
Udara di dalam kamar Qingyi tiba-tiba menjadi panas. Qingyi merasa tubuhnya mulai bereaksi. Sensasi yang tidak seharusnya ada hadir akibat sentuhan-sentuhan Baili Qingchen yang semakin lama semakin masif. Qingyi ragu apakah ini masih tubuhnya atau tubuh siapa.
“Jangan lakukan ini,” mohon Qingyi.
Pada saat itu, bagian atas pakaiannya sudah terbuka. Bahunya yang putih terekspos sempurna. Kulitnya bersinar seperti perak di bawah cahaya lilin, dengan aksesoris berupa tanda merah di setiap incinya. Bagian belahan dadanya bahkan sudah hampir terbuka sepenuhnya.
Baili Qingchen yang sudah tidak bisa mengendalikan diri tidak menggubris permohonan permaisurinya. Dia masih asyik bermain di beberapa bagian tubuh lain, yang entah sejak kapan menjadi candu untuknya. Baili Qingchen seperti anjing gila, dia menggigit di mana-mana.
Tangannya menyusup ke dalam rok Qingyi, menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya. Tubuh Qingyi bereaksi lebih cepat. Keringatnya mulai keluar dari tubuh, gelenyar aneh seperti ditarik keluar dari setiap tubuhnya. Sentuhan Baili Qingchen membuatnya menggila!
“Biarkan aku membersihkan bekas sentuhan kotor para pria penghibur itu!” selanya sambil melanjutkan kembali aktivitasnya.
Dia menyingkirkan tali pengait pinggang pakaian Qingyi, melemparnya ke lantai dengan kasar. Lalu, dia merobek gaun permaisurinya.
Untuk beberapa saat dia tertegun. Kepalanya pusing, namun perasaan marah, tidak terima, cemburu, dan segala rasa lainnya telah berubah menjadi sebuah dorongan yang kuat.
Qingyi tidak tahu kapan pria ini membuka seluruh pakaian miliknya. Sekarang, keduanya hampir tidak berpakaian sama sekali!
“Tidak. Jangan lakukan ini,” Qingyi masih mencoba menghentikan suaminya meskipun sia-sia. “Ah!”
Qingyi menjerit dan meringis saat sesuatu yang keras dari tubuh Baili Qingchen menerobos dinding pertahanan tubuhnya. Dia seperti ditusuk jarum yang sangat besar dan tajam sampai tubuhnya terasa terkoyak.
Rasanya sakit, seperti semua tulang-tulang dipaksa lepas dari tempatnya. Tubuh Qingyi terguncang hebat.
“Baili Qingchen...Kau....Kau menyakitiku,” lirih Qingyi.
“Maaf...tapi aku tidak bisa menghentikan ini.”
Baili Qingchen tidak bisa menghentikan atau mengendalikan dirinya sendiri. Tubuhnya yang telah dikuasai amarah dan rasa takut membuatnya berubah seperti seorang bajingan gila.
Jelas-jelas ini adalah pertama kalinya untuk mereka, namun dia melakukannya dengan sangat kasar dan memaksa.
Ada air mata yang menetes di sudut mata Qingyi. Ia hanya tidak tahan dengan rasa sakit itu, rasa sakit yang pertama kali ia rasakan dan ia dapatkan. Matanya menatap sendu pada Baili Qingchen, namun hatinya berteriak dengan keras dan mengatainya sebagai bajingan brengsek.
“Aku lebih suka kau membenciku dan meneriakiku bajingan gila daripada melihatmu bersama pria lain. Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan perceraianmu sampai kapanpun!”
Napas Baili Qingchen memburu. Matanya berkabut.
Qingyi seketika sadar: Pria ini melakukannya karena cemburu? Oh, yang benar saja! Dia sungguh-sungguh menganggap serius perkataannya?
Ini tidak seperti seorang Raja Changle yang agung dan berhati-hati! Baili Qingchen yang sekarang seperti seorang pria yang takut kehilangan istrinya!
“Aku akan menghitungnya pelan-pelan denganmu, bajingan gila!” ucap Qingyi.
Tubuhnya telah mengkhianatinya dan dia tidak tahan lagi.
