
Beberapa waktu berlalu meski Renata sering jalan bersama Alden namun wanita itu belum bisa sepenuhnya membuka hatinya untuk Alden karena masih trauma pada luka yang sebelumnya ditorehkan oleh Andre.
Suatu sore Renata duduk di ruang tamu bersama ayahnya.
Dari depan rumah ada sebuah mobil berhenti.
“Mungkin itu Alden...”ucap Ayahnya Renata sambil menatap ke arah pintu.
Alden turun dari mobil dan masuk ke rumah Renata.
“tok... tok... tok...”Alden seperti biasanya tetap mengetuk pintu meskipun sudah tahu ada orang di ruang tamu.
“Masuk saja Alden... tak usah mengetuk pintu...”ucap Ayah menatap Alden sambil tersenyum.
“Iya om...”jawab Alden kemudian masuk dan duduk di samping Renata.
Mereka bertiga bercakap-cakap sebentar dan seperti biasa Ayah meninggalkan mereka berdua.
“Om... aku mau mengajak Renata keluar hari ini...”ucap Alden minta izin sebelum ayahnya Renata pergi.
“Ya... Alden... aku memberimu izin untuk membawa pergi putriku.”jawab ayah kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah ayahnya Renata masuk ke dalam, Alden bergeser lebih mendekat pada Renata. Dia kemudian memegang tangan Renata.
Satu tangan lainnya merokok saku baju dan mengeluarkan sesuatu dari sana, sebuah kotak cincin.
“Renata pakailah ini...”ucap Alden mengeluarkan cincin kemudian memakaikan ke jari manis.
“Alden...apa ini....”tanya Renata menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Aku ingin kau memakainya dan selalu ingat padaku...”balas Alden melamar Renata secara pribadi lalu mencium jari Renata.
“Tapi Alden aku... belum siap untuk menikah...”balas Renata menatap Alden.
Alden menggenggam kedua tangan Renata dengan erat dan menatapnya dalam-dalam.
__ADS_1
“Renata kau bisa saja mengulur waktu selama yang kau mau tapi bagaimana dengan janin yang ada di perut mu... apa dia bisa menunggu selama yang kau mau ?”tanya Alden sambil menyentuh perut Renata.
Renata diam dan berpikir, memikirkan apa yang dikatakan oleh Alden.
Dari balik ruang tamu ternyata ayah dan ibunya Renata sedang menguping.
“Apa... jadi Renata sedang hamil saat ini...”ucap ayah lirih menatap ibu dengan kaget namun tampak senang.
“Sebentar lagi kita akan punya cucu, ayah...”balas ibu ikut tersenyum dengan senang karena dia selama ini sudah berulang kali meminta Renata agar segera menikah dengan Alden, namun Renata selalu menolaknya. Jika Renata sedang hamil tak mungkin putrinya akan menolak lamaran Alden.
“Aku akan membantumu mengobati luka hatimu... dan aku berjanji tak akan melakukan hal yang pernah dilakukan oleh mantan suami mu pada mu...”ucap Alden terus meyakinkan Renata dan akhirnya membuat wanita itu luluh juga.
“Alden... terima kasih selama ini kau sudah sabar menunggu ku...”jawab Renata tersenyum lebar pada Alden.
“Jadi kau menerima lamaran ku.. ?”tanya Alden seolah tak percaya setelah sekian lama menunggu. Sementara Renata hanya mengganggu kemudian memeluk Alden.
Beberapa saat kemudian Alden berdiri dan menarik tangan Renata mengajaknya keluar dari rumah.
“Kita mau ke mana sekarang...”tanya Renata saat sudah duduk di mobil di samping Alden.
Alden mengemudikan mobilnya menuju ke jalan dan berhenti di suatu tempat.
“Ayo kita turun....”
Alden turun dari mobil lalu Kemukakan pintu untuk Renata dan mengangkat tubuhnya untuk menurunkan nya.
“Aku bisa turun sendiri...”ucap Renata merasa malu karena ada beberapa orang yang melihatnya.
Alden menggandeng Renata masuk ke toko baju pengantin.
“Alden kenapa kau mengajakku ke sini ?”tanya Renata setelah berada di dalam.
“Tentu saja memesan baju pengantin kita untuk bulan depan. Aku tidak ingin baju pengantin mu nanti sempit karena perutmu semakin besar.”balas Alden menatap Renata dengan mesra.
Mereka berdua kemudian memilih beberapa pasang baju pengantin dan mencobanya. Mereka tampak tersenyum bersama saat ada ada fotografer yang Alden sewa datang dan memotret mereka berdua.
__ADS_1
Noah keluar dari tubuh Renata karena misinya sudah selesai.
“Aku ikut senang akhirnya Renata menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari Andre. Kira-kira bagaimana nanti kehidupan mereka...”tanya Noah pada Sharp Eye karena penasaran.
“Aku akan tunjukkan tayangannya padamu kalau begitu.”jawab Sharp Eye dan memunculkan sebuah tayangan.
Di suatu sekolah Taman Kanak-kanak seorang gadis keluar dari kelas saat pelajaran berakhir. Gadis itu menunggu mobil yang menjemputnya.
Tak beberapa lama kemudian ada sebuah mobil putih masuk ke area sekolah.
“Itu ayah datang...”ucap gadis kecil tadi sambil tersenyum menatap Alden yang berjalan keluar dari mobil.
Beberapa temannya ada yang mengoloknya.
“Dia itu ayah mu atau paman mu ? Kenapa kalian sama sekali tidak mirip ?”ucap seorang anak lelaki kecil mengejeknya.
“Dia itu ayah ku tahu, bukan paman ku !”jawab gadis kecil itu kesal.
“Hana... ayo kita pulang...”panggil Alden dari kejauhan.
Gadis itu kemudian berlari menghampiri Alden dan masuk ke mobil.
“Ayah....kenapa temanku ada yang bilang aku bukan anak Ayah, mereka bilang kita tidak mirip?”ucap Hana sambil duduk di belakang.
“Hmm... teman mu itu hanya asal bicara. Kau putri kandung ayah. Tak usah kau dengarkan ucapan para temanmu.”jawab Alden menasehati putrinya.
“Ayah... sebelum menjemput ibu di kantor... aku ingin Ayah memberikan ku manisan.”ucap Hana.
Mobil meluncur dari sekolah Hana ke jalanan.
“Ya... ayah akan memberikan tapi bukan manisan. Karena ibu mu akan memarahi Ayah nanti.”balas Alden sambil tersenyum.
Sharp Eye mematikan tayangan slidenya. Mereka berdua kemudian berjalan keluar dan menunggu misi selanjutnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1