
Beberapa hari berikutnya David berencana akan mengadakan acara perjamuan makan malam tepat di hari ulang tahunnya untuk merayakannya dengan mengundang semua rekan bisnisnya.
Meskipun acara itu masih digelar satu minggu dari sekarang namun di rumah David semua orang terlihat sibuk sekarang.
Di sebuah ruangan David duduk berdua bersama Lilia setelah menikmati sarapan pagi.
“Sayang... apa kau bisa membantuku mengurusi untuk acara perjamuan makan malam nanti ?”ucap David bertanya pada Lilia sambil menaruh secangkir kopi yang barusan di seruput nya ke meja.
Lilia tampak senang sekali mendengar permintaan David yang laki-laki memperlakukan dirinya seperti nyonya rumah.
“Tentu saja sayang... dengan senang hati aku akan membantumu mengurusi semuanya.”balas Lilia tersenyum lebar kemudian menggeser tempat duduknya mendekat dan mencium pipi lelaki tua itu.
Di lain tempat di rumah Noah, terlihat Dia sedang berdiri di dekat pintu dan menatap kalender yang ada di dinding di mana di sana terdapat sebuah tanda yang menarik perhatiannya.
“Tanda spesial hari apa ini ?”gumamnya penasaran melihat tanda hati berwarna merah di sebuah tanggal.
“Oh... jadi minggu depan adalah hari ulang tahunnya David... ?”gumamnya setelah membaca tulisan yang ditulis oleh Irise di kalender itu.
Noah kemudian diam dan berpikir. Menurutnya saat itu adalah saat yang tepat untuk memberikan kabar bagus bagi David yang akan memberikan tamparan keras pada Edwin dan juga Lilia.
“Sekarang lah saatnya aku beraksi.”gumamnya sambil tersenyum kecil.
Dia pun kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Keluar dari kamar mandi dia pun segera berganti baju dan merias tubuhnya di depan cermin.
“Sayang kau mau ke mana ?”tanya Edwin masuk ke kamar saat melihat istrinya mengenakan baju santai.
“Aku akan keluar sebentar untuk mencari hadiah bagus untuk ayah ku.” jawabnya singkat sambil menoleh ke arah Edwin.
Edwin mengerutkan alisnya dan seketika dia teringat jika minggu depan adalah hari ulang tahun Ayah mertuanya.
“Jadi kau tidak akan ke kantor hari ini ?”tanya Edwin sambil mengusap rambut di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
Wanita itu menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar padanya. Dia pun segera berdiri dan mengambil tasnya keluar dari ruangan dan sekilas melihat senyum kecil tersungging di bibir Edwin.
“Tersenyumlah selagi kau masih bisa tersenyum sekarang...”batin Noah lirik Sekilas Edwin dan menutup pintu.
Dia pun menuju ke garasi mobil dan segera naik ke mobil kemudian menuju ke rumah sakit.
Tak lama kemudian dia pun tiba di rumah sakit. Irise segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah sakit mencari dokter Bian.
“tok... tok...”Irise mengetuk pintu ruangan dokter Bian setelah tiba di sana.
Dokter Bian sedang duduk memeriksa data pasien sebelumnya.
“Nona Irise ada apa kemari... hari ini bukan jadwal terapi mu...”balas Dokter Bian terkejut saat menatap Irise berdiri di depan pintu ruangannya.
Irise tersenyum kemudian langsung masuk dan duduk di depan dokter Bian setelah dipersilakan.
“Dokter aku membutuhkan bantuan mu. Ku harap dokter Bian mau membantuku.”ucap Irise sambil tersenyum kecil.
“Apa yang bisa aku bantu nona ?”tanya dokter itu.
Irise menggeser duduknya lebih mendekat. Dia kemudian menceritakan semua rencananya pada dokter Bian.
“Emm... jika seperti itu aku tak bisa membantu nona...” ucap Dokter Bean setelah selesai mendengarkan permintaan Irise.
Bukan Noah namanya jika dia tak bisa membuat dokter itu menuruti permintaannya.
“Dokter Bian... jika kau tak bersedia membantuku kali ini maka aku akan tunjukkan rekam medis beberapa pasien mu lainnya di luar rumah sakit.”ucapnya sambil menunjukkan bukti-bukti tindakan illegal rekam medis beberapa pasien.
Dokter Bian seketika menjadi pucat pasi mengetahui foto dan bukti lainnya yang ditunjukkan oleh Irise padanya dan tangannya gemetar saat memegang bukti itu.
“Ya baiklah nona Irise aku akan membantumu. Tapi tolong jangan laporkan hal ini pada pihak rumah sakit.”balas dokter Bian bersedia membantu Irise setelah mendapatkan ancaman.
__ADS_1
“Terima kasih dokter... senang bekerja sama denganmu.”balas Irise tersenyum lebar.
“Baiklah tunggu sebentar aku akan mengambilkan obatnya...”ucap dokter Bian.
Lelaki itu kemudian berdiri dan masuk ke ruangan mengambil suatu obat.
“Nona... ini obatnya.”ucap Dokter Bian keluar dari ruangan dan menyerahkan obat pada Irise sambil menjelaskan cara pemakaiannya.
Irise menerima obat itu kemudian segera memasukkannya dalam tas.
Keesokan harinya di kantor Irise membawa sebuah puding dari rumah yang sudah dia campuri obat dari dokter Bian.
Dia sengaja menaruh puding dengan berbagai bentuk yang menarik di mejanya untuk menarik perhatian.
Lilia yang masuk ke kantor seketika berhenti di depan meja Irise saat melihat banyak puding terhidang di mejanya.
“Irise... untuk apa kau membawa puding ini ke kantor ?”tanya Lilia terlihat sangat tertarik pada puding itu.
“Untuk cemilan saja. Aku mau membaginya pada staf lain. Jika kau mau kau boleh mengambilnya.”jawab Irise tersenyum kecil.
“Benarkah... terima kasih...”jawab Lilia kemudian mengambil beberapa puding dan membawanya ke tempat duduknya.
Lilia memakan beberapa puding yang barusan diambilnya. Sementara Noah tersenyum tipis menatapnya dari kejauhan.
Malam hari di rumah David.
Lilia tiba-tiba merasa badannya tidak enak. Dia merasa badannya meriang panas dingin.
“huek... huek...”gadis itu merasa mual hebat dan tak bisa menahan lagi. Dia pun segera berlari dan masuk ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya hingga lemas.
BERSAMBUNG....
__ADS_1