Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 108: Bertemu Kembali


__ADS_3

Kaisar Baili cukup marah ketika mendengar cerita versi Baili Qingchen mengenai kejadian di pasar kota kekaisaran satu hari yang lalu. Dalam pengawasan Raja Changle, orang-orang tidak tahu malu itu masih mampu mengganggu keluarga kekaisaran, bahkan berlaku sangat kasar.


Baili Wuyuan adalah keturunan pertamanya, dan tidak boleh ada satu orang pun yang menyakitinya. Meskipun dia besar di luar, namun itu masih dapat diterima.


Setelah pengangkatannya sebagai Pangeran Manyue, dengan gelarnya itu, Baili Wuyuan benar-benar memiliki tanggungjawab dan wibawa seorang pangeran.


Sejak dulu, jika ada yang menyinggung anggota keluarga kekaisaran, setiap kaisar akan membahasnya dan menuntaskannya sampai puas. Setelah mendengar penuturan pamannya, itu menjadi tidak perlu dilakukan. Kaisar


Baili memprotes keputusan Baili Qingchen yang malah mengampuni si kecil Jiang Wen dan menjadikan teman belajar putra sulungnya. Mendapat protes berkepanjangan, Baili Qingchen tetap bersikap tenang.


“Sebagai Kaisar Bingyue, Yang Mulia harus lebih berbelas kasih. Jika seorang anak kecil saja tidak dilepaskan, bagaimana rakyat akan mempercayaimu kelak?”


Kaisar Baili terdiam.


“Keluarga Marquis Chenyuan memiliki kesetiaan kepada Keluarga Baili dari generasi ke generasi. Meskipun mendiang Selir Sui bersalah, tidak seharusnya Yang Mulia mendendam kepada keluarga dekatnya, yang bahkan tidak tahu menahu soal perbuatannya.”


Kaisar Baili diceramahi pamannya dengan kata-kata yang tidak menohok. Beginilah cara Baili Qingchen mendidik keponakan kaisarnya yang keras kepala seperti batu. Dia tidak menunjukkannya secara langsung, namun melalui perkataan, dia berharap keponakannya dapat mengerti banyak hal.


Tidak semua hal bisa digenggam dengan mudah. Baili Qingchen tidak pernah berharap keponakannya menjadi kaisar yang berhati kejam dan dingin. Kakaknya menitipkan negara dan putranya kepadanya, dan Baili Qingchen harus menjaga keduanya di dalam tangannya.


Meski sulit karena Kaisar Baili selalu curiga dan waspada, Baili Qingchen tetap akan terus berjalan ke depan.


Kaisar Baili seperti anak kecil yang sedang dinasehati. Beberapa waktu ini, hatinya menjadi sedikit lebih lembut dan mungkin dia tak lagi bersikap begitu arogan di hadapan pamannya.


Kewaspadaannya masih ada, karena sebagai kaisar, orang yang paling patut ia waspadai adalah kerabatnya sendiri. Di singgasananya, dia memandang ke bawah, ke tempat Baili Qingchen berdiri.


“Menurutmu, Marquis Chenyuan akan betul-betul tunduk padaku?” tanya Kaisar Baili.


“Jiang Wen adalah cucu semata wayang Jiang Deng. Jika Yang Mulia menginginkannya, anak itu bisa menjadi bawahan yang setia untuk Baili Wuyuan di masa depan kelak.”


Masuk akal, pikir Kaisar Baili. Biarkan si tua Jiang Deng yang sombong itu tetap di perbatasan. Selama pemerintahan ayahnya, Jiang Deng menghormatinya sebagai Putra Mahkota. Sejak dia naik takhta, si tua itu mulai menunjukkan gelagat tidak suka.


Kaisar Baili mengutusnya ke perbatasan beberapa tahun lalu, dan untuk sementara dia tak lagi khawatir akan wajah jelek Jiang Deng yang memandangnya dengan tatapan tak suka.


“Kalau begitu, ikuti perkataanmu saja, Paman. Beberapa hari lagi adalah festival puncak musim semi. Istana akan mengadakan perjamuan dan mengundang banyak bangsawan dan menteri. Paman, kau saja yang mengurusnya.”


“Ya. Aku akan mengurus sesuai perintahmu.”

__ADS_1


Sepasang keponakan – paman itu berpisah di aula pengadilan. Baili Qingchen melangkah dengan pelan, menikmati semilir angin musim semi yang berhembus di pelataran istana megah itu. Oh, dia lupa jika dia telah menghukum ibunya sendiri. Sekarang, dia tidak punya siapapun untuk dikunjungi.


***


Luo Niang telah keluar dari istana sejak dekret penghukuman Janda Selir Sun diturunkan. Sebagai putri pendamping Janda Selir Sun, dia dibebaskan karena tidak bersalah dan tidak tahu menahu perihal perbuatan bibinya yang sangat tidak manusiawi.


Dia berdiri di pihak yang netral, dan dia hanya menghela napas saat sepupunya membawakan sendiri gulungan dekret itu.


Hari ini, dia telah mengepak barangnya dan akan ia pindahkan ke kediaman yang dibangun Kaisar Baili untuk Keluarga Luo. Luo Mingyue, adik perempuannya itu juga ikut membantu.


