
“Yinghao, jadilah manusia dan bantu aku!”
Yinghao sigap menjadi manusia. Baili Qingchen dipapah keluar dari ruang belajar, dibawa ke halaman barat. Halaman timur tidak bisa digunakan untuknya karena Xiao Junjie pasti akan ribut dan membuatnya tambah repot. Meskipun jauh, tapi halaman barat adalah tempat paling aman di mansion ini.
Tubuh pria itu dibaringkan di tempat tidur. Napas Qingyi ngos-ngosan akibat menahan berat badan Baili Qingchen yang ternyata lumayan juga. Jubah Baili Qingchen dibuka sampai telanjang dada. Bekas tusukan jarum semakin membiru, kemungkinan racun dari jarumnya sudah menyebar.
“Ambilkan herbal-herbal di ruang dimensi. Bantu aku mengobati pria ini!” pinta Qingyi pada Yinghao.
Wujud manusianya menurut dan dalam sekejap sudah kembali membawa herbal-herbal penawar racun dan alat-alat kedokteran.
Qingyi tidak mahir ilmu pengobatan. Belajar medis di ruang dimensi pun sering tersendat karena urusan di mansion dan orang-orangnya. Tapi, setidaknya ia telah menguasai beberapa keahlian dan sistem telah memverifikasinya.
Tangan gadis itu bergetar sedikit saat menusukkan jarum di beberapa titik vital tubuh Baili Qingchen. Yinghao membantunya menumbuk obat dan memasaknya.
Pengobatan Baili Qingchen membutuhkan waktu. Setelah menusukkan jarum, dia mempraktekkan beberapa teknik pengobatan. Perlahan, racun di tubuh Baili Qingchen memusat di perut, lalu keluar lewat mulut dalam bentuk cairan berupa darah yang sudah menghitam. Baili Qingchen batuk beberapa kali, tapi matanya masih terpejam.
Racun di tubuh pria itu sudah keluar, namun masih bersisa. Untuk menetralisirnya, ia meminumkan semangkuk rebusan herbal terbaik. Ketika pengobatannya selesai, Qingyi mengganti pakaian Baili Qingchen dengan mata tertutup. Yinghao diam-diam menertawainya, lalu kembali ke bentuk pandanya.
Mereka melupakan waktu sampai tidak sadar kalau hari sudah pagi. Qingyi mengantuk, lalu tertidur di pinggir ranjang. Peluhnya tertinggal di dahi, kamarnya berantakan. Masa bodoh, ia butuh istirahat setelah semalaman berkelahi dan mengobati orang.
Matahari mulai naik, penghuni mansion mulai kembali tanpa menyadari bahwa semalam telah terjadi perkelahian di halaman Putri Permaisuri mereka.
Kelopak mata Baili Qingchen bergerak dan mulai terbuka. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Qingyi yang tertidur pulas di dekatnya. Tampak sekali kalau gadis itu kelelahan.
Tanpa sadar, tangannya terangkat menyentuh kening gadis itu, lalu turun ke hidung dan bibirnya yang merah muda alami. Kulitnya begitu lembut, lebih lembut dari selembar sutera.
Merasa terganggu, Qingyi terbangun.
“Kau sudah sadar?” tanyanya memastikan. Baili Qingchen mengangguk lemah.
“Syukurlah, kau membuatku takut. Masalah semalam akan kutanyakan jika aku menginginkannya, dan kau harus menjawabnya dengan jujur. Tetaplah di sini, aku akan mengambilkan makanan untukmu.”
Gadis itu beranjak, sebelum benar-benar keluar, ia kembali berbalik dan berkata, “Kau tidak boleh pergi ke pengadilan hari ini atau Kaisar akan tahu kau sakit!”
Baili Qingchen mengangguk lemah. Sekarang wajahnya sudah tidak sepucat semalam. Ia menatap langit-langit kamar Qingyi, menerawang jauh ke dalam hatinya sendiri. Qingyi kembali memberinya kejutan besar yang tidak pernah terbayangkan.
