
David hanya diam menatap Lilia dan Edwin yang ada di depannya. Dia tetap berjalan normal dan tidak mempercepat langkah kakinya. Ia juga mengamati mereka berdua.
“Kenapa aku merasa Lilia dekat dengan Edwin...”batin David saat melihat Lilia yang tertawa dan menatap Edwin dengan tatapan hangat.
“Ayah....!”suara Irise yang memanggilnya dari kejauhan.
David berhenti dan menoleh ke belakang, ada Irise yang berjalan cepat ke arahnya.
“Ayah... maaf aku datang terlambat. Banyak hal yang harus ku kerjakan di kantor.”ucap Irise setelah berhasil mengejar ayahnya.
“Kau cantik sekali malam ini nak...”ucap David memuji putrinya yang tampak Anggun dalam balutan gaun yang dikenakannya saat ini.
“Terima kasih ayah. Oh ya ini hadiah untuk ayah ?”ucap Irise tersenyum kecil kemudian menyerahkan dua kado yang dibawanya.
David menerima dua kado tadi dan membacanya salah satu pengirimnya.
“Sarah.... kenapa wanita ini memberiku hadiah saat ini.”batin David yang memegang kado dari istrinya dengan tangan gemetar. Dia sama sekali tidak menyangka jika istrinya masih mengingat hari ulang tahunnya terlebih memberinya bingkisan.
David diam sejenak dan ingatannya melayang pada sosok istrinya.
“Sarah kenapa kau membuat ku goyah...”batin David yang menjadi luluh dan mencair hatinya.
Irise tersenyum dalam hati melihat reaksi ayahnya seperti yang diharapkan saat memegang kado dari ibunya.
“Aku yakin... jauh di lubuk hatimu kau masih memberikan khusus untuk ibu, ayah.”batin Irise senang karena bisa mengaduk-aduk perasaan ayahnya.
Irise kemudian memegang tangan ayahnya dan segera berjalan masuk ke ruang perjamuan karena sebentar lagi acara akan dimulai, juga semua tamu undangan sudah berkumpul di sana.
__ADS_1
David memasuki ruang perjamuan dan maju ke mimbar. sedangkan Irise membaur ke tengah bersama para tamu undangan lainnya.
Ia melihat ke sekeliling dan mencari keberadaan Edwin di tengah keramaian.
Irise berjalan menyibak para tamu undangan dan melihat Edwin sedang bersama Lilia.
“Dua orang bodoh ini... apa mereka tidak tahu jika saat ini mereka ada di tengah keramaian ? Tapi tak masalah... hal ini semakin bagus.”batinnya saat melihat Edwin dan Lilia sedang minum segelas wine merah dan bercakap-cakap mesra.
Irise tersenyum lebar dan kembali berjalan menuju ke tempat ayahnya yang saat ini masih memberikan sambutan pada semua tamu undangan yang hadir.
Ia pun duduk diam mendengarkan sambutan ayahnya dan menunggunya selesai bicara.
Beberapa menit kemudian David selesai memberikan sambutan dan turun dari podium. Irise segera datang menyambutnya.
“Ayah... ayo kita nikmati pesta perjamuan makan malam kali ini.”ucap gadis itu kemudian menuntun ayahnya ke tempat kue ulang tahun berada.
“Potong.... potong kue nya...!!”teriak para tamu undangan yang hadir.
“Selamat ulang tahun Ayah... !”ucap Irise memberi ucapan selamat pada ayahnya.
David kemudian memberikan kue itu pada Irise. Dia memotong lagi dan bermaksud memberikannya pada Lilia.
“Dimana dia... kenapa aku tidak melihatnya di sekitar ku ?”batin David mencari sosok Lilia namun tidak menemukannya.
Irise melihat ayahnya yang kebingungan dan dia tahu jika lelaki itu sebenarnya sedang mencari Lilia.
Sementara itu di belakang para tamu undangan yang ramai terlihat Edwin dan Lilia yang sedang makan buah bersama berdiri di tepi dan larut dalam suasana.
__ADS_1
Di tengah acara alunan musik lembut mulai mengalun mengisi ruangan. Dan alunan musik itu membawa para tamu undangan yang ada di ruangan berdansa.
“Ayah ayo kita berdansa...”ucap Irise menarik ayahnya ke tengah dan mengajaknya berdansa. Ia sengaja mengajak ayahnya berdansa dan membawanya ke tempat yang tak jauh dari Lilia dan Edwin berada saat ini.
“Tapi Irise aku...”jawab David sebenarnya ingin menolak karena dia hanya ingin berdansa dengan Lilia sekaligus memperkenalkan nya pada tamu undangannya.
“Ayah ikuti saja aku bermain dan nanti ayah akan melihat sendiri.”ucap Irise berbisik lirih di telinga ayahnya sambil memegang bahunya.
David akhirnya pasrah dan mengikuti saja apa kata putrinya. Dia pun memegang pinggang Irise dan mulai bergerak mengikuti alunan musik.
Di tengah dansa David sesekali menoleh ke arah kanan dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Lilia saat ini sedang berdansa dengan Edwin.
“Gadis itu... kenapa dia badan sama dengan menantuku ? Oh tidak tatapan mereka berdua sungguh tidak lazim, tatapan itu seperti tatapan seorang kekasih. Apa mereka... ?”batin David terkejut dan tak bisa berkata apapun saat melihatnya.
“Ayah... apa yang ayah lihat ? Apa Ayah menemukan sesuatu yang menarik ?”tanya Irise yang sebenarnya mengetahui apa yang dilihat ayahnya saat ini.
Muncul pikiran dalam diri David dan dia baru menyadari jika dirinya memang benar-benar di permainkan oleh dua orang itu.
David yang tak bisa menahan emosinya lagi mengakhiri dansa dengan Irise dan bermaksud menghampiri mereka berdua.
“Ayah.... mau kemana ?Jangan pergi ayah. biarkan saja mereka belum saatnya bagi kita untuk bergerak.”ucap Irise menahan ayahnya.
“Irise.... jadi itukah yang kau maksud sebelumnya ?”tanya David dan putrinya hanya mengangguk menjawabnya.
“Jadi Edwin itu juga sudah menipumu ?”tanya David yang merasa semakin marah pada tingkah laku Lilia dan menantunya yang tak bisa ditolerirnya lagi.
“Ya ayah... tenang saja. Sebentar lagi kita akan berhasil menendang mereka berdua.”balas Irise sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
David menahan emosinya dan tetap berdansa dengan putrinya menunggu waktu yang tepat untuk menangkap di tempat Irise dan Edwin.
BERSAMBUNG...