Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 131: Mengobati dengan Tubuh?


__ADS_3

Baili Qingchen mencengkram erat tangan Qingyi. Panas di tubuhnya semakin lama semakin menjadi. Napasnya sedikit lebih cepat daripada tempo biasanya.


Qingyi melihat sekeliling, lalu menatap tajam pada Zhao Ping’er yang kebetulan tengah menatapnya juga. Mendapat tatapan tajam, Zhao Ping’er seketika memalingkan muka dan menahan debaran jantungnya.


“Apa kau bisa bertahan?” tanya Qingyi.


“Mungkin bisa, tetapi tidak terlalu lama,” jawab Baili Qingchen.


Trik gadis bernama Zhao Ping’er itu benar-benar murahan! Dia mencoba menjebak Baili Qingchen dengan menambahkan sesuatu ke dalam minumannya. Lalu ketika minuman itu bereaksi, dia bisa pergi menemuinya, membuat Baili Qingchen seolah-olah telah melecehkannya.


Saat itu terjadi, tidak ada alasan untuk Baili Qingchen menolaknya dan terpaksa menerimanya sebagai selir. Rencana yang sempurna!


Demi posisi di mansion, gadis manis itu sampai rela merendahkan diri dan menodai dirinya sendiri. Betapa rendahnya moral wanita itu! Tidak hanya merencanakan insiden Janda Permaisuri, bahkan hendak memfitnah Raja Changle demi kejayaan hidupnya!


Tapi, dia telah salah menyinggung orang! Gadis manis itu tidak tahu betul siapa yang dia lawan!


Qingyi kemudian berdiri, menghadap Kaisar Baili dengan wajah dingin yang penuh kemarahan. Melihat bibinya tiba-tiba bangkit, Kaisar Baili jadi penasaran. Sepertinya ada perubahan rencana mendadak. Kaisar Baili juga melihat gelagat pamannya yang tidak baik-baik saja.


“Yang Mulia, bisakah aku berbicara beberapa kata pada gadis itu?” tanya Qingyi.


“Apa yang terjadi, Putri Permaisuri?”


“Gadis itu punya hutang yang belum dibayar padaku. Hari ini, dia menambah hutangnya lagi pada Raja Changle.”


Kaisar Baili lantas mempersilakan Qingyi untuk bertindak. Jenderal Zhao tahu hari ini putrinya tidak akan selamat. Wajahnya menjadi panik dan pucat.


Biarpun putrinya telah bersalah dan mendapat hukuman, bukankah terlalu kejam jika mengeksekusinya lagi di depan banyak orang?


Qingyi berjalan menuju tempat duduk Zhao Ping’er sambil membawa segelas anggur dari teko yang sama dengan Baili Qingchen. Zhao Ping’er hampir melompat dari tempatnya jika saja ini bukan istana. Ketika dia berhadapan langsung dengan Qingyi, wajah gadis itu seperti melihat hantu paling menyeramkan di dunia.


“Zhao Ping’er, kau ingin melunasi hutangmu atau menumpuknya sampai berbunga?”

__ADS_1


Dia menyodorkan gelas anggur tersebut. Zhao Ping’er dilanda kebingungan di tengah ketakutannya. Sial, dia masuk ke dalam perangkapnya sendiri.


Rencana yang sudah disusun sedemikian rupa hancur hanya dalam satu momen. Sekarang, dia dihadapkan pada peti matinya sendiri.


“Apa maksud Yang Mulia Putri?” tanyanya canggung. Nada suaranya bergetar.


Semua orang hanya berharap Zhao Ping’er tidak membuat Putri Permaisuri terpicu amarah. Selain bisa menyelamatkan diri, setidaknya Zhao Ping’er masih memiliki wajah sampai hari pengasingannya tiba.


Gadis itu memegang saputangannya dengan erat. Dia bukan tidak tahu maksud Qingyi, dia hanya tidak mau meminum anggur yang telah ia campuri dengan sesuatu itu.


“Kau menganggapku sebagai selir dan menghinaku sebagai Putri Permaisuri Changle. Aku bukan orang yang perhitungan dengan gadis kecil sepertimu, namun karena kau melampaui batasanmu, kau membuatku melanggar prinsipku.”


Jenderal Zhao sungguh tidak berdaya. Yang dihadapi putrinya adalah Putri Permaisuri Changle, iblis kecil dari mansion Raja Changle yang setiap gerakan dan kemampuannya telah dikenal seluruh kota kekaisaran.


Bukan hanya terhormat, dia memiliki tempat istimewa di hati Raja Changle. Menyinggungnya sama saja dengan menyinggung Dewa Perang Bingyue.


Zhao Ping’er dengan ragu meraih gelas itu. Tangannya bergetar, lalu dalam beberapa detik dia meneguk habis anggurnya. Qingyi tersenyum puas, namun matanya masih menyiratkan kemarahan.


Qingyi berbalik, lalu meninggalkan Zhao Ping’er yang mulai kepanasan. Diraihnya tangan Baili Qingchen dan ia menyuruhnya untuk berdiri. “Yang Mulia, Raja Changle sedang tidak sehat. Aku harap kau bisa mengizinkan kami pulang lebih awal.”


“Tentu. Bawalah paman kembali, Putri Permaisuri.”


