
Pria itu meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Qingyi sempat menggeliat ketika Baili Qingchen melepaskan pelukannya, kemudian kembali tertidur.
Baili Qingchen lantas menyelimutinya dengan selimut tipis. Pada saat itu, sore hari sudah menjelang dan matahari sebentar lagi terbenam.
Pelayan yang bertugas menyalakan lampu lilin melangkah dengan hati-hati, takut menimbulkan suara yang bisa membuat Putri Permaisuri bangun.
Selain itu, mereka juga takut karena Baili Qingchen telah mengisyaratkan bahwa ruangan kamarnya tidak boleh berisik dan harus hening.
Baili Qingchen berjongkok untuk melihat wajah Qingyi dari dekat. Saat itu, Qingyi telah menggerakkan tubuhnya hingga menyamping, membuat wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Baili Qingchen. Tangan Baili Qingchen terulur membetulkan anak rambut Qingyi yang lolos ke keningnya.
Ada kedamaian yang menyusup ke dalam hati Baili Qingchen. Lihatlah, wajah Qingyi begitu damai dan sejuk ketika dia sedang tertidur. Alis cokelat yang tipis itu seperti sebuah lengkungan yang dibuat ketika sang pencipta sedang bahagia.
Kedua mata yang indah, yang memancarkan cahaya, seperti kejora yang bersinar. Hidung Qingyi bangir, seperti papan perosotan anak-anak.
Wajah ini dipahat dengan sempurna. Itu membuat Baili Qingchen bertanya-tanya, apakah Qingyi benar-benar putri kandung Liu Wang atau bukan, karena gadis itu sama sekali tidak mewarisi wajah ayahnya.
Mungkin, wajah cantiknya ini memang menurun dari Nyonya Zhao, namun seingat Baili Qingchen, Nyonya Zhao Yinniang juga tidak secantik ini.
Sambil terus memandangi wajah istrinya dengan tenang, Baili Qingchen mulai bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya apa yang telah terjadi kepada dirinya.
Dulu, Baili Qingchen sangat tidak menyukai wanita, bukan karena ia bersepakat dengan Wang Lingshan, tetapi dia memang tidak memiliki ketertarikan terhadap makhluk bernama wanita.
Bisa dibilang, dia adalah tipe yang memilih berdamai dengan situasi. Ketika pada akhirnya ia harus menikah dengan seorang wanita, maka menikah saja. Status boleh diberikan, tetapi ia tidak pernah berharap ikatan itu terjalin menjadi suatu hubungan yang khusus.
Dia adalah tipe pangeran bergelar raja yang arogan dan mendominasi. Kehadiran wanita baginya adalah sebuah kondisi khusus yang mempengaruhi situasinya.
Akan tetapi, mengapa ia bahkan tidak bisa menjaga prinsipnya sendiri?
Setiap kali berhadapan dengan gadis ini, keinginannya untuk melawan yang tidak pernah berubah itu kian hari kian menghilang saja.
Setiap kali ribut, muncul keinginan di hati kecilnya untuk mengalah. Namun, seorang laki-laki sepertinya memang tidak bisa menurunkan ego dan tidak mau kalah.
Baru kali ini Baili Qingchen diganggu seorang wanita sampai hatinya kacau. Tapi, dalam kekacauan itu, dia justru merasakan sesuatu yang selama ini seperti telah hilang.
Apa yang dicari Baili Qingchen, sepertinya ada pada diri Qingyi. Akan tetapi, bisakah Baili Qingchen bertahan sampai akhir?
Ah,bentahlah. Otaknya sekarang sedang buntu dan tidak bisa memikirkan apapun selain gadis di hadapannya ini. Padahal, masalah di luar masih sangat banyak.
Biarkan kali ini saja, ia melepaskan semua itu. Saat ini, di hadapan Qingyi yang terlelap, Baili Qingchen ingin menjadi seorang pria yang biasa.
“Sangat melelahkan, bukan? Beristirahatlah sejenak, Putri Permaisuriku,” ucap pria itu.
