Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 105 Tamparan Untuk Edwin


__ADS_3

Dokter Bian kemudian memberikan seberapa obat dan suplemen yang diperlukan semasa kehamilan pada Lilia.


“Aturan minumnya berbeda-beda tolong lihat aturan pemakaiannya pada kemasan.”ucap dokter Bian saat Lilia menerima suplemen yang sebenarnya adalah obat penunda haidh dan pembuat rasa mual.


“Terima kasih dokter...”jawab Lilia sambil menerima obat dari dokter Bian.


Lilia dan Irise kemudian keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju ke tempat parkir.


“Kau mau langsung pulang atau ke mana dulu ?”tanya Irise saat sudah duduk di mobil pada Lilia.


“Ku rasa lebih baik kita pulang dulu saja karena aku merasa badanku belum enakan. Mungkin lain kali aku akan menemanimu keluar.”jawab Lilia duduk di mobil kemudian menutup pintu.


“Baiklah jika itu mau mu.”balas Irise singkat lalu mengemudikan mobil menuju ke rumah ayahnya.


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah David. Mereka melihat David baru saja memarkir mobilnya di garasi.


Lelaki itu turun dari mobil dan menghampiri mobil Irise yang berhenti di depan gerbang.


“Lilia... kau keluar bersama Irise ?”ucap David saat melihat Lilia turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.


David melihat putrinya yang tidak turun dari mobil, menghampirinya.


“Sayang... kau tidak turun dulu ?”ucap David berdiri di samping pintu mobil Irise.


Irise semoga kaca mobilnya agar bisa melihat ayahnya dan bisa mengobrol dengan leluasa.


“Tidak ayah... aku sudah lama di sini tadi.”balasnya singkat.


“Kalian habis dari mana ?”tanyanya lagi penasaran.


“Itu... kami berdua barusan pergi dari rumah sakit.”jawab Irise membuat ayahnya terkejut dan mengira dirinya sakit.


Lilia yang ada di depan pintu gerbang kembali berjalan menghampiri David.


“Siapa yang sakit ?”tanya David menatap Irise dan Lilia yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.


“Aku tidak sakit ayah... aku ke sana mengantar Lilia.”jawab Irise.

__ADS_1


“Kau sakit apa sayang ?”ucapnya beralih menatap Lilia.


“Lilia dia...”ucap Irise menjelaskan namun dipotong oleh Lilia.


“Biar aku sendiri yang menjelaskan kabar bagus ini Irise.”sahut Lilia sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.


Irise pun hanya diam dan mengangguk saja melihat pertunjukan bagus di depannya.


Lilia mengeluarkan surat dari dalam tasnya dan menyerahkan pada David.


David menerima surat itu dan membacanya dengan cermat.


“Apa... kau hamil ?”ucap David tak percaya sambil menatap Lilia dengan tersenyum lebar. Dia sama sekali tak mengira Jika garis itu akan mengandung anaknya. Dan dalam hati dia berharap dia mengandung ada anak lelaki.


“Apa ini benar ?”ucap David lagi yang masih tidak percaya.


“Benar...”jawab Lilia ikut tersenyum senang walaupun dalam hati entah kenapa dia masih ada keraguan dengan status hamilnya saat ini.


“Maaf ayah... aku harus menghapus senyummu ini beberapa waktu lagi dan akan menggantikan senyuman mu dengan senyum kemenangan.”batin Irise ikut tersenyum dan berpura-pura ikut bahagia di saat mereka berdua sedang bahagia.


“Ayah... Lilia aku pulang dulu. Selamat untuk kalian berdua.”ucap Irise berpamitan sekaligus memberikan ucapan selamat.


Shap Eye yang juga duduk di samping Noah menatapnya dan mengajaknya bicara.


“Kabar bahagia ini hanya mereka yang tahu sedangkan Edwin masih belum tahu kan... bagaimana reaksinya dia jika mengetahui kabar itu ?”ucap Sharp Eye.


Noah membayangkan wajah Edwin yang frustasi dan tersenyum lebar.


“Sudah dipastikan dia akan syok berat nanti. Jika begitu aku akan segera menyampaikan kabar gembira ini padanya.”balas Noah sambil tersenyum lebar dan tak sabar ingin segera bertemu Edwin.


Noah mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di rumah.


“braaak...”dia segera menutup pintu mobil kembali begitu tiba di rumah dan masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.


“Bi... dimana Edwin... ?”tanya Irise saat berpapasan dengan pelayan di tengah jalan.


“Tuan ada di kamar nona...”balas wanita itu.

__ADS_1


Irise hanya mengangguk saja dan tak berbicara apapun. Dia bergegas masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar dia melihat Edwin yang sedang duduk santai mendengarkan lagu-lagu pop.


Edwin menoleh ke belakang saat melihat Irise masuk ke kamar dan menatapnya dengan datar tanpa perasaan sedikitpun meskipun saat ini dia melihat istrinya itu sedang berganti baju di depannya.


“Kau dari mana... ?”ucap Edwin bertanya dan Noah memang sudah menunggu pertanyaan itu.


“Aku sehabis mengantar Lilia ke rumah sakit.”jawab Irise singkat dan ternyata membuat Edwin penasaran.


“Lilia sakit... ?”tanyanya lagi ingin tahu sambil berbalik menghadap istrinya.


“Tadi aku melihat dia pucat sekali saat di rumah Ayah lalu aku membawanya ke rumah sakit. Ternyata dia hamil. Coba tebak adikku nanti lelaki atau perempuan ?”balas Irise sambil tersenyum lebar menatap Edwin yang sekarang terlihat benar-benar terpukul.


“Lilia hamil... ??”ucap Edwin menegaskan kembali kebenaran berita itu.


Irise mengangguk sambil tersenyum lebar dan membuat lelaki itu menyimpan kesal yang mendalam mendengar kabar itu.


Irise kemudian keluar dari kamar sengaja membiarkan lelaki itu sendiri dan melihat apa yang akan di lakukan oleh Edwin.


Setelah kepergian Irise, Edwin mengambil ponsel dari meja dan langsung menelepon nomor Lilia.


“Kring... kring...”ponsel Lilia berdering.


Gadis itu segera menyelinap dan pergi ke kamar untuk mengangkat telepon dari Edwin.


“Ya sayang... aku sedang bersama dengan David saat ini. Ada apa kau menelepon ku ?”ucap Lilia berdiri di depan pintu dan mengawasi keluar jendela.


“Apa benar kau hamil ?”ucap Edwin to the point.


Lilia syok berat mendengar pertanyaan dari Edwin. Dia tak mengira Edwin akan mengetahui hal itu dengan cepat.


“Sayang... dengarkan aku. Aku juga tidak menyangka akan hamil. Tapi aku yakin anak ini adalah anakmu. Biarkan saja si tua itu mengira ini adalah anaknya. Dengan kehadiran anak ini rencana kita akan semakin berjalan mulus.”balas Lilia dan segera menutup teleponnya karena melihat David berjalan menuju ke kamarnya.


“Lilia... Lilia... tunggu... !”ucap Edwin yang masih ingin bicara dan Ternyata Gadis itu sudah menutup teleponnya.


Edwin yang merasa kesal dan marah dengan kehamilan Lilia yang menurutnya itu bukan anaknya melampiaskan emosinya dengan membanting ponselnya ke meja.

__ADS_1


“Haha....”suara Noah tertawa lebar di sebuah ruangan setelah mendengar suara Edwin yang membanting sebuah benda.


BERSAMBUNG....


__ADS_2