Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 103: Orang yang Tidak Lagi Sama


__ADS_3

Xiao Junjie termenung di dalam kamarnya. Jendelanya yang terbuka membuatnya menatap langsung taman halaman utara yang luasnya tidak seberapa. Bunga-bunga, pohon-pohon persik, juga teratai di kolam kecil tidak lagi memberikan sensasi keindahan yang sama seperti musim-musim sebelumnya.


Setidaknya sejak Baili Qingchen memiliki permaisuri. Sebelumnya, taman ini selalu menampilkan bunga-bunga indah yang harum sampai habis ketika musim dingin.


Halaman utara dulu selalu ramai karena Baili Qingchen sering datang berkunjung dan mengobrol dengannya. Mereka bahkan sering menanam bunga bersama dan memetik buah persik ketika berbuah.


Ah, sekarang justru momen itu lenyap seketika. Baili Qingchen semakin sibuk dengan urusan pemerintahan. Pria kesayangannya itu juga menjadi sering sibuk berurusan dengan permaisurinya.


Baili Qingchen lebih banyak menghabiskan waktu di halaman barat untuk berdiskusi dengan Qingyi dibanding berbicara dengannya di sini. Hal itu membuat Xiao Junjie merasa bahwa dia telah ditinggalkan.


“Tidak, itu karena dia mabuk. A-Chen tidak mungkin semudah itu jatuh hati,” gumamnya. Xiao Junjie mencoba mengingkari kenyataan terhadap apa yang ia lihat semalam.


Cui Kong seharusnya membawa Baili Qingchen ke halaman utara dan menyuruhnya untuk mengurus Baili Qingchen. Atau jika tidak, pengawal itu harus membawa majikannya kembali ke halaman timur, bukan menyerahkannya ke halaman barat. Apa yang terjadi semalam hanyalah ketidaksengajaan karena Baili Qingchen dalam kondisi tidak sadar.


“Apa Pangeran Kecil ada di dalam?”


Suara lembut Baili Qingchen menyadarkannya dari ketermenungan. Xiao Junjie menutup jendela, kemudian diam.


“Yang Mulia, Pangeran Kecil tidak pernah keluar sejak beberapa hari yang lalu. Dia bilang dia sedang tidak ingin bertemu siapapun,” ucap pelayan.


“Termasuk aku?”


Pelayan itu ketakutan, kemudian berlutut dan menunduk. Dia hanya seorang pelayan kecil, hanya bisa menuruti perintah majikan. Sebenarnya jika Yang Mulia Changle ingin bertemu, maka tidak perlu meminta izin karena dialah pemilik dari mansion dan semua orang yang ada di sini. Akan tetapi, pelayan itu juga tidak bisa melanggar perintah Xiao Junjie yang telah lama dia layani.


“Hamba tidak berani. Mohon ampun, Yang Mulia, hamba hanya menuruti perintah,” ujar pelayan. Tatapan Baili Qingchen menggelap dan auranya menguar menakutkan.


“Perintah? Jadi, ucapanku bukan perintah bagimu?”


“Ampuni hamba, Yang Mulia.”


“Kau tahu hukuman apa yang harus diterima pelayan ketika menghalangi majikan?” ancam Baili Qingchen.


Muka pelayan jadi pucat, ia tahu hukuman untuk pelayan yang membangkang dan menghalangi majikan adalah hukuman pukul sebanyak dua puluh kali.


Baili Qingchen menjadi marah. Seumur hidupnya, dia tidak pernah ditolak seperti ini. Meskipun Qingyi sering menolaknya dan mengusirnya, hatinya tidak pernah marah.


Akan tetapi ketika Xiao Junjie, orang yang telah menemaninya lebih lama dari gadis itu yang melakukannya, hati Baili Qingchen diselimuti kemarahan dan ia merasa jika Xiao Junjie tidak seharusnya bersikap seperti orang yang cemburu.


