Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 81 Aktif Bekerja


__ADS_3

Irise kemudian mencoba mengecek laporan lainnya yang ada di monitor untuk mencari apa ada permasalahan lainnya.


“Sepertinya aku tidak menemukan adanya masalah lagi.”ucap Irise setelah memeriksa beberapa laporan.


Gadis itu pun kemudian menyandarkan bahunya ke kursi untuk melemaskan otot yang tegang.


Setelah beberapa saat kemudian Irise berdiri. Dia lalu berjalan ke tempat Edwin berada.


“Apa nggak perlu bantuan ku ?”ucap Irise menawarkan.


Edwin tak langsung menjawab dan menatapnya.


“Apa yang bisa dia lakukan... ? Apa sebaiknya aku tunjukkan ketidakmampuannya di depan ayahnya sendiri...”batin Edwin tersenyum kecil. Karena dia tahu jika Irise mungkin saja tidak bisa mengerjakan tugas-tugas yang ada di kantor karena selama ini selalu di rumah.


“Ya boleh... silakan saja aku juga senang jika kau membantu mungkin akan lebih cepat selesai.”balas Edwin.


Irise kemudian duduk di depan Edwin dan mengambil separuh berkas dari meja.


Wanita itu memeriksa satu persatu berkas laporan keuangan yang masuk dengan cepat. Terlihat dia Mulai mengambil berkas yang ada di dekat Edwin dan mulai memeriksanya.


“Irise... apa benar dia bisa dan mengerti dengan laporan ini ? ataukah dia hanya pura-pura saja ?”batin Edwin yang merasa istrinya itu ingin menunjukkan kelebihan dirinya di depannya.


“Sayang... aku tak menyangka kau memeriksa laporannya dengan cepat. Yang penting benar daripada cepat tapi salah.”ucap Edwin menatap Irise dan menolong berkas yang dipegangnya.


Irise menaruh berkas yang dipegangnya dan menatap Edwin.


“Rupanya dia meremehkan aku. Dia pikir dia lebih hebat dariku apa...”batinnya sedikit kesal pada ucapnya Edwin yang memandangnya sebelah mata.

__ADS_1


Edwin mencoba mengambil berkas laporan yang sudah diperiksa oleh Irise dan memeriksanya dengan maksud untuk mencari kesalahannya dan menunjukkan kesalahan itu pada Irise secara langsung.


“hmh...kenapa Irise tidak melakukan kesalahan...”batin Edwin kemudian meletakkan kembali berkas yang sudah diperiksa oleh istrinya.


Sementara Irise hanya tersenyum kecil menatap Edwin dan melanjutkan memeriksa berkas selanjutnya tanpa bersuara.


“Kenapa sayang... ?”ucap Irise bertanya pada Edwin yang terlihat diam menatapnya.


“Tidak... sayang... tidak ada... kurasa kau memang bisa memeriksa laporan ini...”jawab Edwin sedikit Kiko dan merasa malu ternyata istrinya bekerja lebih baik dari dirinya.


Dari kejauhan David melihat Irise dan dan Edwin. Diam-diam tanpa sepengetahuan mereka berdua lelaki itu mengamati pekerjaan mereka.


“Ternyata Irise bekerja lebih baik dan lebih cepat dari Edwin. Dia juga lebih teliti daripada menantuku. Sepertinya cukup bagiku untuk meminta putriku sendiri yang meng-handle perusahaan ini.”batin David tersenyum kecil dan merasa senang dengan kinerja Irise.


Selesai memeriksa berkas laporan keuangan, Irise membantu ayahnya melakukan pekerjaan lainnya di sana hingga sore hari, barulah dia pulang dari kantor.


“Edwin... kenapa kau masih berdiri di sana ? Apa kau mau keluar ke suatu tempat ?”tanya Irise berhenti berjalan dan berbalik menatap Edwin yang masih berdiri di tempatnya.


“Iya... aku hanya mengingat kembali mungkin saja ada beberapa yang terlupa...”balas Edwin dengan pura-pura mengerutkan dahinya seolah memikirkan sesuatu.


Irise melanjutkan berjalan dan tersenyum lebar.


“Aku tahu sebenarnya kau tidak akan pulang tapi akan pulang ke rumah Lilia... rasakan... kau tak bisa pergi ke sana sekarang...”batin Noah senang yang merasa bisa membuat Edwin tak bisa berkutik meskipun untuk sesaat.


Irise menuju ke tempat parkir dan masuk ke mobil. Tak lama kemudian Edwin datang dan masuk ke mobil. Mereka berdua melaju di jalanan menuju ke rumah.


Malam hari di rumah, Edwin makan bersama dengan Irise. Mereka duduk bersama di ruang makan.

__ADS_1


“Apa kau sudah meminum obatmu hari ini...?”tanya Edwin di tengah makan sekaligus mengingatkan istrinya.


“Kau selesainya perhatian sekali dengan obat itu, selalu menanyakan aku sudah minum atau belum...”jawabnya yang membuat Edwin tersedak.


“Bukan begitu... maksud ku aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Kau tidak boleh absen minum obat agar segera sembuh.” jawab Edwin merangkai kata-kata indah untuk meyakinkan Irise.


Noah pun tak ingin menyia-nyiakan perhatian lelaki itu. Dia pun menunjukkan jika dirinya teratur minum obat, bahkan kali ini dia membawa obatnya.


“Lihat ini....aku akan minum obatnya sekarang.”jawab Noah lalu mengeluarkan dua butir pil dari botol dan meminumnya.


Edwin terlihat senang ternyata wanita itu sudah teratur meminumnya.


“Kau minum melebihi dosis yang dianjurkan.”ucap Edwin pura-pura perhatian walaupun dalam hati ia tersenyum lebar karena tujuannya untuk menguasai kekayaan David akan segera terwujud.


Sementara Noah juga tersenyum lebar di depan Edwin.


“Kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir nanti...”batin Noah senang melihat Edwin mengira dirinya bodoh dan masih memandang rendah padanya dan menganggap dirinya sebagai Irise yang dulu.


Noah pun perempuan itu menguap dan mengantuk berat di depan Edwin lalu pura-pura tertidur di meja.


“Irise... Irise....”ucap Edwin memanggil dan Noah diam saja dan masih pura-pura tidur.


Edwin berdiri kemudian mengangkat tubuh Irise dan membawanya ke kamar.


“Tidurlah dengan pulas... karena sebentar lagi kau tak akan pernah bertemu denganku.”ucap Edwin kembali tersenyum sambil meregangkan tubuh Irise ke tempat tidur.


Pagi hari seperti biasa Edwin berangkat ke kantor. Tiga puluh menit kemudian Irise masuk ke mobil dan berangkat menuju ke kantor

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2