
Irise akhirnya tiba di rumah ibunya. Dia mematikan mesin mobilnya dan segera turun dari sana, berjalan menuju ke pintu.
“klik...”Irise memutar pintu yang ternyata tidak dikunci.
Dia pun segera masuk ke rumah namun tidak melihat ibunya di ruang tengah.
“Kemana ibu atau jangan-jangan dia...”pekiknya terkejut khawatir pada ibunya karena sebelumnya wanita itu tempat yang lemah di tempat tidur.
Irise berjalan cepat menuju ke kamar ibunya dan dia harus kecewa saat melihat ibunya tidak ada di sana.
“Ibu... ibu dimana...” ucap Irise terus memanggil ibunya setelah keluar dari kamar dan berjalan ke belakang.
Ternyata ibunya Irise sedang ada di dapur dan tampak membuat sesuatu.
“Ibu... ibu ada di sini....”ucap Irise setelah menemukan ibunya ada di dapur dan terlihat lega.
“Irise... kapan kau datang, nak ?”jawab wanita itu terkejut saat mendapati putrinya sudah berdiri di sampingnya.
“Ibu membuat apa...”tanya Irise melihat ibunya memakai sarung tangan dan menutup microwave lalu beralih menatap kemeja di mana di sana banyak masakan.
“Apa ada tamu yang akan ke sini... ?”tanya Irise sebelum Ibunya menjawab pertanyaannya.
“Ya sayang... hari ini teman ibu akan datang kemari dan ibu memasak ini untuknya.”jawab wanita itu sambil mengambil loyang dari microwave.
“Ibu... padahal sebenarnya aku ingin mengajak Ibu jalan-jalan hari ini... tapi jika ada teman ibu yang kemarin ya sudah kapan-kapan saja...”balas Irise sambil tersenyum kecil dan sedikit kecewa.
Namun dia melihat ibunya tersenyum lebar dan hal itu membuatnya cukup senang.
“Siapa sebenarnya teman ibu yang kemari...”batin Irise penasaran dan memikirkan siapa sebenarnya teman yang bisa membuat ibunya tersenyum lebar seperti itu.
Satu jam berikutnya mereka ibunya Irise sudah selesai masak dan mereka berdua keluar dari dapur kemudian duduk di ruang tamu sekedar untuk mengeringkan keringat.
__ADS_1
Irise duduk diam dan kembali teringat pada ayahnya. Dia menatap ibunya dan memikirkan apakah wanita itu juga masih memikirkan ayahnya.
“Aku hanya ingin tahu saja bagaimana reaksi ibu...”batinnya sambil tersenyum kecil menatap ibunya yang kelelahan.
“Masakan ini adalah masakan kesukaan ayah... pasti dia senang sekali jika melihatnya.”ucap Noah mencoba memancing emosi ibunya Irise.
Wanita itu seketika terdiam. Dia baru menyadari jika dia masak makanan favorit kesukaan suaminya.
“Ya... ibu juga suka masakan ini. Hmm... bagaimana kabar lelaki itu ?”balas ibunya Irise yang ingin mengetahui keadaannya saja.
“Ayah baik-baik saja... namun aku tak tahu kenapa berat badannya turun dan dia terlihat sedikit lebih kurus.”balas Irise menjelaskan pada ibunya.
“Oh...”jawab wanita itu singkat dan tidak bertanya lagi.
Ibu hanya diam dan pura-pura cuek meskipun sebenarnya dia masih memikirkan hal itu dan tak ingin menunjukkan hal itu pada Irise.
“Kenapa berat badan David turun... apa dia sakit...mungkin karena dia merokok padahal sudah lama aku menyuruhnya untuk berhenti.”batinnya bertanya-tanya dan dari bahasanya merasa khawatir pada suaminya.
“Ternyata wanita ini sebenarnya masih menyimpan rasa untuk David. Tapi entah kenapa dia menutupi perasaannya sama seperti David...”batin Noah.
Dia menyadarkan kepalanya ke sofa dan memikirkan sebuah cara untuk membuat dua orang itu berdamai.
“ting... tong...” suara bel yang berbunyi dan membuyarkan lamunan Noah.
“Pasti itu dia...”celetuk ibunya Irise seketika bangkit dari sofa lalu sekarang berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Seorang wanita supaya dengan usia ibunya tersenyum lebar di depan pintu dan memeluk ibunya.
“Claudya... aku rindu sekali padamu. Sudah lama kita tidak bertemu...”ucap wanita itu kemudian melepas pelukannya.
“Sarah... ayo masuk dan kita ngobrol di dalam.”balas ibunya Irise.
__ADS_1
Ibu kembali masuk ke ruang tamu bersama dengan teman dekatnya. Dia kemudian memperkenalkan Irise pada sahabatnya. Dan mereka kan terlibat pembicaraan kecil.
Di luar rumah seorang lelaki turun dari mobil setelah menutup kembali pintunya dan masuk ke rumah.
“Tante...”
“Alland... masuk saja... ternyata kau mengantar ibumu ke sini.”ucap ibunya Irise saat melihat Alland berdiri di depan pintu.
“Ya tante...”jawab lelaki itu kemudian masuk ke dalam rumah.
Alland tak mengira jika di sana dia bertemu kembali dengan Irise.
“Hai... boleh aku duduk di sini... ?” ucap Alland berjalan dan menghampiri Irise.
“Ya tentu saja...”balas Irise.
Sejenak dia sedikit terpesona pada sikap Alland yang sopan tidak seperti sikap kebanyakan para lelaki saat ini.
Claudya dan Sarah tanpa berbicara tak henti-hentinya. Mereka duduk bersebelahan dan membicarakan banyak karena mereka sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Jika saja Alland tidak menceritakan tentang ibunya Irise mungkin saja mereka berdua akan bertemu kali ini.
Sementara itu Alland yang sudah bertemu Irise untuk ketiga kalinya sedikit banyak jadi mengenal wanita itu dan mulai mengobrol dengannya.
Sarah memperhatikan putranya yang baru kali ini terlihat tertarik bicara dengan seorang wanita setelah beberapa tahun perceraiannya.
“Claudya... kita bicara di belakang saja dan biarkan dua orang muda ini bicara...”ucap Sarah berbisik lirih di telinga Claudya sambil mengedipkan matanya.
Claudya yang menangkap sinyal dari Sarah dan menuruti permintaannya.
“Alland... Irise... kami berdua ingin ke belakang karena banyak hal yang ingin kami bicarakan. Kalian berdua tunggu kami di sini saja.”ucap Claudya tiba-tiba berdiri dan menarik dengan cara berjalan ke belakang meninggalkan mereka berdua sendiri.
Saat ini di ruang tamu tinggallah Irise dan Alland. Mereka berdua mempunyai pikiran yang sama pada ibu mereka yang sengaja meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
BERSAMBUNG...