Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 72: Lelucon Istana Bingyue


__ADS_3

Berkat kejadian di perjamuan dan kekacauan di istana, Liu Erniang menjadi bahan perbincangan panas di kalangan para pelayan.


Kabar menyebar seperti angin yang berhembus di tengah musim semi ke daerah-daerah kecil di seluruh penjuru Bingyue. Di istana, mereka berbicara seolah-olah Liu Erniang adalah sebuah benalu yang tidak lagi punya inang.


Bagaimana tidak, dia masuk istana setelah ayahnya digulingkan. Berharap menjadi wanita yang memegang takhta tertinggi, dia justru jatuh saat gelarnya sendiri belum ditetapkan.


Ayahnya dipaksa pensiun, ibunya menjadi nyonya biasa, gelarnya ditangguhkan dan malam pertamanya berantakan. Apa lagi yang lebih memalukan dari ini?


“Selir Tinggi Xian apanya? Dia hanya Selir Xian yang gelarnya ditangguhkan. Yang Mulia bahkan meninggalkannya tanpa mengatakan apapun,” ucap seorang pelayan yang bertugas mengurus taman istana. Bersama pelayan lain, mereka sama-sama berbicara tentang hari itu.


“Reputasi Selir Xian memang cukup buruk. Jika bukan karena perlindungan Tuan Liu, dia sudah lama menjadi lelucon kota kekaisaran. Menurutku, Putri Permaisuri Changle seribu kali lebih baik darinya. Dia bahkan memberikan kejutan besar untuk kita semua,” sahut yang lain.


“Apa kalian begitu senggang? Sepertinya kalian telah melupakan aturan dan perlu diingatkan lagi. Berapa kali aku harus memberitahu, membicarakan majikan adalah sebuah pelanggaran berat?” tanya sebuah suara di belakang para pelayan.


Mereka seketika menoleh. Bibi Zhang dari Divisi Istana Dalam berdiri dan menatap garang pada mereka.  Pelayan ini jelas sudah tahu aturan di dalam istana dan sangat jelas bahwa membicarakan majikan, terutama para selir kaisar adalah sebuah dosa yang sangat berat.


Mereka bisa dihukum mati jika kata-kata mereka sampai ke telinga Kaisar Baili. Bibi Zhang sangat berang dan ia sangat ingin menghukum para pelayan ini.


“Pengawal! Bawa mereka ke Divisi Istana Dalam dan hukum sesuai aturan!” seru Bibi Zhang.


Para pelayan berlutut memohon ampun. Namun, mereka begitu terkejut saat melihat dua sosok wanita agung berdiri di belakang Bibi Zhang, memperhatikan mereka tanpa minat.


Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming menghela napas mereka lelah. Bukan salah para pelayan jika bicara seperti ini.


Kejadian hari kemarin memang sebuah kejadian yang luar biasa besar. Wajar saja jika para pelayan tidak bisa menahan diri untuk bergosip. Tetapi, mereka tetap harus mengingat siapa mereka dan apa yang mereka bicarakan.


Jadi, kedua orang itu hanya bisa membiarkan pengawal membawa para pelayan untuk dihukum. Sebagai Ibu Suri, Janda Permaisuri Ming tidak bisa membiarkan isu negatif menyebar dan bertahan lama di istana.


Kehadiran Selir Xian cukup menjadi kontroversi di harem karena selama ini para selir putranya sudah saling bersaing. Hadir satu selir lagi, dengan latar belakang kuat dan pintar bermain strategi, maka hari-hari di Istana Harem tak akan lagi sama.


“Aih, permasalahan datang tiada henti. Menurutmu, sejak kapan istana ini jadi begitu ramai?” tanya Janda Permaisuri Ming. Janda Selir Sun hanya terkekeh.


“Sebenarnya tidak pernah ada hari damai di istana. Hanya saja kita sudah melupakannya dan menganggap semuanya biasa saja,” jawab Janda Selir Sun.


Kepeduliannya sebetulnya tidak sebanyak itu. Janda Selir Sun bisa saja menutup mata dan telinga untuk tidak melihat atau mendengar apapun seperti tahun-tahun sebelumnya.

__ADS_1


Dia hanya seorang janda dari ayah mertua Janda Permaisuri Ming, yang kekuasaannya tidak banyak dan seharusnya tidak lagi mencampuri urusan dunia. Kalau bukan karena putra dan menantunya yang berulah, dia tidak akan ikut campur.


Kedua wanita itu kemudian duduk di taman kekaisaran. Beberapa pelayan datang membawa camilan dan teh. Musim semi masih tahap awal, bunga-bunga di sana baru saja mekar.


Biasanya pada waktu ini, mereka akan mengadakan perjamuan kecil dan mengundang para gadis keluarga bangsawan dan pejabat kemari. Namun karena situasi belum stabil, jamuan rutin itu terpaksa ditunda.


“Apa rencanamu untuk mengatur cucu pertamamu?” tanya Janda Selir Sun.


Janda Permaisuri Ming menyesap aroma tehnya sesaat.


“Aku akan meminta Yan’er memberinya gelar. Bagaimanapun, dia tetap keturunan kekaisaran dan putra sulungnya.”


