
“Dia langsung menyetujuinya.”
Baili Qingchen tidak menyangka seorang perdana menteri, Liu Wang, yang sangat angkuh dan perhitungan bisa begitu tidak berdaya ketika membutuhkan bantuan. Tanpa membahas syarat lebih lanjut, dia langsung menyetujui permintaan Qingyi dan membuat kesepakatan demi membebaskan orang-orang itu.
Menemui penguasa pasar gelap, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki akses khusus. Semacam kartu yang anggota di zaman modern, mungkin. Itu sebabnya Qingyi begitu yakin kalau perdana menteri pasti akan setuju. Tapi di sisi lain, perdana menteri pasti tidak tahu bahwa Baili Qingchen dan Qingyi telah membuat rencana lain untuknya.
“Orang yang putus asa cenderung mengiyakan bantuan yang ia butuhkan,” seloroh Qingyi.
Cukup menyenangkan mempermainkan seorang perdana menteri negara besar. Kapan lagi dia bisa menipu seorang pejabat tinggi dengan mudah?
“Mengapa kau harus menggunakan Wang Yiyuan?” tanya Baili Qingchen.
“Penguasa Pasar Gelap itu luar biasa. Siapa yang tidak penasaran padanya?” jawab Qingyi.
Seperti dugaan, jawabannya pasti membuat orang-orang menggelengkan kepala. Sejauh ini, Qingyi adalah gadis teraneh yang pernah Baili Qingchen temui. Hanya dia satu-satunya wanita yang berani mendebatnya secara terbuka, melawan secara terangg-terangan, dan berkata sesuka hatinya.
Para gadis yang mengaguminya sebagai Dewa Perang Bingyue hanya mampu memandangnya dari jauh, menyimpan kata-kata mereka dan bersikap malu malu ketika berpapasan di perjamuan atau di tengah kota.
Tidak seperti Qingyi. Akhir-akhir ini, mereka lumayan dekat karena terlibat berbagai masalah bersama. Baili Qingchen selalu tahu jika Qingyi sebenarnya selalu berusaha menghindarinya. Ketidakpeduliannya terhadapnya membuatnya justru semakin tertarik, hingga dia seringkali melupakan keberadaan Xiao Junjie dan alasan mengapa ia mempertahankannya selama ini.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, Qingyi berangkat pada saat matahari sudah hampir terbenam. Perdana menteri bilang penguasa pasar gelap bersedia menemuinya dengan syarat Qingyi tidak boleh membawa pasukan pengawal satu pun. Wang Yiyuan baru bersedia menemuinya setelah Qingyi menyetujui syarat itu dan mereka berjanji akan bertemu di sebuah restoran di barat kota.
Bukan Qingyi namanya jika dia menurut. Hanya orang bodoh yang akan menyetujui syarat itu tanpa siasat. Sebelum berangkat, dia telah bersepakat dengan Baili Qingchen untuk pergi bersama. Ketika nanti Qingyi menemui Wang Yiyuan, Baili Qingchen memimpin pasukan bersama Cui Kong untuk menangkap mereka.
Di restoran yang dijanjikan, pengunjung sepi karena pemilik restoran adalah salah satu kelompok Wang Yiyuan. Semua pelanggan telah diusir pergi dengan alasan bahwa tempat ini telah disewa secara khusus.
Qingyi mencium aroma cendana yang semerbak ketika ia sampai di ujung pintu. Di belakangnya, perdana menteri mengikuti dalam jarak dua meter.
“Nona, silakan,” ucap pelayan restoran pada Qingyi. Dia lantas memimpin jalan ke lantai dua. Pada sebuah pintu yang letaknya paling ujung dia berhenti.
“Penguasa, tamu sudah datang,” pelayan memberitahu Wang Yiyuan.
Kini Qingyi bisa melihat dengan jelas bahwa penguasa pasar gelap adalah seorang wanita. Itu luar biasa, mengingat melakukan bisnis yang begitu besar bukanlah hal yang mudah. Sekilas, dia melihat wajah itu penuh dengan tekanan, namun selalu ada aura yang tenang mengalir di dalamnya.
