
Xiao Junjie yang baru saja menusuk Baili Qingchen dengan sebilah pedang panjang yang tajam seketika mengigil. Ia langsung melepaskan tangannya dari pegangan pedang dengan bergetar.
Xiao Junjie menatap kosong ke arah Baili Qingchen yang menatapnya dengan penuh tanya dan kekecewaan, kemudian terduduk di lantai begitu saja.
"A-Jie..."
“Tidak! A-Chen, aku tidak membunuh A-Chen!” ucapnya takut.
Baili Qingchen merasakan seluruh tubuhnya sakit. Rasa sakit itu lebih parah dan lebih dahsyat daripada luka-luka yang ia alami di medan perang.
Pedang itu menancap dari punggung kirinya, menembus hingga ke dadanya dan membuat robekan memanjang yang parah.
Darah mengalir deras. Tiba-tiba ia muntah darah. Baili Qingchen seperti kehilangan tenaga.
Ia mengalihkan pandangan kepada Qingyi yang menatapnya kosong, kemudian dengan lirih ia berkata, “Putri Permaisuri, kita….menang…”
Tubuh Baili Qingchen langsung rubuh. Kaisar Baili dan Kasim Li segera menghampirinya dan menyangganya. Melihat Baili Qingchen rubuh bersimbah darah, mata kejora Qingyi berubah menjadi merah, ia menendang Liu Erniang yang tiba-tiba tertawa dengan keras sampai tersungkur di sudut ruangan.
Qingyi melompat, berlari kencang. Dia mendorong Kaisar Baili dan menggantikannya menyangga tubuh Baili Qingchen. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya.
Ia menatap kosong kepada Baili Qingchen yang sudah setengah sadar. Baili Qingchen dengan sisa tenaganya meraih wajah Qingyi dengan tangan penuh darah, mengelus pipinya pelan. Ia tersenyum.
Qingyi bersitatap dengan Baili Qingchen. Ada air mata yang menetes dari matanya yang kosong. “Jangan…menangis…”
Baili Qingchen mengelus pipinya lagi, membuatnya terkena darah. Baili Qingchen batuk kembali, memuntahkan darah yang bergelambir. Darah dari dadanya yang tertusuk pedang mengalir deras, membanjiri lantai aula pengadilan yang seharusnya bersih.
Sampai saat ini, tidak ada kata yang keluar dari mulut Qingyi. Dia seperti kehilangan setengah dari jiwanya. Hati dan pikirannya menjadi kosong.
Ia jelas tahu bahwa pria ini sebentar lagi akan mati, tapi semua kata-kata dalam otaknya telah hilang entah ke mana. Qingyi bahkan tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan.
“Qingqing… Jangan menangis. Aku baik-baik saja,” lirih Baili Qingchen.
Permaisurinya berlidah tajam, ia tidak pandai berkata-kata romantis atau mengutarakan perasaannya. Baili Qingchen tahu hidupnya akan berakhir, tetapi ia tidak ingin melihat permaisurinya menangis. Air mata itu menetes, itu adalah air mata pertama yang ia lihat dari permaisurinya.
Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya Baili Qingchen melihat seorang wanita menangis untuknya. Baili Qingchen sangat berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukannya dengan sosok wanita seperti Qingyi.
Ia juga berterima kasih pada keponakannya yang telah memaksanya menikah. Jika tidak, pertemuannya dengan Qingyi mungkin akan lebih lama tertunda.
Qingyi adalah hidupnya, jiwanya, pelita hatinya. Wanita itu telah membawa sebuah lentera ke dalam hatinya yang gelap dan dingin, memberikan kehangatan dan menghidupkan kembali rasa yang sudah lama mati. Qingyi adalah oasis di tengah keringnya perasaan yang mendera jiwanya.
Baili Qingchen hanya menyesal karena tidak bisa menemaninya menikmati musim-musim yang akan datang, tidak bisa menemaninya dalam waktu yang lebih lama. Baili Qingchen menyesal tidak bisa melihat senyuman licik dan seringaian jahatnya lagi. Ia menyesal tidak akan bisa menjahilinya lagi.
Baili Qingchen berharap setelah ini, hidup permaisurinya bisa lebih tenang dan lebih damai. Meskipun dia tidak ada, ia sangat berharap Qingyi hidup dengan baik. Baili Qingchen kemudian beralih menatap keponakannya dengan lemah.
__ADS_1
Ia tersenyum, dengan lirih berkata kembali, “Jingyan, kau sudah dewasa. Jadilah Kaisar yang baik.”
Setelah mengucapkan itu, tangan lemah Baili Qingchen seketika terkulai dan jatuh. Kemudian terdengar suara jeritan melengking yang panjang.
Sontak mereka menatap ke arah asal suara, kecuali Qingyi. Mereka melihat Xiao Junjie membelalakkan matanya ke atas, menahan rasa sakit dari dadanya yang ditusuk sebilah pedang.
Di belakang Xiao Junjie, Janda Selir Sun menatapnya dengan marah dan berteriak, “Pembunuh! Kau menghancurkan hidup putraku! Kau harus mati!”
“Aku… bukan… pembunuh… A-Chen.”
Lantas, Xiao Junjie memejamkan matanya dan tidak membukanya lagi. Jeritan lain menyusul dari Qingyi. Dia memeluk Baili Qigchen yang sudah memejamkan matanya.
Semua orang meneteskan air mata, mengantarkan kepergian Raja Changle untuk selama-lamanya.
Marah, benci, tidak terima, semua rasa bercampur aduk dan berubah menjadi gelombang besar di dalam hati Qingyi. Dia berteriak dengan marah dan frustasi, menyuruh Baili Qingchen untuk membuka mata dan mengancam akan membakar mansionnya jika tidak kembali.
