Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 145: Laporan Rahasia


__ADS_3

“Yang Mulia, ada laporan rahasia dari mata-mata di perbatasan!”


Baili Qingchen mendongak saat melihat Cui Kong membawa sepucuk surat rahasia yang sampai ke mansion beberapa saat yang lalu melalui seorang pengembara. Segera, surat itu dibuka dan ia lihat isinya. Dahinya berkerut, matanya bergulir mengikuti setiap goresan kata dalam kertas usang tersebut.


“Mengapa bisa begini?”


“Ada apa, Yang Mulia?”


“Mereka mengatakan wilayah selatan baik-baik saja. Raja Jingle tetap diam dan tidak melakukan apapun. Tidak ada gerakan mencurigakan seperti yang kita kira,” ucap Baili Qingchen.


Sejak menyadari adanya orang selatan yang menyusup, Baili Qingchen langsung menyuruh bawahan yang bertugas mengawasi wilayah selatan untuk menginvestigasi.


Raja Jingle, kakak Kaisar Baili dari ibu yang lain menempati sebagian besar wilayah tersebut selama bertahun-tahun dan tidak pernah menunjukkan gelagat aneh.


Baili Qingchen curga keponakannya yang lain itu hendak memberontak dan bekerja sama dengan orang barbar, namun berdasarkan laporan, justru itu tidak mungkin.


Baili Qingchen semakin merasa curiga, tidak mungkin sesederhana ini. Tetapi, bawahannya juga tidak mungkin berbohong dengan memberinya laporan palsu.


Jika orang selatan tidak terlibat, lalu siapa pembuat skema besar ini?


Kepala Baili Qingchen jadi pusing, ia memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Laporan rahasia ini selalu disampaikan dengan jujur, dia juga sangat jelas dengan penulisnya.


Jika seseorang mengubah isi suratnya selama di perjalanan, Baili Qingchen bisa langsung menyadarinya. Ini membuktikan laporan ini asli.


Apa mungkin perkataan Qingyi benar?


“Panggil Putri Permaisuri! Minta dia menemuiku sekarang!” perintahnya pada pelayan di luar. Pelayan itu tiba-tiba masuk dan berkata, “Yang Mulia, Yang Mulia Putri sudah tidak ada di mansion sejak pagi tadi.”


“Ke mana dia pergi?”


“Hamba tidak tahu, Yang Muia. Halaman barat telah kosong saat hamba melihatnya tadi pagi.”


Meski hubungan mereka tidak sekaku dahulu, wanita itu tetap tidak mengubah kebiasaannya. Qingyi selalu pergi tanpa memberitahu Baili Qingchen ke mana tujuannya, tempat apa yang didatanginya  atau hendak melakukan apa. Qingyi selalu menghilang dan pulang secara misterius.


Pelayan itu pergi setelah Baili Qingchen melambaikan tangannya. Baili Qingchen jatuh dalam pemikiran dalamnya sendiri. Cui Kong tidak pandai berpikir, dia tidak bisa membantu Baili Qingchen memikirkan sesuatu. Seandainya situasi di selatan benar-benar baik, maka bukankah itu bagus?


Sampai kemudian, kepala pengurus datang terburu-buru. “Yang Mulia, Kasim Li datang menyampaikan pesan. Yang Mulia Kaisar meminta Yang Mulia menemuinya di istana sekarang juga.”


Dahi Baili Qingchen berkeut.


“Apa ada masalah mendesak?”


“Saya tidak tahu. Kasim Li menunggu Yang Mulia di aula depan.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Baili Qingchen segera bersiap. Setelah memakai pakaian resminya, dia pergi ke istana bersama Kasim Li dalam kereta yang berbeda. Baili Qingchen punya firasat buruk.


Keponakannya selalu berhati-hati dan tidak pernah memanggilnya setergesa-gesa ini. Jika begitu, mungkin memang benar-benar ada masalah mendesak yang harus dibicarakan.


Kaisar Baili tampak sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah sangar. Di depannya terdapat satu berkas laporan yang dibentangkan hingga setengah meja.


Baili Qingchen kemudian memberi hormat. “Yang Mulia, hal mendesak apa yang membuatmu gelisah sampai memanggilku dengan terburu-buru?”


“Paman, kau lihat saja sendiri!”


Kasim Li kemudian memberikan laporan yang dibentangkan di meja kepada Baili Qingchen. Saat Baili Qingchen membacanya, matanya membelalak seolah baru saja melihat hantu dan tubuhnya terkena kejutan listrik. Dia mendongak menatap Kaisar Baili, ekspresinya mulai berubah.


“Yang Mulia, kau percaya dengan laporan ini?” tanya Baili Qingchen. Kaisar Baili tampak ragu. Helaan napasnya terdengar sangat berat dan marah. Baili Qingchen juga sama.


 “Laporan ini datang secara rahasia. Apa mungkin seseorang berani memalsukannya?” ucap Kaisar Baili.


Laporan di tangan Baili Qingchen mengatakan bahwa ada pergerakan pasukan Kekaisaran Chen di wilayah perbatasan utara. Wilayah itu memang selalu berada di zona perang selama beratus-ratus tahun yang lalu.


Baili Qingchen sudah berhasil mendamaikannya selama tujuh tahun lebih, namun kabar ini malah membuatnya gelisah.


Kaisar Baili juga tidak kalah gelisah. Wilayah perbatasan utara susah payah didamaikan, tapi sekarang malah datang kabar tidak mengenakkan. Kaisar Baili lebih tidak percaya jika pasukan Kekaisaran Chen melakukan pergerakan rahasia.