Tidak banyak harapan yang ia simpan untuk ini. Janda Permaisuri Ming hanya ingin cucu pertamanya hidup dengan baik dan diakui sebagai keluarga kekaisaran.


Meskipun dia lahir bukan dari selir, melainkan wanita dari luar dan status ibunya mungkin dari kelas rendah, namun di dalam tubuhnya mengalir darah dari kaisar dan dia memikul marga Baili. Sekalipun ia anak seorang penghibur, dia tetap punya hak untuk menjadi bagian dari keluarga kekaisaran.


Baili Wuyuan masih kecil. Janda Permaisuri Ming masih bisa mengaturnya dan mendidiknya dengan protokol di keluarga kekaisaran. Jika dididik dengan baik, mungkin saja Baili Wuyuan bisa menjadi seorang pangeran yang cerdas.


Jadi ketika selir putranya tidak mampu memberikan anak, maka Baili Wuyuan bisa dipersiapkan menjadi calon penerus takhta jika memang diperlukan.


anda Permaisuri Ming mengangguk menyiyakan perkataan Janda Selir Sun.


***


“Bodoh! Hal seperti itu saja tidak bisa kau atasi?”


Liu Erniang menampar pelayannya berkali-kali karena marah. Wajah pelayan sudah hampir bengkak dan memerah. Liu Erniang tidak bisa menahan emosinya karena pelayannya ini tidak becus meredam pembicaraan buruk tentangnya.


Sebagai pelayan, dia seharusnya menghalangi segala hal buruk tentang majikannya walaupun harus mempertaruhkan nyawa. Tapi, pelayan ini sungguh bodoh dan tidak berguna!


“Mohon ampun, Nyonya Selir. Terlalu banyak orang yang membicarakannya, pelayan rendah seperti hamba tidak bisa membungkam mereka sekaligus,” ucap pelayan tersebut sambil bersujud.


Liu Erniang mengepalkan kedua tangannya. Saat ini, orang yang sangat ingin ia singkirkan adalah Raja Changle dan Putri Permaisurinya. Gelar Selir Tinggi yang ditangguhkan itu semuanya gara-gara ulah sepasang suami istri tersebut.


Mereka sangat kompak menjatuhkannya di saat dia berada di puncak yang sangat tinggi. Rasanya Liu Erniang ingin mencincang tubuh mereka dan melemparkannya ke kandang serigala.

__ADS_1


Sialan! Liu Qingyi benar-benar sebuah duri dalam daging untuknya!


Liu Erniang tidak pernah lepas dari pandangan dan pengawasan wanita itu. Setiap tindakannya dapat diketahui dengan cepat dan balasannya bahkan dua kali lipat lebih parah.


Dendam kesumat antara Liu Qingyi dengan Keluarga Liu telah mengakar sangat dalam dan wanita itu tidak akan pernah melepaskannya satu kali pun.


Ia yakin, kejadian semalam juga ulahnya. Seorang pelayan biasa atau pengawal tidak mungkin memiliki ide gila seperti itu. Liu Erniang hanya tidak tahu bagaimana Qingyi bisa membawa tungku tembaga sebesar itu tanpa ketahuan.


Satu-satunya hal yang memungkinkan ialah adanya keterlibatan Raja Changle. Sepasang suami istri tersebut bersekongkol untuk mengacaukannya!


“Liu Qingyi, aku akan menghancurkanmu!” geramnya.


Pelayan itu semakin ketakutan saat ia tanpa sengaja melihat sorot mata membunuh Liu Erniang. Pelayan itu sial sekali karena mendapat majikan kejam seperti Selir Xian.


“Nyonya Selir, jika Nyonya ingin duduk dengan stabil, Nyonya harus menjadi kuat terlebih dahulu,” ucap pelayan ragu-ragu. Ia tentu harus menjilat majikan agar hidupnya selamat.


“Oh? Kalau begitu, kau ingin mencobanya?”


“Ha-hamba bersedia mengikuti perintah Nyonya Selir dan bersumpah akan setia. Mohon Nyonya Selir ampuni nyawa hamba,” mohon pelayan itu.


Dia begitu ketakutan karena Liu Erniang benar-benar terlihat mengerikan. Dia bahkan sudah memegang jepit rambut emasnya dan mengarahkan ujung tajamnya ke wajah pelayan.


“Pergi! Gunakan otakmu untuk membungkam mereka!”


“Baik, Nyonya Selir,” lalu di pelayan mundur dengan gelisah.


Ketika keluar, pelayan lain menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Tapi, sebelum dia menjawab, pelayan itu sudah pingsan lebih dulu.


Liu Erniang melempar jepit rambutnya ke dinding kertas sampai kertasnya robek. Pandangannya menggelap, iblis seperti telah merasuki tubuhnya.


Sekarang, ayahnya sudah kehilangan kekuasaannya dan dia sendirian di istana ini. Jika ingin bertahan hidup dan membalas dendam, Liu Erniang hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Tidak akan ia biarkan dirinya menjadi lelucon terus menerus.


“Sudah saatnya mereka membalas budi. Baik, karena kalian sangat menyukai lelucon, maka akan kuberikan sebuah pertunjukan mewah untuk kalian!”


Lalu, Liu Erniang tertawa terbahak-bahak seperti orang gila

__ADS_1


__ADS_2