
Irise menatap Alland dan mulai mengobrol dengannya untuk menghindari kecanduan di antara mereka berdua.
“Kau tidak mengajak serta istrimu ke sini... ?”tanya Irise menatap Alland.
Mendapat pertanyaan itu Alland sedikit bergejolak Karena dia tak ingin mengingat masa lalunya yang kelam dengan mantan istrinya.
“Oh... aku sudah lama bercerai dengan istriku.”jawabnya singkat.
Irise yang melihat lelaki itu tampak sedih setelah menanyakannya menjadi merasa bersalah.
“Maafkan aku... aku tidak tahu itu...”jawab Irise menatap mata sayu Alland dan membuatnya diam tak berani bertanya lagi.
“Bagaimana dengan suamimu... apa dia melakukan sesuatu padamu atau menyakiti dirimu... ?”ucap Alland balik
bertanya.
“uhuk...”Irise tersedak saat lelaki itu bertanya padanya. Dia terkejut mendengar pertanyaan dari Alland yang seolah mengetahui permasalahannya saja dengan Edwin.
Alland mengambilkan segelas minuman yang ada di meja dan memberikannya pada Irise.
“Terima kasih....”ucap Irise menerima segelas minuman yang diambilkan oleh Alland dan segera meminumnya.
Irise menaruh kembali gelas ke meja sambil mengatur nafasnya.
“Suami ku orang brengsek...”balas Irise singkat.
“Berarti yang aku lihat kemarin itu benar dan suaminya memang sedang berselingkuh dengan wanita lain...”batin Alland menatap Irise yang terlihat tenang dan menyembunyikan kesedihannya.
“Jika ada masalah atau perlu bantuan kalau bilang saja padaku maka aku akan membantumu...”jawab Alland menawarkan bantuan untuknya.
“Oh ya... terima kasih... tapi aku bisa mengatasinya sendiri.”balas Irise singkat.
Mereka berdua pun melanjutkan obrolan dan mengganti topik obrolan mereka agar lebih rileks dari sebelumnya dan tidak tegang.
__ADS_1
Terlihat Alland dan Irise mulai terlihat akrab setelah terlibat beberapa pembicaraan dan mereka menjadi teman baik sekarang.
Tanpa mereka ketahui kedua orang tua mereka mengintip dari belakang.
“Sepertinya mereka berdua akur... aku harap mereka bisa lebih dekat daripada itu.”ucap Sarah berbisik lirih pada Claudya.
“Ya... aku juga senang apabila mereka bisa menjadi pasangan.”balas Claudya tersenyum kecil dan mengajak Sarah kembali masuk ke dalam dan memberi waktu lebih untuk mereka berdua.
Di lain tempat di kantor.
Edwin dan Lilia serasa di surga dan dunia hanya milik mereka berdua. Mereka bebas mengekspresikan rasa cinta mereka.
Karena tidak ada Irise dan juga David di sana, maka mereka berdua pun duduk bersama di kursi yang ada di sudut ruangan dan tidak mengerjakan pekerjaan mereka.
“Sayang... apa menurutmu yang harus kita lakukan selanjutnya ?”ucap Lilia bertanya pada Edwin sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Edwin.
Edwin membuka tangannya dan merangkul Lilia yang ada di sisi kanannya.
“Dalam hitungan hari Irise akan tamat, tugasku sudah selesai. Karena jika wanita itu tidak ada maka David akan menyerahkan kepengurusan perusahaan ini padaku.”ucap Edwin sambil tersenyum lebar dan bangga pada dirinya sendiri karena merasa sebentar lagi semua yang direncanakannya akan berjalan lancar.
“Tapi kurasa David itu sudah tertarik padamu dan tinggal selangkah lagi jika kau bisa menjadi istrinya maka kau akan menguasai perusahaan ini dengan mudah dan tentu saja setelah kau menguasai perusahaan ini kita berdoa akan memegang kendali penuh.”jawab Edwin tersenyum lebar.
“Kalau begitu kau jangan sampai cemburu jika aku sedang bersama dengan si tua itu.”ucap Lilia pada Edwin karena selama ini lelaki itu sering terlihat cemburu jika dirinya bersama dengan David.
“Em... ya... kau tahu sendiri bagaimana rasanya sakitnya hati ku jika kau ntar malam bersama si tua itu.”jawab Edwin menjelaskan apa yang dirasakannya selama ini.
“Kau kira Aku selama ini tidak sakit hati saat kau setiap hari tidur bersama Irise... ?”balas Lilia yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama namun bisa menekan rasa cemburunya Itu demi satu tujuan.
“Ya sudah... kita jangan bahas hal itu lagi. Kita harus kompak agar semuanya berjalan lancar sesuai yang kita rencanakan.”ucap Edwin agar tak mempersoalkan hal itu dan memperpanjangnya.
Lilia dan tersenyum lebar. Mereka berdua berpelukan lalu Edwin mencium bibirnya.
Di luar kantor David yang akan pulang ke rumah kembali sebentar ke kantor untuk mengambil tasnya yang tertinggal di ruangan.
__ADS_1
Lelaki itu turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya kemudian berjalan menuju ke ruangannya.
“tap... tap... tap...”
Edwin dan Lilia mendengar suara derap langkah kaki dari kejauhan.
“Kau dengar suara seseorang akan masuk ke ruangan ini ?”ucap Lilia mengakhiri ciuman dan menatap ke arah pintu.
Edwin masih memegang pinggang Lilia dan ikut menoleh ke arah pintu dengan perasaan cemas.
“Mungkinkah itu... Irise... atau David... ?”ucap Lilia yang jadi ikut cemas dan was-was.
Belum sempat mereka merubah posisi pintu ruangan terbuka dan melihat David masuk ke ruangan.
“Celaka ternyata si David...”batin Edwin. Dia pun segera melepas pelukannya, begitu pula dengan Lilia yang langsung duduknya menjauh dari Edwin.
David masuk ke ruangan dan menatap Edwin serta Lilia yang diam dan berkeringat dingin.
“Kalian berdua kenapa...”tanya David saat berhenti di depan mereka berdua.
“Ah... tidak ayah... aku dan Lilia hanya duduk sebentar saja untuk beristirahat salah mengerjakan banyak tugas.”balas Edwin gugup.
“Apa ada yang ketinggalan di sini, tuan ?”tanya Lilia pada David.
“Ya... sebenarnya tasku ketinggalan.”jawabnya singkat.
Lilia pun segera berdiri dan menuju ke meja David untuk mengambilkan tasnya.
Lilia menyerahkan tas yang di ambilnya pada David. Sementara Edwin segera berdiri dan duduk di tempat duduknya.
“Baiklah aku pergi dulu...”ucap David menerima tasnya lalu keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua.
Dalam David merasa ada yang aneh dengan tingkah dua orang itu karena sempat melihat Edwin canggung. Namun dia mencoba menepis rasa itu dan membuangnya jauh-jauh dan fokus mengemudi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...