
Dari ruangan sebelah Noah masih duduk dan membayangkan wajah Edwin yang marah luar biasa. Dia tersenyum sendiri hanya dengan membayangkannya saja.
Sharp Eye yang ada di dekatnya kembali mengingatkannya.
“Jangan senang dulu... tugas mu belum selesai.”ucap burung itu sambil mematuk tangan kanan.
“Ya... aku tahu...”jawab Noah menoleh ke arah Sharp Eye.
Dia tahu harus bertindak cepat mengatasi semua ini. Dia pun teringat jika obat yang diberikan oleh dokter Bian pada Lilia hanya sementara.
Dia mereka ponsel dari saku bajunya dan menghubungi dokter Bian.
“Kring... kring... kring...”suara ponsel Dokter Bian yang berdering.
Dokter itu sedang ada di rumah dan menjalankan prakteknya di rumah. Melihat Irise meneleponnya, dia meninggalkan pasiennya sebentar dan masuk ke belakang.
“Halo nona Irise ada apa ?”ucap Dokter Bian di sebuah ruangan setelah menutup pintunya, karena ia tak ingin ada pasien lain yang turut mendengar percakapan pribadinya.
“Maaf mengganggu waktumu dokter. Aku hanya ingin tahu berapa lama obat palsu yang kau berikan itu bisa bekerja ?”tanya Irise sambil mengetukkan jari telunjuknya ke meja.
“Obat itu hanya bertahan maksimal tiga bulan dari waktu pertama minum.”jawabnya menjelaskan sekaligus mengingatkan jika obat itu tak bisa menahan reaksi lebih lama dari itu.
Irise mengangguk lalu berpikir cepat apa rencana dia selanjutnya.
“Jadi aku harus cepat bertindak. Dan sekarang adalah giliran ayah.”batinnya.
“Dokter aku minta bantuan mu sekali lagi.”ucap Noah kemudian berdiri dan menetap ke arah luar khawatir jika ada seseorang yang lewat lalu mendengar percakapannya.
“Ya nona katakan saja apa yang bisa aku lakukan untukmu kali ini.”balas dokter Bian menanggapi sekaligus ingin tahu apa tugas dia selanjutnya.
“Dokter aku butuh bantuan mu untuk membuatkan surat diagnosa mandul.”jawab nya singkat.
“Emm.... ya nona aku bisa membantumu.”jawab dokter Bian menyanggupi permintaan Irise. Mereka kemudian membahas kapan waktunya dan langkah apa saja yang harus diambil.
__ADS_1
Setelah percakapan berakhir Irise keluar dari ruangan itu dan masuk kembali ke kamarnya. Dia melihat Edwin baru selesai telepon dengan wajah yang kesal.
Irise tidak mengajaknya bicara dan coba kepadanya. Dia meninggalkan suaminya itu duduk merenung sendiri sedangkan dia tidur dengan pulas.
Di rumah David saat malam hari Lilia sudah tertidur, dia duduk di tepi ranjang dan menatap Lilia.
Entah kenapa dia merasa ada yang aneh saja.
“Apa aku masih bisa membuat seseorang hamil di usiaku yang sekarang ini ?”batin David yang meragukan kesuburannya sendiri di usia 63 tahun ini.
Berbagai pertanyaan muncul di benak lelaki itu. Antara senang dirinya masih bisa mempunyai keturunan di usia itu dan juga rasa takut bagaimana dengan perusahaannya nanti setelah dia meninggal.
Keesokan harinya di kantor Irise sengaja menyiapkan kopi untuk ayahnya. Dia membuat sendiri kopinya dan menaruhnya ke meja David.
Beberapa saat kemudian David datang dan duduk di kursinya. Dia melihat kopi yang masih panas di mejanya dan segera meminumnya sebelum dingin tanpa bertanya siapa yang membuatkan untuk dirinya.
Irise tersenyum tipis saat melihat ayahnya menekuk kopi itu, kopi yang sebelumnya sudah dia campuri dengan obat yang membuat badan terasa meriang.
Dua jam setelah minum kopi David terlihat mulai berkeringat dingin tanpa sebab.
“Entahlah... aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa pusing, jantungku berdebar dan berkeringat dingin.”balas David menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
Irise yang tahu jika obatnya mulai bekerja tidak panik meskipun dia berpura-pura panik.
“Ayah sebaiknya Ayah segera ke dokter. Aku akan mengantarmu ke dokter sekarang juga.”ucap Irise sambil membawa tasnya dan bersiap pergi.
Karena merasakan pusing hebat dan jantungnya semakin berdetak lebih kencang David pun menyetujui saran dari Irise.
Mereka berdua kemudian masuk ke mobil David, namun Irise yang mengemudikannya.
“broom...”Irise mengajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sementara di ruangan Lilia baru masuk ke kantor sambil membawa kopi panas untuk David.
__ADS_1
“Kemana dia pergi... aku baru saja membuatkannya kopi.”ucap Lilia akan menaruh kopi ke meja David.
“Dia pergi entah ke mana bersama Irise.”jawab Edwin menghampiri Lilia.
Karena di meja David sudah ada kopi, maka Lilia pun memberikan kopi yang barusan dia buat pada Edwin.
Di rumah sakit Irise mengajak ayahnya bertemu dengan dokter Bian. Mereka berdua duduk di ruangan dokter Bian.
“Apa yang anda keluhkan, tuan ?”tanya dokter Bian.
David menyertakan semua keluhan yang dirasakan pada dokter Bian.
“Baiklah tuan sekarang kita akan menjalani tes lengkap untuk mengetahui penyakit apa yang anda derita. Silakan Ikuti saya.”ucap dokter Bian.
David berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke sebuah ruangan mengikuti dokter Bian.
Di dalam David mengikuti serangkaian check up.
Di tengah check up dia meminta Dokter Bean untuk mengetes kesuburannya karena dia merasa tak yakin dengan dirinya sendiri.
“Baik tuan... aku akan melakukan tes kesuburan setelah ini.”balas dokter Bian.
Satu jam kemudian David keluar dari ruangan dan kembali duduk di samping iris menunggu dokter.
Satu jam berikutnya Dokter Bean keluar dari ruangannya dengan membawa hasil check up barusan.
“Ini hasil check up anda, tuan.”ucap Dokter Bian menyerahkan hasil check up pada David.
David segera membaca hasil check up nya. Dia tidak menemukan adanya suatu penyakit pada dirinya dan hanya kurang vitamin saja.
David semoga satu lembar lagi surat hasil tes kesuburannya.
“Apa... aku mandul... ?!”pekik David terkejut saat membaca hasil diagnosa nya.
__ADS_1
Dokter Bian menjelaskan padanya jika hal itu normal di usianya dan banyak dialami oleh mayoritas lelaki di usia segitu. Dia menjelaskan kondisinya yang bukan mandul sejak muda namun karena ejakulasi yang dipengaruhi oleh faktor usia.
BERSAMBUNG....