
Di dalam ruangan petugas medis segera memeriksa kondisi Renata. Mereka tidak menemukan luka atau masalah apapun pada tubuh wanita itu.
Namun petugas perawat mengambil darah Renata lalu keluar membawanya ke laboratorium. Tak lama kemudian petugas kesehatan kembali ke ruangan.
“Keluarga pasien saudari Renata silakan masuk.”ucap tugas perawat memanggil anggota keluarga yang menunggu di luar.
Alden berdiri dan segera masuk ke ruangan.
“Bagaimana kondisi pasien kenapa sampai saat ini masih belum sadar juga ?”tanya Alden merasa cemas karena melihat ternyata saat ini belum membuka matanya.
“Bapak tidak perlu khawatir. sebentar lagi masih akan sadar. Pasien hanya kelelahan saja.”jawab petugas medis menjelaskan.
“Lalu apa keluhan yang diderita ?” tanya Alden lagi karena kalau hanya kesalahan saja tidak mungkin sampai pingsan seperti itu.
“Bapak ini kabar gembira... istri bapak saat ini sedang hamil empat minggu.”ucap petugas medis menjelaskan sambil tersenyum.
“Apa... hamil empat minggu... tapi...”ucap Alden terkejut sekali mendengar penjelasan dari petugas medis.
“Karena usia kandungannya masih sangat muda bapak diharapkan bisa menjaga pasien selalu dalam keadaan tenang dan tidak kelelahan.”ucap petugas medis menambahkan kemudian segera keluar dari ruangan.
“Huft....”Alden makanan nafas panjang dan merasa lega tidak terjadi sesuatu hal pun pada Renata.
Lelaki itu berdiri di samping Renata dan menatapnya. Dia kemudian teringat beberapa waktu yang lalu saat di hotel dan dalam kondisi mabuk.
“Jadi... hanya satu kali... aku bisa membuatnya hamil...”gumam Alden saat mengingat kembali kejadian terakhir di hotel bersama Renata.
Lelaki itu tampak tersenyum dan memegang tangan Renata sambil duduk di kursi sebelahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Renata sadar. Dia membuka mata dan melihat Alden dan ada di sampingnya.
“Kenapa aku ada di sini ?”ucap Renata saat duduk dan melihat ke sekitar ruangan.
“Renata kau ada di rumah sakit. Kau pingsan aku membawamu ke sini tadi...”jawab Alden kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Lelaki itu tiba-tiba memeluk Renata dan berbisik di telinganya.
“Petugas medis bilang kau hamil empat minggu dan aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan ku.”ucapnya lirih kemudian duduk di kasur di samping Renata dan memegang tangannya.
“Bagaimana jika anak ini bukan anakmu... ?”tanya Renata ingin melihat reaksi Alden.
“Kau ini... bilang apa... tentu saja ini anakku...”balas Alden yang ternyata di luar dugaan Renata.
“Lelaki ini bodoh atau apa... kenapa berpikiran pendek sekali dan tidak mencari kebenarannya dulu.”gumam Renata menatap Alden saat ini menatapnya dalam-dalam.
“Bagaimana jika ternyata ini bukan anakmu... ?”tanya Renata lagi yang masih tidak yakin dan ragu pada Alden.
“Renata....sudah... lebih baik kau terima saja lelaki bodoh itu untuk menjadi pendamping hidupmu nanti. Dia tak seperti Andre.”ucap Noah yang bisa membaca perasaan Renata saat itu memberikan saran padanya.
“Apakah ini artinya kau melamar ku... ?”tanya Renata pada Alden.
Alden senyum lebar menatap Renata dan menggenggam erat tangannya.
Beberapa hari berlalu semenjak Alden tahu perihal kehamilan Renata, lelaki itu semakin intens mampir ke rumah Renata. Yang sebelumnya dia mampir ke rumah itu seminggu sekali kali ini seminggu tiga kali.
Sementara di lain tempat saat ini Rianty dan Andre sedang makan di restoran mewah. mereka memesan berbagai menu yang berharga tidak murah dan bukan sembarang menu.
__ADS_1
“Ayo sayang...kita makan sekarang.”ajak Renata sambil menyantap sebuah hidangan di meja.
Andre yang saya dari tadi masih diam melihat berbagai jenis makanan mewah yang benar-benar disantapnya segera mengambil satu hidangan. Mereka berdua makan sepuasnya.
Selesai makan Rianty menuju ke kasir. Dia mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar.
“Maaf nona kartu anda tidak bisa digunakan.”ucap petugas kasir saat Rianty menggesek kartu.
“Oh kalau begitu aku pakai kartu lainnya.”ucap Rianty lalu mengeluarkan kartu lain dan menggeseknya.
Namun ternyata sama saja kartu itu tak bisa digunakan. Dia pun mengeluarkan semua kartu kreditnya yang ada dan mencoba menggosoknya satu per satu.
“Apa yang terjadi kenapa semua kartu kredit ku tak bisa di pakai ?”batin Rianty terkejut dan merasa malu pada petugas kasir.
Dua pun meminta waktu sebentar untuk menelepon nomor bank kartu kreditnya dan kata-kata katanya dia setelah menanyakan hal itu dikarenakan ayahnya sudah memblokir semua kartu kreditnya.
“Ayah... jadi dia tidak bohong padaku dan benar-benar memblokir semua kartu ku...”gumam Rianty sambil menggigit jari setelah selesai menelepon petugas bank.
Tak ada cara lain lagi, Rianty pun berjalan kembali menghampiri Andre lalu menariknya berdiri.
“Sayang.... semua kartu kredit ku terblokir. Tolong untuk saat ini kau bantu aku membayarnya dulu. Nanti aku akan menggantinya saat semuanya sudah beres kembali.”bisik Rianty lirih di telinga Andre.
“Apa... ?!”Andre seketika terkejut dan wajahnya pucat pasi mendengar permintaan Rianty.
Rianty menarik Andre yang masih diam berjalan menuju ke petugas kasir. Dengan terpaksa Andre mengeluarkan kartu kreditnya dan menggeseknya.
Lelaki itu menelan ludah saat melihat sejumlah nominal yang harus dibayarnya.
__ADS_1
“Bisa habis kalau begini gaji ku...”batin Andre kemudian berjalan keluar dari restoran mewah bersama Rianty.
BERSAMBUNG...