Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 142: Membujuk Kaisar


__ADS_3

Qingyi mendengus kasar saat surat dari Selir Jia sampai di tangannya. Surat yang beraroma eukaliptus itu lalu dirobek menjadi empat bagian dan dibuang begitu saja. Pelayan yang ada di belakangnya buru-buru mengambil potongan kertas dan menyembunyikannya, lalu pergi karena takut.


“Wanita sialan itu sangat menggangguku!”


Yinghao yang tengah memakan sebatang bambu muda di meja menghentikan gigitannya, berdiri dan menarik lengan baju Qingyi. “Bukankah itu mudah? Kau bisa menghentikan kehamilannya jika kau ingin.”


Qingyi bisa saja melakukan itu, namun ia tidak ingin melibatkan orang yang tidak bersalah. Walau Liu Erniang sangat menyebalkan dan dia membencinya, bayi yang dikandungnya tidak tahu apa-apa. Bayi itu hanya sedang sial karena harus tumbuh di rahim wanita seribu wajah yang sangat menyebalkan.


“Aku bukan orang tidak bermoral. Membunuh bayi kecil yang belum berkembang bukan gayaku.”


Yinghao mendecih. Bukan orang tidak bermoral? Apakah tuannya ini lupa jika semua tindakannya selama ini sudah bertentangan jauh dengan moral?


Qingyi merengut dan suasana hatinya jadi buruk. Hanya karena Liu Erniang membuat kehamilannya diketahui semua orang, dia menjadi sangat sombong dan merasa berkuasa? Burung pegar yang kurang ajar itu tampaknya masih belum memahami situasinya.


Kaisar Baili juga sangat tidak sabaran. Mengetahui ada selirnya yang bisa memberinya keturunan, dia langsung menjanjikan posisi permaisuri untuknya tanpa melihat kemampuannya. Permaisuri sebuah negara bukan hanya untuk keluarga kaisar saja, tetapi untuk seluruh rakyat. Bagaimana bisa dia memberikan posisi sepenting itu pada orang seperti Liu Erniang?


Kaisar Baili mungkin sudah dibutakan oleh kecantikan Liu Erniang.


“Lalu bagaimana dengan bantuan yang dimaksud Selir Jia?” tanya Yinghao. Ia ingin tahu rencana apa yang akan dibuat oleh tuannya untuk selir yang satu itu.


“Meskipun posisinya terancam, tapi bukan saat yang tepat untuk mengungkap kehamilannya,” jawab Qingyi.


Tidak peduli perkataan apa yang dikatakan oleh Liu Erniang pada Selir Jia sampai membuatnya mengirim surat dan terburu-buru meminta bantuan, Qingyi selalu merasa bahwa waktunya belum tiba. Belum saatnya memberitahukan kehamilan Selir Jia saat ini. Itu akan membahayakan keduanya, terlebih Liu Erniang juga hamil dan Kaisar Baili telah menjanjikan posisi permaisuri untuknya.


Dua selir hamil di harem, itu sama dengan dua musuh yang berperang. Qingyi menatap dalam pada pohon persik yang mekar di tamannya. Warna merah muda dari bunganya seperti lembayung yang suka menemaninya saat ia bersantai. Qingyi selalu tidak bisa tenang sejak ia datang kemari.


“Kalau begitu, terserah padamu. Tuan, kau hanya harus ingat bahwa sistem tidak bisa terus memberimu tambahan waktu.”


Qingyi melemparkan Yinghao ke tanah dan merebut batang bambu mudanya. Panda itu sungguh tidak tahu situasi! Qingyi sedang kesal, Yinghao malah membuatnya tambah kesal dengan peringatan sistem. Salah siapa? Bukankah selama ini sistemlah yang membuatnya terus terjebak di sini?


“Jika kau terus beromong kosong, lebih baik kau sirami ladang obatku di ruang dimensi!”

