
Freya duduk diam menatap punggung Kevin sambil menahan ketawa.
“Ternyata tubuh mu tak bisa bohong dan kau tak bisa mengendalikannya.”batin Freya sambil membatalkan bajunya yang kurang rapi.
“kriek...” seseorang membuka pintu.
“Freya... Kevin kenapa kalian berdua terlihat seperti menjauh ?”
Freya dan Kevin menetap ke arah pintu.
“Ayah...tidak ada apa-apa. Aku hanya butuh udara segar sebentar.”ucap Kevin berbalik dan menatap Ayah mertuanya yang sudah kembali dari kantin.
Kevin pun segera duduk kembali di samping Freya agar Ayah mertuanya tak mengira hubungan mereka buruk.
Freya kembali berakting dan menunjukkan kemampuan aktingnya.
“Kevin... aku ingin pulang... aku betah tinggal di sini.”ucap Freya sambil mengiba manja dan mengeluarkan senjata andalannya, menitikkan air mata buaya.
Kevin menatap Freya lalu beralih menatap Ayah mertuanya karena bingung apa yang harus dia lakukan.
“Apa kau mau pindah ke kamar vvvip saja ?”ucap ayahnya Freya mengira putrinya kurang puas dengan fasilitas kamar saat ini.
“Tidak ayah... aku mau pulang saja. Aku ingin tidur di kamarku.”balas Freya tetap bersih keras ingin keluar dari rumah sakit.
“Sayang... kau harus mengikuti kata dokter dan kau harus menginap di sini selama tiga hari ke depan sampai kondisimu benar-benar baik.” balas Kevin menyentuh bahu Freya dan mengusapnya.
“Apa sebenarnya maunya gadis ini ? Sungguh benar-benar merepotkan saja.”umpat Kevin dalam hati.
“Kalau begitu coba kau bicara dengan pihak rumah sakit agar istri mu bisa segera pulang ke rumah.”ucap ayah mertua pada Kevin.
Kevin tak bisa berkutik jika mertua atau orang tuanya yang bertindak secara langsung.
“Baiklah ayah...”jawabnya singkat.
Ia kemudian berdiri dan menemui pihak rumah sakit untuk membicarakannya.
__ADS_1
“Sayang cepat kembali ya...”ucap Freya seolah tak mau jauh-jauh dari Kevin sedetik pun.
Kini hanya ada Freya dan ayahnya saja di ruangan. Ayahnya menggeser duduk lebih mendekat dan menatapnya dengan serius.
“Freya kapan kau akan memberikan Ayah seorang cucu ? Ayah ingin sekali bermain dengan cucu laki-laki ayah.”ucap ayahnya sambil tersenyum.
“gleg...”Freya menelan ludah. Ia sama sekali tak terpikirkan akan hal itu walaupun jauh dalam lubuk hatinya dia masih mencintai Kevin.
“Ay-ayah... aku belum setahun menikah. Santai saja nanti ayah pasti akan menimang cucu. Tapi aku tak bisa janji memberikan cucu laki-laki pada ayah.”jawab Freya yang terlihat malu-malu.
“Sebelum aku puas balas dendam aku tak akan hamil.”batin Freya fokus pada program balas dendamnya.
Beberapa saat kemudian Kevin kembali masuk ke ruangan setelah berbicara dengan pihak rumah sakit.
“Bagaimana... apa Freya boleh pulang hari ini ?”tanya Ayah mertua saat melihat Kevin duduk di sampingnya.
“Ya ayah... setelah bicara panjang lebar dan berusaha keras akhirnya dokter memberikan izin Freya untuk pulang hari ini.”jawab Kevin menjelaskan.
Karena ingin terlihat pasrah dan hubungan mereka baik-baik saja di depan ayahnya, Freya kembali berakting.
“Ehem...”Kevin hanya berdehem dan terlihat senang tetap bangga dengan pujian dari Freya.
Tiga jam setelahnya terlihat Freya mengemasi barangnya dan bersiap untuk pulang.
Gadis itu turun dari ranjang dan sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai.
“Auh... !”ucap Freya merintih kesakitan dan mencoba bangkit.
“Kenapa aku merasa sikapnya berubah semenjak berada di rumah sakit ini ?”batin Kevin menatap Freya dan sebenarnya dia malas sekali mengurusi gadis itu.
Kevin menggendong Freya dan membawanya keluar dari rumah sakit lalu masuk ke mobil.
Freya menatap Sharp Eye yang ada di dekatnya.
“Sharp Eye Tolong carikan aku item yang bisa membuat ku menjadi berat dengan cepat.”ucap Freya.
__ADS_1
Sharp Eye pun segera mencari item yang diminta oleh Sylvia.
“Ini ada item weight maker degan harga sepuluh ribu poin.”jawab elang itu.
“Oke tolong segera berikan item itu padaku.”jawab Sylvia tanpa menghitung poin yang ada terlebih dulu.
Sharp Eye segera memproses pembelian dan menyerahkan item itu pada Sylvia.
“Ding... !”Sylvia segera menggunakan item tadi dan membuat berat badannya bertambah 10 kilo.
Kevin terlihat berkeringat di tengah jalan dan terengah-engah.
“Kenapa rasanya tiba-tiba bertambah berat ?”batin Kevin sambil Berhenti sejenak untuk menghirup nafas panjang.
“Sayang kenapa berhenti apa aku berat sekali ?”ucap Freya sambil memegang erat leher Kevin.
“Tidak sama sekali. Tubuh mu seringan kapas.”balas Kevin kembali berjalan dan merasakan tubuh Freya semakin berat karena memang Sylvia kembali menambah beratnya.
Kevin menurunkan Freya di kursi depan dan setelahnya dia langsung meminum satu botol besar air mineral dan menghabiskannya seketika, barulah dia menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
Di lain tempat terlihat Noah berada di rumah mewah seorang diri dengan Fasty yang menemaninya.
“Noah kapan kau akan menjalankan misi ini ?”tanya kelinci itu setelah beberapa waktu menolak sama sekali tidak beranjak dari rumah mewah itu.
Noah menatap kelinci sebagai partner barunya itu. Ia diam dan tidak menanggapi ucapannya.
“Huh... kelinci ini ternyata lebih cerewet daripada Sharp Eye. Dia berisik sekali.”batin Noah lalu menyumpah telinganya dengan headset serta mengeraskan volume suara mp3 yang ia dengar.
“Noah kau ini mendengar pertanyaan ku atau tidak ?”ucap Fasty melompat ke arahnya kemudian melepas headset yang dipakainya.
“Fasty... ? Sudah ku bilang tenang saja dan tak perlu terburu-buru. Aku juga sedang menunggu Luna pulang.”balas Noah kesal lalu mengambil kembali headset dari tangan Fasty dan mengenakannya lagi.
Fasty tak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihatnya saja. Dalam hati ia ingin Sylvia kembali ke sisinya saja karena tak terbiasa dengan Noah.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1