
“Tidak! Aku tidak mau!”
Qingyi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Bibi Zhang sudah berpengalaman selama puluhan tahun dalam mengajar etika wanita istana, jadi dia tidak menyerah hanya karena penolakan sekecil ini.
Bibi Zhang kembali menggedor pintu, namun tetap tidak dibuka. Dia memanggil beberapa pelayan pria, lalu menyuruh mereka mendobraknya.
Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming sudah menyerahkan urusan itu kepadanya. Mereka memberinya izin untuk melakukan apapun agar Putri Permaisuri Changle menurut untuk diajari.
Raja Changle juga sudah mengiyakan karena tidak mau ikut campur dalam masalah pengajaran etika. Jadi, Bibi Zhang secara tidak langsung sudah mempunyai otoritasnya sendiri.
“Tidak! Kalau kau ingin mengajar, kau ajari Xiao Junjie saja!” tolak Qingyi. Sayang, perlawanannya tidak berarti karena Bibi Zhang berhasil masuk ke dalam kamarnya.
“Yang Mulia, Pangeran Kecil itu laki-laki. Dia tidak termasuk wanita yang harus diajari etika,” ucap Bibi Zhang.
“Apa kau buta? Menurutmu dia termasuk laki-laki?”
Bibi Zhang tidak peduli. Setelah berhasil masuk, dia menyuruh beberapa pelayan wanita untuk menyiapkan air mandi untuk Qingyi. Di pagi buta, Qingyi diceburkan ke dalam bak berisi air mandi yang sudah dicampur herbal dan bunga. Karena airnya dingin, Qingyi langsung menggigil. Suhu air di kolam ajaib ruang dimensi bahkan tidak sedingin ini!
“Wanita milik keturunan keluarga kerajaan harus selalu menjaga kebersihan dirinya. Air dingin bagus untuk meremajakan kulit, herbal-herbal dapat meresap untuk menyehatkan dan kelopak bunga dapat memberikan keharuman yang bertahan di tubuh,” tutur Bibi Zhang memulai pelajarannya. Qingyi tidak peduli. Dia sibuk mengumpat.
“Aku bukan selir. Aku adalah Putri Permaisuri Changle!”
“Itu sama saja, Yang Mulia. Kalian hanya berbeda perihal nama saja.”
Qingyi semakin kesal. Apa dia bilang? Berbeda hanya karena perihal nama?
Oh, tidak semudah itu!
Selir berbeda dengan istri sah. Qingyi tidak mau disamakan dengan wanita yang tidak dinikahi secara sah. Ini bukan hanya tentang nama dan gelar, tapi juga harga diri. Qingyi seorang wanita merdeka, mana bisa diperlakukan seperti ini!
Bukan Qingyi namanya jika dia tidak punya ide. Karena Bibi Zhang begitu memperhatikan kesehatan tubuh dan kulit, maka Qingyi akan mengabulkannya.
Dia tiba-tiba menarik pakaian Bibi Zhang sampai wanita setengah baya itu kehilangan keseimbangan. Alhasil, dia jatuh ke dalam bak mandi yang sama dengan Qingyi. Qingyi tertawa puas.
__ADS_1
“Bibi Zhang, kau juga harus mandi agar kulitmu meremaja kembali!”
Bibi Zhang marah. Setelah keluar dari bak mandi, dia menyuruh pelayan untuk menjaga Qingyi dan tidak membiarkannya keluar. Pelajaran selanjutnya adalah tentang cara berjalan yang benar bagi wanita. Qingyi disuruh menyelesaikan ritual mandinya, sementara Bibi Zhang hendak mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
Setengah jam kemudian, Bibi Zhang kembali dengan pakaian baru. Qingyi yang baru selesai berpakaian langsung disuruh mengikutinya. Di halaman barat, Bibi Zhang mendidiknya untuk berlajar cara berjalan yang baik.
Dia menaruh dua buah piring di bahu Qingyi dan menyuruhnya berjalan, agar dia bisa menjaga bahunya tetap tegak dan seimbang. Kepalanya juga harus mendongak dan pandangannya lurus ke depan.
“Saat wanita berjalan, dia harus tegak dan pandangannya lurus. Langkahnya tidak boleh terlalu lebar dan jalannya tidak boleh terlalu cepat,” ujar Bibi Zhang.
“Aku bukan kura-kura. Aku juga bukan anak balita yang sedang belajar cara berjalan,” keluh Qingyi.
“Yang Mulia, fokus pada latihanmu!”
Qingyi kembali mendapatkan ide. Selamanya dia tidak akan menuruti perintah guru etika istana. Saat Bibi Zhang lengah, Qingyi berlari dengan kencang sampai piring di bahunya jatuh dan pecah.
Qingyi juga mengangkat roknya tinggi-tinggi, langkahnya lebar seperti langkah pria. Dia berputar mengelilingi halaman barat sambil berteriak menyuarakan isi hatinya yang mengumpati Baili Qingchen.