Baili Qingyan adalah adiknya, tumbuh dan besar di Bingyue. Tidak mungkin Baili Qingyan memiliki niat memberontak.


Laporan rahasia ini semakin memperburuk suasana hati Kaisar Baili. Pria itu mendongak setelah menunduk lama, lalu menemukan pamannya tengah ternggelam dalam pemikiran yang sangat dalam. Kaisar Baili tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oleh pamannya, namun ia tahu bahwa laporan rahasia ini tidak bisa diremehkan.


“Kau punya solusi, Paman?”


“Mungkin, aku harus memeriksanya sendiri.”


“Baiklah. Aku memerintahkanmu untuk menyelidiki kebenaran ini secara rahasia. Pergilah secara diam-diam dan berikan hasilnya padaku secepat mungkin.”


Mungkin itu salah satu cara untuk mencari kebenarannya. Baili Qingchen tidak bisa menyerahkan urusan keamanan negara kepada para menteri, karena ia tahu mereka sangat licik.


Apalagi, beberapa menteri merupakan antek dari Liu Wang yang masih tidak bisa dilepaskan.Kebetulan, Baili Qingchen bisa menggunakan kesempatan ini untuk sekalian memeriksa wilayah selatan. Ia akan memastikan sendiri kondisi di selatan setelah memeriksa wilayah utara.


Meskipun akan memakan waktu lama, itu bukan masalah. Ganjalan terbesar di hatinya sekarang adalah meninggalkan mansion, yang sama artinya dengan meninggalkan Qingyi dan Xiao Junjie.


Wanita itu akan ribut dengannya, memaksa agar ia ikut. Tapi, Baili Qingchen tidak ingin itu terjadi. Qingyi tidak boleh pergi ke manapun. Sementara Xiao Junjie, ia khawatir karena dia tidak menemuinya dalam waktu lama, serta pelayan dari halaman utara mengatakan kalau beberapa hari lalu Xiao Junjie jatuh sakit.


“Paman?”

__ADS_1


Kaisar Baili memanggilnya setelah melihat pamannya melamun.


“Ya?”


“Berangkatlah secepat mungkin.”


Baili Qingchen terdiam sejenak, lalu mendongak menatap mata Kaisar Baili.


“Baik, tetapi aku ingin Yang Mulia berjanji padaku.”


“Apa yang kau inginkan, Paman?”


“Yang Mulia tidak boleh mengangkat Selir Xian menjadi permaisuri sebelum aku kembali. Aku juga meminta Yang Mulia untuk tidak mempersulit Putri Permaisuri dan orang-orang di mansionku.”


“Itu mudah. Aku setuju.”


Setelah mendengar kepastian, Baili Qingchen merasa lebih baik. Setidaknya keponakannya tidak akan mengingkari janji. Selama dia pergi, tidak ada yang mengawasi pengadilan dan menegur Kaisar Baili saat melakukan kesalahan.


Baili Qingchen khawatir saat dia pergi, Liu Erniang memanfaatkan Kaisar Baili dan menguasai pengadilan. Jika dia belum diangkat, maka itu masih bisa diantisipasi.


Baili Qingchen kemudian kembali ke mansion untuk bersiap. Saat dia hendak memasuki halaman timur, matanya memandang halaman barat dan tanpa sengaja melihat sosok Qingyi yang tengah berdiri di tengah taman. Wanita itu tampak sedang kebingungan. Baili Qingchen bahkan dapat melihat kerutan di dahinya dari kejauhan.


“Apa yang membuatmu mengrutkan kening sedemikian dalamnya, Putri Permaisuri?”


Qingyi refleks menoleh. Ia melihat Baili Qingchen berjalan di halaman kediamannya dalam balutan jubah resmi. Dahinya semakin mengkerut. “Kau dari istana?”


“Ada laporan rahasia yang diterima istana dan Kaisar ingin aku mendiskusikannya. Kau belum menjawab pertanyaanku, Putri Permaisuri.”


Qingyi menatap Baili Qingchen penuh curiga. Tidak biasanya kaisar pemalas itu memanggil suaminya ke istana setelah pengadilan selesai, jika tidak saat terjadi sesuatu.


Kali ini, Qingyi dengar Kasim Li datang secara langsung kemari meminta Baili Qingchen pergi ke istana. Itu artinya sesuatu yang dibicarakan oleh Baili Qingchen dan Kaisar Baili adalah hal besar.


“Kau akan pergi, kan?”


Baili Qingchen terkejut. Ia bahkan tidak mengatakan laporan apa yang ia diskusikan dengan Kaisar Baili. Permaisurinya malah langsung menodongnya dengan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. Baili Qingchen ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak.


“Laporan itu pasti bukan laporan biasa. Keponakanmu yang pemalas dan sombong itu tidak akan memintamu berdiskusi jika hal itu bisa diselesaikan sendiri olehnya.”


Mereka berdiri berhadapan. Qingyi terus menatap Baili Qingchen dengan mata curiganya, menunggu Baili Qingchen menjawab pertanyaannya. Pria itu bingung dalam beberapa saat, kemudian ia baru berani bicara.


“Itu adalah laporan militer rahasia. Aku harus pergi ke wilayah selatan untuk menyelidikinya.”


Qingyi tampaknya telah menebak bahwa itu akan terjadi. Dia memejamkan matanya karena geram, kemudian mengepalkan tangannya dan menahan amarahnya. Baili Qingchen ragu untuk bicara. Ia khawatir wanitanya akan mencari masalah dengannya dan mendebatnya lagi.

__ADS_1


Di luar dugaan, Qingyi justru berdecak kesal entah kepada siapa.


“Sialan! Sudah kuduga ini akan terjadi!”


__ADS_2