
Keesokan harinya, setelah bersiap dan sarapan, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Cui Kong meninggalkan beberapa tael perak di meja penginapan, lalu menyusul kedua tuannya yang telah keluar lebih dulu. Baili Qingchen dan Qingyi sudah siap di dalam kereta. Perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai.
Ketika kereta kuda berjalan melewati pusat kota kecil itu, keriuhan akan suara penduduk serta aktivitas mereka mewarnai pagi. Qingyi mengintip lewat jendela kereta, menyaksikan betapa sibuknya kota ini saat pagi hari.
Di sungai yang semalam dijadikan pusat destinasi, terdapat banyak lentera apung yang masih menyala. Qingyi menatap takjub karena baru kali ini dia menyaksikan secara langsung kegiatan tersebut.
Sayang, dia tidak bisa berlama-lama di sini. Perjalanan ke Xizhou masih jauh dan panjang. Qingyi tidak bisa menunda waktu lagi. Hari yang ia punya hanya sedikit, dan dia harus berusaha semaksimal mungkin agar misinya selesai. Sesekali dia melirik Baili Qingchen yang asyik membaca bukunya sendiri.
Pikiran Qingyi asyik berkutat pada cara bagaimana dia menyelesaikan misi di Xizhou. Yinghao yang duduk di pundaknya tidak mengatakan apa-apa. Panda sistem selalu memberinya misi yang begitu misterius dan mendadak.
Terkadang Qingyi jengkel pada Yinghao, namun tanpa panda itu, dia mungkin bisa mati di dunia ini. Dalam sekejap, situasi di dalam kereta begitu hening. Sepasang suami istri itu seperti orang asing yang kebetulan berpapasan dan terjebak dalam satu kereta.
“Bagaimana bisa dia begitu serius membaca ketika keadaan kereta ini membuat perut serasa ingin muntah?” gumam Qingyi.
Sebagai pendatang, dirinya belum benar-benar terbiasa menggunakan kereta kuda sebagai kendaraan utama untuk perjalanan jauh.
Baili Qingchen seperti mendengar sesuatu. Telinganya menjadi tajam dan matanya menjadi waspada. Dia menaruh bukunya, lalu menahan Qingyi agar tetap di dalam kereta. Melihat tingkah aneh Baili Qingchen, Qingyi jadi bertanya-tanya. Dia berkata,
“Apa yang terjadi?”
“Ada sesuatu yang aneh. Kau sebaiknya tetap waspada.”
“Baili Qingchen, jangan menakut-nakutiku.”
“Aku tidak bercanda.”
Qingyi langsung meriutkan tubuhnya ke pojok kereta. Sial, pikirnya. Ada-ada saja tantangannya. Baili Qingchen mungkin merasa bahwa jalan yang dilalui aneh. Atau mungkin, dia mendengar sesuatu yang mungkin saja berbahaya.
Qingyi langsung berpikir bahwa mungkin sebentar lagi akan muncul sekelompok pembunuh seperti di adegan-adegan film, yang menghadang perjalanan seseorang, atau kemunculan bandit yang ingin merampok.
Cui Kong yang ada di luar kereta juga waspada. Dia merasakan ada pergerakan aneh yang sebentar lagi menyerang kepada mereka. Cui Kong memegangi tangkai pedangnya, lalu matanya menatap awas ke segala penjuru.
Jalan ini berada di tengah hutan, dan hanya satu-satunya jalan menuju Xizhou. Katanya, bandit gunung sering muncul untuk merampok, tapi Cui Kong jelas tahu kalau suasana seperti ini jelas tidak ditimbulkan oleh serangan bandit.
“Yang Mulia, kita disergap!” teriak Cui Kong setelah puluhan orang berbaju hitam muncul dari semak, dedaunan gugur, dan atas pohon. Dia bahkan melupakan panggilan pengganti saking terkejutnya.
“Sialan! Beraninya menyerang seorang pangeran!” Baili Qingchen berseru marah.
Qingyi langsung waspada. Dia bukannya takut, tapi jika jumlahnya sangat banyak, bukan tidak mungkin dia mati. Apalagi, ilmu beladirinya tidak terlalu baik dan hanya mampu menghajar paling banyak lima orang saja.
Dia menahan pergelangan tangan Baili Qingchen, lalu bertanya, “Berapa jumlah mereka?”