Baili Qingchen datang baik-baik untuk menanyakan kabar dan kondisinya karena sejak malam pemenggalan pelayan, dia belum menemuinya. Baili Qingchen sengaja mengurungnya di halaman utara agar Xiao Junjie tidak bertindak sembarangan akibat emosi. Sepertinya, Xiao Junjie bahkan tidak menyadari maksud Baili Qingchen.


“Baik. Karena majikan kalian tidak ingin bertemu, maka jangan berharap kalian bisa keluar dari halaman ini tanpa izinku!” tegas Baili Qingchen.


Xiao Junjie yang ada di dalam kamar seketika terkejut. Tidak, tidak boleh ada perintah pengurungan lagi. Masa-masa pengurungan sudah sangat menyulitkan semua orang di halaman utara.


Mereka tidak hanya kesulitan mendapatkan akses makanan dan minuman, tetapi juga sering ditindas pelayan dari kediaman lain. Jika Baili Qingchen menurunkan perintah pengurungan lagi, mereka akan kembali sengsara.

__ADS_1


Pria cantik itu bangkit dari duduknya, lalu berlari ke pintu. Saat dia membukanya, Baili Qingchen sudah berbalik dan selangkah lagi akan pergi. Xiao Junjie buru-buru berkata, “A-Chen.”


Baili Qingchen berbalik kembali. Xiao Junjie menatapnya dalam, penuh dengan pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab Baili Qingchen. Pria cantik itu terlalu tenggelam dalam emosinya sampai hanya mampu mengucapkan nama Baili Qingchen saja.


“Apakah Pangeran Kecil sekarang juga sudah berani menolak Raja Changle?” tanya Baili Qingchen.


“Tidak, A-Chen. Bukan itu maksudku.”


“Heh, pelayan di halaman utara belakangan menjadi kurang ajar karena terlalu sering dimanja. Pergi dan terima hukumanmu sendiri!”


Baili Qingchen pergi dengan marah. Suasana di halaman utara menjadi suram sejak kata-kata itu diucapkan. Pelayan memeluk kaki Xiao Junjie, memohon ampun atas tindakannya. Xiao Junjie merangkulnya dan menyuruhnya berdiri, lalu mengatakan bahwa tindakannya sudah benar.


“Pangeran, tetapi Yang Mulia menjadi marah dan Pangeran kembali dikurung. Hamba sungguh bodoh, mohon Pangeran memaafkan aku,” ucap pelayan sambil menangis.


Xiao Junjie menarik napasnya perlahan, lalu memegang bahu pelayan itu untuk menenangkannya.


“Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Aku memang sudah lancang padanya.”


“Tetapi, mengapa akhir-akhir ini Yang Mulia menjadi pemarah dan sering melampiaskannya kepada Pangeran? Apa Yang Mulia tidak lagi menyayangi Pangeran? Atau karena Putri Permaisuri?”


“Ssttttt…. Kau tidak boleh mengatakan itu.”


“Mengapa? Sejak Putri Permaisuri hadir, Yang Mulia menjadi jarang menemuimu dan sering menghukummu.”


“Kau tahu? Yang Mulia bukan lagi orang yang sama seperti dulu.”


Baili Qingchen telah berjalan kembali ke halaman timur. Dia  langsung masuk ke ruang belajarnya tanpa mengganti baju.


Sungguh, rasa kecewanya benar-benar besar atas sikap Xiao Junjie. Seandainya Xiao Junjie membuka pintu lebih awal, dia tidak akan semarah ini.


Sikap macam apa tadi? Apakah itu adalah sikap yang pantas ditunjukkan oleh seorang pria yang bahkan gelarnya diberikan atas permohonannya?


Meskipun Xiao Junjie marah, seharusnya tidak boleh sampai seperti itu. Baili Qingchen merasa harga dirinya terkoyak, bahkan dia mulai meragukan Xiao Junjie.


“Yo, sepertinya ada yang sedang patah hati,” celetuk Qingyi. Gadis itu menahan tawa sambil berjalan memasuki ruang belajar suaminya.


“Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaga Baili Wuyuan? Mengapa kau kemari?” tanya Baili Qingchen.