Dia senang karena pada akhirnya, kakaknya tidak lagi terikat dengan istana. Luo Mingyue hidup kesepian karena di kediamannya, hanya dia satu satunya majikan yang dilayani banyak pelayan.


“Oh, seandainya aku menikah saat itu, aku mungkin tidak perlu menunggu selama ini sampai kau kembali,” ucap Luo Mingyue pada kakaknya.


Luo Niang terkekeh.


“Berhenti memikirkan pernikahan konyol itu. Aku harus pergi mengunjungi Putri Permaisuri Changle setelah ini.”


Mendengar nama Putri Permaisuri Changle disebutkan, mata almond Luo Mingyue berbinar cerah. Dia sangat tahu kisah kehebatan dan kegilaan Putri Permaisuri Changle, tetapi belum pernah bertemu dengannya.


“Aku juga ingin bertemu dengannya! Kakak, bawalah aku bersamamu!”


“Untuk apa kau bertemu dengannya?”


“Putri Permaisuri Changle adalah orang hebat yang mendampingi Kakak Chen. Aku banyak mendengar kisahnya dari orang-orang. Suatu kehormatan dalam hidupku jika aku bisa bertemu dengannya. Lagipula, dia adalah sepupu iparku juga. Setidaknya, kami masih sebuah keluarga, bukan?”


Luo Niang berkata, “Terserah.”


Siang hari, kereta kuda milik Luo Niang tiba di depan gerbang mansion Raja Changle. Penjaga gerbang sudah mengerti adat kebiasaan Putri Luo setiap kali berkunjung. Mereka hanya tidak menyangka jika dalam kunjungannya kali ini, Luo Niang akan membawa Luo Mingyue bersamanya.


“Di mana Putri Permaisuri Changle?” tanyanya pada kepala pengurus. Kepala pengurus kemudian mengantarnya ke depan gerbang halaman barat, lalu pergi menyelesaikan pekerjaannya.


Di taman yang indah dan tertata itu, Qingyi tampak sedang memegang sebuah pedang dan mengarahkannya pada sesosok hewan kecil yang berdiri dengan susah payah.


Dia sedang menghukum dan memarahi Yinghao. Pedang di tangannya adalah milik Baili Qingchen, yang pernah ia gunakan untuk memotong buah dan sayuran.


“Sepertinya Putri Permaisuri Changle sedang sibuk memarahi hewan peliharaannya,” celetuk Luo Niang sambil berjalan memasuki halaman barat. Qingyi menoleh, dan dalam kesempatan itu, Yinghao kabur. Qingyi berdecak kesal.

__ADS_1


“Peliharaan yang tidak patuh harus dihukum,” ucap Qingyi. “Kebetulan, aku juga hendak menghukum seseorang yang telah memberikan anggur kepada Raja Changle secara diam-diam selama ini.”


Ups, Luo Niang ketahuan! Dia mencelos, ekspresinya tampak bersalah.


“Aiya! A-Chen sendiri yang memaksaku untuk memberinya anggur setiap kali dia memintanya.”


Itu benar. Baili Qingchen yang memaksanya memberikan anggur dan mengirimkannya ke mansion secara diam-diam. Secara teknis, Luo Niang hanyalah korban. Orang yang seharusnya dimarahi adalah sepupunya itu.


Tapi, melihat ekspresi Qingyi sekarang, sepertinya sepupunya itu sudah mendapatkan pelajaran yang lebih dari sekadar dimarahi.


Luo Mingyue mendongak, dan untuk pertama kalinya dia melihat wajah Qingyi dalam hidupnya. Eh, sebentar! Mengapa rasanya wajah ini tampak sangat familier? Bukankah dia….


“Liu Qingti?” pekik Luo Mingyue. Qingyi terkejut sampai pedangnya hampir jatuh.


“Kau mengenal kakakku?” tanya Qingyi.


Dia memperhatikan wajah Luo Mingyue, dan beberapa detik kemudian, matanya sedikit membelalak.


“A-Yue, dia Liu Qingyi, bukan Liu Qingti,” Luo Niang menyela. Luo Mingyue maju selangkah, memperhatikan dan memutari Qingyi.


“Tidak. Kakak, orang ini adalah Liu Qingti yang ingin kunikahi waktu itu!”


“Ah?”


Jadi, maksud adiknya adalah, Qingyi adalah orang yang ingin dinikahi olehnya saat itu? Tapi, bagaimana mungkin? Luo Niang menggelengkan kepalanya, kemudian berpikir.


Ia tiba pada satu kesimpulan bahwa Qingyi telah menyamar menjadi seorang pria dan menggunakan nama kakaknya ketika dia menyelamatkan Luo Mingyue. Adiknya yang polos  ini tidak sadar jika Liu Qingti yang ia tahu ternyata adik perempuan Liu Qingti yang asli.


Mengingat ini, semuanya baru masuk akal.


“Pantas saja kau begitu bersemangat untuk membantuku.”


Kemudian, tawa Luo Niang pecah.


“A-Luo, A-Yue, apa yang kalian lakukan di sini?”


Mereka menoleh dan melihat Baili Qingchen berjalan kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2