Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 59: Permintaan Kaisar Baili


__ADS_3

Ruang belajar Kaisar Baili memiliki aura yang sangat mengagumkan jika dirasakan dengan benar. Di sini, selain buku-buku, juga terdapat beberapa hiasan langka yang hanya bisa dimiliki oleh istana.


Setiap sudutnya dihiasi dengan tatakan lilin bercabang yang terbuat dari emas dan perak, yang akan selaras dengan warna cahaya lilin ketika menyala.


Besar, luas, indah, itu sebabnya tempat ini seperti rumah kedua untuk Kaisar Baili. Di sini, dia bisa menghabiskan waktu seharian untuk membaca atau menyelesaikan urusan kenegaraan yang tidak selesai saat rapat pengadilan. Dia juga sering bertemu dengan para menterinya di sini, termasuk Baili Qingchen, paman sekaligus Dewa Perang Bingyue.


“Jadi, dia benar-benar terlibat?” tanya Kaisar Baili tidak yakin.


Saat ini, dia duduk dengan gelisah di kursi naganya. Di mejanya, sebuah laporan resmi ditulis dengan tinta hitam yang sudah mengering. Huruf-huruf itu berisi keterangan yang membuat hatinya gusar sekaligus marah di saat yang sama.


Kaisar Baili memandanginya dengan tidak yakin, seolah-olah apa yang tertulis di sana adalah sebuah kesalahan.


“Yang Mulia, kau jelas tahu bahwa aku tidak pernah bermain-main dengan pekerjaanku,” jawab Baili Qingchen.


Ia menulis laporan dan langsung menyerahkannya kepada Kaisar Baili setelah rapat pengadilan selesai. Karena kasus itu diselidiki secara sembunyi, maka ia juga harus melaporkannya diam-diam.


Baili Qingchen menatap keponakannya, mencari sebuah keraguan yang terpancar di mata setajam elang namun sangat muda tersebut. Ternyata benar, keponakannya masih tidak percaya.


Kaisar Baili belum bisa menerima kenyataan kalau perdana menteri benar-benar terlibat dengan kasus penyelundupan orang selatan ke kota kekaisaran Bingyue. Ia pikir, perdana menteri tidak akan seberani itu sampai mau menggunakan tangannya sendiri. Sama sekali tidak terbayangkan dalam benaknya kalau orang tua itu sungguh terlibat dalam masalah sebesar ini.


Seberapa jahatnya perdana menteri dan seberapa liciknya dia, dia masih seorang pejabat yang mencintai tanah airnya. Tidak mungkin perdana menteri berani mengkhianati negerinya sendiri dengan menyelundupkan orang asing.


Itu sebabnya Kaisar Baili belum mau mempercayai ini. Tapi, semua bukti dan kesaksian sudah jelas. Kaisar Baili tidak mungkin menyangkalnya lagi.


Kaisar Baili dilanda kebingungan. Pertama kali dalam hidupnya, dia mengalami situasi dilematis. Ia akui, ia memang tidak menyukai perdana menteri dan terkadang sangat membencinya. Kaisar Baili benci ketika perdana menteri selalu mengaturkan orang tanpa sepengetahuannya dan bertindak tanpa persetujuannya.


Ia juga benci saat perdana menteri terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan pribadi dan pengambilan keputusannya.

__ADS_1


Tapi, bagaimanapun dia adalah gurunya. Orang yang mengajarkannya pemerintahan sejak kecil adalah perdana menteri dan para guru kekaisaran. Dikatakan atau tidak, harus diakui kalau perdana menteri memiliki kontribusi yang besar, terutama untuknya dan untuk negara ini. Meskipun sering membuat marah, tapi itu semua sepadan dengan kerja kerasnya.


“Apa yang membuatmu ragu, Yang Mulia?” tanya Baili Qingchen.


Ia yakin, saat ini keponakannya tengah mengalami konflik batin yang cukup berat. Meskipun tidak selalu memihak perdana menteri, tapi dirinya jelas tahu bahwa orang tua itu sudah cukup banyak membantu kelangsungan pemerintahan Bingyue.


Apalagi, perdana menteri adalah guru keponakannya ketika dia masih menjadi Putra Mahkota Bingyue. Situasi saat ini jelas mendorongnya pada jalan buntu.


Namun, keponakannya itu tidak boleh diam saja. Di luar sana, rakyat Bingyue tengah mengalami berbagai ancaman yang datang setiap waktu. Kalau mereka tahu ada orang selatan menyusup dan pelaku penyusupannya tidak ditindak, apa yang akan mereka pikirkan?


Hanya berdemo dan menyebarkan rumor saja itu terbilang cukup baik. Bagaimana jika mereka mempertanyakan integritas kaisar dan menyuruhnya turun takhta?


“Yang Mulia sudah terlalu banyak menoleransi Perdana Menteri. Aku bisa saja melupakan perihal percobaan pembunuhan yang ia lakukan terhadapku dan permaisuriku. Namun, apakah rakyat Bingyue punya pemikiran yang sama? Jika kali ini Yang Mulia tidak menghukumnya, aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan selalu mengalah padamu.”