Di ujung kemarahan dan rasa tidak terimanya, ia berteriak dengan lantang, “Yinghao! Hentikan waktu!”
Pada saat itu, waktu berhenti. Angin berhenti berhembus, udara berhenti mengalir. Semua orang di dalam aula terdiam layaknya patung.
Hanya Qingyi yang masih bergerak. Ia masih memeluk Baili Qingchen sambil meneteskan air mata. Yinghao menatapnya dengan iba, ini pertama kalinya ia melihat tuannya yang biasanya marah-marah dan sangar sefrustasi ini.
“Mungkinkah akhirnya akan tetap seperti ini?” lirihnya.
Qingyi tidak ingin Baili Qingchen mati. Dia tidak bisa selesai seperti ini.
Perasaannya yang telah tumbuh untuk pria ini membuatnya sangat marah. Melihatnya terbaring bersimbah darah, hatinya tercabik-cabik.
Jiwanya seperti dibawa pergi. Qingyi memejamkan matanya, mencoba memikirkan cara agar akhir cerita tidak sama dengan cerita asli.
“Tuan, akhir ceritanya akan tetap sama,” ucap Yinghao.
“Bisakah kau menghidupkannya lagi? Dia tidak bisa mati seperti ini.”
Yinghao tampak ragu. “Tidak ada, Tuan.”
“Kau berbohong. Kau jelas tahu ada cara itu,” ucap Qingyi.
Yinghao menghela napas. Dengan ragu, ia kemudian menjelaskan sesuatu yang mungkin bisa mengabulkan keinginan tuannya.
“Sebetulnya, masih ada satu cara. Tapi, ini akan berdampak padamu, Tuan.”
Qingyi bagai melihat secercah harapan. Dampak apapun itu, ia sanggup menerimanya. “Katakan!”
__ADS_1
“Kau bisa menukar ruang dimensi dengan fungsi penukaran hidup dan mati. Tapi, jika kau melakukannya, kau akan ditarik paksa keluar dari sini dan ingatanmu akan terpengaruh secara acak. Kau, mungkin bisa berakhir gila setelah kembali ke dunia nyata.”
Qingyi yang memang sudah dipenuhi rasa marah dan frustasi tanpa pikir panjang menyetujui persyaratan tersebut. Ia setuju untuk menukar ruang dimensi dan ditarik paksa dari sini dengan nyawa Baili Qingchen. Yinghao menahannya, berkata bahwa konsekuensinya sangat besar.
“Tuan, apakah itu sepadan?”
“Apa yang tidak sepadan? Aku yang datang ke dalam hidupnya. Aku juga harus mengembalikan hidupnya.”
Qingyi merasa bahwa misinya di dunia ini sudah selesai. Dia sudah mendapatkan apa yang kurang dari cerita ini, meskipun hatinya sangat terluka dan tidak rela.
Jika dia pergi, maka sosok Liu Qingyi dalam kisah ini mungkin akan kembali seperti awal. Qingyi mungkin tidak bisa mengubah akhir dari semua orang, tapi setidaknya ia bisa mengubah akhir dari kisah Baili Qingchen.
Pria itu tidak boleh mati. Baili Qingchen sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah diterima dari orang lain. Tanpa sadar, ia sudah mencintainya dan menjatuhkan hatinya padanya.
Ia tahu, ia memang tidak pernah mengatakannya dan selalu bertengkar dengannya. Tetapi saat melihat pria ini sekarat dan meregang nyawa, jiwanya seakan ikut pergi bersamanya.
“Lalu bagaimana dengan janin yang sedang tumbuh di dalam tubuhmu?”
Qingyi sontak terkejut. Tangan yang dipenuhi darah Baili Qingchen refleks menyentuh perutnya yang kempis dan terbuka. Qingyi menatapnya tak percaya. Dia mendongak menatap Yinghao.
“Mengapa kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku baru tahu saat memindai tubuhmu beberapa saat yang lalu.”
“Kalau begitu, selamatkan keduanya!”
Yinghao tahu ini sulit. Tuannya sudah jatuh cinta. Walau tidak rela, Yinghao tidak bisa menolak lagi. Qingyi sebenarnya telah menyelesaikan misinya dengan baik, sudah saatnya ia kembali ke dunia nyata.
Tapi, entah mengapa Yinghao tidak rela. Dia masih ingin tuannya ini ada di sini dan bersama merajut kisah dengan Baili Qingchen.
“Ayo lakukan!” bentak Qingyi. Yinghao terkesiap.
“Baiklah. Tuan, pejamkan matamu.”
Sebelum itu, dia melepaskan liontin akses ke ruang dimensi, lalu menaruhnya di telapak tangan Baili Qingchen. Dia juga mencium bibir penuh darah itu selama beberapa detik.
Pelan tapi pasti, ia mulai menata hati dan pikirannya. “Aku sungguh berharap kita bisa bertemu lagi. Maaf, aku pergi tanpa menunggumu sadar.”
Lalu, Qingyi memejamkan mata sesuai instruksi Yinghao. Sebuah cahaya keemasan, yang mirip dengan cahaya saat Qingyi pertama kali tersedot ke dalam ruang dimensi.
Ia sangat ingat dengan cahaya ini. Dia tetap memejamkan mata, air matanya ada yang menetes saat cahaya itu secara perlahan menelannya.
Saat fitur penukaran hidup dan mati mencapai proses puncak, sebuah ledakan cahaya meledak dari dalam aula istana kekaisaran, menebarkan gelombang cahaya ke seluruh penjuru kota kekaisaran. Semua orang yang ada di dalam aula jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sebelum cahaya itu menelannya keseluruhan, Qingyi sempat tersenyum dan meneteskan air mata. Sejak saat itu, semuanya menjadi gelap.