__ADS_1
Baili Qingchen menatapnya sesaat, menarik kesimpulan bahwa gadis ini mungkin takut mati. Dia mengintip lewat kain penutup dan mulai menghitung.
“Dua puluh orang,” jawab Baili Qingchen. Qingyi langsung melengos.
Dua puluh orang? Mereka ini pembunuh atau rombongan pemain opera?
Di luar, Cui Kong mulai kewalahan melawan para pembunuh. Pedangnya menyabet beberapa bagian tubuh pembunuh, namun bukan berarti dia tidak terluka. Sobekan pakaian di bagian lengan atas kirinya menunjukkan bahwa serangan pembunuh sangat ganas. Baili Qingchen menyabet pedangnya yang ada di bawah kursi kereta, lalu melompat turun dan bertarung bersama Cui Kong.
Pasangan pangeran dan pengawal pribadinya saling melindungi satu sama lain. Mereka mengabaikan orang yang ada di dalam kereta. Karena lalai, seorang pembunuh berhasil mendekati kereta kuda dan menghancurkan rodanya. Kudanya meringkik, membuat Qingyi langsung membelalakkan mata. Dia terkejut karena kereta kuda tiba-tiba oleng ke kiri.
“Mereka mengabaikanku?” tanya Qingyi.
Yinghao dibangunkan, lalu Qingyi memintanya mengambilkan sesuatu untuk menghadapi para pembunuh ini sebelum mereka berhasil menghabisinya.
“Aku tidak bisa menggunakan senjata api. Yinghao, berikan stik golf milikku!” serunya.
Yinghao memberikan stik golf itu beserta botol berisi gas air mata. Qingyi memasang masker dan kacamatanya, lalu melemparkan gas air mata ke luar. Kepulan asap yang menyesakkan dada dan membuat mata perih langsung beredar di hutan itu, membuat para pembunuh batuk dan sesak napas. Qingyi melompat keluar dari kereta, lalu melemparkan dua saputangan dan kain basah kepada Baili Qingchen dan Cui Kong.
“Pakai itu! Tutup mata dan hidung kalian dengan kain basahnya!” seru Qingyi. Baili Qingchen dan Cui Kong menurut.
Di tengah kepulan gas air mata, Qingyi memukuli para pembunuh dengan stik golfnya. Perut, kaki, tangan, semuanya tidak ada yang luput dari sasaran. Para pembunuh itu meringis sambil menahan sesak dan mata perih. Beberapa kawan mereka ada yang sudah pingsan dan tidak bisa bergerak. Sialan, pikir mereka.
Salah seorang pembunuh mendekat, lalu bersiap mengayunkan pedangnya ke kepala Qingyi. Pedang itu tidak sampai karena pembunuh langsung tumbang. Begitu berbalik, Qingyi melihat Baili Qingchen menusuk si pembunuh dengan pedang dalam keadaan mata tertutup.
Gerakannya begitu cepat dan akurat. Si pembunuh langsung tewas karena jantungnya ditusuk dari belakang oleh Baili Qingchen. Qingyi juga melihat beberapa pembunuh lainnya terkapar dengan luka yang sama di belakang Baili Qingchen.
“Wah, kau bisa bertarung dengan mata tertutup?” tanya Qingyi.
“Selesaikan ini dulu!” seru Baili Qingchen.
Sang Raja Changle adalah Dewa Perang Bingyue, bertarung dengan mata tertutup bukanlah masalah baginya. Di medan perang, dia pernah terkena racun dan matanya terluka, namun masih bisa membunuh musuh. Para pembunuh ini bukanlah apa-apa.
Qingyi, Baili Qingchen dan Cui Kong bekerja sama menumbangkan para pembunuh. Karena mereka sudah teracuni gas air mata sementara lawannya tidak, penyerangan jadi lebih mudah. Kurang dari dua puluh menit, dua puluh orang pembunuh sudah mati. Baili Qingchen dan Cui Kong menghunuskan pedang mereka secara membabi buta, sementara Qingyi yang memukul mereka saja.
Asap dari gas air mata perlahan menghilang bersama udara, membuat objek-objek di sekitar kembali terlihat dengan jelas.
