
Beberapa hari kemudian setelah acara meeting dengan beberapa perusahaan selesai semua kembali pada pekerjaan masing-masing.
Suatu pagi di kantor saat Vivian sedang mengerjakan tugasnya telepon di mejanya berdering.
“kring.... kring... kring...”
Vivian segera mengangkat teleponnya dan sejenak mengalihkan pandangannya dari monitor yang ada di hadapannya.
“Halo pagi pengen Vivian ada yang bisa dibantu ?”ucap gadis itu sambil duduk tegak di kursinya.
“Vivian kau bisa ke ruangan ku sebentar ?”tanya suara seorang lelaki pada gadis itu.
“Ternyata manajer Aksa... ada apa ya dia memanggilku, apa ada masalah atau tugas lainnya buatku ?”batin Vivian yang merasa tak membuat kesalahan dalam pekerjaannya.
“Ya manajer Aksa... aku akan ke sana sekarang.”balas Vivian singkat dan segera menutup teleponnya.
Dia pun segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang manajer Aksa.
Vivian sudah bersiap mengetuk pintu namun belum sampai tangannya menyentuh pintu, manajer Aksa melihatnya datang.
“Masuklah Vivian...”ucap lelaki itu yang sudah menunggu kedatangannya.
Vivian segera masuk ke ruangan dan menghadap lelaki itu.
“Pagi manajer Aksa... ada apa manajer memanggilku kemari ?” tanyanya sambil duduk setelah dipersilakan duduk oleh manajer Aksa.
Lelaki itu terdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan ke belakang menuju ke sebuah brankas.
Tak lama kemudian manajer Aksa kembali dengan membawa beberapa berkas dokumen.
“Ini... tolong kau antar dokumen ini ke perusahaan Heksana dan Serahkan dokumen ini pada manajer di sana.”ucap lelaki itu sembari menyerahkan dokumen yang tadi dipegangnya pada Vivian.
__ADS_1
Gadis itu menerima dokumen dari tangan Manajer Aksa. Tapi dia heran kenapa meminta dirinya hanya untuk mengantar sebuah dokumen. Karena penasaran pada isinya dia pun membuka berkas itu di depan manajer Aksa.
“srak... srak... srak...”Vivian membuka halaman demi halaman dan tampak terkejut setelah mengetahui isinya dan ternyata memang merupakan dokumen penting perusahaan.
“Manajer Aksa ini...”ucap gadis itu enggan untuk menerimanya dan mengurutkan kembali Dokumen itu pada manajer Aksa.
“Vivian... cepat kau antar dokumen itu ke perusahaan Heksana. Itu tugasmu sebagai ketua tim. Biar sopir yang mengantarmu ke sana.” balasnya menolak dokumen dari tangan Vivian.
“Oh... baik manajer Aksa.” jawabnya lalu membawa dokumen itu keluar dari ruangan manajer.
Vivian keluar dari ruangan membawa dokumen. Di luar pintu ternyata sudah ada sopir yang menunggunya.
“Nona Vivian... silahkan masuk...” ucap seorang sopir dari dalam mobil dan memegang pintu untuknya.
Tanpa banyak bertanya gadis itu pun segera duduk di samping sopir dan menutup pintunya.
“Kita berangkat sekarang ke perusahaan Heksana...”ucap Pak Bagas menatap ke arah Vivian, dan gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil membalasnya.
“klik... !”Vivian keluar dari mobil.
“Pak Bagas tolong tunggu sebentar di sini, dan aku akan segera kembali.” ucapnya berpesan pada sang sopir.
“Baik nona Vivian...”jawab lelaki itu sambil tersenyum padanya.
“tap... tap... tap...”
Vivian menutup pintu mobil dan berjalan menuju ke kantor Heksana dengan high heelsnya untuk menyerahkan berkas pada manajer di perusahaan itu.
Tiga puluh menit kemudian gadis itu keluar dari gedung. Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba turun hujan. Karena jaraknya yang lumayan agak jauh dia pun berlari menuju ke tempat parkir.
“Argh... !”di tengah jalan dia menginjak kerikil dan terpeleset.
__ADS_1
“Yah...”Saat berdiri dia mendapati heels sepatunya patah namun dia tetap berjalan menuju ke mobil Pak Bagas. Dia berjalan dengan menahan sakit karena timpang sebelah.
“Pak tolong buka pintunya...” ucapnya saat tiba di depan mobil Pak Bagas.
“klik...”Pak Bagas segera membuka pintu dan Vivian masuk ke dalam mobil kemudian duduk.
Di dalam mobil gadis itu melepas sepatunya agar kakinya tidak sakit.
“Kenapa non sepatunya dilepas ?” tanya Pak Bagas.
“Heelsnya patah pak, apa bisa Bapak setelah ini mengantarku ke toko sepatu sebentar untuk membeli sepatu baru ?” tanya Vivian.
“Non... tak perlu membeli sepatu baru. Kebetulan Bapak ada sepatu kets untuk putri ku seukuran dengan kaki nona.”ucap lelaki itu menawarkan sepatu kets putih yang dia ambil dari kursi belakang dan memberikannya pada Vivian.
“Maaf aku tidak bisa menerimanya karena itu bapak beli untuk putri bapak.”balas Vivian menolak secara halus.
Pak Bagas mencari alasan agar gadis itu mau memakai sepatu tadi.
“Pakai saja tak apa nona. Sebenarnya aku sudah menunjukkannya pada putriku namun dia tidak cocok dengan model yang ku pilih, jadi sepatu itu tidak terpakai.”ucapnya lagi untuk membujuk Vivian.
“Benar tidak apa pak ? kalau begitu aku akan menggantinya.”balas Vivian yang merasa tak enak hati.
“Tak perlu nona, sungguh. Sudah pakai saja sepatu itu.”ucapnya lagi terus membujuk Vivian.
Vivian pun berterima kasih pada Bagas akhirnya memakai sepatu kets putih tadi.
“Misi ku selesai...”batin Pak Bagas Tersenyum Dalam hati saat melihat Vivian memakai kets putih pemberiannya tadi.
Pak Bagas melajukan mobilnya di tengah derasnya hujan menuju ke kantor. Sedangkan Vivian sedikit merasa aneh saja dengan ukuran sepatu yang pas dengan ukuran kakinya. Padahal selama ini Dia jarang bertemu dengan Pak Bagas.
BERSAMBUNG....
__ADS_1