Wang Yiyuan memperhatikan Qingyi sekilas. Wajah itu memang sedikit mirip dengan perdana menteri. Hanya saja hidungnya lebih bangir dan mulutnya lebih tipis. Kulitnya putih seperti susu, dan riasa sederhana itu membuatnya tampak sangat elegan.
Ada aura bangsawan besar menguar. Pantas sajak Raja Changle begitu menyayangi permaisurinya ini, pikir Wang Yiyuan.
“Hal apa yang diinginkan Putri Permaisuri Changle sampai mau bersepakat denganku?” tanyanya saat Qingyi sudah duduk di depannya.
“Kudengar, penguasa Pasar Gelap begitu misterius dan tidak banyak orang yang mengenalnya. Sungguh suatu keberuntungan aku bisa bertemu dengan sosok aslimu di sini,” jawab Qingyi.
Wang Yiyuan terkekeh. Dia sama sekali tidak tahu betapa berbahayanya Liu Qingyi yang bicara di depannya ini. Wang Yiyuan membenci keluarga kekaisaran, terutama Raja Changle.
Dia sangat ingin membunuh semua orang yang terkait dengannya. Namun karena Qingyi adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan anak buahnya, ia terpaksa mengurungkan niat itu.
Lagipula, dia dibawa langsung oleh perdana menteri. Sebenarnya ia tidak terlalu jelas dengan alasan mengapa wanita ini mau bertransaksi dengannya. Sejak dulu, keluarga kekaisaran pantang membeli barang dan bersepakat dengan pasar gelap.
__ADS_1
Mereka seperti dua sisi cermin yang saling berlawanan. Tidak jarang anggota pasar gelap menjadi buronan tentara kekaisaran karena menjadi penadah barang hasil curian kerajaan.
“Katakan intinya saja. Aku tidak suka berbasa-basi,” ucap Wang Yiyuan. Cukup jarang dia mau menemui calon pelanggannya secara langsung.
“Aku ingin plakat Paviliun Litao.”
Baik perdana menteri maupun Wang Yiyuan, keduanya tidak ada yang tidak terkejut. Plakat Paviliun Litao? Apa ini masuk akal?
“Apa aku bisa tahu alasanmu menginginkannya?”
“Yah, sederhana saja. Beberapa minggu lalu seseorang mengutus mereka untuk membunuhku. Aku ingin menggunakan orang-orang yang sama untuk dikirim kepada tuan mereka.”
Raut wajah perdana menteri jadi jelek. Merah, tetapi bukan karena malu. Dia mulai marah tapi gugup. Sensasi yang menyertai perkataan terakhir Qingyi bagaikan sebuah belati yang siap menusuknya kapan saja.
Sejak kapan dia mengetahui kalau pembunuh itu adalah anggota Paviliun Litao?
Wang Yiyuan curiga dan menatap Qingyi tak henti-henti. Aneh, pikirnya. Seorang Putri Permaisuri sepertinya seharusnya tidak perlu ikut campur dalam dunia yang seharusnya tidak ia pijaki. Qingyi seharusnya tetap diam di mansion dan menjadi nyonya rumah yang santai, menikmati segala kemuliaan sebagai Putri Permaisuri Changle.
Dunia luar tidak seharusnya ia ketahui, terutama untuk hal-hal yang berbahaya seperti ini. Wang Yiyuan jadi berpikir, gadis di depannya bukanlah orang bodoh seperti yang dirumorkan orang.
Wang Yiyuan terkekeh.
“Aku khawatir Putri Permaisuri Changle tidak bisa menebusnya,” ucap Wang Yiyuan.
Jelas sekali dia sedang meremehkan Qingyi. Qingyi menanggapinya dengan menatapnya tajam, dingin, dan penuh intimidasi. Wang Yiyuan mau tak mau terkejut.
“Tentu saja. Aku tidak akan jauh-jauh datang kemari jika hanya bermain-main.”