“Cucu kesayanganmu itu terus menerus ribut ingin bermain keluar mansion. Aku tidak tahan dengan suara berisiknya yang terus merengek sepanjang hari.”


“Kau tidak boleh meninggalkannya sendirian!”


“Bahkan jika dia hilang pun, aku tetap bisa menemukannya. Jangan pedulikan orang lain, lihatlah dirimu sendiri. Kau seperti orang yang baru saja kehilangan kekasih. Kenapa? Xiao Junjie menolakmu?”


Baili Qingchen terdiam. Qingyi mendengus.

__ADS_1


“Heh, sungguh tidak tahu diri. Biar kuhajar pria cantik itu dan kupukul wajahnya!”


“Tidak perlu sampai seperti itu. A-Jie mungkin hanya sedang marah.”


“Baili Qingchen, kau benar-benar bukan pria sejati!”


Kalau Qingyi jadi Baili Qingchen, dia pasti sudah memukul Xiao Junjie atau menendangnya keluar mansion. Pria tidak berguna itu hanya menjadi beban ekonomi sepanjang waktu.


Hidupnya sangat nyaman dan segala kebutuhannya dipenuhi. Bahkan jumlah pelayannya lebih banyak daripada pelayan di halaman barat.


Baili Qingchen sudah sangat memanjakannya walaupun Xiao Junjie tidak membantu apapun. Ternyata pria itu masih tidak tahu diri dan menyombong karena mendapat kasih sayang Baili Qingchen. Qingyi benar-benar muak, dia ingin memukul wajah cantik Xiao Junjie sampai bengkak.


“Bukan pria sejati?”


Oh tidak, pria itu sepertinya tersinggung. Baili Qingchen berdiri dan menarik tangan Qingyi, kemudian mengurung gadis itu di bawah kungkungannya.


Kursi belajar berderit, wajah tampan Baili Qingchen berada dalam jarak dekat dengan wajah Qingyi. Jantung Qingyi berdebar sangat kencang, Baili Qingchen terlihat lebih ganas ketika sadar.


“Putri Permaisuri, perlukah kutunjukkan seperti apa pria sejati itu?”


Wanita yang mudah tunduk hanya akan kalah dan selamanya berada di bawah kendali pria. Qingyi menolak keras, dan dengan gerakan cepat dia berhasil membalikkan situasi.


Kini dia yang memegang kendali dan Baili Qingchen berada dalam pengurungannya. Gadis itu mencondongkan diri ke dekat Baili Qingchen, menatapnya tajam dan seringaiannya dipenuhi kelicikan.


“Kelinci kecil yang mabuk, aku khawatir kau bahkan tidak tahu arti dari kata pria sejati itu sendiri,” ucap Qingyi.


“Aahhh…”


Qingyi menggigit leher Baili Qingchen tanpa sempat Baili Qingchen sadari. Jejak itu berwarna merah, satu buah, namun lebih mengerikan daripada jejak yang ditinggalkan Baili Qingchen di leher dan bahu Qingyi, yang sampai saat ini belum bisa hilang. Baili Qingchen memegangi lehernya yang sakit, menutupinya dengan tangan.


“Mengapa kau menggigitku?”


“Apa aku perlu menjawabnya?”


“Tentu saja!”


Kemudian, Qingyi kembali menggigit leher Baili Qingchen di bagian yang lain sampai memerah. Baili Qingchen terbelalak karena lagi-lagi gadis itu mengigitnya.


Kulit lehernya yang mulus sekarang diganggu jejak berwarna merah. Baili Qingchen menutupinya dengan kedua tangan dan menatap permaisurinya penuh tanya.


“Itu bahkan tidak sebanding dengan gigitan yang kau tinggalkan di leher dan bahuku!”


Qingyi merasa cukup puas atas karyanya. Dia berbalik lalu meninggalkan ruang belajar diikuti tatapan aneh Baili Qingchen.


“Apa gadis itu sedang membalas dendam?”

__ADS_1


__ADS_2