Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 93 Hampir Ketahuan


__ADS_3

Irise dan Alland mengakhiri pembicaraan mereka dan lelaki itu meminta nomor Irise karena merasa tak enak saja pada dirinya.


Irise sebenarnya merasa enggan memberikan nomornya pada lelaki asing yang baru dikenalnya meskipun Alland bilang padanya hal itu dilakukan karena dia ingin membalas merasa bersalahnya atas kejadian kecelakaan beberapa waktu yang lalu.


“Berikan saja nomor mu padanya. Alland adalah putra dari sahabat ibu. Jadi dia tidak akan macam-macam padamu.”ucap ibu tiba-tiba dan menyela pembicaraan mereka berdua.


“Ya nomor ku...”ucap Irise memberitahukan nomornya pada Alland terserah ibunya bilang jika lelaki itu orang baik.


Alland menyimpan nomor Irise kemudian menelepon nomor Irise.


“Baiklah... aku juga akan menyimpan nomormu.”ucap Irise setelah melihat ada panggilan masuk di ponselnya.


“Ibu harap kalian berdua bisa berteman baik seperti ibu yang juga berteman baik dengan ibunya Alland.”ucap ibu sambil tersenyum lebar menatap mereka berdua.


Alland mengangguk dan membalas senyuman ibunya Irise.


Mereka bertiga pun kemudian berpisah di sana.


“Alland... kami pergi dulu. jika ada waktu kau mainlah ke rumah tante.”ucap ibunya Irise sebelum meninggalkan dirinya.


“Baik tante...aku akan mengajak Ibu untuk bertemu dengan tante lain waktu.”jawab Alland tersenyum lebar.


Irise dan ibunya berjalan menuju ke tempat parkir dan segera masuk ke mobil. Sedangkan Alland masih ada urusan lain di rumah sakit itu.


Alland keluar dari rumah sakit dan masuk ke mobilnya. Di jalan dia teringat pada Irise.


“Tunggu dulu... wanita tadi di rumah sakit menjalani terapi... apa itu ada kaitannya dengan zat yang meracuni tubuhnya...”gumam Alland teringat pada diagnosa dokter sebelumnya. Namun hal itu malah membuatnya semakin penasaran dan tidak mengerti saja.


“Zat beracun... tapi bagaimana dia bisa sampai mengkonsumsi zat beracun ?”gumam Alland lagi yang semakin tidak mengerti dan menjadi tanda tanya besar baginya.


“Hmm... sudahlah... mungkin lain waktu jika bertemu lagi denganmu aku akan percaya padanya.”batin Alland lagi mencoba fokus pada jalanan di depannya.

__ADS_1


Sementara itu di kantor tampak Edwin duduk di kursinya dan memutar kursi itu menghadap ke meja Irise.


“Hari ini dia tidak masuk... kemana dia...?”batin Edwin menatap meja istrinya yang kosong.


Berbagai macam pikiran muncul di benaknya.


“Oh... apa dia saat ini sedang tertidur di rumah... benar-benar obat yang mujarab.”pikir Edwin yang mengira Irise sudah terkena efek dari obat baru yang diberikannya.


Edwin pun memutar kursinya menghadap ke mejanya sambil tersenyum puas karena mengira sudah berhasil membuat Irise lebih menderita dan kesakitan daripada sebelumnya.


“Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu ?”tanya Laila lirih.


Agar tidak mencurigakan dan menarik perhatian David, dia pun berpura-pura sambil mengerjakan laporan dan duduk di sebelah Edwin.


“Mungkin saat ini Irise sedang tertidur pulas setelah meminum obat dengan dosis baru.”balas Edwin sendiri dan menoleh ke arah Lilia sebentar.


“Kau ini sungguh kejam... kenapa tidak sabaran sekali... ?”jawab Laila sambil tersenyum kecil tanpa suara.


Dari kejauhan David tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tempat mereka berdua.


Laila dan David yang sedang mengobrol seketika terkejut dan menghentikan obrolan mereka.


Untuk menyamarkan hubungan mereka berdua dan agar lelaki itu tak curiga padanya, Edwin mulai berakting.


“Laila dokumen yang kau serahkan padaku ini masih ada beberapa yang salah dan perlu direvisi.”ucapnya tiba-tiba dengan memasang raut muka serius menatap Lilia.


“Oh... em ya... baik aku akan segera memperbaikinya sekarang.”jawab Lilia gugup.


Gadis itu kemudian mengambil laporan yang ada di depan Edwin dan segera membawanya pergi dari sana lalu kembali ke tempat duduknya.


“klik... klik... klik...”Lilia berpura-pura membuka sebuah laporan di komputer dan mulai mengeditnya.

__ADS_1


David sejenak menatap Lilia dan beralih menatap Edwin kembali.


“Kenapa aku merasa tadi Lilia dan Edwin sepertinya lebih dekat daripada biasanya.”batin David.


“Ah... tapi tidak mungkin jika Lilia punya hubungan dengan David. Mungkin hanya perasaanku saja Mana mungkin gadis polos seperti dia bisa bertindak seperti itu.”batin David kembali menatap Lilia.


Sementara Lilia sama sekali tak berani menoleh ke samping apalagi ke belakang dan dia terus fokus menatap monitor yang ada di depannya sambil terus mengetik.


“Cealaka... apa ayah mencurigai kami ? Padahal aku sudah sangat sangat berhati-hati sekali di sini.”batin Edwin merasa cemas jika ayah mertuanya mengetahui skandalnya dengan Lilia.


“Ayah... ada apa kenapa ayah diam saja ? Apa ada satu hal yang mengganjal di pikiran ayah...atau ada suatu masalah?”tanya Edwin memanggil David yang tampak melamun.


“Oh... tidak ada... aku hanya ingin melihat pekerjaanmu saja hari ini.”jawab lelaki itu sekenanya.


Edwin langsung berkeringat dingin dan mukanya sedikit pucat. Dia pun mencoba mengerjakan laporan yang tadi sempat dibukanya pada layar komputer.


“klik.... klik... klik...”Edwin membaca laporan yang ada di depannya dengan serius dan mulai mengerjakannya dengan serius.


David lebih mendekat lagi untuk melihat laporan yang dikerjakan oleh Edwin.


“Coba aku lihat sebentar...”ucap David.


“Iya ayah...”balas Edwin singkat kemudian menunjukkan laporan yang sedang dikerjakan saat ini.


David memeriksa sekilas pekerjaan Edwin dan tidak benar-benar mengamatinya.


“Aku rasa pekerjaan mu itu sudah benar.”ucap David.


Lelaki itu kemudian kembali ke tempat duduknya yang membuat Edwin merasa lega dan bisa menghirup nafas dalam-dalam.


Sementara itu di lain tempat Irise sudah tiba di rumah ibunya. Dia mengantar ibunya masuk ke rumah dan duduk sebentar di sana untuk meluruskan punggungnya.

__ADS_1


Namun tiga puluh menit kemudian wanita itu tertidur pulas di kursi dengan wajah yang sangat tenang tanpa beban.


BERSAMBUNG....


__ADS_2