Sepasang suami istri itu menyelesaikan urusan mereka. Keduanya berada di tengah lautan luas, di tengah sampan kecil yang sendirian. Ombak datang silih berganti, mengguncang tubuh dan jiwa mereka dan menghempaskan mereka berkali-kali. Langit dan bumi bergetar, rerumputan bergoyang ditepuk angin malam.
Qingyi dan Baili Qingchen sama-sama tertidur akibat pertarungan dengan ombak samudera. Mereka terpejam di bawah purnama yang terbelah, mengistirahatkan tubuh, jiwa, dan menenangkan kembali emosi mereka agar bisa bicara esok hari. Setidaknya, mereka harus bicara baik-baik setelah malam ini.
__ADS_1
Dini hari, Qingyi terbangun karena udara yang dingin. Seluruh tubuhnya terasa remuk saat dia mencoba bergerak sedikit saja. Kakinya seperti telah diregangkan sampai tulangnya patah.
Qingyi menghela napasnya sejenak, meredam kemarahan yang ditahan di dalam hatinya. Dia terlihat memejamkan mata dalam-dalam.
Kemudian, tangannya terulur untuk menarik selimut yang melorot, menutupi tubuhnya dan tubuh polos Baili Qingchen.
Entah sejak kapan titik vitalnya tidak lagi terkunci. Mungkin karena pelepasan itu, atau mungkin karena Baili Qingchen sengaja melepaskannya saat dia tidak menyadarinya.
Bagaimana ini? Kejadian itu sudah terjadi dan Qingyi bahkan tidak bisa melawan.
Dia sangat ingin memukuli Baili Qingchen dan menceburkannya ke dalam air, memberinya racun dan membuatnya menjadi biksu sepanjang hidup.
Tapi, bagaimana dia bisa melakukannya ketika tubuhnya sendiri mengkhianatinya dan dia tanpa sadar ikut menikmatinya?
Pria itu sedang tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya yang tadi malam berapi-api, sekarang begitu tenang. Ada bekas bulir keringat yang masih menempel di keningnya.
Aroma cendana yang menempel di pakaiannya tampaknya menempel di tubuhnya. Meskipun orang ini tanpa busana sekarang, tubuhnya tercium wangi.
Sebenarnya, Baili Qingchen adalah korban. Pertikaian ini dipicu olehnya pada awalnya. Pria itu hanya bertindak karena emosi melihat dia bersama pria lain, meskipun merekat tidak melakukan apa-apa.
Pikiran Baili Qingchen dipenuhi spekulasi dan tertekan karena perkataan cerai darinya, tanpa dia menjelaskan lebih lanjut. Dalam hal ini, Qingyi tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya.
Bulu mata lentik pria itu bergerak lembut. Tubuhnya merasakan kedinginan yang sama dengan permaisurinya.
Saat dia membuka matanya, dia terkejut melihat kondisi tubuhnya sendiri. Di sisinya, Qingyi berbaring telentang, matanya terbuka dan menatap kosong ke atas.
Kilasan memori perihal kejadian semalam tiba di kepalanya. Baili Qingchen memaki dirinya sendiri, memarahi dirinya karena bertindak impulsif.
“Apa kau sudah puas melampiaskan semua amarahmu?” tanya Qingyi yang menyadari jika suaminya sudah bangun.
“Aku...Aku....Aku telah menyakitimu,” jawab Baili Qingchen terbata. “Maaf.”
Terdengar helaan napas lelah dari orang di sampingnya itu.
“Aku pikir Raja Changle adalah orang yang tenang. Katakan, apa yang membuatmu bertingkah seperti bajingan gila yang brengsek dalam semalam?”
Ia rasa, mereka perlu bicara. Mereka harus meluruskan kesalahpahaman ini. Qingyi juga harus memberikan penjelasan kepada pria itu terkait perkataan anehnya sebelumnya.
Jika tidak, hubungan mereka akan semakin memburuk dan mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Qingyi juga harus menenangkan diri sebelum dia berubah menjadi orang yang gila lagi.
“Kurasa kita harus bicara.”
Baili Qingchen tergagap. Momen ini, bukankah sangat canggung? Tidak bisakah mereka menunggu pagi dan membersihkan diri, baru bicara?
“Aku tidak suka membuang waktu,” ujar Qingyi seakan tahu pemikiran Baili Qingchen.
“Aku hanya tidak suka kau bersama pria lain,” jawab pria itu dengan nada suara rendah.