Perkataan ini sama saja dengan sebuah ancaman bagi Kaisar Baili. Dia juga tidak ingin pamannya benar-benar membalikkan punggung dan melawannya. Itu sangat berbahaya, terutama karena Kavaleri Jingyi masih ada di bawah kendali Baili Qingchen.


Kaisar Baili juga ingin menghukum dan tidak akan memaafkan perdana menteri, tapi beberapa pertimbangan membuatnya berpikir berulang kali.


“Berapa hari yang kau butuhkan?”


“Satu hari. Aku akan memberimu jawaban besok pagi.”


Baili Qingchen mengangguk.


“Sesuai dengan permintaan Yang Mulia. Kalau begitu, aku akan pergi.”


Meskipun tidak mendapat jawaban sekarang, setidaknya keponakannya sudah berjanji. Perdana menteri kali ini tidak akan bisa melarikan diri. Kejahatan semacam ini sepantasnya dihukum mati. Namun karena jasa, hukuman bisa saja ditangguhkan dan diganti dengan hukuman lain. Mengenai jenisnya, dia akan mengetahui jawabannya besok pagi.

__ADS_1


Di mansion, semua orang tengah sibuk bekerja. Halaman barat menjadi satu-satunya tempat yang paling damai karena hari  ini, Qingyi meliburkan semua pelayannya. Dirinya hanya ingin menikmati waktu tanpa diganggu suara pelayan yang hampir setiap saat menyambangi telinganya. Dia juga menutup gerbang dan menguncinya dari dalam.


Yinghao membawa banyak makanan kemasan dari ruang dimensi. Dia dan tuannya itu menumpuknya di meja, lalu menyediakan sebuah wadah besar. Semua isi makanan kemasan dicampur ke dalam wadah, dan mereka bersenang-senang sampai kenyang. Qingyi bersendawa beberapa kali.


Tawanya tidak pernah berhenti setiap kali mengingat kejadian semalam. Dengan bodohnya perdana menteri menyetujuinya, mempercayainya sampai masuk ke dalam jebakan.


Awalnya ia menyiapkannya untuk Wang Yiyuan, karena ia sudah tahu kalau penguasa pasar gelap adalah orang yang membantu para imigran gelap. Namun, Qingyi seperti mendapat jackpot ketika perdana menteri datang meminta bantuan untuk membebaskan mereka.


Sekalian saja dia menangkap dua lalat itu dalam satu tepukan!


“Yinghao, pedang ini bagus. Menurutmu, jika aku menjualnya, aku akan dapat untung berapa?”


Qingyi memegangi pedang perang milik Baili Qingchen yang ia gunakan malam kemarin. Setelah diperhatikan, pedang ini cukup indah juga. Ada ukiran seperti bunga salju di pegangannya. Runcing dan juga tajam. Bilahnya mengkilap, menandakan bahwa pedang ini sering dipakai dan tidak mungkin pensiun.


Kalau orang-orang tahu ini adalah pedang Dewa Perang Bingyue, seberapa tinggi harga yang akan ia dapatkan?


“Tuan, kau sangat perhitungan. Kau sudah cukup kaya, tidak perlu menjual pedang berharga seperti itu,” ujar Yinghao.


“Menurutmu ini berharga?”


“Tentu saja! Pedang ini milik Dewa Perang Bingyue dan diberikan langsung kepadamu. Kalau itu orang lain, mereka sudah akan menaruhnya di museum!”


“Cih… Ini tidak ada bedanya dengan pisau pemotong bawang!”


Qingyi mengambil sebuah apel segar, lalu melemparkannya ke udara. Ia bergerak menarikan tarian pedang dengan gesit, lalu potongan-potongan apel yang simetris jatuh tersusun di atas piring. Kulitnya terkelupas, dan potongannya sangat rapi seperti hasil karya professional.


Selesai dengan apel, Qingyi mengeluarkan beberapa siung bawang putih dan bawang merah dari ruang dimensi, lalu menaruhnya di atas meja lengkap dengan tatakannya. Dia mengiris bawang-bawang itu menggunakan pedang Baili Qingchen, begitu cekatan dan hati-hati.

__ADS_1


Sekejap kemudian, dia tertawa bahagia. Pedang yang pernah menumpahkan darah dan menebas leher musuh ini telah menjadi mahakarya yang harga dirinya dijatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh Qingyi. Jika Xiao Junjie melihat ini, dia mungkin akan pingsan. Pedang indah itu malah beralih fungsi menjadi pisau pemotong buah dan sayuran!


Cui Kong mengintip lewat atap bangunan, matanya terbalalak seperti hendak keluar dari cengkuknya. Dia mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatannya sendiri. “Apa Yang Mulia Putri tidak takut digantung Yang Mulia jika dia tahu pedang kesayangannya dijadikan pisau pemotong buah?” tanyanya dalam hati. Cui Kong menghela napas.


__ADS_2