Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 104: Ayo Bertarung Denganku!


__ADS_3

“Minggir! Jangan menghalangi jalanku!”


Qingyi mendorong beberapa pelayan wanita yang mencoba menghalanginya memasuki halaman barat sekuat tenaga. Pelayan-pelayan itu mengerahkan segenap tenaga mereka untuk mendorong kembali Qingyi, dan mereka tidak boleh membiarkan Putri Permaisuri masuk ke halaman utara.


“Yang Mulia Putri, mohon kembalilah. Yang Mulia Putri tidak boleh memasuki halaman utara!”


“Apa aku memerlukan izinmu untuk pergi ke tempat yang aku inginkan?”


“Yang Mulia Putri, Yang Mulia telah memerintahkan agar tidak ada yang datang dan pergi ke halaman utara tanpa seizinnya!”


Qingyi berdecak.


“Ck… Pelayan seperti kalian benar-benar keras kepala seperti majikannya! Minggir dari hadapanku!”


“Yang Mulia Putri, jika Yang Mulia Putri masih memaksa, lebih baik Yang Mulia Putri memukul kami!”


Mereka pikir dia takut dengan ancaman seperti itu?


Jangankan pelayan, Baili Qingchen saja pernah dia lawan! Bahkan dia tidak takut pada Kaisar Baili. Qingyi kemudian menghajar para pelayan itu sampai babak belur. Saat tahu dirinya dipukul, para pelayan itu menatapnya dengan rasa tidak percaya.


“Yang Mulia Putri, mengapa kau memukul kami?”


“Bukankah kalian yang memintanya? Sekarang minggir! Jangan menghalangi jalanku!”


Para pelayan tak kuasa lagi menahan Putri Permaisuri Changle karena seluruh badan mereka sakit.


Qingyi melengang memasuki halaman utara dengan langkah yang dibuat penuh tekanan, seolah-olah tanah yang ia pijaki adalah tanah terkutuk yang tidak boleh ditapaki olehnya.


Pelayan lain yang melihat rekannya dipukuli segera menyingkir. Saat ini, Qingyi berdiri di depan bangunan utama halaman utara, kediaman milik Xiao Junjie yang rasanya lebih hangat daripada halaman barat. Pemiliknya bergegas keluar, dan ekspresinya sangat kesal.


“Tidak cukupkah kau membuatku sengsara? Putri Permaisuri, apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Xiao Junjie dengan nada marah.


Sial, dia hanya tidak ingin diganggu sekarang. Hatinya masih sakit karena Baili Qingchen bersikap begitu dingin padanya.


Wanita ini malah mendatanginya di saat seperti ini! Xiao Junjie ingin sekali memukul wajahnya dan menendangnya keluar dari kediamannya!


“Apa yang kuinginkan? Memangnya kau bisa mengabulkannya jika aku mengatakannya?”


“Jangan berbasa-basi denganku. Kita tidak sedekat itu,” ucap Xiao Junjie.


“Kau benar. Kita memang tidak dekat dan tidak akan pernah menjadi dekat. Xiao Junjie, karena kau yang mencari masalah denganku lebih dulu, maka jangan berharap aku akan melepaskanmu!”


Dahi cantik Xiao Junjie mengernyit. Dendam apa lagi yang belum mereka selesaikan? Bukankah dulu Qingyi sudah pernah memukulnya karena dia memulai perkelahian di hari pernikahan?


Seingatnya, dia tidak pernah lagi mencari masalah, ya, selain mendebatnya dan memarahinya sesekali.


Qingyi menyeringai. Kali ini, ia ingin menghajar Xiao Junjie sampai babak belur. Biarkan wajah cantiknya itu menjadi bengkak dan tidak sembuh selama beberapa hari.


Dengan begitu, hatinya bisa puas karena bisa melampiaskan kekesalannya beberapa hari ini. Siapa suruh pria itu tidak tahu diri dan sangat tidak berguna!

__ADS_1


“Xiao Junjie, kau bodoh. Kau membiarkan pelayanmu meracuniku!” seru Qingyi.


Xiao Junjie teringat lagi pada malam mengerikan ketika Baili Qingchen mengeksekusi pelayannya di halaman barat dengan satu tebasan pedang.


Mengingat ini, wajahnya menjadi pucat dan hatinya sedikit takut. Otaknya masih mengingat dengan jelas bagaimana momen itu terjadi.


Rasanya, darah dari pelayan itu masih mengalir segar ke halamannya. Xiao Junjie menggelengkan kepala, lalu berteriak seperti orang gila, “Pergi! Aku tidak punya urusan denganmu!”


“Dasar tidak tahu diri! Kau pikir kau bisa mengusir seorang Putri Permaisuri?”


Xiao Junjie marah. Tangan indahnya menjambak rambut Qingyi sekuat tenaga. Mata sipitnya memerah. Qingyi membelalak, lalu dengan marah dia berkata penuh penekanan, “Xiao Junjie, beraninya kau menyentuh rambutku!”


“Memangnya kenapa? Kehadiranmu sungguh mengganggu kententraman hidupku!”


Qingyi membalas pria itu. Dia juga menjambak rambut hitam Xiao Junjie yang tergerai sampai ke pinggang dengan kedua tangan. Dua pendamping Raja Changle itu saling menjambak satu sama lain sambil mengumpat kasar.


Qingyi mengerahkan tenaganya, menarik rambut Xiao Junjie sampai pria itu meringis. Xiao Junjie membalasnya.


“Kau pikir kau bisa lari dariku, pria bermasalah?”


