahu aku misi khusus apa yang harus kulakukan!”
“Kau akan tahu ketika sudah sampai di sana.”
Bahu Qingyi langsung turun. Bukan hanya tempatnya yang jauh, misinya juga begitu misterius!
“Apa aku tidak bisa mengganti misi?”
“Tidak. Kuota penggantian misimu hanya sekali dan itu sudah digunakan.”
“Tahu begini aku tidak akan menggunakan kesempatan itu untuk menukar misi atas kasus Luo Niang,” keluhnya. Pagi yang ia miliki rasanya telah sirna.
Setelah membersihkan diri dan sarapan, Qingyi pergi ke kediaman timur untuk menemui Baili Qingchen. Meski enggan, dia harus menahan rasa malasnya. Bagaimanapun, dia ini istri orang. Mungkin saja Baili Qingchen sedang baik suasana hatinya dan bersedia mengizinkannya pergi.
Pria itu tampak sedang bersiap ke pengadilan istana ketika Qingyi sampai di ambang pintu. Merasa istri wanitanya hadir, Baili Qingchen menyuruh pelayan yang membantunya keluar. Dia berbalik, lalu Qingyi masuk dengan langkah kecil.
“Ada apa?” tanya Baili Qingchen.
“Aku ingin pergi ke Xizhou,” jawab Qingyi. Baili Qingchen seketika menghentikan aktivitasnya.
“Xizhou? Untuk apa?”
“Ada sesuatu yang harus kulakukan di sana. Apa aku boleh pergi?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Mengapa? Kau ini Putri Permaisuri Changle. Bagaimana bisa keluar ibukota sesuka hati?”
“Aku tidak peduli. Bahkan tanpa izinmu, aku akan tetap pergi,” sungut Qingyi. Dia malah terpancing emosi sendiri.
“Pelayan! Antar Yang Mulia Putri ke kediamannya. Tanpa seizinku, tidak seorang pun yang boleh memberinya izin keluar!”
Setelah itu, dua pelayan wanita masuk, lalu memaksa Qingyi kembali ke kediamannya. Qingyi berontak dan berteriak hingga seisi kediaman heboh. Baili Qingchen menutup telinganya dan langsung pergi ke istana.
Konyol sekali, pikirnya. Bodoh sekali kalau gadis itu berpikir dia akan mengizinkannya pergi. Protokol kekaisaran mengatakan kalau wanita dari kalangan bangsawan kerajaan tidak bisa pergi ke luar kota dengan sembarangan.
Xiao Junjie yang melihat Qingyi dipaksa kembali ke kediamannya langsung bertanya-tanya. Dia pikir mungkin gadis menyebalkan itu sudah membuat Raja Changle kesal sampai disuruh kembali. Namun, Xiao Junjie juga merasa senang karena dia bisa melihat gadis sombong itu seperti seorang wanita tidak berguna yang dibuang suaminya.
“Lihat. Gadis itu sekarang harus menurunkan bahunya,” ucap Xiao Junjie.
Pelayan wanita yang ada di sampingnya tidak bersuara. Ia kemudian menyerahkan sebuah kotak berisi lukisan berharga yang akan dijadikan hadiah pada kontes puisi siang ini. Xiao Junjie harus pergi mewakili Baili Qingchen karena pria itu harus menghadiri rapat istana.
Sementara itu, Qingyi mengumpati Baili Qingchen tanpa henti. Seharusnya sejak awal dia tidak berpikir untuk meminta izin. Pergi ya pergi saja. Qingyi akan tetap pergi meski pria itu tidak memberinya izin. Menurutnya, misi ini penting. Perihal yang lainnya, akan ia pikirkan nanti.
Qingyi kemudian pergi ke ruang dimensi. Dia mengambil beberapa barang yang sekiranya bisa berguna selama perjalanan. Yinghao malah menertawainya, mengatakan kalau Qingyi ini seperti hendak kabur dari rumah. Panda kecil itu berakhir di kolam air terjun karena Qingyi mengikatnya dan melemparkannya ke sana.
Malam harinya, Qingyi hendak pergi dari mansion Raja Changle. Di gerbang belakang kediaman, dia melemparkan barang bawaannya ke luar. Kemudian, dia naik tangga, dan meloncati tembok yang cukup tinggi itu. Setelah mengambil barang bawaannya, dia hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti tatkala sebuah kereta kuda yang tidak asing terparkir di sana.
“Apa yang kau tunggu? Cepat naik!” seru Baili Qingchen. Qingyi mengalami bug sesaat. Apa-apaan ini?
“Kaisar menyuruhku mengunjungi Akademi Xizhou dan melaporkan perkembangan para pelajarnya.”
“Alasan yang bagus,” cibir Qingyi.
Gadis itu naik ke kereta. Pria aneh di sampingnya ini tidak konsisten. Tadi pagi melarangnya pergi dan bahkan mengurungnya di kediaman. Sekarang dia malah menyediakan kereta kuda dan pergi bersama dengan alasan tugas negara.
Siapa yang dapat mempercayainya? Tetapi, sudahlah. Apapun alasannya, yang penting Qingyi tidak perlu pergi sendirian lagi.
Kereta kuda sampai di gerbang ibukota ketika tengah malam. Penjaga kota kemudian menghentikannya dan bertanya siapakah di dalam sana. Cui Kong kemudian mengeluarkan token milik Raja Changle kepada mereka, sehingga mereka menurunkan tombak mereka. Kereta tumpangan Qingyi dan Baili Qingchen berhasil melewati pemeriksaan penjaga kota dan berhasil keluar dari ibukota dengan lancar.
“Apa kita sudah keluar dari ibukota?” tanya Qingyi.
