Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 143: Ucapan Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

“Astaga! Wanita itu sangat menyebalkan!”


Qingyi mengeluh saat ia kembali ke mansion dalam keadaan lelah. Wajahnya tidak enak dipandang. Sepanjang jalan, ia terus mendengus dan menggerutu. Bahkan para pelayan yang berpapasan dengannya dibuat bingung. Apa mungkin Putri Permaisuri sudah kehilangan akalnya karena terlalu lelah memikirkan masalah yang datang tiada henti?


Hari ini, Qingyi mendatangi penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran dan menemui Wang Yiyuan. Wanita itu memang sudah tidak menjadi terdakwa hukuman mati karena Kaisar Baili memberikan amnesti padanya, namun sifatnya yang sombong dan menyebalkan masih sama. Wang Yiyuan malah berbalik membelakangi Qingyi saat tahu wanita itu datang.


Qingyi kala itu berdecak. Ia datang untuk menanyakan sesuatu terkait orang selatan. Wang Yiyuan mempekerjakan orang selatan, ia pasti tahu sesuatu walaupun hanya sedikit. Informasi dari Wang Yiyuan bisa saja menjadi kunci untuk membuka petunjuk yang lain.


Akan tetapi, tidak semudah yang dibayangkan. Butuh waktu berjam-jam sampai Wang Yiyuan mau buka mulut dan bicara padanya. Qingyi bahkan sudah mengancamnya dan mengejeknya, membuatnya marah dan jengkel sampai akhirnya Wang Yiyuan tidak tahan.


Ia pikir setelah masuk penjara, ia akan berhenti diganggu oleh wanita aneh yang menjebaknya namun menolongnya dan meminta bantuannya beberapa kali. Kenyataannya, Putri Permaisuri Changle bukan hanya aneh, tapi sangat misterius dan ajaib. Wang Yiyuan bahkan tidak menyangka jika wanita itu bisa berpikir lebih jauh dan bertindak lebih cepat dari siapapun.


Qingyi merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Menurut informasi yang diberikan Wang Yiyuan, yang tidak pernah diberitahukan kepada siapapun, orang-orang selatan yang dipekerjakan untuknya memang bukan orang biasa. Mereka bukan imigran sembarang imigran, melainkan mata-mata yang diutus untuk mengawasi kota kekaisaran.


Walau begitu, mereka tidak punya kemampuan yang baik. Alih-alih memberikan informasi kepada daerah asal, mereka malah terjebak dalam kehidupan kota kekaisaran yang jauh berbeda dengan wilayah selatan.


Sejak datang ke kota kekaisaran, mereka jadi menyukai uang dan rela melakukan pekerjaan apapun. Mereka juga kecanduan berjudi sampai berhutang besar. Tugas mereka sebagai mata-mata sudah mereka lupakan.


“Apa mungkin plakat masuk ke Paviliun Litao juga diberikan oleh para pekerja itu?” gumam Qingyi yang pikirannya sudah melayang jauh melintasi awan.


Jika dipikirkan lebih lanjut, itu mungkin saja. Wang Yiyuan memang penguasa pasar gelap, namun mendapatkan token masuk ke organisasi pembunuh itu rasanya agak lain. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan token itu, namun ia justru memilikinya dan bahkan menjual beberapa kepada orang.


Mungkinkah, orang yang ada di balik pembunuh Paviliun Litao adalah orang selatan? Kalau begitu….


Qingyi tiba-tiba menyeringai.


“Liu Erniang, aku memegang semua kartumu,” desis Qingyi disertai kikikkan tawa mengerikannya.


“Apa yang membuatmu begitu senang sampai tertawa seperti orang gila malam-malam begini, Putri Permaisuri?”


“Astaga!”


Qingyi tersentak kaget saat wajah Baili Qingchen tiba-tiba muncul di dekat wajahnya. Ia seketika bangkit, dan keningnya langsung berbenturan dengan kening Baili Qingchen. Keduanya sama-sama meringis dan memegang kening mereka yang memerah.


