
Noah terlihat jengah dengan sikap Melody yang masih tak bergeming dengan semua video dan pesan teks yang dia kirim.
Tapi bukan Noah namanya jika gampang menyerah. Setiap hari lelaki itu memantau aktivitas Luna dan Nathan. Dia kemudian mengirimkan rekaman video yang berdurasi pendek ataupun pesan teks aktivitas mereka berdua pada Melody.
“Ding...”Melody menerima pesan masuk saat sedang berjalan dari supermarket menuju ke rumah.
“Pesan anonim lagi.”gumam wanita itu setelah melihat dan membaca isi pesan teks.
Wanita itu menghela nafas panjang dan mengabaikan pesan tadi kemudian kembali berjalan menuju ke rumah sambil memasukkan ponsel dalam tas.
“Baiklah... mungkin Melody perlu beberapa waktu untuk benar-benar yakin. Sambil menunggu rencana ku berhasil maka aku akan lanjut ke next plan.”gumam Noah sambil melihat tayangan Melody yang tampil di slide.
“Aku ingin memberikan kejutan pada Luna.”gumam Noah dan berpikir.
Lelaki itu tiba-tiba teringat pada coffee shop nya. Biji kopi di cafenya merupakan biji kopi pilihan terbaik nomor satu dengan pemrosesan yang panjang hingga menghasilkan biji kopi yang bermutu dan berkualitas tinggi.
“Baiklah aku mulai dari sana.”batin Noah sambal tersenyum kecil.
Lelaki itu kemudian segera berdiri dan keluar dari kamar menuju ke tempat parkir dan duduk di mobil.
“Noah sebenarnya kau mau kemana ?”ucap Fasty melompat dengan cepat mengikuti lelaki itu dan masuk ke mobil.
“Ya nanti kau akan tahu sendiri.”balasnya singkat dan segera melajukan mobilnya ke jalanan.
“Hmm....”jawab Fasty tidak kembali bertanya dan mulai terbiasa dengan sikap Noah yang berbeda dengan Sylvia.
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di sebuah perkebunan kopi.
“klak...!”Noah turun dari mobil dan menutupnya kembali.
__ADS_1
“tap... tap... tap...”Lelaki itu kemudian berjalan masuk ke perkebunan kopi dan menemui petani kopi di sana.
Terlihat banyak petani kopi yang sedang memanen biji kopi dan sebagian lagi memproses biji kopi.
“Daniel... ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan mu.”ucap Noah menghampiri seorang lelaki dan menepuk bahunya.
“Oh Tomy... lama tak jumpa kawan. Biasanya kau ke sini satu bulan sekali.”balas Daniel sambil tersenyum lebar dan balas menepuk bahu Tomy.
Mereka berdua kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang ada di bawah pohon kopi.
“Apa yang mau kau bicarakan padaku ?”tanya Daniel sambil melepas topi yang dipakai karena merasa gerah.
“Begini... aku biasa memasang biji kopi pada petani mu dengan kualitas nomor satu. Mulai besok tolong kirimkan biji kopi dengan kualitas nomor tiga untuk coffee shop ku yang ada di prefektur Rock Valley saja sampai aku menentukan batas waktunya.”balas Noah mengutarakan maksudnya pada Daniel.
“Baiklah... tapi kenapa ?”jawab Daniel penasaran pada apa alasan Tomy melakukan hal itu.
“Sebenarnya ini hanya masalah kecil saja. Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada Luna.”balas Tomy menanggapi.
Keesokan paginya Tomy kembali bangun siang. Luna masuk ke kamar dan melihat lelaki itu masih tertidur pulas.
“Tidurlah dengan pulas, Tomy... biar aku yang bekerja untukmu dan kau tinggal menikmati hasilnya saja.”gumam Luna sambil tersenyum kecil dan menyentuh pipi Tomy dengan lembut.
Wanita itu kemudian beralih menuju ke meja tempatnya menaruh tas kerja. Dia membuka sebentar tasnya.
“Punya siapa ini ?”gumam Luna saat melihat ada hadis kosong dan flash disk baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
“Ooh... mungkin ini milik Nathan dan menitipkannya padaku tanpa sepengetahuan ku.”ucapnya lirih saat mengambil Des kosong dan flash disk dari dalam tasnya kemudian memasukkannya kembali.
“tap... tap... tap...”Luna keluar dari kamar dan berjalan menuju ke tempat parkir mobil.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian wanita itu tiba di coffee shop yang ada di prefektur Rock Valley. Seperti biasa dia masuk ke bagian dapur dan melihat para pekerjanya yang sedang bekerja lalu masuk ke ruang kerja dia duduk manis di sana.
“tik... tik...”Terlihat Luna mengeluarkan pulsanya dan sedang mengetik sebuah pesan sambil tersenyum-senyum kecil.
Sementara di dapur beberapa pekerja yang sudah lama bekerja di sana nampak diam dan memandangi biji kopi yang sedang diolahnya.
“Hei coba perhatikan biji kopi ini baik-baik. Apa kalian merasa ada yang berbeda dengan biji kopi ini ?”ucap salah satu pekerja bertanya pada rekan kerjanya sambil menunjukkan biji kopi pada mereka.
“Ya benar biji kopi ini terlihat berbeda dari biasanya. Warnanya lebih cerah dan butirannya lebih kasar dari biasanya.”jawab seorang pekerja setelah mengamati.
“Apa biji kopi di sini diganti dan diturunkan kualitasnya ?”ucap pekerja lain yang menanggapi.
“Entahlah aku sudah tidak tahu apa alasannya tapi yang pasti penggantian biji kopi ini atas persetujuan dari nona Luna. Tak ada gunanya bertanya kita akan kena semprot nanti.”ucap bekerja lain menimpali.
Yang di katakan pekerja tadi memang benar adanya, dan para pekerja tak mempermasalahkan hal itu dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
Di eberapa saat kemudian datang beberapa pengunjung kafe dan mulai memesan pesanan.
“Tolong coffee robusta diagonal meja nomor 5.”ucap seorang customer memesan berapa kopi.
“Baik tuan silakan ditunggu.”jawan pelayan cafe.
Tak lama kemudian seorang wanita menyerahkan pesanan kopi pada meja nomor 5 dan melayani pesanan customer lainnya.
“Hmm...kenapa rasanya berbeda ? Rasanya yang ini lebih berampas dari biasanya.”ucap customer tadi setelah menikmati kopi yang di pesannya.
Hal yang sama terjadi di meja lain, tampak beberapa customer mengeluh padahal pelayan yang ada di sana dan meminta dibuatkan ulang.
Sedangkan Luna yang berada di ruangan kerjanya sama sekali tidak tahu akan hal itu, terlihat wanita itu sedang menelepon seseorang sambil tersipu dan tersenyum lebar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...