Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 85 Malam Sendirian


__ADS_3

Irise dan ibunya akhirnya tiba di sebuah rumah sakit. Dia turun dari mobil dan membantu ibunya keluar dari sana.


“Ayo ibu kita masuk.”ucap Irise berjalan menuju ke rumah sakit sambil menggandeng tangan ibunya.


Irise mendaftarkan ibunya untuk melakukan check up kesehatan secara menyeluruh.


“Ibu tunggu sebentar di sini aku akan menemui dokter ku dulu.”ucap Irise berdiri meninggalkan ibunya setelah mendaftarkan nya.


Wanita itu kemudian masuk ke ruangan lain untuk menemui dokter Bian, dokter yang secara khusus menangani dirinya.


“Oh nona Irise... kebetulan sekali kau sudah datang ke sini padahal aku mau menelepon mu untuk menanyakan apa hari ini tidak jadi terapi.”ucap dokter Bian saat melihat Irise datang ke ruangannya.


“Tentu saja aku datang dokter... aku masih ada sedikit urusan makanya aku terlambat.”jawabnya menjelaskan.


Dokter Bian kemudian mempersilahkan Irise untuk duduk dan menunggunya sebentar. Sementara dia berdiri menuju ke ruangan lain untuk mempersiapkan terapi Irise.


Sepuluh menit kemudian setelah selesai mempersiapkan terapi untuk Irise, Dokter Bian keluar dari sebuah ruangan dan kembali ke tempatnya tadi.


“Nona Irise Ayo silakan Ikuti aku untuk menjalani terapi.”ucap dokter Bian memanggil Irise untuk segera menjalani terapi nya.


Irise berdiri dari tempat duduknya dan segera menghampiri dokter Bian kemudian mengikuti lelaki itu masuk ke ruang terapi.


Tiga puluh menit kemudian Irise keluar dari ruang terapi setelah selesai menjalani sesi terapi.


“Nona Irise jadwal terapi mu minggu depan di hari Rabu. Jika tidak bisa terapi pada hari itu tolong segera hubungi aku.”ucap dokter Bian berdiri di depan pintu ruang terapi.


“Baik dokter Bian, terima kasih atas perawatannya. Sampai jumpa minggu depan.”jawab Irise yang berdiri di depan dokter itu.


Dia keluar dari ruangan dokter Bian dan menuju ke ruangan di mana ibunya tadi masih menunggu di loket antrian.


“Lhoh... ibu tak ada ada di sini... apa mungkin Ibu sudah dipanggil masuk ?”gumam Irise saat mencari ibunya dan tidak menemukannya.


Dia kemudian bertanya pada salah satu petugas yang ada di sana dan menanyakan di mana keberadaan ibunya. Petugas itu memberitahu Irise jika ibunya sudah masuk ke ruang check up setengah jam yang lalu.


“tap... tap... tap...”Irise berjalan masuk ke ruangan check up.


“Oh... pintu ruangannya tertutup. Baiklah kalau begitu aku akan tunggu di sini saja.”batin Irise kemudian duduk di kursi yang ada di sekitar ruangan check up.

__ADS_1


Satu jam kemudian ibunya keluar dari ruangan check up.


“Irise...”panggil ibunya saat melihat dirinya duduk di dekat ruangan check up.


Ibunya Irise kemudian duduk di sampingnya untuk menunggu dokter membawakan hasil check up-nya dan memberikan penjelasan padanya.


Sambil menunggu panggilan dari dokter mereka berdua mengobrol ringan dan santai di sana.


“Nyonya Hannah... silahkan Ikuti aku.”ucap seorang dokter keluar dari ruang check up dan membawa hasil tesnya.


“Ibu... nama Ibu dipanggil, ayo kita ikuti dokter itu dan aku akan menemani Ibu.”ucap Irise pada ibunya.


Ibunya pun menurut saja pada perkataan Irise dan mereka berdua berjalan mengikuti dokter kemudian duduk di kursi di sebuah ruangan.


Irise dan ibunya duduk di depan seorang dokter. Dokter itu membuka hasil check up milik ibunya Irise dan membacakan hasilnya.