Bagaimana gadis itu bisa beladiri, juga apakah ia yang mengobatinya semalaman, menjadi dua pertanyaan besar yang paling ingin ia tanyakan saat ini. Tetapi, jika ia melakukannya, Qingyi pasti memarahinya dan menyebutnya tidak tahu diri.
Setengah jam kemudian, Qingyi kembali dengan semangkuk bubur tawar dan air putih. Baili Qingchen memaksakan diri untuk setengah duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Napasnya masih kurang teratur akibat efek racun semalam, tetapi tubuhnya terasa lebih ringan.
“Kau bisa menggerakkan tanganmu?” tanya Qingyi.
“Bisa.”
“Baguslah. Dengan begitu, aku tidak perlu menyuapimu.”
__ADS_1
Pria itu membuang napasnya dalam-dalam. Ekspektasinya dijatuhkan dari tempat yang sangat tinggi. Memang benar, ia berpikir Qingyi akan menyuapinya jika mengingat kondisinya saat ini.
Tapi, sudahlah, Baili Qingchen tidak mau berharap banyak. Ia lumayan bersyukur karena gadis ini tidak meninggalkannya sendirian semalam dan memilih mengobatinya.
Semangkuk bubur tawar habis dalam beberapa menit. Segelas air putih hangat juga sudah tandas. Baili Qingchen ingin bertanya, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia pikir, sekarang bukan saat yang tepat. Qingyi sudah kelelahan, gadis itu membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya.
Sayangnya, Qingyi mengetahui gerakan matanya dan menangkap niat hati pria itu. Mangkuk dan gelas di nampan yang kosong diangkat, Qingyi mengabaikannya sejenak.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu jika kau bersedia jujur padaku,” tukas Qingyi sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu kayunya. Baili Qingchen terus menatapnya meski pintu sudah tertutup.
...***...
Entah tabib hebat mana yang ditemukan dan diculik untuk mengobati, namun kabar mengenai kondisi Liu Erniang yang sudah baik dan pulih telah sampai ke telinga Qingyi sore ini.
Katanya, putri perdana menteri yang beberapa hari lalu terguncang kejiwaannya sekarang sudah sembuh. Itu tentu saja membuat Qingyi berdecak beberapa kali.
“Jadi, dia sudah menemukan kembali kewarasannya?”
Yinghao mengangguk kecil. Mereka tengah berada di taman halaman barat, menikmati matahari sore meskipun belum istirahat sama sekali. Pikiran Qingyi kini dijejaki seribu kekesalan yang berakar dari hatinya. Liu Erniang, sungguh tidak disangka kalau adiknya itu bisa kembali menemukan akal sehatnya.
Alangkah bagusnya jika Liu Erniang gila selamanya. Jadi, perdana menteri tidak akan punya senjata lain untuk memperalat orang dan bermain dengan kekuasaannya. Satu beban masalahnya juga bisa hilang. Ah, ternyata ceritanya tidak bisa diatur semudah itu.
“Mungkin sistem pusat takut kau mati kebosanan karena tidak ada pengganggu sepertinya,” ujar Yinghao. Yah, dia juga tidak tahu kalau itu akan terjadi.
“Aku jadi berpikir ingin mempersembahkan tarian pedang untuknya. Tampaknya, kediaman Perdana Menteri sangat suka adegan yang berdarah-darah. Yinghao, maukah kau bertaruh denganku?”
“Kutebak sebentar lagi adikku itu akan masuk istana. Jika aku benar, kau harus mempertahankan wujud manusiamu dan jadi pelayanku.”
“Jika tidak benar?”
“Aku akan melewatkan hadiah untuk satu misi mendatang.”
Menarik juga, pikir Yinghao. Panda kecil tersebut menerima taruhannya. Mereka lalu membuat sebuah perjanjian yang ditandatangani sebagai bukti jika suatu saat ada salah satu pihak yang tidak terima.
Surat itu lalu dipasang di dinding pondok ruang dimensi agar setiap kali memasukinya, mereka akan teringat akan taruhan mereka. Yinghao lantas mengaktifkan mode penyamarannya dan duduk di dekat Qingyi.
Di pintu kamar, Baili Qingchen berdiri di ambangnya sembari menatap Qingyi di kejauhan. Gadis yang sedang bersantai di kursi malas itu tampak sangat menikmati suasana.