“Mengapa kau muncul tiba-tiba? Apa kau ini hantu?”


Baili Qingchen mengedikkan bahunya. “Adakah hantu yang setampan ini? Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, namun kau mengabaikannya.”

__ADS_1


Barangkali Qingyi terlalu asyik berselancar dalam pemikirannya sampai ia tidak mendengar suara ketukan pintu. Qingyi buru-buru duduk di tepi ranjang, berdehem sebentar setelah duduk dengan tegak. “Apa yang membuatmu datang kemari?”


“Apa aku tidak boleh mendatangi kamar istriku sendiri?”


“Bukan begitu.”


Baili Qingchen lantas mendudukkan diri di kursi. Teh dingin yang ada di meja Qingyi ia tuang, lalu tatapannya beralih kepada Qingyi yang masih duduk dengan siaga di tepi ranjangnya. Melihat perilaku waspadanya, Baili Qingchen menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepalanya sendiri.


“Kemarilah. Malam ini aku tidak berniat bermain.”


Qingyi duduk dengan patuh. Matanya yang jernih menatap wajah putih nan bersih suaminya. Ia tahu di dalam kepala Baili Qingchen terdapat beragam pemikiran yang berkecamuk.


Setiap kali dia datang padanya, dia pasti sedang gelisah. Entah sejak kapan ia merasa bahwa Baili Qingchen menjadikannya sebagai tempat pulang.


“Bagaimana dengan keadaan istana?” tanya Qingyi kemudian.


“Aku telah membujuk Kaisar dan dia setuju untuk menunda penobatan permaisuri baru,” jawab Baili Qingchen.


Syukurlah. Kaisar Baili bukan orang yang benar-benar bodoh. Dia hanya ceroboh, dan ketika Baili Qingchen memberinya bukti, hatinya akan goyah.


Qingyi menarik napas lega karena setidaknya Kaisar Baili bisa mengalah sejenak sampai mau dibujuk pamannya. Ini akan memberinya waktu untuk menahan selama mungkin sampai bukti yang cukup dapat diserahkan.


“Jangan bahas ini dulu. Ikut keluar bersamaku malam ini!”


Tanpa menunggu persetujuan, Baili Qingchen menarik wanita itu keluar dari mansion dengan menyamar. Pasangan itu menyusuri jalan kota kekaisaran yang sudah mulai ramai kembali.


Qingyi sebetulnya tidak ingin pergi, ia lelah dan ingin tidur dengan nyenyak. Akan tetapi, Qingyi juga tidak ingin mengecewakan Baili Qingchen yang jarang-jarang berinisiatif mengajaknya keluar malam.


Menara kota sudah diperbaiki. Keduanya berdiri di dekat tembok pembatas yang membuat mereka bisa melihat seluruh kota. Lentera-lentera beterbangan ke langit, mengantarkan harapan penerbangnya dan berharap menjadi kenyataan. Aroma akhir musim semi yang samar masuk memenuhi paru-paru Qingyi, wanita itu terdiam sejenak merasakan suasana kota kekaisaran malam hari.


“Terakhir kali kau datang kemari, bukan kedamaian dan kebahagiaan yang kau dapat, melainkan sebuah tragedi. Hari ini, aku ingin menebusnya untukmu,” ucap Baili Qingchen.


Tidak lama kemudian, ratusan kembang api menyala di langit kota kekaisaran. Sorak sorai rakyat yang melihatnya terdengar riuh di bawah sana. Nyanyian dan tarian serta pertunjukkan rakyat diselenggarakan di beberapa tempat. Tidak ada jeritan ketakutan dan kesakitan, tidak ada langkah tergesa-gesa yang sibuk menyelamatkan diri.


“Kau menyiapkan ini untukku?”