__ADS_1


Qingyi lantas meninggalakan halaman barat dan langkahnya sedikit menghentak. Ia rasa, sekarang waktunya ia menemui seseorang yang bisa memberinya informasi lain dan cara untuk mencegah Kaisar Baili memberikan posisi permaisuri kepada Liu Erniang.


***


Setelah Kaisar Baili memberitahu semua orang bahwa ia akan menobatkan Liu Erniang sebagai Permaisuri Bingyue, pengadilan menjadi seriuh pasar. Para menteri tidak setuju dengan keputusan Kaisar Baili, karena menurut mereka bukan itu yang penting dilakukan saat ini.


Pelaku utama insiden di festival puncak musim semi belum ditemukan, dan kepala pembunuh Paviliun Litao juga belum tertangkap kembali. Seharusnya Kaisar Baili memprioritaskan penuntasan kekacauan, bukan mengangkat seorang permaisuri ketika belum dibutuhkan.


Melihat para menterinya ribut, Kaisar Baili menjadi marah. Ia menggebrak meja dan aula seketika hening. Bayangan gelap di mata Kaisar Baili menyiratkan bahwa ia sangat tidak senang. “Apa kalian meragukan keputusanku?”


Para menteri, meskipun tidak setuju dan tidak senang, mereka tidak berani bicara langsung. Orang-orang itu hanya bisa saling pandang satu sama lain, kemudian menjatuhkan tatapan terakhir kepada Raja Changle yang tetap berdiri tenang di depan mereka.


Dahi pria itu sesekali berkerut. Tidak ada yang bisa menyelami kedalaman matanya yang sejernih air ketika tenang dan semerah api ketika marah. Tidak ada pula yang memahami apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Hanya saja ia terlihat agak aneh, karena dia tidak menentang atau menyetujui.


“Paman, apa kau juga meragukan keputusanku?” tanya Kaisar Baili.


Baili Qingchen seketika mendongak dan matanya bertemu dengan mata Kaisar Baili. Baili Qingchen menarik napas sejenak, mengumpulkan semua kata-kata yang hendak ia sampaikan kepada keponakannya. Di hadapan semua menteri, ia maju dua langkah ke depan, menunduk sampai mahkota rajanya ikut bergetar seiring dengan gerakan kepalanya.


Semua menteri menahan napas. Sekarang mereka justru mengkhawatirkan perkataan yang akan dilontarkan Raja Changle kemudian. Ke mana raja yang biasanya menolak dengan tegas dan sangat berani itu? Mereka merasa Raja Changle sepertinya hendak menyetujui keponakannya itu.


“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”


Baili Qingchen kembali menghela napasnya. Baiklah, bukan begini caranya menghadapi keponakannya yang sangat tidak percayaan ini. Bagaimanapun, keponakannya adalah kaisar negara ini, dia tidak bisa mempermalukannya lagi di hadapan para menterinya.


“Kalau begitu, aku tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Yang Mulia bisa mengangkatnya menjadi Permaisuri Bingyue, namun setelah Yang Mulia mendengarkan perkataanku lebih dulu.”


Baili Qingchen melirik para menteri, isyaratnya ditangkap Kaisar Baili. Kaisar Baili langsung merasa bahwa apa yang hendak dikatakan pamannya adalah sebuah hal yang sangat rahasia. Dia kemudian menyuruh semua menterinya untuk keluar dari aula dan menjauh sejauh lima ratus meter dari teras istana.


“Sekarang, katakan apa yang ingin kau katakan, Paman!” titah Kaisar Baili setelah semua menteri keluar dan hanya tingga ia dan Baili Qingchen di dalam pengadilan. “Jika kau ingin membicarakan keburukan Selir Xian, maka itu tidak berguna. Aku tahu jika manusia terkadang memiliki sifat buruk yang tidak sedikit.”


“Aku tidak mau membicarakan sifat buruk Selir Xian. Yang Mulia, yang ingin kulaporkan adalah ini, dan aku ingin tahu keputusan apa yang akan kau ambil setelah kau membacanya.”

