Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 97 Menggertak Edwin


__ADS_3

Irise yang tak tahu jika sebelumnya Alland sengaja memesan dua porsi menu dan satu menu untuk diriya memakannya tanpa mempunyai pikiran curiga sedikitpun padanya.


Setelah selesai makan, M... ereka berdua pun kemudian mengobrol ringan dan sesekali mereka tertawa. Alland sama sekali tidak membahas masalah pribadi Irise yang ingin diketahuinya karena dia sudah bisa menebaknya sendiri.


Noah seketika teringat jika Dirinya belum mematikan laptopnya dari tadi. Dia pun menatap Sharp Eye yang ada di dekatnya.


“Sharp Eye... tolong kau matikan tayangan tadi di laptop ku. Aku tak ingin ada yang mengetahuinya selain diriku.”ucap Noah meminta tolong pada sang elang.


“Yah... baik aku akan mematikannya sekarang juga.”balas elang itu kemudian terbang dari bahu Noah dan berpindah ke meja.


Sharp Eye mematikan tayangan di laptop Noah tanpa melihatnya terlebih dulu.


“Klik... sudah mati sekarang.”gumam Sharp Eye setelah selesai mematikan tayangan tadi dan kembali terbang ke bahu Noah.


Alland melihat iris yang tiba-tiba terdiam dan menatap ke arah bahu kiri Irise.


“Irise... apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu ?”tanya Alland saat melihat Irise yang tiba-tiba diam dan memalingkan muka darinya.


“Tidak ada...”balasnya singkat dan kembali menatap Alland.


Dia kemudian melirik jam tangannya dan menunjukkan tiga waktu hampir gelap.


“Alland... hari sudah hampir malam kurasa saatnya untukku pulang...”ucap Irise di tengah pembicaraan mereka berdua.


Alland melihat ke sekitar dan mendapati lampu di restoran itu sudah menyala yang menandakan jika hari hampir gelap.


“Baiklah... ayo kita pulang...”balas nah lagi itu berdiri dari tempat duduknya.


Mereka berdoa kemudian berjalan menuju ke kasir untuk membayar makanan yang telah mereka pesan sebelumnya.

__ADS_1


Irise bermaksud akan membayar menu yang di pesannya tadi namun menghalanginya.


“Simpan kembali kartumu biar aku saja yang bayar.”ucap Alland mengambil kartu debit Irise dari meja kasir dan mengembalikannya pada Irise.


“Tapi...”ucap Irise merasa tak enak hati.


“Sudahlah... tak enak jika kita berdebat tentang hal itu di sini.”ucap Alland berbisik lirih di telinga Irise.


Wanita itu mengangguk karena memang benar apa yang dikatakan oleh Allah dan membiarkan lelaki itu membayarnya.


Mereka berdua kemudian terpisah di tempat parkir.


“Irise... senang bertemu denganmu. Kuharap kita bisa berteman baik seperti ibu kita.”ucap Alland sambil tersenyum kemudian masuk ke mobil.


Irise hanya mengangguk dan tersenyum kejar membalasnya kemudian masuk ke mobil.


Mereka berubah meluncur di jalanan dengan arah yang berbeda menuju ke rumah masing-masing.


“Gara-gara bertemu dengan Alland aku jadi batal mengawasi Edwin dan Lilia hari ini. Dan aku tidak tahu sudah pulang apa belum sekarang dia...” ucap nya sambil menatap Sharp Eye.


“Mungkin tanpa perlu melihatnya kau sudah bisa mengira-ngira sendiri...”balas Sharp Eye singkat.


Sepuluh menit kemudian Noah tiba di rumah bertepatan dengan Edwin yang juga masuk ke rumah.


“Duh...tadi saat ke rumah Lilia bertepatan dengan David sekarang aku pulang kembali bersamaan dengan Irise.... ?!”gumamnya mematikan mesin mobil dan melihat mobil Irise masuk ke garasi.


“Apa yang harus ku katakan padanya nanti... sepertinya aku harus menyiapkan sebuah jawaban jika dia bertanya.”batin Edwin duduk sebentar di mobilnya sambil berpikir.


Noah memarkir mobilnya di samping mobil Edwin.

__ADS_1


“Kebetulan sekali aku datang bersamaan dengan dia...”gumam Noah tersenyum lebar dan segera mematikan mesin mobil.


Dia keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Edwin yang barusan keluar dari mobil.


“Kau dari mana barusan masuk ke rumah padahal tak ada yang harus dikerjakan di kantor tadi.”ucap Noah menyapa Edwin.


“Sial sekali aku bertemu dengannya di sini... dan dia kembali curiga padaku...”batin Edwin menatap istrinya dan mencari alasan yang tepat.


“Iya aku merasa penat di kantor dengan banyaknya pekerjaan dari saya dan aku hanya keluar untuk mencari udara segar saja...”jawab Edwin setelah menemukan alasan yang menurutnya tepat.


Noah tersenyum kecil dan menghampirinya lebih dekat.


“Tapi aku mencium aroma parfum Lilia di baju mu...”ucap Noah menaruh tangan kanan nya di bahu Edwin sambil menarik bajunya dan mencium aroma parfum yang tertinggal di sana.


Edwin seketika tampak pucat dan berkeringat dingin dan masih mencari alasan untuk menyangkal supaya selamat.


“Sayang... ku rasa kau terlalu sensitif. Aku sama sekali tidak menemui Lilia bagaimana bisa parfumnya tertinggal di bajuku ?”balas Edwin kembali menyangkal.


“Aroma parfum misty fog... parfum yang biasa dipakai sekretaris itu. Jika besok aku mendapati gadis itu memakai aroma parfum yang sama dengan ini maka kau siap-siap saja...”balas Noah kemudian menarik tangannya dari bahu Edwin dan terlalu pergi meninggalkannya begitu saja masuk ke rumah.


Sementara Edwin tampak semakin pucat. Dia masih berdiri di sana kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Lilia.


“Beres...”ucap Edwin setelah selesai menelpon Lilia kemudian berjalan masuk ke rumah dengan tenang.


Di lain tempat di malam hari di rumah Alland. Lelaki itu sedang duduk seorang diri di ruang baca dan kembali teringat pada Irise.


“Jadi wanita itu sedang ada masalah dengan suaminya... lalu tentang zat berbahaya di tubuhnya... jangan-jangan apa itu ulah suaminya juga ?”batin Alland mengambil kesimpulan setelah menggabungkan semua puzzle yang ditemukannya.


“Oh... kenapa aku memikirkan wanita itu... masalah rumah tangganya bukanlah urusanku.”gumamnya.

__ADS_1


Alland kembali mengambil buku yang barusan dia taruh di meja dan melanjutkan membacanya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2