
Satu hari berlalu, Rianty merasa nyaman tinggal di sana. Ibunya Andre pun memperlakukan dirinya dengan baik tidak seperti memperlakukan Renata. Dan karena hal itu membuat Rianty bertingkah seenaknya sendiri seperti kan biasanya tinggal di rumah orang tuanya.
Pagi hari pukul 06.30
Andre dan Rianty masih tidur di kamar dan pintu kamar masih tertutup.
Ibunya Andre keluar dari dapur dan melihat jam dinding yang menunjukkan jika waktu sudah siang namun dia belum melihat Andre.
“tap... tap....tap...” ibunya Andre berjalan menuju ke kamar Andre.
“Astaga jam segini mereka belum bangun juga...”gumam sang ibu lalu membuka pintu kamar dan melihat Andre beserta Rianty masih tidur berpelukan.
Andre yang mendengar suara pintu kamar dibuka segera bangun.
“Ibu... ?”ucap Andre saat melihat ibunya berdiri di depan pintu menatapnya.
“Sudah siang apa kau tidak akan terlambat nanti... ?”ucap ibunya Andre.
Andre pun membangunkan Rianty.
“Rianty... bangun sudah siang...”ucap Andre membangunkan gadis itu.
Rianty membuka mata kemudian duduk, barulah Andre duduk.
“Apa yang dilakukan gadis ini kenapa dia bangun kesiangan...”batin di mana Andre yang merasa tak pantas saja seorang gadis bangun kesiangan.
Andre berdiri dan berjalan keluar kamar. Namun Rianty masih tetap duduk di dalam kamar.
“Rianty... keluar kamar dan menyiapkan sarapan pagi untuk Andre ?”tanya ibunya Andre.
Rianty berdiri perjalanan mengikuti Andre meskipun dia sebenarnya enggan dan masih ingin tidur.
__ADS_1
“Ibu... Rianty masih hamil muda biarkan dia beristirahat.”ucap Andre menjelaskan pada ibunya agar tidak memperlakukan gadis itu seperti memperlakukan Renata sebelumnya.
“Rianty kau kembalilah ke kamar dan istirahat dulu.”ucap Andre pada kekasihnya itu.
Rianty kembali duduk di tempat tidur sedangkan Andre berjalan keluar bersama ibunya menuju ke dapur.
Di dapur ibunya Andra bertanya kenapa dia memperlakukan Rianty berbeda dengan Renata namun Andre menegaskan kembali pada ibunya jika Rianty itu merupakan putri dari pengusaha yang merupakan aset baginya, maka dari itu harus diperlakukan dengan baik.
Beberapa hari berlalu. Setiap sore Rianty mengajak anda keluar rumah untuk shopping di mall menggunakan kartu kredit milik gadis itu sendiri. Mereka belanja banyak dan membeli apa saja yang mereka inginkan dan hal itu membuat ibunya Andre merasa senang dengan kehadiran Rianty di rumah.
Di lain tempat ayahnya Rianty berada di kantor dan duduk di ruangannya. Lelaki itu kelihatan kesal setelah mengecek beberapa kartu kredit milik Rianty yang hampir mencapai limit sebelum akhir bulan.
“Rianty jika aku membiarkanmu terus seperti ini maka kau akan tetap bersama lelaki itu.”gumamnya berusaha untuk membuat putrinya itu sedikit mengalami kesulitan.
Tak beberapa lama kemudian ayahnya Rianty menelepon beberapa bank dan meminta pada mereka untuk membekukan sementara waktu kartu kredit milik Rianty mulai bulan depan.
Sementara itu di lain tempat di rumah Renata saat ini. Wanita itu sedang duduk santai bersama ayahnya.
“Ya ayah... aku ingin lagi sampah itu segera keluar dari rumah kita.”balas Renata ponsel yang dipegangnya ke meja.
“Masalah itu... tenang saja. Ayah sudah mengurusi semuanya dan akta rumah kepemilikan itu sedang dalam proses pergantian nama menjadi nama mu. Coba saja kau dulu tidak mengatasnamakan semua aset pemberian Ayah dengan nama lelaki itu...”jawab ayah sambil tersenyum menatap Renata.
“Ya ayah... aku merasa menyesal melakukannya...”jawab Renata dengan penyesalan Kenapa dia dulu terlalu mencintai Andre dan membutakan semuanya.
Ayah pun mengalihkan pembicaraan agar putrinya tidak terus larut dalam kesedihan dengan perceraiannya.
“Renata....ku rasa kau harus melanjutkan hidupmu dan mencari tambatan hati yang lain yang akan menemani hidupmu.”ucap ayah menyarankan wanita itu untuk segera mencari pasangan hidup lagi.
“Mungkin itu tidak sekarang Ayah... aku masih trauma...”jawab Renata jujur.
“Tidak semua lelaki punya karakter yang sama dengan Andre. Di luar sana banyak lelaki yang lebih baik dari dia dan kau pantas mendapatkannya.”ucap ayah lagi mendesak Renata agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan dan kesendirian.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian di luar rumah terdengar suara mobil berhenti.
“tap... tap... tap...”Renata menoleh ke arah pintu dan dia melihat Alden menaiki tangga lalu berhenti di depan pintu.
“tok... tok... tok...”Alden mengetuk pintu yang terbuka.
Ayah tersenyum dan menoleh karena pintu melihat kedatangan Alden.
“Om...”sapa Alden dari luar pintu.
“Alden... masuklah...”ucap ayahnya Renata mempersilahkan.
Alden kemudian masuk dan duduk berhadapan dengan ayahnya Renata. Mereka bertiga mengobrol sebentar.
Ayah yang merasa senang dengan kedatangan Alden tak ingin mengganggu momen kebersamaan mereka berdua.
“Ayah pergi dulu karena masih ada urusan. Kalian berdua silakan lanjutkan obrolan kalian.”ucap ayah kemudian berdiri dan masuk ke belakang meninggalkan mereka berdua.
“Semoga saja Renata cocok dengan Alden. Aku suka pada anak itu.”batin sang ayah menulis sebentar ke belakang lalu kembali melanjutkan jalannya.
Setelah kepergian ayahnya Renata, Alden berpindah duduk ke samping Renata dan bercakap-cakap dengannya.
“Renata apa kau ada waktu saat ini ?”tanya Alden tersenyum padanya.
“Ya... saat ini aku masih senggang...mungkin beberapa waktu lagi aku akan membantu ayah di perusahaan.”balas Renata menatap Alden tanpa tersenyum.
Alden bercerita jika ada suatu taman hiburan yang baru dibuka di suatu tempat dan dia mengajak Renata menemaninya pergi ke sana.
Lima menit kemudian mereka keluar bersama menuju ke taman hiburan menaiki mobil Alden.
BERSAMBUNG....
__ADS_1