
Tak lama kemudian saat beberapa tamu undangan mulai menepi dan pergi dari sisi tengah antara David dan Lilia, Lilia menoleh ke samping kanan dan mendapati David yang sedang berdansa dengan Irise.
“Edwin gawat... di sebelah kita ada David dan Irise. Kita akhiri dansa kali ini.”ucap Lilia berbisik lirih di telinga Edwin karena terkejut melihat mereka mereka berdua dan takut akan ketahuan.
Edwin dan Lilia mengakhiri dansa. Dan mereka segera menjaga jarak dan menjauh satu sama lain.
Irise menoleh ke samping kiri tepat di saat Lilia berjalan ke arah mereka.
“Ayah... sebaiknya kita sudahi dulu.”ucap Irise menarik tangannya dari bahu David.
“Ayah... bermainlah dengan cantik.”ucap Irise tersenyum kaca kemudian pergi meninggalkan ayahnya sebelum Lilia sampai di tempatnya.
David menoleh ke samping kiri dan melihat Lilia yang sudah berjarak dekat dengannya.
“Rupanya itu maksud Irise.”batin David lalu menatap ke arah Irise namun sudah tak melihat lagi putrinya.
Irise masuk ke tengah keramaian dan mengambil beberapa makanan ringan di sana dan memakannya.
Lilia akhirnya tiba di depan David. Dia pun memberikan senyum termanisnya untuk lelaki itu.
“Sayang... ayo kita berdansa.”ucap Lilia memegang bahu David dengan muka polosnya.
David hanya tersenyum kecil lalu memegang pinggang Lilia dan mulai menari.
“Bagus sekali David tidak mengetahuinya jika aku berdansa dengan Edwin barusan.”batin Lilia mengira semua rencananya berjalan lancar, gadis itu pun menyandarkan kepalanya ke bahu David dan mengikuti irama musik mengalun.
Irise merasa bosan karena tak ada yang bisa dia lakukan lagi di sana. Dia menoleh ke samping mencari sosok Edwin namun tidak menemukannya.
“Mungkin aku memang harus pergi dari sini.”batin Irise. Dia pun melangkah keluar dari ruang perjamuan.
Tepat di saat dia keluar dari pintu gerbang ayahnya sebuah mobil berhenti di depannya.
__ADS_1
“klik...”suara pintu mobil yang terbuka.
“Alland... ?”ucap Irise terkejut saat melihat lelaki itu datang menjemputnya.
Alland tersenyum lebar saat melihat Irise mengenakan gaun yang diberikannya dan dia puas lihat gadis Itu tampak sangat mempesona dalam balutan gaun yang di berikannya.
Irise tidak tahu kenapa lelaki itu bisa datang tepat waktu di saat dirinya keluar.
“Ayo masuklah... aku akan membawamu ke tempat yang menarik. Aku tahu kau pasti bosan di sana.”ucap Alland seolah bisa menambah Irise dan mengenalnya.
“Oh... bukannya aku menolak tapi bagaimana dengan mobilku nanti ?”balas Irise sambil menekan kunci mobilnya dan membuatnya menyala.
“klik...”Alland mengambil kunci mobil dari tangan Irise dan mengunci kembali mobil Irise kemudian menarik gadis itu masuk ke mobilnya dan langsung mengunci pintunya.
“broom....”Alland majukan kembali mobilnya dan meluncur di jalanan.
“Alland apa yang kau lakukan padaku ? Aku seperti merasa diculik olehmu.”ucap Irise sambil memasang sabuk pengaman karena lagi itu menyetir mobil dengan kencang.
“Sebenarnya kau mau membawaku ke mana ?”ucap Irise penasaran karena sudah lebih dari lima belas menit dan mobil belum berhenti juga.
“Sebentar lagi kita akan sampai. Kau akan tahu sendiri nanti.”jawab Alland tak mau memberitahunya.
Lima menit kemudian mobil berhenti di sebuah sanatorium.
Alland keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Irise.
Mereka berdoa kemudian masuk ke sanatorium. Alland mengajak Irise ke salah satu teleskop yang ada di sana dan mengajaknya melihat bintang.
Untuk sejenak gadis itu bisa tersenyum dan melupakan misi yang harus segera dia selesaikan untuk sesaat.
Keesokan harinya di kantor. Terlihat David datang duluan dengan Lilia. Namun dia berpura-pura sibuk meskipun sebenarnya semuanya sudah selesai.
__ADS_1
“Tuan David mau kemana ?”tanya Lilia saat melihat lelaki itu membawa tas kerjanya dan beberapa dokumen dari meja.
“Aku ada meeting lima menit lagi.”jawab David singkat dan datar.
“Bukankah hari ini tidak ada jadwal meeting ?”ucap Lilia setelah mengingat kembali jika hari ini tak ada jadwal meeting.
“Ya sebenarnya ini meeting dadakan dan diadakan di Glove group.”balas David kemudian segera berjalan keluar meninggalkan Lilia dan Edwin.
Lilia sama sekali tak mencurigai David dan dia pun terlihat tenang seperti biasanya.
David masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya menuju ke rumah. Tanpa sepengetahuan Lilia, dia mengaktifkan CCTV yang ada di ruangan kerjanya yang bisa ia lihat dari rumah.
Di kantor saat ini hanya ada Lilia dan Edwin. Mereka berdua tetap waspada karena khawatir Irise tiba-tiba masuk. Namun sudah jam 9.00 pagi dan gadis itu masih belum menampakkan batang hidungnya.
“Sepertinya hari ini hanya ada kita berdua di sini.”ucap Edwin menghampiri Lilia yang sedang duduk di kursi sambil menatap layar monitor.
Edwin mengambil kursi dan memindahkannya di samping Lilia. Dia kemudian duduk di sampingnya.
“Lilia... aku sangat merindukan dirimu sejak kau pindah ke rumah lelaki itu hari-hari ku terasa sepi.”ucap Edwin sambil memeluk bahu Lilia dan mencium kekasihnya itu.
“Aku juga merindukan dirimu.”balas Lilia membalas ciuman Edwin.
“Sayang...aku punya gambar bagus untukmu. Aku sudah membeli sebuah villa baru untuk kita tinggal bertiga nanti. Aku sudah membayar uang mukanya dan tinggal membayar angsurannya selama satu tahun saja.”ucap Edwin sambil memegang perut Lilia.
Gadis itu tersenyum lebar kemudian memeluk Edwin.
Sementara itu di rumah David terlihat lelaki itu sudah melihat tayangan CCTV saat ini.
“Ya coba saja kau lunasi villa itu jika kau bisa.”ucap David lalu menutup layar laptopnya sambil tersenyum kecut.
BERSAMBUNG....
__ADS_1