
Irise menekan kunci mobilnya yang membuat pintu mobilnya terbuka secara otomatis. Ia pun segera duduk di mobilnya dan mengemudikannya menuju ke Villa tempat Edwin dan Lilia pada saat ini.
Beberapa saat kemudian Irise sampai di lokasi saat ayahnya sudah sampai di sana lebih dulu.
“klak...”Irise turun dari mobil dan menutup kembali pintunya.
David yang memang sudah menunggu kedatangannya berjalan menghampirinya.
“Irise apa kau sudah siap ?”tanya David menatap putrinya yang terlihat sama sekali tidak ragu.
“Ya ayah... aku sudah siap.”jawab Irise mengangguk dengan pasti.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke pintu Villa.
“Ding... dong... ding... dong...”David menekan bel pintu dan menunggunya.
Sementara di dalam rumah, terlihat Lilia dan Edwin sedang sarapan bersama di ruang makan. Mereka menyantab beberapa hidangan yang dimasak oleh Lilia.
Baru tiga sendok mereka melahap hidangan yang ada di meja, mereka suara bel yang berdering.
“Edwin ada tamu... siapa yang bertamu sepagi ini ?”ucap Lilia menaruh pisau yang di pegangnya dan menatap Edwin.
“Mungkin itu hanya tukang koran yang mengantarkan koran setiap harinya. Abaikan saja.”balas Edwin dan kembali meneruskan menyantap sarapan pagi.
Di luar pintu villa David dan Irise nunggu lama dan belum ada respon sama sekali.
“Kenapa mereka lama sekali ?”ucap David yang mulai tak sabar menunggu.
“Kita tunggu sebentar lagi ayah mungkin mereka masih mandi.” jawab Irise menenangkan ayahnya yang tidak sabar.
Irise kemudian menatap Sharp Eye yang ada di dekatnya.
“Sharp Eye coba kau masuk ke dalam dan lihat apa yang sedang mereka lakukan. Jika perlu buat mereka segera keluar dari sana.”ucap Irise meminta tolong pada sang elang.
__ADS_1
Sharp Eye mengangguk tanda mengerti. Ia pun segera masuk ke dalam villa dengan menebusnya. Elang itu terus masuk ke dalam hingga menemukan keberadaan Edwin dan Lilia yang sedang berada di ruang makan.
“Pantas saja mereka tak mau keluar.”gumamnya melihat mereka berdua menyantap makanan dengan lahap.
“Baiklah... aku akan membuat kalian keluar sekarang !”gumam Sharp Eye tertawa usil.
Elang itu kemudian kembali ke ruang depan. Di tengah jalan dia menjatuhkan asbak yang ada di meja.
“prang... !”
“Suara apa itu...?”ucap Edwin menara sendok ke meja dan berdiri dari tempat duduknya.
Edwin yang merasa aneh karena tiba-tiba ada suara benda yang pecah, berjalan menuju ke arah sumber suara berasal.
Dia melihat asbak rokok yang ada di meja tiba-tiba pecah sendiri tanpa sebab.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi ? Apa ada tikus atau hewan lain yang masuk ke rumah ?”gumam Edwin lalu mencari di sekitar dan tak menemukan ada sosok hewan di sana.
Sharp Eye yang sudah sampai di luar memberitahu kan pada Noah untuk kembali menekan bel pintu.
Irise berjalan maju dan menekan bel pintu berulang kali.
“Berisik sekali ! Tukang koran itu masih belum pergi juga rupanya. Sudah bilang untuk pergi malah bikin berisik.”umpat Edwin merasa kesal dan risih.
Ia pun berjalan dengan cepat menuju ke ruang tamu bermaksud untuk memarahi tukang koran.
“kriek...”Edwin membuka pintu dan dia terkejut sekali saat yang berdiri di luar bukan tukang loper koran seperti perkiraannya.
“Ay... ayah.....”ucapnya bahasa-bahasa saat melihat di depan pintu.
“Ir... Irise... apa yang kalian berdua lakukan di sini ?”ucapnya terbatas dan terkejut sekali saat melihat Irise juga ada di sana.
Irise tersenyum lebar dan mendekat. Ia lalu menyentuh bahu Edwin yang membuat suaminya itu merinding ketakutan.
__ADS_1
“Edwin kenapa kau langsung berkeringat dingin saat melihatku ?”tanya Irise menyeka keringat dingin Edwin yang mulai menetes.
Lelaki itu sama sekali tak menduga bagaimana mereka berdua bisa tahu jika dirinya tinggal di sebuah Villa, dan parahnya lagi ia sama sekali tidak mengetahui ataupun curiga pada mereka berdua sebelumnya.
“Semoga saja Lilia tidak keluar dari dalam.”batin Edwin berharap agar masalah tak menjadi ricuh.
“Ayah.... kenapa ayah pagi-pagi sekali ke sini ?”tanya Edwin untuk mengalihkan perhatian.
David maju dan berdiri di samping Irise. Dan ia pun boleh angkat bicara setelah sedari tadi berusaha menahan kesabarannya.
“Edwin aku benar-benar tidak menyangka. Kau yang merupakan menantu dan ku anggap sebagai anakku sendiri, bahkan aku memberikan tanggung jawab mengelola perusahaan padamu. Namun balasan apa yang kau berikan padaku ?”ucap David dengan ketus karena selama ini telah ditipu dan dibohongi olehnya.
“Ayah... aku benar-benar tidak paham apa yang ayah maksud.”jawab Edwin mencoba mencerna perkataan Ayah mertuanya.
Lima menit kemudian Lilia yang berada sendiri di ruang makan menyusul Edwin keluar.
“Kenapa dia lama sekali belum kembali ? Apa terjadi sesuatu di luar sana ?”gumam Lilia.
Gadis itu pun berjalan ke depan dengan maksud untuk memanggilnya masuk kembali.
“Sayang... kenapa kau lama sekali bicara dengan tukang loper koran ?”ucap Lilia dari dalam.
Edwin tidak berani menoleh ke belakang dan tidak berani berkata apapun.
“Gadis bodoh itu kenapa malah menyusul keluar ?”batin Edwin semakin berkeringat dingin.
Lilia pun tiba di depan rumah dan dia seketika terkejut saat melihat David dan Irise ada di sana.”
“Pantas saja Edwin diam dan sama sekali tidak menjawab saat aku memanggilnya. Ternyata ada dua orang itu di sini.”batin Lilia menjadi gugup dan salah tingkah.
Lilia dan Edwin terdiam terpaku menatap David dan Irise yang seolah siap meledak kan bom waktu yang selama ini tertidur.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1