“Ya.”
“Syukurlah. Tokenmu ternyata sangat berguna.”
“Untuk mengindari masalah, jangan memanggilku dengan gelar. Aku juga tidak akan memanggilmu dengan gelarmu,” ucap Baili Qingchen.
“Sepakat. Lagipula, aku tidak pernah memanggilmu dengan gelarmu.”
__ADS_1
Qingyi membayangkan bagaimana jadinya kalau dia pergi seorang diri. Tanpa token, orang tidak akan bisa keluar dari ibukota malam-malam. Di zaman ini, setiap kali malam tiba, gerbang kota akan ditutup dan dijaga dengan ketat. Kecuali jika orang itu memiliki tanda pengenal yang jelas atau kartu perintah, mereka bisa lewat.
Selain dari itu, para penjaga tidak akan membiarkan mereka masuk atau keluar. Mungkin Qingyi juga bisa dianggap pencuri jika keluar sendiri membawa tas kainnya tanpa token. Kali ini, dia selamat berkat Baili Qingchen.
Perjalanan ke Xizhou memerlukan waktu selama lima hari. Setelah jauh dari ibukota, kereta kuda bergerak memasuki sebuah kota kecil bernama Suzhou. Kota itu merupakan kota paling ramai kedua setelah ibukota dan kerap menjadi persinggahan bagi para pelancong sebelum tiba di kota kekaisaran.
Ketika mereka sampai di sana, suasana kota itu sedang ramai. Rupanya, sedang ada festival lentera berlangsung.
Cui Kong menuruti perintah Baili Qingchen untuk mencari penginapan. Tengah malam sudah lewat, dan Cui Kong hanya menemukan sebuah penginapan yang masih buka di dekat danau.
Saat memesan kamar, penjaga penginapan berkata kalau kamar yang tersisa hanya ada dua. Festival lentera membuat para pelancong singgah lebih lama, hingga kamar-kamar menjadi penuh.
“Kalau begitu, pesan saja. Kongkong, kau tidur bersama dia. Aku akan memilih kamarku sendiri,” ucap Qingyi. Perkataannya langsung mendapat delikan tajam dari Baili Qingchen. Cui Kong jadi serba salah.
“Nona, itu sepertinya tidak pantas. Aku ini pengawal pribadi Tuan Muda, dan kau adalah istrinya. Akan lebih baik kalau Tuan Muda satu kamar denganmu,” tolak Cui Kong.
“Mana bisa! Aku tidak mau sekamar dengan dia!”
Cui Kong jadi bingung. Penjaga gedung juga ikut bingung karena kamar yang tersisa benar-benar hanya ada dua. Tamunya ini pasti datang dari luar kota, karena cara mereka berbicara dan berpakaian berbeda dari orang-orang Kota Suzhou.
Tapi tidak peduli dari mana asal mereka, permasalahan ini sepertinya harus segera diselesaikan. Kalau tidak, tamunya yang lain akan terganggu.
Baili Qingchen yang sejak tadi diam akhirnya mengambil keputusan. Dia menggendong Qingyi, lalu berkata, “Tunjukkan kamarnya”.
Penjaga gedung bernapas lega, lalu terburu-buru menuntun Baili Qingchen ke kamar yang masih kosong di lantai dua. Qingyi berontak minta diturunkan, sementara Yinghao yang sedang mengaktifkan mode penyamaran malah tertidur tanpa memperhatikan majikannya.
“Tuan dan Nona, semoga istirahat kalian nyaman,” ucap penjaga gedung usai mengantarkan tamunya.
Baili Qingchen langsung mengunci pintu dan melemparkan kuncinya ke luar jendela. Qingyi yang kesal memberontak dan mengatainya, meminta keluar dari kamar. Tapi tidak ada gunanya.
“Diam! Apa kau ingin orang-orang berpikir kalau kita tidak akur?” ucap Baili Qingchen sambil menekan Qingyi ke dinding.
“Aku tidak mau sekamar denganmu! Biarkan aku mencari penginapan sendiri!”
“Bodoh! Bagaimana jika ada yang mengenalimu? Kau pikir perjalanan ini bisa berlangsung lancar kalau ada yang mengenali kita?” tanya Baili Qingchen sekali lagi.
Qingyi mendorong tubuh Baili Qingchen sampai terhunyung, lalu berlari ke tempat tidur. Dia mendominasi tempat itu, dan berkata kalau dia akan tidur di sana dan Baili Qingchen tidur di lantai. Karena dia tidak bisa keluar, maka dia hanya bisa melakukan ini untuk menjaga dirinya.
Meskipun Baili Qingchen adalah suaminya dan mereka pernah tidur satu kamar, tapi itu karena penyakit Baili Qingchen. Rasanya tidak tenang jika dia satu kamar dengan pria itu saat dalam keadaan sehat sepenuhnya.
“Baiklah. Lakukan sesukamu!” ucap Baili Qingchen.
Dia mengambil selimut dan bantal, lalu menggelarnya di lantai. Qingyi yang ada di atas tempat tidur melongo karena bantal dan selimutnya direbut.
“Kau merebut tempat tidurnya. Sebagai gantinya, aku merebut bantal dan selimutnya. Itu sudah sepadan, bukan?”
“Terserah!”
__ADS_1
Qingyi tidur tanpa bantal dan selimut. Dia menghadap dinding, dan Qingchen menghadap pintu hingga keduanya saling memunggungi. Sebelum benar-benar terlelap, Qingyi pergi ke ruang dimensi sebentar. Gadis itu mengambil bantal yang empuk dan selimut yang tebal, lalu kembali lagi.
“Baili Qingchen bodoh! Kau pikir kamu bisa menang dariku?”