Langkahnya yang pelan mulai membawanya ke taman, ke tempat gadis itu berada. Tepat di seberang kursi malas yang diduduki Qingyi, terdapat sebuah kursi malas lain dan dia duduk di sana.
Aroma teh unik yang menguar dari teko yang masih mengepul menggugah kepenasarannya. Dengan gerakan kecil dia menuangkan teh tersebut, menghirup aromanya lalu meminumnya secara perlaha.
Gerakan itu menimbulkan suara yang membuat Qingyi seketika membuka matanya. Ia terkejut ketika tahu Baili Qingchen sudah ada di seberangnya.
“Ckck…Kau pikir tubuhmu itu terbuat dari mesin?” decak Qingyi. Ia marah karena Baili Qingchen belum pulih sepenuhnya dan bisa tumbang kapan saja. Jika begitu, usahanya akan sia-sia.
__ADS_1
“Berdiam di dalam sana sangat membosankan,” ujar Baili Qingchen.
Tidak dipungkiri, perubahan raut wajah Qingyi membuatnya sedikit bergidik ngeri. Wanita yang marah memang lebih menakutkan dari seekor harimau betina.
“Kalau begitu, cepatlah pulih. Aku tidak mau kamarku direbut olehmu.”
“Bilang saja kau tidak ingin merawatku,” sindir Baili Qingchen.
“Aku bukan tabib, bukan dokter, bukan pula perawat. Lagipula, masih ada Xiao Junjie yang bisa merawatmu sepenuh hati.”
Memang, tidak akan ada habisnya jika bertengkar dan beradu mulut dengan gadis ini. Baili Qingchen sementara mengalah dan memilih menikmati teh buatan Qingyi yang harum.
Selain aromanya menenangkan, rasanya juga sangat enak. Dia menghabiskan beberapa gelas dan itu membuatnya ketagihan.
“Kau yang menyeduhnya?” tanya Baili Qingchen. Qingyi membalasnya dengan deheman.
“Aku hanya tidak tahu seni menyeduh teh. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menyeduhnya,” ucap Qingyi, ia teringat akan hari ketika dirinya hendak dipermalukan Kaisar Baili di istana tempo hari.
“Oh. Tehnya enak.”
Tentu saja, karena bahannya ditanam di ruang dimensi dan tumbuh dengan sangat baik, ucap Qingyi dalam hati. Saat Qingyi hendak menuangkan teh itu ke gelasnya, ia terbelalak karena isinya sudah kosong. Matanya menatap nanar Baili Qingchen, lantas beralih ke perut pria itu.
Astaga, apa perut Baili Qingchen adalah gentong air?
“Kau menghabiskan semuanya?”
“Em.”
“Wah, perutmu mampu menampung seliter air itu?”
Baili Qingchen menganggukkan kepala pelan.
“Kusarankan kau agar segera pergi dari halaman ini, jika tidak, aku sendiri yang akan mengantarkanmu pada orang itu!”
Tepat saat itu, Xiao Junjie berjalan memasuki halaman barat bersama beberapa pelayan. Langkahnya yang teratur langsung membawanya ke taman.
Dengan ekspresi yang sulit diartikan, ia menatap Baili Qingchen dan Qingyi bergantian. Ada amarah yang tertahan di dadanya, tapi kondisi Baili Qingchen membuat Xiao Junjie menahan semua itu.
“A-Chen, ayo kembali. Aku sudah meminta tabib istana datang untuk memeriksamu,” ucap Xiao Junjie.
Baili Qingchen melirik Qingyi yang dengan santainya meracik kembali tehnya. Sungguh, ia benar-benar tidak tahu kalau gadis itu diam-diam memberitahu orang dari halaman utara perihal kondisinya.
“Pergilah,” suruh Qingyi.
Baili Qingchen bangun perlahan dibantu Xiao Junjie. Sebelum pergi, pria itu meliriknya sebentar dan berkata dengan pelan, “Terima kasih.”
__ADS_1
Qingyi mengabaikannya dan terus fokus pada tehnya.