
Keesokan harinya Lilia bangun di pagi hari, gadis itu bangun di samping Edwin yang masih tertidur pulas. Dia menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan mengenakan pakaiannya.
“Jam berapa sekarang ini ?”gumamnya melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar.
“Sebentar lagi saatnya masuk kerja.”gumam Lilia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 6.00 pagi hari.
Lilia pun berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lima menit kemudian Edwin bangun saat merasakan tak ada Lilia di sampingnya.
“Lilia... kau kemana ?”ucap Edwin duduk dan melihat gadis itu benar-benar tak ada di tempat tidur.
Lamat-lamat dia mendengar suara kran air yang menyala. Ia pun berjalan menuju ke kamar mandi.
“Lilia apa kau ada di dalam ?”ucap Edwin dari luar kamar mandi.
Lilia mengecilkan kran airnya agar dia bisa jelas mendengar atau bicara.
“Edwin... ? Ya aku mandi.”jawabnya singkat.
“Oh ya sudah... ku kira kau sudah pergi.”jawab Edwin kemudian kembali masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian Lilia keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Edwin dan duduk di sampingnya.
“Kau tidak masuk ke kantor ?”tanya Lilia sambil menyentuh bahu Edwin dengan lembut.
“Ya sebentar lagi aku akan bersiap. Kita berangkat bersama setelah ini.”balas Edwin yang sebenarnya malas pergi ke kantor dan masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya.
Dua puluh menit kemudian Edwin dan Lilia sudah selesai bersiap. Mereka keluar dari villa dan masuk ke mobil lalu menuju ke kantor.
Setibanya di kantor dan memarkir mobil mereka berhenti sejenak dan melihat mobil yang sudah terparkir di sana.
__ADS_1
“Hari ini mobil Irise tak ada di sini. Apa dia tidak masuk ke kantor juga ?”gumam Edwin tersenyum kecil dan merasa beruntung karena tak bertemu dengan istrinya di kantor.
“Aku juga tidak tahu bisa saja dia datang agak siang.”balas Lilia karena terkadang menang Irise datang siang hari.
Mereka berdoa kemudian masuk ke kantor bersama. Di dalam ruangan mereka mengerjakan tugas dengan santai. Hingga waktu jam istirahat hampir tiba, Irise tak kunjung menampakan dirinya juga di kantor.
“Hari ini Irise ternyata tidak masuk kantor.”ucap Edwin menghampiri Lilia yang sedang duduk di kursinya menata beberapa file.
“Jika tak ada mereka berdua rasanya perusahaan ini seperti milik kita saja.”jawab Lilia ikut senang dan merasa leluasa berada di kantor berduaan dengan Edwin.
Mereka berdua terlihat santai dan tampak seperti bos di perusahaan milik mereka sendiri.
Di lain tempat Alland mengendarai mobil menuju ke rumah sakit.
“klik...”Alland membuka pintu setelah memarkirkan mobilnya.
“Tante... Irise ayo kita keluar. Aku akan menemani kalian menjalani sesi terapi.”ucap Alland pada ibunya Irise dan Irise.
Setelah mengantar ibunya Irise masuk ke ruang terapi, Alland mengantar iris menjalani sesi terapinya.
“Kau masuklah... aku akan menunggumu di luar.”ucap Alland di depan pintu saat mengantar Irise.
Setelah Irise masuk, dia pun duduk di kursi tunggu menunggu gadis itu menjalani sesi terapinya yang masih tinggal dua bulan lagi.
Di hotel Maxi terlihat David yang duduk di lounge hotel sedang sarapan siang sambil menatap sebuah tayangan yang ia putar di laptopnya.
“Jadi Irise hari ini juga tidak masuk ? Benar-benar hari cerah untuk mereka berdua.”gumam David saat melihat tayangan Lilia bersama Edwin yang sedang makan siang bersama di kantor dan terdengar gelak tawa di antara mereka.
“ck... ck... ck...”
__ADS_1
David segera menutup laptopnya dan melanjutkan makan siangnya tanpa memperdulikan apa yang dilakukan mereka berdua saat ini.
Sore hari sepulang kerja Lilia dan Edwin terlihat keluar bersama lalu masuk ke mobil. Mereka pun kembali menuju villa dan menghabiskan waktu berdua di sana.
Mereka berdua kembali menghabiskan malam bersama.
Di rumah David seorang pelayan yang membersihkan kamar Lilia melihat kamar itu kosong lagi.
“Sudah dua malam nyonya tidak pulang ke rumah saat tuan tak ada.”ucap pelayan wanita kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.
Keesokan paginya Edwin dan Lilia kembali berangkat ke kantor bersamaan. Hari ini Irise sengaja tidak masuk kantor karena ingin memberikan kebebasan pada Lilia dan Edwin agar merasakan kemenangan sejenak.
Lilia masih berada di rumah Ibunya dan memantau melalui tayangan slide yang ditampilkan oleh Sharp Eye padannya.
Lilia bermalam di villa Edwin hingga tiga hari lamanya. Selama itu pula David sama sekali tidak menelepon Lilia, Begitu juga dengan Irise yang sama sekali tidak menghubungi dan mencari keberadaan Edwin meskipun saat ini dia sudah pulang ke rumahnya.
Hari ke empat dimana David merasa sudah bosan tinggal lama di sebuah hotel seorang diri tanpa aktivitas yang berarti. Ia pun check out dari hotel hari itu juga.
Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
“Tolong jemput aku sekarang juga.”ucap David setelah telepon dengan supirnya tersambung.
Setelah panggilan berakhir dia pun kembali menelepon seseorang.
“Halo Irise aku mau keluar dari hotel sekarang.”ucap David setelah telepon tersambung.
“Baik ayah... aku akan bersiap setelah ini.”jawab Irise yang berada di rumah dan menunggu telepon dari ayahnya sedari tadi.
Irise tersenyum kecil dan berjalan keluar dari rumahnya menuju ke garasi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...