Wang Yiyuan waspada. Dia meminta Qingyi mengeluarkan penebus untuk memiliki plakat akses Paviliun Litao. Dengan jarinya yang cekatan, Qingyi mengeluarkan beberapa peti kecil berisi emas murni, lalu disodorkan ke depan Wang Yiyuan.
Perdana menteri terpana, dia tidak tahu dari mana asalnya emas-emas murni ini. Apa putrinya menyimpannya di saku bajunya? Tapi, bukankah itu akan sangat berat?
“Aku bisa memberimu lebih jika kau merasa tidak cukup.”
“Putri Permaisuri Changle ternyata punya banyak kekayaan,” ujar Wang Yiyuan. Matanya tidak tergoda sama sekali, dan ia justru malah semakin curiga.
Demi memastikan kecurigaannya, Wang Yiyuan berpura-pura mengeluarkan satu plakat akses ke Paviliun Litao dan menaruhnya di meja. Wang Yiyuan menyodorkannya secara perlahan sambil terus beradu tatap dengan Qingyi. Pada saat yang bersamaan, suara kembang api menggema di udara dan mengejutkan semua orang.
Qingyi langsung merebut plakat akses secepat kilat sampai Wang Yiyuan tidak melihat persis gerakannya. Karena suar telah dinyalakan, pasukan kekaisaran yang dipimpin Baili Qingchen dan Cui Kong langsung bergerak mengepung restoran. Puluhan prajurit berbaris sambil menodongkan senjata mereka ke arah restoran.
“Liu Qingyi, kau menjebakku?” Wang Yiyuan bertanya dengan marah. Sialan! Dia lengah!
Wang Yiyuan mengambil pedang sabuk yang melilit di pinggangnya. Lalu, pertarungan antara Qingyi dan Wang Yiyuan pun terjadi. Perdana menteri mundur hingga ke sudut, menyaksikan pertarungan dengan mata terbelalak.
Dua orang wanita yang usianya tidak jauh beda saling mengayunkan pedang, saling menyerang sampai ruangan ini hancur dalam beberapa detik.
Qingyi tak lagi menggunakan stik golf, melainkan pedang sungguhan. Pedang itu merupakan pedang yang dipakai Baili Qingchen di medan pertempuran.
__ADS_1
Beratnya mencapai dua kilogram, namun karena Baili Qingchen sudah melatihnya, Qingyi bisa mengayunkannya seperti mengayunkan batang sapu. Tempaan logam tersebut saling beradu hingga berbunyi ‘prang’ tiada henti. Sesekali juga berkilat saat memantulkan cahaya lilin.
Qingyi terpojok karena lengah beberapa detik. Tepat pada saat itu, pintu didobrak dan Baili Qingchen muncul dengan pedang lain di tangannya. Pedang itu jauh lebih tajam, besar, dan berukiran indah daripada yang dipegang Qingyi. Raut wajahnya berubah mengerikan saat melihat Qingyi tersudut dan berusaha menahan serangan Wang Yiyuan.
“Beraninya kau menyakiti Putri Permaisuri Changle!”
Lalu, Baili Qingchen melompat sampai Wang Yiyuan terpaksa melepas serangannya. Pria itu berdiri di hadapan Qingyi, melindunginya dan merentangkan tangannya. Ujung pedangnya sudah dilumuri darah pasukan penjaga gelap milik Wang Yiyuan, sangat tidak apa-apa jika ditambah lagi dengan darah tuan besarnya.
Hanya saja, Baili Qingchen terkejut saat ia melihat dengan jelas seperti apa wajah Wang Yiyuan.
Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Baili Qingchen berkali-kali berseru dalam hati.
“Apa yang kau tunggu? Kau mau kita mati ya?” kesal Qingyi. Ck, wanita ini, tidak bisakah mengatakan hal baik sedikit saja?
Baili Qingchen seolah tersadar. Dia mengayunkan pedangnya dan menodongkannya ke leher Wang Yiyuan. Wang Yiyuan tertawa. Sungguh, tidak dia sangka bahwa orang yang dibencinya ternyata datang untuk menyerahkan nyawanya! Semangat Wang Yiyuan naik berkali lipat dan dia semakin menyeramkan.