Dia membelai pipi Qingyi dengan lembut, seolah kulit tipis itu akan robek jika dielus terlalu kuat. Lembut dan kenyal.
Dia tidak tahu krim apa yang digunakan gadis ini sampai wajahnya tetap bersih. Jari Baili Qingchen kemudian bergerak menyentuh bibir Qingyi, yang berwarna merah muda alami.
Bagian ini juga lembut dan kenyal. Dia mengusapnya pelan. Baili Qingchen terdiam bersama ingatan ketika ia pertama kali menyentuh bibir ini dengan bibirnya, merasakan sensasi manis yang lebih manis dari gula.
__ADS_1
Itu memang pertama kalinya untuknya, dan gadis ini enta mengapa seperti memiliki pemanis tambahan sampai Baili Qingchen kesulitan untuk melupakannya.
“Haruskah aku melakukannya lagi?” tanyanya pada diri sendiri. Ia ragu, namun dorongan dari hatinya terlalu kuat.
“Tidak, dia bisa marah besar,” tolaknya pada diri sendiri.
“Akan sangat gawat jika dia tiba-tiba terbangun.”
Baili Qingchen hendak bangkit untuk mengusir pikiran-pikiran kotor itu. Baru saja ia berdiri, tangannya ditarik oleh Qingyi sampai Baili Qingchen terpaksa duduk kembali.
Kali ini, gadis itu menariknya sampai tubuh Baili Qingchen harus berada dalam jarak kurang dari lima puluh sentimeter dari Qingyi. Napas pria itu memburu dan dia berusaha menenangkan jantungnya.
“Baili Qingchen…. Dasar si mesum tampan…Aku akan merendammu sampai kulitmu pucat…” gadis itu bergumam dalam tidurnya.
“Oh? Bagaimana caranya?”
“Air ajaib…Rendam selama lima belas menit…Taburkan bedak gatal…”
Kening pria itu mengernyit.
“Tiriskan…Jemur di bawah sinar matahari…”
Gadis ini…..Apakah dia ingin membuatnya menjadi pucat atau ingin memasaknya?
“Baiklah. Terserah padamu,” ucap Baili Qingchen.
Dia mencoba melepaskan diri, dengan hati-hati melepas cengkraman Qingyi padanya. Akan tetapi, gadis itu kembali menariknya dan mengeratkan pegangan tangannya. Baili Qingchen terpaksa duduk kembali.
Qingyi menggelengkan kepala dalam tidurnya. Gadis itu tidak mau melepaskan Baili Qingchen. Tangannya malah mengusap wajah Baili Qingchen yang sudah memerah.
“Lembut dan sejuk…”
“Putri Permaisuri, jika kau melakukan ini, kau akan celaka.”
Qingyi tidak peduli. Dalam tidurnya, dia mengira wajah Baili Qingchen adalah selembar sutera lembut harga sultan. Disentuhnya lagi wajah Baili Qingchen, kemudian digosokkannya jari-jarinya ke pipinya.
Baili Qingchen berusaha melepaskan diri dengan pelan, namun sia-sia karena Qingyi tidak ingin melepasnya.
Jika dia tahu apa yang dia lakukan, mungkin saja wajahnya juga semerah wajah Baili Qingchen. Gadis yang mati-matian melawannya itu akhir-akhir ini terlihat semakin menunjukkan celah.
Dia malah memperlakukan Baili Qingchen seperti ini dan sering memimpikannya dalam tidurnya. Tetapi, Baili Qingchen merasa kalau itu….cukup manis.
Butuh waktu cukup lama sampai Baili Qingchen bisa membebaskan dirinya. Dia mengikat tangan Qingyi dengan tali kain dan membetulkan kembali posisi tidurnya.
Setelah itu, Baili Qingchen mengecup kembali kening Qingyi. Satu kecupan tersampaikan, kemudian dia melanjutkannya dengan mengecup pipi Qingyi. Itu juga sudah dilakukan.