Cui Kong membantu Qingyi memapah Baili Qingchen. Setelah masuk ke dalam kereta, kusir segera memecut kudanya dan kereta berjalan meninggalkan gerbang istana. Baili Qingchen duduk dalam gelisah, tubuhnya semakin panas. Jubah kerajaannya sudah terbuka dan kulit dadanya terlihat.


Untuk sesaat, Qingyi mematung. Kepalanya diingatkan akan malam itu, ketika Baili Qingchen menerobos pertahanan tubuhnya dan membuat mereka seperti dua bayi besar yang tidak berdaya. Wanita itu menggelengkan kepala, mencubit kulit tangannya sendiri sampai sadar.


“Bukan saatnya memikirkan itu,” ucapnya pada diri sendiri.


“Putri Permaisuri....Aku...tidak tahan lagi,” lirih Baili Qingchen.


Siapa yang menyangka jika seorang Dewa Perang Bingyue yang perkasa ternyata bisa dibuat tidak berdaya dengan zat penambah semangat musim semi. Obat kuat sekaligus obat perangsang itu membuat Baili Qingchen seperti cacing kepanasan. Qingyi kebingungan, lalu bertanya pada Yinghao lewat suara batinnya.

__ADS_1


Yinghao menjawab, “Tidak ada obat untuk meredakan efek obat perangsang. Semua obat di ruang dimensi adalah obat berharga untuk menyembuhkan penyakit serius.”


“Tuan, kau ingin mencoba mengobatinya dengan tubuhmu?”


“Mengobati dengan tubuh?”


Qingyi langsung menggeleng dengan cepat. Tidak, dia baru saja bisa berjalan normal setelah dua hari memulihkan diri. Meskipun tidak ada obat yang bisa mengurangi efeknya, pasti ada cara lain untuk meredakannya selain dengan penyatuan tubuh. Baili Qingchen masih terlalu menyeramkan untuknya ketika ia ingat kejadian itu.


“Bawa saja ke ruang dimensi!” ucap Qingyi. Dia mengusap liontinnya, kemudian keduanya masuk ke ruang dimensi.


Saat itu, Baili Qingchen sudah setengah sadar. Ia tidak bisa membedakan apakah itu kenyataan atau ilusi. Yang jelas, dia merasa dirinya masuk kembali ke dalam mimpi, mengunjungi kembali tempat indah yang katanya tidak ada di dunia itu. Qingyi memapahnya menuju sebuah air terjun yang sangat tinggi.


Qingyi, tanpa menghitung kemudian menceburkan Baili Qingchen ke dalam kolam ajaib di bawah air terjun. Orang pernah bilang, jika seseorang kepanasan, maka ceburkan saja ke dalam air maka tubuhnya akan mendingin dengan sendirinya.


Kolam ini adalah kolam ajaib yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit, tubuh Baili Qingchen mungkin saja membaik. Qingyi juga menceburkan dirinya, membantu Baili Qingchen ke tepian kolam yang dihiasi bebatuan lembut.


Qingyi mencegah pria itu untuk tenggelam karena sekarang dia sedang setengah sadar. Tubuh Baili Qingchen diputar untuk memunggunginya. Tenaga dalam Qingyi terkumpul di telapak tangannya, lalu dia memukul punggung Baili Qingchen dalam sekali tepukan.


Pria itu terbatuk, dan setetes darah memercik keluar dari mulutnya. Aliran darah murni mengalir ke dalam tubuhnya, meredam efek obat perangsang yang menyerang Baili Qingchen. Perlahan tapi pasti, tubuh suaminya mulai mendingin. Suhunya tidak sepanas tadi.


Baili Qingchen terkulai lemah. Kelopak matanya sedikit terbuka, menangkap sebuah pemandangan air terjun dingin yang ada di depannya. Udara segar mengalir ke dalam paru-parunya, air dari kolam ajaib meresap meremajakan kulitnya.


Mimpi ini, apakah ini adalah mimpi yang sungguh tidak bisa ia temukan saat ia sadar nanti?


“Aku tidak tahu jika seorang Dewa Perang Bingyue bisa tidak begitu berdaya di bawah efek obat macam itu,” keluh Qingyi.


Gara-gara menyelamatkan Baili Qingchen, tenaga dalamnya yang baru saja terkumpul terpencar kembali. Tubuh Qingyi juga kehilangan banyak tenaga. Kalau bukan karena energi dari kolam ajaib, dia bisa tenggelam karena pingsan.


Begitu mendengar keluhan Qingyi, Baili Qingchen langsung berbalik. Antara sadar dan tidak, dia melihat permaisurinya ada di dalam air sepertinya. Pakaiannya basah, rambutnya juga terurai berenang bersama air. Baili Qingchen lalu menarik tangannya, meraih tengkuknya dan menciumnya dengan lembut.


Seperti biasa, Qingyi bergerak untuk memberontak. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, tenaga pria itu masih saja besar. Qingyi kesulitan melepaskan diri karena kepalanya ditahan dan Baili Qingchen mengekang tangannya yang lain. Dia hampir kehabisan napas.

__ADS_1


Baili Qingchen melepas ciumannya, kemudian mendekap Qingyi dengan lembut. Napasnya mulai teratur. “Biarkan aku menikmati mimpi ini sebentar saja,” ucapnya sebelum dia tertidur.


__ADS_2