
Vivian dan manajer Aksa berjalan bersama menuju ke mobil lelaki itu. Seperti biasa, manajer Aksa membukakan pintu untuk Vivian. Setelah gadis itu duduk barulah dia masuk ke mobil.
Manager Aksa sudah tahu apa yang terjadi di antara Vivian Dan Dion. Dia pun tak berani membahas hal itu untuk saat ini karena mungkin akan menyinggung perasaannya.
“Vivian apa kau merasa dingin... ?”tanya manajer Aksa menoleh ke samping kiri menatap gadis yang duduk di sampingnya.
“Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, manajer Aksa.”balas gadis itu singkat.
Manajer Aksa hanya tersenyum saja karena dia melihat tubuh Vivian yang sedikit gemetar di tengah dinginnya malam. Tanpa bertanya lagi dia pun melepas dasarnya saat ini dikenakannya kemudian memberikannya pada Vivian.
“Ambillah ini...”ucap lelaki itu menyodorkan blazernya pada Vivian.
Vivian memegang blazer tadi dan menolaknya namun Manajer Aksa terus mendesaknya dan akhirnya menerimanya.
“Pakailah itu sekarang jika tidak kau akan kena flu di cuaca sedingin ini.”ucap manajer Aksa lagi.
“Tapi manajer Aksa aku tidak...”balas gadis itu kembali menolak.
“Sudahlah pakai saja... aku tidak mau kau terkena flu.”ucap lelaki itu kembali memaksa dan akhirnya hanya patuh dan segera memakai blazernya karena mulai merasakan dingin.
Tak berapa lama kemudian mereka tiba di depan rumah Vivian. Gadis itu segera turun dan melepas blazer milik manajer Aksa dan mengembalikannya pada lelaki itu.
“Manajer Aksa terima kasih atas tumpangannya dan juga blazernya...”ucap Vivian menyerahkan blazer hitam yang tadi dikenakannya pada manajer Aksa yang ikut turun mengantarnya.
__ADS_1
Manajer Aksa menerima kembali blazernya kemudian masuk ke mobilnya. Di tengah jalan, lelaki itu mengambil blazernya yang dia letakkan di sampingnya dan mencium aroma parfum Vivian yang tertinggal di sana baru kemudian memakainya.
Beberapa hari kemudian setelah putus dengan Dion, Vivian tampak baik-baik saja dan sama sekali tidak bersedih.
Pagi itu dia ada jadwal ke Four Season. Vivian berjalan keluar dari kantornya menuju ke jalanan raya untuk menunggu taksi.
Di tengah jam dia menunggu sebuah mobil menghampirinya.
“Vivian ayo masuklah...”ucap seorang lelaki yang ternyata adalah manajer Aksa yang membukakan pintu untuknya.
“Ah... terima kasih manajer Aksa tapi kali ini aku akan pergi ke Four Seasons.”jawabnya menolak karena tahu jika lelaki itu tak ada jadwal ke sana.
“Kebetulan sekali aku ada jadwal mendadak ke tempat itu juga. Jadi sekarang saja kita berangkat bersama.”ucap Manajer Aksa meyakinkan gadis itu.
Setelah mereka tiba di Four Seasons, Manajer Aksa dan Vivian turun dari mobil kemudian masuk ke perusahaan itu dan menyelesaikan urusan mereka masing-masing.
Tak berapa lama kemudian terlihat Vivian keluar duluan dari perusahaan itu dan setelah sepuluh menit Manajer Aksa baru keluar.
“klik...” dari kejauhan manajer Aksa segera membuka mobilnya saat melihat Vivian sudah berdiri di samping mobilnya agar dia bisa segera masuk.
“Ayo masuk...”ajak lelaki itu dan Vivian masuk ke mobil.
Mobil segera meluncur ke jalanan. Sedangkan Vivian hanya diam selama di perjalanan.
__ADS_1
“Manajer Aksa kita mau ke mana... ?” tanya Vivian saat melihat jalanan yang mereka lewati tidak menuju ke kantor mereka.
“Oh... maaf... aku mau mampir ke rumah lamaku dulu. Tak apa kan jika kamu menemaniku sebentar ke sana ?”tanya lelaki itu sambil tersenyum.
“Ya tak apa manajer Aksa...”balas Vivian membalas senyuman lelaki itu.
Tak beberapa lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah yang sudah tak dihuni.
“Ayo kita turun....”ucap lelaki itu turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Vivian.
Mereka berdua berjalan masuk menuju ke rumah. Sementara Vivian merasa familiar dengan rumah itu.
“Rumah ini kan....rumah sorang kakak yang dulu pernah bermain dan mengajari ku pelajaran matematika saat masih duduk di bangku SD ?”batin Vivian yang masih bisa melihat dengan jelas rumah itu walaupun sudah lama berlalu.
Manajer Aksa melihat reaksi Vivian yang masih diam. Dia pun mengajaknya menuju ke gudang yang ada di samping rumah.
Vivian duduk di kursi menunggu Manajer Aksa mencari sesuatu entah apa itu. Lelaki itu menurunkan beberapa kardus dan menaruh ke kursi di samping Vivian duduk lalu mengeluarkan barang lainnya.
Vivian yang tidak sengaja melihat barang-barang di kardus itu tertegun saat melihatnya. Dia pun melihat barang-barang yang ada dalam kardus tadi.
Dia mengambil sebuah buku lama yang masih tersimpan dengan rapi.
“Ini kan buku ku saat aku masih duduk di bangku SD kelas tiga, kenapa ada di sini ?”batinnya saat membuka buku itu dan melihat tulisannya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...