Pandangan terakhirnya jatuh pada bibir merah muda yang terkatup rapat. Di matanya, bibir itu seperti manisan atau gula-gula. Manis, dan bisa membuat orang ketagihan.
__ADS_1
Baili Qingchen hendak mengecup bibir itu, namun baru setengah condong, dia menegakkan kembali tubuhnya.
“Tidak, aku bukan orang mesum,” ucapnya mengingatkan diri sendiri.
Baili Qingchen berhasil menahan keinginannya. Dia berjalan meninggalkan ranjang besar tersebut, lalu berbelok ke bagian samping.
Di sana, dia membuka pakaiannya satu persatu, kemudian masuk ke dalam bak yang telah diisi air hangat sebelumnya. Aroma yang menenangkan dari sabun herbal yang direndam bersama air menguar ke seluruh ruangan.
Hidung Qingyi gatal. Gadis itu perlahan membuka mata, kemudian mendapati langit-langit ini bukan miliknya. Dia bangun, terkejut karena kedua tangannya diikat dengan kain.
Pandangannya mengedar ke sekeliling. Beberapa detik kemudian, Qingyi menepuk kepalanya sendiri.
“Sial! Mengapa aku bisa ada di sini?”
Baili Qingchen pasti memindahkannya selagi ia tidur. Qingyi berdecak, kemudian buru-buru turun dari ranjang. Aroma yang menenangkan masih menguar, membuatnya sedikit penasaran.
Di mana pria itu? Apa dia kabur setelah memindahkannya ke sini diam-diam dan mengikatnya?
Suara keciprak air menyambangi telinga Qingyi. Suaranya berasal dari bagian samping. Dia tidak tahu betul seperti apa kamar Baili Qingchen, karena ketika ia merebutnya, ia tidak terlalu memperhatikannya.
Suara itu menggugah rasa penasarannya yang tinggi. Dia terburu-buru turun dari ranjang, kemudian berjalan berjinjit mencari asal suara.
Di bagian samping, terdapat sebuah tirai kertas yang dibentangkan hampir sepanjang ruangan.
Dia melihat beberapa lapis pakaian mewah tersampir di gantungan kayu. Di balik tirai kertas berwarna kuning pucat itu, Qingyi samar-samar melihat bayangan Baili Qingchen yang tengah berendam di bak mandi.
Aroma itu tercium dengan konsentrasi lebih kuat. Ternyata, sumbernya berasal dari sini. Pantas saja begitu kuat, karena orang yang menggunakannya adalah seorang raja.
Baili Qingchen yang memiliki ketajaman indera lebih dari orang lain menyadari kedatangan Qingyi. Pria itu tersenyum kecil, sangat menawan dan sangat manis.
Sayang sekali, Qingyi tidak dapat meliharnya.
"Putri Permaisuri, jika kau ingin membuat kulitku pucat, kau memiliki satu kesempatan sekarang," ucapnya dengan nada gurauan.
"Kenapa kau bisa tahu itu aku?" tanya Qingyi di balik tirai.
"Selain kau, siapa lagi yang memiliki keberanian mengintip Raja Changle mandi? Pangeran Kecil tidak akan memiliki keberanian sebesar itu," jawab Baili Qingchen.
"Hei, siapa yang mengintipmu?"
"Lalu apa yang sedang kau lakukan di sana jika bukan mengintip?"
Qingyi jadi kesal dan malu. Wajahnya bersemu merah. Sungguh, dia benar-benar tidak bermaksud mengintip Baili Qingchen! Dia hanya penasaran tergadap sumber aroma dan suara cipratan air!
"Omong kosong! Aku tidak melihat apapun!" tegasnya.
Gadis itu berbalik, sebelum pergi, dia melemparkan sebuah buku ke arah gantungan baju. Alhasil, gantungan itu terjatuh dan semua pakaian yang tersampir ikut jatuh.
__ADS_1
Baili Qingchen menghela napas, melihat tubuh Qingyi berubah menjadi siluet dan perlahan menghilang.
"Putri Permaisuri, ternyata bisa malu juga."