“Kalau begitu coba kejar aku jika kau bisa!”


“Xiao Junjie sialan, ayo berkelahi!”


“Siapa takut!”


Keduanya masih saling menjambak dan mengumpat. Pelayan panik, lalu berlari eluar dari halaman utara untuk melapor.


“Akan kubuat rambut indahmu ini menjadi serupa dengan ijuk!” seru Qingyi.


“Aku juga bisa melakukannya! Lihat rambut siapa yang akan patah terlebih dahulu!”


Qingyi menggunakan shampoo ajaib di ruang dimensi, tentu saja rambutnya lebih kuat karena lebih sehat dan lebih terawat. Aromanya juga sangat harum.


Xiao Junjie kesusahan karena rambut Qingyi lebih lembut dan lebih licin. Tapi, dia tidak akan menyerah!


“Dasar pria tidak tahu diri! Jika bukan karena Baili Qingchen, aku pasti sudah lama menendangmu keluar dari mansion ini!” seru Qingyi.


“Heh, A-Chen tidak akan semudah itu mengusirku! Kau harus ingat bahwa aku lebih lama berada di sisinya dibandingkan denganmu!”


“Sialan! Kau masih berani membantahku!”


Sebenarnya, Qingyi datang bukan hanya untuk memperhitungkan masalah pelayan Xiao Junjie yang meracuninya atas perintah Janda Selir Sun. Dia juga datang karena hatinya gatal melihat Baili Qingchen seperti orang patah hati.


Akar masalahnya tentu saja Xiao Junjie. Berhubung misinya sudah selesai dan ia punya waktu yang santai, jadi dia datang sekalian untuk membalas dendam.


Sementara itu, pelayan yang mencari bantuan kebetulan berpapasan dengan Cui Kong yang sedang mendampingi Baili Wuyuan. Cui Kong langsung menanyakan mengapa pelayan itu begitu panik.


Dengan napas yang tersengal, pelayan itu memberitahu bahwa Putri Permaisuri dan Pangeran Kecil sedang berkelahi di halaman utara.

__ADS_1


“Pangeran, kau tunggulah di sini! Aku akan mencari Yang Mulia!”


“Tidak, biar aku saja yang mencari Paman Kakek.”


Baili Wuyuan berpikir mungkin sangat menyenangkan jika bisa melihat pertunjukan ketika nenek mudanya berkelahi dengan pesaingnya.


Bola nasi kecil nakal itu berlari ke halaman utara, lalu mengintip di pintu gerbang. Matanya berbinar melihat Qingyi dan Xiao Junjie saling menjambak.


Puas melihat adegan itu, Baili Wuyuan kembali berlari ke halaman timur. Dia menggedor pintu ruang belajar Baili Qingchen.


“Paman Kakek! Gawat!”


Baili Qingchen keluar terburu-buru, lalu menatap penuh tanya pada cucu kecilnya.


“Ada apa?”


“Permaisurimu berkelahi dengan pendampingmu di halaman utara!”


Baili Qingchen terkejut bukan main. Tanpa memperhatikan Baili Wuyuan, dia belari menuju halaman utara.


Baili Qingchen menghela napas melihat Qingyi dan Xiao Junjie berkelahi dan saling menarik rambut mereka. Belum lagi dengan kata-kata kasar yang terlontar dari mulut keduanya.


“Hentikan!” bentaknya.


Qingyi hanya menoleh sesaat, lalu kembali menantang Xiao Junjie. Bagus, jurinya sudah ada di sini. Qingyi semakin bersemangat menarik rambut Xiao Junjie dan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatnya kesakitan.


Alhasil, ringisan keluar dari mulut Xiao Junjie saat beberapa helai rambutnya berhasil dicabut oleh Qingyi.


“Liu Qingyi! Lepaskan tanganmu dari kepalaku!”


“Hei, margaku adalah Zhao! Panggil aku Putri Permaisuri Zhao Qingyi!”


Keberadaan Baili Qingchen seperti patung yang tidak dianggap. Pria itu menggeram marah, lalu berteriak sekali lagi.


“Hentikan! Apa kalian bahkan tidak menganggapku?”


Qingyi menyeringai, lalu menoleh dan berkata, “Jika aku tidak menganggapmu, untuk apa aku melakukan ini? Sudah kubilang aku akan menghajar pria cantik ini sampai babak belur!”


“A-Jie, lepaskan Putri Permaisuri sekarang juga!”


Mendapat seruan, Xiao Junjie langsung melepas jambakan di rambut Qingyi. Qingyi lalu menggunakan kesempatan itu dan menendang tulang kering Xiao Junjie sampai pria itu melompat-lompat karena kesakitan.


Tawa Qingyi meledak. Xiao Junjie seperti kelinci yang melompat-lompat, juga seperti kanguru!


Baili Qingchen menggelengkan kepala. Rambut permaisurinya sudah sangat kusut dan penampilannya tak lebih dari seorang nenek sihir.


Dia langsung menggendongnya secara paksa dan membawanya keluar dari halaman utara. Xiao Junjie menatapnya sebentar lalu menyuruh pelayan untuk menutup pintu gerbangnya.


“Baili Qingchen, aku sudah membalaskan dendamku. Aku juga sudah menghajar orang yang membuatmu kesal.”

__ADS_1


“Lain kali jangan melakukan sesuatu yang menyakiti dirimu sendiri lagi,” ucap pria itu, sambil terus menggendongnya masuk ke halaman barat.


__ADS_2