Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 25 Item Baru


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah Dion menyerahkan beberapa data penting pada Manajer Sony.


Di sebuah ruangan tampak Manajer Aksa sedang duduk di kursi menghadap monitor. Lelaki itu merasa lelah lelah hidup lama di depan komputer. Dia pun melepas kacamata yang dipakainya dan menaruhnya ke meja.


“Kenapa harga saham perusahaan ini turun drastis... padahal sebelumnya menduduki nomor dua... ?”desah manajer Aksa setelah berkali-kali melihat urutan perusahaan tempatnya bekerja Mengalami penurunan tajam dalam waktu relatif singkat.


Satu bulan yang lalu perusahaan Consumer Goods berada di urutan posisi dua dalam bursa saham, tapi kini posisi dua ditempati oleh perusahaan Wealness, perusahaan tempat manajer Sony bekerja.


“Apa yang salah... satu bulan lalu tim auditor juga tidak menemukan adanya masalah besar yang bisa mengancam perusahaan ini.”batin lelaki itu sambil termenung menerawang jauh mencari akar masalah penyebab hal itu terjadi.


Di lain tempat di perusahaan Wealness tampak Manajer Sony yang tersenyum lebar setelah keluar dari ruang meeting.


Di luar ruang meeting beberapa direksi tampak masih berbicara dengan manajer Sony.


“Kerja bagus manajer Sony...berkat usahamu perusahaan kita sekarang menduduki posisi kedua di bursa saham setelah sebelumnya Berada di posisi ke dua puluh.”ucap seorang direksi menjabat tangan manajer Sony kemudian berbincang ringan seputar pekerjaan mereka.


“Terima kasih bapak Direksi... aku hanya berusaha melakukan yang terbaik saja untuk perusahaan ini.”jawabnya merendah dengan tersenyum lebar dan menjabat tangan bapak direksi.


Setelah bapak Direksi tadi selesai berbincang dengan manajer Sony, datang lagi beberapa lelaki lain yang merupakan petinggi di perusahaan juga ikut berjabat tangan dan memuji hasil kerja manajer Sony.


Kembali ke perusahaan Consumer Goods. Di sebuah ruangan tampak Dion yang duduk di kursinya dengan wajah berseri-seri dan tersenyum lebar.

__ADS_1


“klik...”suara Dion menutup kembali daftar bursa saham setelah puas melihatnya.


“Hmm.... setelah ini pasti Manajer Sony akan memberi ku tips lagi.”batinnya sambil membayangkan sejumlah nominal yang akan dikirim ke rekeningnya.


Dion mengeluarkan ponsel dari laci kerjanya.


“tik... tik... tik...”Suara Dion mengetik pesan untuk manajer Sony yang berisikan mengucapkan selamat pada lelaki itu karena sudah menempati ranking dua di bursa saham saat ini.


Vivian yang sudah tak ada yang dikerjakan lagi saat itu menatap Dion dan tampak kesal saat melihat lelaki itu terlihat teramat senang.


“Pasti ada berita buruk jika Dion tersenyum seperti itu. Tapi berita apa...”batin Vivian mencoba berpikir.


“Apa si bodoh itu senang karena beberapa pekan lagi adalah hari ulang tahun Vika ?”batinnya setelah melihat kalender di mejanya.


“Noah apa kau tidak curiga pada sikap Dion ?”tanya elang itu pada Noah salah melihat gelagat Dion.


“Ya aku juga penasaran hal apa yang bisa membuatnya sampai tersenyum seperti itu...apa kau bisa melihatnya ?”tanya Noah pada sang elang.


Sang elang tak langsung menjawab permintaan Noah, dia membuka gerai tokonya dan mencari peralatan yang sesuai dengan permintaan Noah.


“Apa ya... alat yang sesuai untuk mu kali ini...”gumam elang itu memilih-milih item yang cocok dan pas.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian salam berhasil menemukan satu item yang cocok untuk Noah. Dia membaca deskripsi dan tata cara penggunaan item tadi.


“Noah ini dia alat yang cocok untukmu detektor penyadap. Harganya lima ribu poin. Apa kau mau mencobanya ?”tanya Sharp Eye menunjukkan alat yang dimaksud pada Noah.


“Mahal sekali harganya... kenapa tidak dua ribu poin saja ? Bisa habis nanti poinku karena kebanyakan hutang.”balas Noah yang merasa item itu menarik namun harganya selangit.


“Item ini bisa digunakan seterusnya tanpa pembayaran lagi. Dan harga itu sudah tergolong murah dibandingkan item lainnya yang berharga puluhan ribu namun fungsinya sama.”ucap seorang menjelaskan panjang lebar pada Noah untuk meyakinkannya agar membeli item itu.


“Huft... baiklah tak ada pilihan lagi.. jadi aku mau membelinya...”balasnya kemudian sambil melihat item yang ditunjukkan oleh Sharp Eye.


Sang elang segera memproses item tadi dan memasukkannya ke keranjang belanjaan.


“Ding...”Detektor penyedap berhasil dibeli dan alat itu sekarang sudah ada di depan Noah.


“Kalau begitu sekarang coba gunakan alat tadi.”ucap Noah memberi perintah.


Sharp Eye segitiga terbang menuju ke meja Dion. Dia memasang alat detektor penyadap tadi pada ponsel Dion.


“Oh... kenapa ponsel ku tiba-tiba hang seperti ini...”ucap Dion lirih saat mencoba membalas pesan dari Manajer Sony dan gagal mengirimnya.


Sharp Eye kemudian terbang kembali ke meja Noah dan melihat hasil kerja item yang barusan dibelinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2