
Alland benar-benar tidak menyangka sama sekali jika Irise memberinya dasi yang dia pilih tadi. Lelaki itu tersenyum lebar dan menata kembali kadonya. Ia pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Keesokan paginya di rumah Alland, lelaki itu terlihat bersemangat dan tampak ceria. Dia berdiri di depan cermin dan memakai dasi pemberian dari Irise.
“Sudah selesai...”gumam Alland sambil tersenyum menatap dirinya di cermin karena ternyata ada si itu cocok untuknya.
Alland segera keluar dari rumah dan masuk ke mobil menuju ke kantornya. Di tengah jalan dia pun kembali teringat pada Irise.
“Aku harus membalas pemberian darinya.”batin Alland sambil berpikir kira-kira hadiah apa yang akan ia berikan pada Irise.
Alland melewati pusat perbelanjaan dan dia berhenti sebentar. Lelaki itu masuk ke sana dan baru keluar satu jam kemudian dengan membawa satu bingkisan.
“klik...”Alland menutup pintu mobil lalu memakai kacamatanya dan kembali melajukan mobil menuju ke kantor.
Lelaki itu tersenyum menatap bingkisan untuk Irise dan tak sabar melihat gadis itu memakainya.
Sore hari Irise sengaja pulang paling terakhir karena masih menyelesaikan banyak pekerjaannya yang belum tuntas.
“Irise kau tidak pulang sekarang ?”tanya Edwin setelah selesai berkemas dan berhenti di depan meja istrinya.
“Ya masih banyak yang harus ku kerjakan. Kau pulang saja duluan dan bantu ayah jika dia butuh sesuatu.”balas Irise menara sebentar bertas yang dipegangnya dan menatap Edwin.
“Ya baiklah... aku akan pulang duluan dan segera berangkat ke rumah Ayah.”balas Edwin dan berjalan kembali keluar dari kantor.
Irise kembali mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk dan fokus untuk menyelesaikannya karena dia bisa segera pulang.
Dua puluh menit kemudian teleponnya berdering.
“Kring... kring.... kring....”
Irise segera mengambil ponselnya yang dia letakkan di meja.
“Halo...”jawab Irise setelah mengangkatnya sambil memeriksa setumpuk dokumen di meja.
__ADS_1
“Irise apa kau ada waktu ?Aku ingin bertemu sebentar denganmu sekarang.”ucap Alland dari seberang telepon.
“Alland.... ? Ya kapan kau minta aku menemui mu ?”balas Irise setelah tahu peneleponnya adalah Alland dari suaranya yang dia hafal.
“Sekarang aku ada di depan kantormu. Keluarlah sebentar.”balas Alland kemudian mematikan ponsel.
Irise berdiri dan berjalan ke luar kantor. Setibanya di depan kantor dia melihat Alland membuka pintu mobil dan turun dari sana.
“Ada apa kau mencari ku sepulang kerja ?”ucap Irise menghampiri Alland dan berdiri di sampingnya.
Alland kembali masuk ke mobil. Ia mengambil satu tas dan memberikannya pada Irise.
“Apa ini ?”tanya nya saat menerima pemberian Alland.
Irise kemudian membuka tas dan melihat isinya yang ternyata sebuah gaun berwarna ungu-putih.
“Ini...”Irise memasukkan kembali gaun itu dalam tas dan menatap Alland.
“Bukankah nanti malam adalah hari ulang tahun ayahmu ? Pakailah gaun itu untuk menghadiri pesta perjamuan nanti malam.”jawab Alland menjelaskan.
“Sudah jangan banyak berpikir. Anggap saja itu sebagai ganti traktiran beberapa waktu lalu yang ku janjikan.”balas Alland mendesak Irise saat dia termasuk mengembalikan gaun itu padanya.
“Kuharap aku bisa melihatmu memakai gaun itu nanti malam.”ucap Alland kemudian segera masuk ke mobil dan menutup pintunya.
“Kau ini...”ucap Irise tak bisa menolak pemberian Alland karena lelaki itu segera pergi dari sisinya dengan cepat.
Malam hari di rumah Irise.
Terlihat gadis itu berdiri di depan cermin mengenakan gaun pemberian Alland setelah selesai merias wajahnya.
“Alland kau ternyata memilih gaun dengan tepat. Kau benar-benar memahami diriku dan juga selera ku.”gumam Irise yang tampak puas dengan gaun pilihan Alland.
“Apa kau sudah siap untuk melihat pertunjukan ?”ucap Sharp Eye yang berada di dekatnya.
__ADS_1
“Ya... aku tak sabar ingin segera melihat pertunjukan berlangsung.”jawabnya singkat.
Irise mengambil dua bingkisan dari kamar kemudian keluar dari rumah dan masuk ke mobil menuju ke rumah ayahnya.
Di rumah David suasana saat ini ramai. Para tamu undangan sudah hadir di sana dan terdengar hiruk pikuk perjamuan makan malam.
Di luar ruangan para aku undangan masuk dengan menunjukkan undangan yang mereka bawa.
“Ya tuan Marx silakan masuk.”ucap lelaki yang berjaga di pintu luar tempat acara perjamuan berlangsung.
Tak jauh dari energi yang memeriksa undangan setiap tamu yang masuk ada Edwin yang masih berdiri menunggu siapa saja yang datang untuk membantu dirinya agar bisa masuk, karena undangannya hilang.
Tiga menit kemudian Lilia lewat dan akan masuk ke ruangan perjamuan dan berhenti saat melihat Edwin.
“Apa yang kau lakukan di sini ? Kenapa tidak segera masuk ?”tanya Lilia menghampiri kekasihnya.
“Aku kehilangan undangan ku dalam perjalanan, apa kau bisa membantu ku ?”ucap Edwin menjelaskan jika dirinya tak bisa masuk tanpa undangan meskipun dirinya adalah anggota keluarga David.
Di dalam mobil Noah. Dia sengaja mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan.
“Pasti Edwin saat ini tidak bisa masuk ke ruang perjamuan.”ucap Noah tersenyum lebar sambil mengambil undangan milik Edwin yang ia taruh di dasbor mobil.
Kembali ke Edwin yang saat ini sedang berjalan bersama Lilia dan berhenti di depan petugas pemeriksa undangan.
“Tolong tuan Edwin adalah menantu dari Tuan David. tanpa undangan seharusnya dia bisa masuk dengan bebas ke ruangan ini.”ucap Lilia ada berapa tugas mencoba membantu Edwin.
Petugas itu menetap temannya dan bicara sebentar dengannya untuk berdiskusi.
“Ya baiklah nona kali ini tuan Edwin boleh masuk.”ucap petugas pemeriksa undangan setelah berdiskusi dan memberikan izin pada Edwin.
Lilia dan Edwin kemudian berjalan bersama masuk ke ruang perjamuan.
Di belakang Lilia, sekitar empat meter David datang. Dia menatap Lilia yang sedang masuk ruang perjamuan dengan Edwin.
__ADS_1
BERSAMBUNG...