Qingyi melepas masker dan kacamatanya sebelum Baili Qingchen dan Cui Kong menyadari bahwa benda itu berbeda dari yang mereka pakai. Baili Qingchen dan Cui Kong melepas kain di mata dan hidung mereka. Ketiganya berkumpul di tengah, dikelilingi mayat-mayat pembunuh.
Warna dedaunan yang ada di tanah berubah jadi merah darah. Mata ketiganya masih menatap waspada pada sekeliling, kalau-kalau ada rombongan pembunuh lain yang datang. Setelah memastikikan tidak ada lagi pembunuh yang datang, ketiganya bernapas lega.
“Adegan klasik yang nyata ternyata begitu mendebarkan,” gumam Qingyi.
__ADS_1
Penasaran dengan para pembunuh, dia mendekati mayat salah satunya dan memeriksanya. Baili Qingchen dan Cui Kong mengikutinya, membiarkannya melakukan pemeriksaan. Qingyi menemukan ada sebuah tanda sayap di ada kiri berwarna hitam
“Apa kau mengenali tanda ini?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen. Baili Qingchen melihat tanda dengan saksama, lalu mengangguk.
“Ini tanda Paviliun Litao. Itu adalah markas pembunuh bayaran paling mengesankan di Kekaisaran Bingyue.”
“Mengesankan katamu? Tidakkah kau berpikir mengapa mereka menyerang kita?” sungut Qingyi.
Bisa-bisanya Baili Qincghen mengatakan mereka mengesankan saat nyawanya diincar!
“Mereka suruhan orang besar. Yang Mulia, kau mungkin tidak tahu. Orang yang bisa menyewa para pembunuh dari Paviliun Litao hanyalah mereka yang memiliki uang dengan kekuasaan yang besar,” ucap Cui Kong.
“Lagipula, ini bukan pertama kalinya kami mengalami penyergapan di tengah hutan,” tambahnya.
“Apa itu Kaisar? Atau Perdana Menteri?”
Baili Qingchen dan Cui Kong tidak menjawab. Tapi yang pasti, orang di balik ini sangat kaya dan berkuasa. Mungkin saja Kaisar Baili, mungkin saja Perdana Menteri Liu, atau bisa jadi ada orang lain juga. Mereka tidak bisa menyimpulkan tanpa menyelidiki.
Baili Qingchen tidak berpikir itu kaisar, karena keponakannya selalu berhati-hati dalam segala hal. Dia juga tidak berpikir itu perdana menteri, karena membunuhnya tidak mendatangkan keuntungan apapun.
Kecuali jika dia ingin menyingkirkan Liu Qingyi, itu baru masuk akal. Namun, perjalanan ini begitu rahasia dan perdana menteri tidak tahu kalau putrinya ikut bersamanya.
“Benda apa yang ada di tanganmu?” tanya Baili Qingchen setelah melihat stik golf di tangan Qingyi.
“Hanya sebuah tongkat.”
“Tapi mengapa terlihat sangat ringan dan kuat?” tanyanya lagi.
“Itu karena benda ini langka. Kau tidak akan menemukannya di manapun.”
Baili Qingchen memalingkan muka. Dia tertarik pada benda itu, tapi Qingyi tak memberinya kesempatan.
“Keretanya sudah hancur. Kita mungkin harus berjalan beberapa meter ke depan sampai menemukan tumpangan,” ucap Cui Kong.
Nyatanya, beberapa meter yang dikatakan oleh Cui Kong berubah menjadi beberapa kilometer. Kaki Qingyi sudah kebas dan pegal karena berjalan sangat jauh. Belum lagi medannya yang berbatu dan dia harus ekstra hati-hati.
Hatinya mengumpati Yinghao dan Baili Qingchen yang tidak mengerti situasi. Seharusnya pria itu menawarkan bantuan padanya, nyatanya dia malah sibuk berjalan sendiri.
“Yang Mulia, apa perlu aku menawarkan pada Pangeran untuk menggendongmu?” Cui Kong bertanya dengan ragu, dia prihatin setelah melihat wajah Qingyi yang masam sepanjang perjalanan. Majikan perempuannya mungkin berpikir kalau Raja Changle bukanlah orang yang tahu balas budi.
“Tidak perlu! Aku bisa berjalan sendiri!” tolak Qingyi. Dia mendahului Baili Qingchen dengan langkah lebar dan menghentak.
__ADS_1