“Mereka tidak lebih dari pelayan. Aku juga tidak mengotori diriku dengan mendambakan sentuhan pria seperti mereka,” Qingyi mencoba membela diri.
__ADS_1
“Tetap saja tidak boleh. Dalam mimpi pun, tetap tidak boleh!”
“Aih, sulit menang jika berdebat denganmu perihal ini.”
“Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan padaku mengapa kau ingin bercerai denganku?”
Sudut mulut dan mata Qingyi berkedut. Akhirnya, pria ini menanyakannya juga. Karena Baili Qingchen sudah bertanya, ini saatnya Qingyi menjawabnya.
Dia mengesampingkan akibat atau dampak yang mungkin akan menyusul nanti. Yang terpenting sekarang, dia harus memberinya penjelasan agar kesalahpahaman ini bisa berhenti.
“Sejak kapan kau menganggap serius perkataanku? Aku juga tidak benar-benar ingin mengatakannya. Jika bukan karena terpaksa, aku tidak akan pernah mengatakan itu.”
Entah mengapa, batu besar di hati Baili Qingchen langsung hilang begitu dia mendengar jawaban Qingyi.
“Jadi, kau tidak bersungguh-sungguh dengan perkataanmu hari itu?” tanyanya memastikan.
Ia ingin mendengar sekali lagi jika permintaan perceraian itu hanyalah sebuah lelucon dan dikatakan semata-mata karena terpaksa.
“Aku hanya bercanda. Aku membenci poligami dan perceraian. Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu dari hatiku?” tutur Qingyi. “Jadi, bisakah kau lebih tenang dan berhati-hati untuk ke depannya?”
“Kau... tidak akan membunuhku karena marah, kan?” tanya Baili Qingchen.
“Aku ingin melakukannya jika aku bisa.”
“Kau, tidak marah padaku?”
“Siapa bilang? Aku hanya tidak ingin membuang tenaga lagi. Nasinya sudah menjadi bubur, tidak akan bisa kembali menjadi nasi lagi.”
Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Astaga, dia benar-benar kehilangan ketenangannya saat menghadapi wanita ini!
Baili Qingchen senang karena permaisurinya ternyata hanya bercanda, meskipun dia tidak setuju karena Qingyi bercanda dengan hal seserius itu.
Pria itu tiba-tiba mendekat, kemudian memeluk Qingyi dari samping. Dia menyusupkan satu tangannya untuk merengkuh tubuh istrinya lebih erat.
“Hei, bisakah kau lebih berhati-hati? Kau membuatku seperti bayi sekarang. Kulitku sangat sensitif,” protes Qingyi yang terkejut karena Baili Qingchen tiba-tiba memeluknya dari samping.
Oh astaga, apa pria itu lupa jika saat ini mereka sedang tidak memakai busana dan hanya tertutup selimut?
Baili Qingchen menggeleng. Kepalanya menyusup di ceruk leher Qingyi. Harum aroma cendana tercium, dan rambut pria itu menguarkan bau lain yang menenangkan.
Qingyi menarik napasnya, menenangkan dirinya akibat persentuhan dua kulit yang sama-sama tanpa penghalang.
Tubuhnya terlalu lelah, jadi dia tidak ingin melawan. Qingyi berharap matahari akan segera terbit dan pria ini segera pergi dari kamarnya. Setelah ini, dia perlu membersihkan diri dan memulihkan tubuhnya yang terasa remuk akibat ulah suaminya itu.
"Aku membeli rumah bordil itu dengan alasan khusus," lanjut Qingyi. Baili Qingchen juga harus tahu apa tujuannya membeli tempat hiburan seperti itu agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
"Aku tahu. Kau selalu memiliki alasan dalam setiap tindakanmu," ujar Baili Qingchen. "Aku terlalu marah sampai tidak sempat memikirkannya."
Hembusan napas Baili Qingchen menerpa kulit lehernya yang terbuka. Qingyi merasa sangat geli.
__ADS_1
Baili Qingchen hendak menggigitnya sekali, namun Qingyi menyadari tindakannya dan langsung berkata, “Jangan bertingkah seperti vampir! Leherku bukan sumber darah yang bisa kau gigit dan kau hisap sesuka hati!”
Baili Qingchen mengulum senyumnya. Dia tetap menggigit leher itu sebelum dia tertidur kembali dengan Qingyi berada dalam pelukannya.