Baili Qingchen mengangguk sambil tersenyum menawan. “Aku hanya merasa akhir-akhir ini kau tertekan dan kelelahan. Setidaknya kau harus meluangkan diri untuk menikmati kebahagiaanmu sendiri.”

__ADS_1


Qingyi menggaruk pundaknya dengan canggung. Dia wanita dari dunia modern, yang tak lagi memandang malam dan kembang api sebagai sesuatu yang spesial.


Pertunjukkan kembang api hanya sebuah memori masa kecil yang sudah lama ia lupakan. Meskipun ini terkesan agak kuno, Qingyi mencoba memahami usaha Baili Qingchen.


Membuat pesta kembang api di dunia kuno tidak semudah di dunia modern. Banyak bahan peledak dan bahan lain yang harus dirakit.


Entah berapa banyak uang yang dihabiskan pria ini untuk menciptakan sebuah momen yang dapat menghiburnya. Mengingat usaha ini, ia akan sangat menghargainya lagi.


Kembang api yang paling besar dan paling tinggi meledak di angkasa. Langit kota kekaisaran berubah terang dalam seketika sebelum kembali gelap karena cahaya dari ledakan menghilang. Ledakan kembang api itu membentuk pola sebuah bunga raksasa, yang entah bagaimana cara membuatnya.


Baili Qingchen tiba-tiba berbalik dan menatapnya dengan lembut. Matanya seperti puranama malam ini, gelap dan menawarkan sisi misterius yang dalam, namun membuat orang penasaran menyelami kedalamannya. Hanya Qingyi yang tahu bahwa mata itu sebenarnya dipenuhi dengan kehangatan.


“Putri Permaisuri, selamat ulang tahun.”


Perkataannya membuat Qingyi seketika tertegun.


“Aku pernah membaca horoskopmu sebelum kita menikah. Delapan belas tahun hidupmu dihabiskan di neraka yang diciptakan keluargamu sendiri. Tapi, mulai tahun ini dan tahun seterusnya, aku yang akan menebus neraka itu dan mengubahnya menjadi sebuah taman surgawi yang dipenuhi bunga-bunga indah.”


Astaga! Sejaka kapan pria dingin nan mendominasi ini berubah menjadi manis dan romantis? Baili Qingchen sangat pandai berkata-kata, dia juga menawarkan senyuman berharganya pada Qingyi!


Qingyi sungguh tidak mengira jika Baili Qingchen bahkan mengingat tanggal lahirnya yang bahkan ia sendiri melupakannya.


Tiba-tiba terpikir oleh Qingyi untuk mengatakan: Aku tidak suka bunga!


Tapi, itu pasti akan merusak suasana dan mengacaukan hati Baili Qingchen. Jadi, Qingyi hanya tersenyum lembut seraya berkata, “Balasan apa yang kau inginkan dariku?”


“Jika aku mengatakannya, apa kau akan memberikannya?”


“Yeah, selama itu masuk akal. Tapi, jangan berpikir untuk merampas semua hartaku.”


“Aku ingin seorang putra dan seorang putri.”


Qingyi memelototi Baili Qingchen dan raut wajahnya mulai berubah. Baili Qingchen tertawa, lalu menariknya ke dalam pelukan. Tangannya mengelus lembut rambut Qingyi yang terurai.


“Aku hanya ingin kau hidup damai,” ucapnya.


Hati Qingyi menghangat. Pelukan itu ia balas.

__ADS_1


“Setelah Liu Erniang diatasi dan situasi dalam kendali, perkataanmu akan menjadi kenyataan,” ujar Qingyi. Ia melepas pelukan Baili Qingchen, tangannya menangkup wajah pria itu dan ditatapnya dalam.


“Jadi, selesaikan lebih cepat dan mulai kedamaian itu,” lanjutnya, lalu dia mencium Baili Qingchen beberapa detik. Baili Qingchen tersenyum lagi, menariknya lagi ke dalam pelukan dan menciumnya lagi.


__ADS_2