Bibi Zhang menepuk jidatnya berkali-kali. Sulit baginya untuk mendidik gadis seperti Qingyi, tapi bukan berarti dia akan menyerah. Bibi Zhang menunda sementara pelajaran berjalan, lalu melanjutkan pelajaran makan.
Qingyi juga tidak diperbolehkan mengambil makanan lain yang belum disentuh oleh suami. Itu adalah peraturan mendasar bagi suami istri kerajaan. Qingyi berdecak, merasa konyol dengan aturan tidak masuk akal ini.
“Aku bisa kelaparan jika menunggu pria itu makan terlebih dahulu,” gerutunya.
Bibi Zhang permisi sebentar karena pelayan dari halaman utara datang untuk menyampaikan pesan dari Xiao Junjie. Qingyi melihatnya sebagai celah, lalu mengacak-acak makanan di mejanya dan mencampurkannya.
Saat Bibi Zhang kembali, dia membelalakkan matanya tak percaya. Meja makan berantakan dan hidangan di atasnya sudah tidak tertata. Qingyi tersenyum pada Bibi Zhang, membuat dia dongkol.
“Yang Mulia, apa kau sengaja melakukannya?”
“Ya. Aku memang sengaja. Aku lapar dan tidak bisa mengontrol napsu makanku.”
Meski begitu, Bibi Zhang belum menyerah. Dia tetap bersikeras mengajarkan etika makan yang benar pada Qingyi, walau Qingyi terus menerus membuatnya kesal dan marah.
__ADS_1
Pada pelajaran selanjutnya, Qingyi disuruh mempelajari cara berlutut yang benar. Namun, lagi-lagi Qingyi berbuat onar dengan merebut lidi pemukul di tangan Bibi Zhang dan mengejarnya.
Sampai siang hari, Bibi Zhang yang belum menyerah dipanggil sebentar oleh Raja Changle. Qingyi menggunakan kesempatan itu untuk kabur, namun pintu gerbang kediamannya dikunci dan dijaga ketat.
Qingyi mendengus, sembari mengungkapkan kekesalannya dengan menendang-nendang pintu. Penjaga gerbang yang setia pada perintah atasan tidak goyah meski telinga mereka gatal karena gadis itu terus terusan berteriak.
Qingyi tidak kehabisan akal. Dia menyuruh pelayannya mencari tangga, lalu menaruhnya di tembok pembatas. Karena kakinya pendek, dia tidak bisa menjangkau ujung tembok sampai hanya kepalanya saja yang menyembul. Meskipun begitu, Qingyi tetap melanjutkan aksinya. Dia menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari bantuan.
“Kongkong! Kongkong!” serunya pada Cui Kong yang kebetulan lewat.
Cui Kong berpura-pura tidak mendengar, kemudian melanjutkan langkahnya. Qingyi kembali memanggilnya, kali ini suaranya lebih lantang dari sebelumnya.
“Kongkong! Kingkong! Hei, pengawal jelek! Apa kau tuli?”
Mendengar ejekan itu, Cui Kong terpaksa berhenti dan berbalik menghampirinya. Qingyi tersenyum menang. Memang, cara memanggil dengan ejekan adalah yang paling benar agar orang itu mau menoleh.
“Bisakah Yang Mulia berhenti memanggilku dengan sebutan itu?”
“Bisa saja. Tapi, kau harus membantuku!”
“Yang Mulia telah memerintahkan agar Yang Mulia Putri tidak diizinkan keluar. Aku tidak bisa membantumu kali ini.”
“Ayolah! Aku punya agenda penting yang harus diselesaikan!”
“Tidak, Yang Mulia. Tetaplah di sana sampai pembelajaranmu selesai,” ucap Cui Kong.
“Orang yang membuat Bibi Zhang datang kemari itu Xiao Junjie! Dia sengaja ingin mempersulitku karena aku mengacaukan jamuannya untuk Baili Qingchen!”
Cui Kong seketika membalikkan badan, lalu kembali menghampiri Qingyi. Dia pikir Bibi Zhang datang secara sukarela. Ternyata ada orang yang membuatnya datang kemari. Cui Kong yang sebelumnya sudah pernah taruhan dengan Qingyi jadi tertarik. Ia pikir, tidak masalah membantunya kabur kali ini.
“Tapi, kau tidak boleh mengadukanku pada Yang Mulia,” Cui Kong mencoba membuat kesepakatan. Cui Kong tidak mau terkena hukuman karena membantu Qingyi melarikan diri.
“Tenang saja, aku malas berbicara dengannya. Aku tidak akan mengatakan apapun,” ucap Qingyi.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan membantumu,” ucap Cui Kong.
Dia kemudian menghampiri prajurit penjaga, membisikkan sesuatu di telinga mereka hingga akhirnya pintu gerbangnya terbuka.