
Perdana menteri berdiri di depan istana kaisar, di bawah pohon persik besar yang mulai tumbuh dedaunan. Di sampingnya, Kaisar Baili juga berdisi sama tegapnya, namun posisinya berada beberapa langkah di depan perdana menteri.
Jubah emas Kaisar Baili berkibar diterpa angin musim semi. Mahkotanya yang bertatahkan emas dan manik-manik berlian sesekali bergoyang setiap kepalanya bergerak.
Sepuluh meter di belakang adalah tempat para pelayan dan kasim pengikutnya berdiri. Semuanya menundukkan kepala, menutup mata dan telinga atas segala sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat dan mereka dengar.
Itu sudah menjadi hukum tidak tertulis, dan harus dilaksanakan jika mereka masih menginginkan kepala mereka tetap terpasang di lehernya.
Dengan helaan napas yang pelan, Kaisar Baili mengatur ulang semua kata-kata yang tersusun di otaknya. Matanya memandang jauh ke cakrawala yang tidak terbatas, namun entah mengapa rasanya begitu kosong. Seolah-olah, semua jiwanya telah dibawa pergi dan tertahan di suatu tempat.
“Rasanya bagus ketika pengadilan berakhir lebih cepat dari biasanya. Aih, para menteri itu selalu mencoba menyulitkanku,” Kaisar Baili berujar dengan suara sedang.
Perdana menteri menunduk, lalu perlahan kepalanya terangkat menatap sosok Kaisar Baili yang berdiri memunggunginya.
“Kau tahu, Perdana Menteri? Kakek dan ayahku, mengangkat mereka dan memberikan banyak kemuliaan padanya. Tapi, mereka begitu tidak tahu diri. Ah, kadang memang tidak benar memelihara seekor anjing, karena akan mengigit orang yang memberinya makan ketika tidak puas.”
Sindiran itu tepat mengenai ulu hati perdana menteri. Pemikiran Kaisar Baili yang sulit ditebak memang hampir membuatnya kewalahan selama ini. Kaisar yang satu ini, Baili Jingyan, tidak mudah dikendalikan dan selalu bisa memegang kendali atas hidup beberapa orang.
Bahkan dirinya, yang telah mengabdi pada istana selama puluhan tahun, sampai saat ini masih sering keliru dan hampir salah melangkah.
“Itu karena tidak ada penjaga yang bisa ditempatkan dengan tepat di samping mereka, Yang Mulia,” ujar perdana menteri.
“Penjaga yang tidak tepat?” Kaisar Baili menjeda ucapannya, lalu tertawa. Semua kasim dan pelayan yang mengikutinya gemetar ketakutan.
“Mungkin kata-katamu benar. Ayahku telah memberikan seorang penjaga yang sangat ganas, sampai aku tidak bisa membedakan apakah anjing peliharaan itu adalah aku atau mereka.”
Perdana menteri menyunggingkan senyum di tengah wajahnya yang mulai keriput. Serumit apapun pemikiran Kaisar Baili, sosok itu tetap akan seperti kucing yang ketakutan setiap kali berbenturan dengan seseorang – Raja Changle, paman yang seharusnya menjadi wali kaisarnya. Ketakutan itu menjadi berakar dan membuatnya seringkali goyah, padahal semua keputusan telah ditetapkan sebelumnya.
“Cara yang paling tepat adalah menyingkirkan penjaga itu dan membiarkan semua anjingnya keluar menyerang,” seloroh perdana menteri.
“Oh? Coba kau katakan!”
__ADS_1
“Yang Mulia membatalkan pernikahan Pangeran Ketiga dengan putriku karena ditentang Raja Changle. Yang Mulia juga membebaskannya karena Raja Changle memiliki sesuatu yang membuat Yang Mulia takut.”
Kata-kata perdana menteri membuat ego di hati Kaisar Baili naik sepuluh kali lipat. Dia yang paling tidak suka dibandingkan dan disebut penakut berbalik, menatap tajam pada perdana menteri dengan emosi tertahan. Namun, itu tetap bisa dilihat dan diperhitungkan, bahwa Kaisar Baili benar-benar sedang marah saat ini.
“Zhen tidak pernah takut pada siapapun,” tegasnya pada perdana menteri.
“Mohon Yang Mulia tahan amarahmu. Bawahan ini bisa memberikan jalan yang mungkin bisa menjadi alternatif untuk Yang Mulia.”
“Perdana Menteri, jika kau berbicara omong kosong lagi, lebih baik kau segera pergi dan urus semua masalahmu.”
Perdana menteri lantas maju selangkah. Para kasim dan pelayan yang ada di belakang masih gemetar. Bagaimanapun, orang yang akan menjadi pelampiasan amarah kaisar adalah mereka. Mereka sungguh berharap perdana menteri benar-benar bisa meredakan amarah itu agar nyawa mereka selamat.
“Bukankah Yang Mulia tengah mengkhawatirkan Kavaleri Jingyi?”
Kaisar Baili terkejut, ketika ia akhirnya tahu kalau hal ini juga diketahui perdana menteri. Perdana menteri, si rubah jantan yang licik ini sudah sangat lama tahu bahwa sebuah kavaleri besar ditempatkan lima ratus kilometer dari kota kekaisaran oleh kaisar terdahulu. Seorang pangeran, yang telah diberi gelar raja diberikan kekuasaan untuk memerintah pasukan dengan sebuah token.
