Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 78 Hidangan Untuk Edwin


__ADS_3

Edwin sebenarnya tak ingin makan akhirnya mengikuti ajakan Irise untuk duduk. Di ruang makan, Edwin masih terdiam menatap banyak hidangan di depannya.


Dalam hati lelaki itu merasa sedikit aneh dengan sikap istrinya yang tak biasa dan terkesan menyambutnya lebih baik dari hari biasanya.


“Ada apa dengan Irise...”batin Edwin menatap wanita itu.


Ada perasaan curiga yang terselip di hatinya namun dia menepi semua rasa itu karena tak mungkin Irise bisa melakukan hal di luar dugaan atau yang akan membahayakan dirinya.


“Ayo makan... nanti keburu dingin...”ucap wanita itu sambil memakan hidangan yang dia buat.


“Sebaiknya aku makan saja... dia juga tidak curiga padaku tidak bertanya kali ini kenapa aku pulang terlambat...”batin Edwin yang masih diam kemudian melempar senyum kecil.


Tanpa bicara dia pun memakan hidangan yang dimasak oleh Irise.


“Bagaimana rasanya... ?”tanya Irise berhenti makan dan menatap lelaki di depannya.


“Hmm... enak aku suka... lain kali masak kan aku seperti ini lagi.”jawab Edwin makan dengan lahap.


“Benar ya... kau yang minta...”balas Irise tersenyum kecil lalu kembali melanjutkan makan.


Tiga puluh menit kemudian mereka berdua selesai makan.


Irise duduk menatap Edwin.


Sedangkan Edwin tiba-tiba merasa suhu tubuhnya meningkat dan kepalanya pusing.


“Haah... haah... kenapa tiba-tiba kepala ku pusing...”batin lagi itu sambil memegang kepalanya.


Flash back dua jam yang lalu.


Noah berada di dapur bersama seorang pelayan. Dia menyuruh pelayan wanita yang ada di rumah itu menyiapkan hidangan makan malam yang dia sebutkan.


Sang pelayan menurut saja pada apa kata Noah dan masakan hidangan yang dia minta. Setelah masakan yang dia request selesai dia yang menyajikan masakan itu.

__ADS_1


“Bibi selanjutnya serahkan semuanya padaku...”ucap Noah meminta pelayan itu meninggalkan dapur dan selanjutnya dia yang akan bereksperimen.


“Baik nona...”jawab player wanita itu kemudian segera keluar dari dapur.


Setelah kepergian pelayan wanita itu Noah segera bereksperimen dengan liar.


Dia berdiri di depan semua hidangan bersama dengan Sharp Eye yang ada di dekatnya.


“Aku butuh aprhodisiak dosis tinggi. Apa ada item seperti itu di sistem ?”tanya Noah pada Sharp Eye.


Elang itu tidak langsung menjawab pertanyaan Noah. Dia pun melihat item yang tersedia di shop.


“Semoga saja ada item seperti yang di request oleh Noah.”gumam elang itu kemudian melihat semua item yang tersedia.


“Noah... lihat ini... ada item yang kau cari. Ini hampir mirip dengan aphrodisiac dan tiga kali lebih kuat dari aslinya. Harganya hanya 100 poin.”ucap Sharp Eye menjelaskan item menarik yang dia temukan.


“Oke... aku ambil itu.”jawab Noah.


Beberapa hari kemudian item yang dia pesan sudah ada di tangannya. Noah pun segera membuka serbuk putih itu dan menaburkan pada semua makanan yang sudah dia pisahkan untuk Edwin.


Noah yang tahu jika obat itu sudah bereaksi segera berdiri dan berjalan menuju ke kamar.


“klik...”Noah mengunci kamar sambil tersenyum. Dia pun kemudian duduk di tempat tidur.


Sementara itu Edwin berdiri dan berjalan sempoyongan.


“Irise... tolong aku... Irise...”ucap Edwin memanggil istrinya. Namun Ternyata wanita itu sudah pergi meninggalkan dirinya.


“Apa yang terjadi padaku... aku benar-benar tak tahan sekarang.”gumamnya sambil melepas satu persatu Kanjeng bajunya karena merasa tubuhnya panas sekali.


Edwin jalan menuju ke kamar Irise. Namun saya tiba di sana pintu kamar itu tertutup.


“dok... dok... Irise buka pintunya... !”ucap Edwin yang merasa semakin tak tahan.

__ADS_1


Noah berdiri di depan pintu namun tidak bersuara dan tidak membukakan pintunya.


Sepuluh menit Edwin berdiri di depan pintu dan terus memanggil nama Irise, namun pintu kamar itu tetap tertutup.


“Apa dia sudah minum obat dan tertidur pulas... ? Sial sekali... !!”gumamnya merasa kesalahan bersandar pada pintu.


“Haah...haah...haah...aku sudah tak bisa menahannya lagi. Apa yang harus kulakukan ?”gumam Edwin yang sudah tak kuat menahan hasratnya dan ingin melepaskannya.


Dia berpikir apa sebaiknya keluar dari rumah dan kembali pada Lilia. Namun rencana itu sepertinya beresiko. Dia pun memikirkan rencana lain yang lebih efisien dan tidak beresiko.


“Ya hanya itu jalan satu-satunya untuk mengatasi ini.”ucap Edwin.


Apalagi itu kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia mengisi bathup dengan air dingin hingga penuh.


Setelah air penuh dia pun segera masuk dan merendam dirinya di sana.


“byurr....”Edwin masuk ke bathup dan merasakan suhu tubuhnya sedikit menurun.


Satu jam terlalu namun ternyata suhu tubuhnya belum dingin.


“Kenapa belum normal juga suhu tubuhku...”gumam Edwin saat menyentuh tubuhnya dan akan keluar dari bathup.


Dia pun memutuskan untuk berendam di sana lebih lama. Dua jam berlalu mendingan merasakan suhu tubuhnya masih panas.


Tiga jam berlalu namun suhu tubuhnya belum normal juga. Empat jam berlalu namun dia tetap merasakan belum ada perubahan.


“Sampai kapan aku harus berendam di sini... ?”ucap Edwin yang merasa kesal.


Lelaki itu pun akhirnya sampai ketiduran di sana.


Lima menit kemudian Noah keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi untuk melihat Edwin.


“Ck... ck... sampai ketiduran di sini...”ucap Noah sambil tersenyum lebar. Dia pun berjalan keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat tidur dengan tersenyum puas bisa mengerjai Edwin.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2