“Baili Qingchen! Jika aku tidak membunuhmu malam ini, maka dendam saudaraku tidak akan pernah terbalas! Matilah!”
“Hanya dengan kemampuanmu, ingin membunuhku?”
Pertarungan berlangsung kembali. Qingyi menonton di sudut ruangan, membiarkan Baili Qingchen bertarung melawan Wang Yiyuan. Qingyi berseru beberapa kali dan memperingatkan Baili Qingchen setiap kali Wang Yiyuan hendak menyerangnya.
Saat ini, Qingyi tak ubahnya seperti supporter sepak bola yang menonton siaran langsung pertandingan dari lapangan. Alih-alih membantu, dia malah berdiri di sana dan memakan beberapa popcorn yang dibawa Yinghao dari ruang dimensi.
"Ayo! Kalahkan dan habisi Wang Yiyuan! Tidak, jangan membunuhnya! Cukup lukai saja tangannya!" seru Qingyi. Suaranya mengganggu konsentrasi Baili Qingchen. Ia pikir, istrinya itu benar-benar tidak peka!
Dalam pertarungan ini, Baili Qingchen jelas sangat unggul. Pedangnya beberapa kali menyabet lengan Wang Yiyuan dan meninggalkan jejak robekan di sana. Darahnya sampai menetes di lantai. Meski begitu, Wang Yiyuan tetap tidak menyerah. Dia masih mengayunkan pedangnya meskipun kebanyakan meleset dari sasaran.
“Wang Yiyuan! Lebih baik kau menyerah, Baili Qingchen masih bisa membiarkan nyawamu hidup!” seru Qingyi.
Perdana menteri menatap horror putrinya. Di matanya, Qingyi bukan lagi gadis lemah yang sering membangkang ketika ditindas dan disiksa. Dia seperti sebuah monster yang sangat mengerikan. Lihat, suaminya bertarung dan dia malah menyorakinya seperti itu! Ini benar-benar gila!
“Ckckck…. Wang Yiyuan benar-benar keras kepala,” decak Qingyi.
Dengan gerakan cepat, dia sudah ada di belakang Wang Yiyuan dan menendang betisnya. Pedang di tangan perempuan itu seketika jatuh dan dia seperti dipaksa berlutut.
Saat itulah, Qingyi langsung meraih kedua tangan Wang Yiyuan dan memborgolnya di belakang punggung. Wang Yiyuan berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia karena benda yang mengikatnya sangat kuat. Wang Yiyuan berhasil dilumpuhkan!
Baili Qingchen menghampiri Qingyi, lalu meraih tangan kanan gadis itu. Ada luka sabetan yang memanjang dan mengeluarkan darah. Namun, Qingyi tampaknya tidak menganggapnya sama sekali. Tangannya itu justru penuh dengan bumbu popcorn yang gurih. Darahnya tidak mengalir karena Qingyi telah menelan pil pembekuan darah, sampai lukanya yang terbuka tidak berasa apa-apa.
"Benar-benar nekat!" ucap Baili Qingchen. Qingyi mengedikkan bahu tanda tak peduli.
Para prajurit masuk dan langsung meringkus Wang Yiyuan. Wanita itu menatap remeh pada Baili Qingchen dan Liu Qingyi. Lalu, tatapannya beralih pada perdana menteri. Kebenciannya sangat besar dan ia mengatakan, “Ini belum berakhir.”
Perdana menteri menghindari tatapan itu. Saat Wang Yiyuan benar-benar dibawa pergi, dia menarik napas lega. Dihampirinya Qingyi yang sedang bersama Baili Qingchen. Dengan tidak tahu malu, dia bertanya, “Qingyi, bagaimana dengan permintaanku?”
Qingyi menoleh, lalu menyeringai. Dia mendekati perdana menteri. Qingyi berbisik, “Perdana menteri, kuberitahu satu hal. Orang-orang itu, aku yang menangkapnya sendiri.”
__ADS_1
Seketika, raut wajah perdana menteri menjadi pucat pasi. Habislah sudah!