Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 102 Pindah Rumah


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Irise sering mengajak Lilia keluar bersamanya entah itu ke mall atau beberapa restoran.


Suatu ketika sore hari setelah keluar bersama Lilia dari pusat perbelanjaan Irise mampir dan berhenti sebentar di rumah ayahnya.


Kebetulan sekali David baru memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Di depan rumah dia melihat mobil Irise berhenti namun putrinya itu tidak turun dari mobil.


“Tap... tap... tap...”David berjalan menghampiri Irise.


Irise membuka kaca mobilnya saat ayahnya berdiri di depan mobilnya.


“Kenapa kau tidak memarkir mobilmu ?”tanya David melihat putrinya yang tidak membuka pintu mobilnya.


“Tidak ayah... aku hanya lewat saja setelah mengantar pulang Lilia.”jawabnya singkat sambil melihat ekspresi ayahnya.


Ekspresi yang ditunjukkan David sesuai dengan apa yang diharapkan, lelaki itu tersenyum cerah begitu dia menyebutkan kata Lilia.


“Ku rasa kau semakin dekat saja dengan Lilia...”balas David merasa senang karena putrinya semakin akrab dengan calon ibunya.


“Aku takkan mengecewakan ayah...”balas Irise sambil tersenyum kecil dan pura-pura terlihat senang di depan ayahnya.


“Jika kau akrab dengan Lilia maka Bagaimana jika aku meminta dia untuk tinggal di rumah ini... ?”ucap ayahnya sekaligus meminta izin pada putrinya.


Irise diam karena dia menutupi kegembiraannya agar tidak terlihat karena apa yang diharapkan akhirnya terwujud tanpa perlu dia beraksi.


“Ya... jika itu bisa membuat saya senang kenapa tidak... ?”balas Irise menanggapi tanpa emosi sedikitpun.


“Oh... benarkah aku boleh memboyongnya ke sini... ?”tanya David antusias.


Irise lagi-lagi mengangguk menanggapinya sambil tersenyum lebar untuk menunjukkan jika dirinya mendukung keputusan ayahnya.


“Ku kira lebih cepat lebih baik...”balas Irise malah mendesak ayahnya.


“Ya.... kalau begitu dalam minggu ini aku akan membawanya tinggal di sini.”balas David merasa mendapat lampu hijau.


Irise kemudian meminta izin pada ayahnya untuk pulang karena sudah hampir malam. Dia pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan menuju ke rumah.

__ADS_1


David menaiki tangga masuk ke rumahnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.


“kring... kring... kring...”suara ponsel milik Lilia yang berdering di meja.


Gadis itu sedang berbaring di tempat tidur di samping Edwin dengan mata yang masih terpejam.


“Oh... telepon dari siapa itu... ?”gumam Edwin yang bangun karena suara ponsel yang makin terdengar melengking di telinganya.


Lelaki itupun dan menyingkirkan tangan Lilia yang masih ada di dadanya kemudian mengambil ponsel yang ada di meja.


“Telepon dari David... ?”ucapnya saat melihat siapa yang menelepon.


Masih memegang ponsel David membangunkan Lilia.


“Sayang bangun... David menelepon mu.”ucap Edwin sambil menepuk bahu Lilia.


Gadis itu membuka mata dan menatap ponsel di tangan Edwin. Dia pun segera duduk dan mengambil ponselnya dari tangan Edwin.


“Ah... halo... tuan...”ucap Lilia sambil menatap Edwin dan sedikit salah tingkah karena dia hampir saja memanggil David dengan sebutan sayang.


“Lilia... aku ini kabar bagus untukmu. Irise benar-benar memberi lampu hijau pada hubungan kita dan dia mengizinkan aku untuk membawamu ke rumah ini dalam minggu ini. Apa kau tinggal bersamaku ?”tanya David tidak sabar menunggu jawabannya.


Edwin bergeser mendekat dan berbisik di telinganya.


“Kau setujui saja permintaan lelaki tua itu, maka rencana kita akan semakin berjalan mulus.”ucap nya lirih.


Lilia mengangguk kemudian kembali bicara dengan David.


“Em... apa benar tidak apa-apa jika aku tinggal di sana... ?”balas Lilia berpura-pura menolak sebelum menyetujuinya dan harapan antara lagi itu memohon pada dirinya.


“Ya... tentu saja tak apa. Ayolah... kita tinggal bersama.”ucap David lagi mendesak Lilia.


“Ya sayang... jika begitu aku mau tinggal bersama denganmu.”jawab Lilia keceplosan memanggil lagi itu dengan panggilan mesra di depan Edwin.


Panggilan berakhir dan Lilia menaruh kembali ponselnya ke meja. Dia menatap Edwin dengan rasa bersalah dan mengira lelaki itu akan marah padanya.

__ADS_1


“Tak ku sangka kau pintar sekali merayu lelaki tua itu sayang...”ucap Edwin tersenyum lebar dan bangga padanya lalu mencium dahi Lilia.


Tiga hari berlalu tepat di akhir pekan David mengirim beberapa orang ke rumah Lilia untuk membawa barang-barang Lilia yang akan dibawa ke rumahnya.


Sebuah pick up hitam berhenti di depan rumah Lilia. Dalam make up itu terlihat penuh dengan barang Lilia.


“Apakah masih ada barang lagi yang perlu diangkut nona ?”tanya software yang mengemudikan pick up kepada Lilia.


“Sudah cukup tak ada barang lagi yang perlu diangkut. Bawa barang ini sekarang juga ke rumah Tuan David !”ucap Lilia memberikan perintah pada saat sobat seperti seorang majikan memberikan perintah pada pembantunya.


Pick up yang membawa barang-barang muatan milik Lilia kemudian meluncur menuju ke rumah David. Tak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya.


“Ayo kita pulang ke rumah sekarang.”ucap David turun dari mobil untuk menjemput Lilia.


Lilia tersenyum lebar dan merasa bagai tuan rumah sekarang setelah David mengajaknya.


“brak... !”David menutup pintu mobil setelah Lilia duduk di sebelahnya.


Mobil meluncur meluncur ke rumah megah David yang seperti istana.


“Ayo kita turun sekarang.”ucap David setelah mematikan mesin mobil.


Lilia mengangguk dan mereka berdua kemudian turun dari mobil lalu masuk ke rumah bersama.


David mengantar Lilia untuk melihat-lihat ke seisi rumah lalu menunjukkan kamarnya, setelah itu dia masuk ke kamarnya sendiri dan berganti baju.


“Kamar ini benar-benar besar dan mewah...”gumam Lilia pusat duduk di tempat tidur sambil melihat ke sekitar.


Seorang pelayan wanita masuk ke kamar atas perintah David.


“Nona jika ada kesulitan atau memerlukan apapun nona bisa memanggilku.”ucap pelayan itu pada Lilia.


Lilia semakin merasa berada di atas angin dengan fasilitas yang diberikan oleh David padanya.


“Panggil aku nyonya bukan nona.”ucap Lilia pada pelayan wanita tadi.

__ADS_1


Pelayan wanita tadi hanya menatapnya kemudian mengangguk dan mengutuk dalam hati semoga gadis yang sudah sok dan berlagu seperti nyonya besar itu segera didepak dari rumah itu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2