“Nyonya Hannah... dari hasil check up menunjukkan jika ada satu masalah kesehatan yang saat ini memerlukan penanganan cepat.”ucap dokter itu menjelaskan.


“Ada penyakit apa Dok...”tanya Irise penasaran.


“Nyonya Hannah terkena kanker paru-paru stadium satu.”balas sang dokter singkat.


“Tenang saja nyonya... Penyakit ini bisa diatasi selama masih tahap stadium awal.”ucap sang dokter menjelaskan karena melihat pasiennya tampak pucat pasi.


Irise menggenggam tangan ibunya untuk memberikan wanita itu semangat sekaligus menenangkan dirinya.


“Ibu jika begitu Ibu ikuti saja dan dari dokter untuk segera mengikuti pengobatan di sini. Aku yakin Ibu pasti bisa sembuh.”ucap Irise menatap ibunya.


Irise pun kemudian membahas pengobatan yang akan dilakukan untuk ibunya dan kapan kiranya Ibunya bisa segera mengikuti pengobatan itu.


Di lain tempat Edwin sudah sampai ke rumah. Dia tidak melihat mobil Irise di depan.


“Apa dia belum pulang... ?”batin Edwin setelah turun dari mobil dan memarkirnya.


Edwin kemudian berjalan masuk ke rumah menuju ke kamarnya. Setelah berganti baju Dia menuju ke ruang tengah sekedar untuk menuliskan punggungnya yang kaku.


“Bibi... nona pergi ke mana ?”tanya Edwin pada seorang pelayan yang kebetulan lewat di sampingnya.

__ADS_1


“Nona memang belum pulang dari tadi, tuan.”jawab sang bibi.


Karena tadi yang ditanyakan lagi oleh Edwin dia pun segera kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


“Jadi sebaiknya aku keluar saja sekarang mumpung Irise belum pulang. Tapi dia pergi ke mana ya...”batin Edwin penasaran dan bertanya-tanya gimana keberadaan istrinya saat ini.


“Sudahlah.... paling-paling dia belanja ke mall. Lebih baik aku segera bergegas sekarang.”gumam Edwin sambil menatap jam dinding.


Lelaki itu kemudian Kembali keluar rumah dan menaiki mobilnya meluncur di jalanan menuju ke rumah Lilia.


“tok... tok... tok...”Edwin mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban.


Lelaki itu kemudian menekan kode sandi pintu rumah kekasihnya.


“klik...” begitu pintu terbuka admin segera masuk ke rumah Lilia dan menutup kembali pintunya.


“Sayang...aku datang kau di mana ?”teriak Edwin memanggil Lilia, namun tetap tak ada respon.


Dia pun terus masuk ke dalam dan memeriksa di setiap ruangan untuk mencari gadis itu.


“Kemana ya Lilia...”ucapnya sambil duduk di sebuah sofa untuk menunggunya setelah menemukan keberadaan Lilia di manapun di rumah itu.


Di lain tempat di hotel, Lilia duduk di tempat tidur untuk memakai kembali bajunya. Namun David menarik kembali gadis itu ke dalam pelukannya.


“Tuan... aku mau pulang...”ucapnya menolak.


“Malam ini kau tidak usah pulang ke rumahmu. Kau menginap saja di sini semalaman dan temani aku.”ucap Edwin menutupi kembali tubuh Lilia dengan selimut.


“Tapi tuan...”ucap Lila yang masih bersi keras untuk pulang.


“Lilia kau sekretaris ku dan kali ini aku memberimu perintah untuk menemani diriku. Dan tak ada alasan bagimu untuk menolaknya.”ucap Edwin menggunakan kekuasaannya untuk menahan gadis itu supaya tetap berada di sampingnya.


Lilia pun tak bisa menolak lagi dan dia pun menuruti saja permintaan David meskipun Sebenarnya dia ingin pulang ke rumah karena dia tahu saat ini Edwin pasti sudah menunggunya di rumah.


Dua jam berlalu dan Edwin masih berada di rumah Lilia untuk menunggunya pulang hingga dia itu ketiduran.


Di lain tempat Irise pulang ke rumah. Dia tidak melihat mobil suaminya saat dia memarkirkan mobilnya. Namun gadis itu terlihat tenang dan santai saja lalu masuk ke rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2