Para menteri lain tidak tahu perihal kavaleri tersebut karena kaisar terdahulu begitu mementingkannya sampai merahasiakannya. Namun, dengan kemampuannya itu, perdana menteri menjadi satu-satunya pejabat sipil yang tahu.
Memegang token emas berarti memegang kuasa seluruh dunia. Kekuatan militer yang kuat mampu mengguncangkan seluruh benua. Tidak mungkin Kaisar Baili tidak memikirkannya.
Perdana menteri sudah berusaha merebutnya, namun tetap tidak membuahkan hasil. Kebetulan, dia bisa memanfaatkan kesempatan ini dan membukakan jalan untuk Kaisar Baili.
“Kau mengetahuinya?” tanya Kaisar Baili.
“Sepuluh tahun lalu, mendiang Kaisar memberikan plakat emasnya kepada Raja Changle. Sampai sekarang, plakat itu mungkin masih tersimpan di kediamannya.”
“Jika benar pun, itu tidak bisa merubah apapun. Plakat emas itu tidak bisa diserahkan meskipun aku mengeluarkan dekrit untuk menyerahakannya.”
Itu karena, Raja Changle adalah istimewa. Dia satu-satunya adik kaisar terdahulu yang diberi perlakuan khusus. Apapun yang diberikan padanya tidak bisa diambil oleh siapapun.
Raja Changle adalah wali kaisar yang sah, namun justru menjadi duri dalam daging bagi Baili Jingyan. Bagaimanapun, kekuatan yang dimiliki pamannya itu terlalu besar.
__ADS_1
“Kuperingatkan kau untuk tidak mengusik Raja Changle secara sembarangan. Jika tidak, bukan hanya kau yang akan kehilangan kepala, tapi seluruh Bingyue akan ikut binasa bersamamu.”
Prasangka Kaisar Baili kepada Raja Changle sudah begitu jauh. Dia tak lagi memandangnya sebagai paman, melainkan seorang musuh besar. Kebencian yang besar itu, meskipun ingin dilampiaskan tetap tidak boleh sembarangan.
Kaisar Baili masih punya hati untuk tidak memperumit situasi, terlebih jika melibatkan rakyatnya. Dia kaisar yang licik dan kejam, tatapi hatinya masih menyimpan sedikit belas kasihan.
Dia bukannya tidak mampu. Kaisar Baili bisa saja memerintahkan semua jenderalnya untuk turun tangan, namun itu sama saja dengan menghancurkan negaranya sendiri.
Lagipula, selama ini pamannya itu diam dan tidak melakukan apa-apa. Sejak kembali dari perbatasan dan menikah, Baili Qingchen menjadi begitu patuh pada perintah yang turun kepadanya.
Begini juga bagus, pikir Kaisar Baili. Alangkah baiknya jika pamannya tetap diam sampai mati. Dengan begitu, dia tidak perlu mengotori tangannya dengan darah dan memikirkan rumitnya situasi.
Kekuasaan militer utamanya yang dicabut memang melemahkannya, namun bukan berarti pengaruhnya hilang. Itu hanya masalah waktu.
Dia sudah pernah berkata pada Liu Qingyi, selama Baili Qingchen tidak macam-macam, maka dia tidak akan memperhitungkannya. Di bawah pengawasannya, Kaisar Baili tidak melihat pergerakan yang ekstrim dari Baili Qingchen.
Sejak keluar dari penjara, pamannya itu hanya menemani Xiao Junjie jalan-jalan dan sehari-hari bertengkar dengan permaisurinya. Yah, itu terjadi setelah rapat pengadilan bubar.
Perdana menteri geram, akan tetapi dia segera mengendalikan diri. Pemikiran sosok kaisar yang rumit, membuatnya ekstra berhati-hati. Dia tidak bicara, menunggu perkataan seperti apa yang akan dilontarkan oleh Kaisar Baili selanjutnya.
“Perihal pernikahan putrimu, aku akan memikirkan cara. Dia memang harus masuk istana sejak lama. Biarkan itu tertunda sesaat,” ujar Kaisar Baili. Perdana menteri mengangguk.
“Kalau begitu, bawahan yang tua ini menuruti perintah. Aku berharap Yang Mulia mengingat janji Yang Mulia hari ini.”
Kaisar Baili berbalik menatap kembali pemandangan di kejauhan. Dia melambaika tangannya, lalu perdana menteri segera undur diri. Para pelayan dan kasim menghembuskan napas lega.
Syukurlah, nyawa mereka masih ada di badan mereka. Huh, bekerja di istana kekaisaran memang sangat beresiko, tapi mereka tidak punya pilihan lain
...****************...
...Para kesayangan Otor, ada yang harus diberitahukan, nih. Untuk beberapa hari ke depan, Otor lagi mempersiapkan diri buat seminar ujian akhir. Jadi, mohon dimaklum ya kalau frekuensi updatenya mungkin berkurang dari biasanya. Tapi, kalau nanti udah selesai, Otor usahain buat up banyak-banyak. So, jangan lupa kasih mawar berduri atau kursinya ya, hehe. Sampai jumpa di episode selanjutnya!...
__ADS_1
.