__ADS_1


Baili Qingchen memberikan sebuah laporan rahasia yang ia simpan dari lengan bajunya kepada Kaisar Baili. Saat Kaisar Baili membacanya, matanya membelalak dan ia menggebrak mejanya satu kali lagi. Sekarang, kemarahan yang terbersit menjadi lebih besar.


“Jadi, Selir Xian yang membebaskan kepala pembunuh Paviliun Litao?” desis Kaisar Baili. Kepalanya tiba-tiba sakit memikirkan wanita yang biasanya bersikap tenang padanya ternyata orang yang telah membuatnya kesulitan mengungkap pelaku nyata!


“Gao Lian adalah kerabat jauh Gao Hui. Selir Xian menggunakannya untuk membebaskan kepala pembunuh Paviliun Litao setelah mengancamnya,” ujar Baili Qingchen.


Kaisar Baili meremas laporan itu dengan tangan kekarnya. Matanya memejam menahan emosi. Sialan! Ia pikir Liu Erniang benar-benar patuh menjadi selirnya. Siapa sangka dia malah melibatkan diri dalam urusan pengadilan dan mengacaukan Pengadilan Tinggi Kekaisaran!


Kaisar Baili tidak penah berpikir kalau salah satu selirnya sangat kurang ajar. Dia juga tidak mengira jika selirnya memiliki hubungan dengan Paviliun Litao. Kini, Kaisar Baili justru merasa bahwa Selir Xian ini tidak sesederhana yang terlihat. Meskipun pandai bermuslihat, namun apa yang ada di balik itu jauh lebih mengerikan.


“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menarik kembali titahku dan mengingkari janjiku.”


“Yang Mulia tidak perlu mengingkarinya. Kau hanya perlu menundanya.”


“Menundanya?”


“Yang Mulia, kau hanya perlu menunda penobatannya. Kau bisa mencari alasan lain yang bisa membuktikan jika dia tidak memiliki kualifikasi untuk menduduki posisi itu, meskipun kelak bayi yang dilahirkannya adalah laki-laki. Yang Mulia, kau tidak boleh lupa jika kau telah memiliki seorang pangeran sebagai putra sulungmu.”


Pada saat ini, Kaisar Baili manggut-manggut mengiyakan penuturan pamannya. Kaisar Baili baru menyadari jika keputusannya yang terburu-buru ternyata memiliki dampak lain.


Sekarang ia sadar jika mengangkat Liu Erniang menjadi permaisuri sama artinya dengan memanggil Liu Wang kembali ke kota kekaisaran.


Dengan kelicikan orang tua itu, dia pasti akan masuk kembali ke pengadilan karena putrinya. Kaisar Baili tidak mau orang yang susah payah ia singkirkan kembali lagi. Dalam hal apapun, ia membenci Liu Wang, dan ia tidak akan membiarkan orang tua itu kembali.


Sorot mata Kaisar Baili mulai melembut.


“Aku mungkin terlalu terburu-buru. Paman, apa kau bisa mengaturnya untukku?”


Baili Qingchen mengangguk dan seulas senyum kecil terbit. Keponakannya tidak benar-benar memiliki hati yang keras. Selama ada sesuatu yang bisa membuatnya ragu, maka keputusan yang telah ia ambil akan dipertimbangkan kembali. Ini adalah sifat alaminya sejak kecil. Jika dia mampu membujuknya, maka Kaisar Baili bukan tidak mungkin akan menurutinya.


“Aku mengagumi kebijaksanaan Yang Mulia,” ucap Baili Qingchen. Kaisar Baili mencoba menenangkan dirinya. “Baiklah. Paman, kau boleh pergi. Oh, suruh para menteri banyak bicara itu untuk pulang. Aku tidak memiliki minat melanjutkan rapat lagi!”

__ADS_1


__ADS_2