
Suasana tampak tegang dan mencekam. Edwin masih diam dan tak berani menatap Irise beserta ayahnya.
Sementara Lilia mencoba mencarikan suasana yang tegang dengan berucap sepatah dua patah kata.
“David... sayang... ini tak seperti yang kau lihat aku bisa menjelaskannya padamu.”ucap Lilia mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang ada di antara mereka.
“Kesalahpahaman apa yang mau kau jelaskan padaku ?”balas David bertanya balik dengan tatapan seolah mengadili.
Lilia maju dan menghampiri David. Ia mencoba untuk tenang dan berpura-pura seolah-olah tak terjadi apapun.
“Sayang....aku hanya mampir sebentar di villa baru Edwin. Oh ya Bukankah seharusnya besok kan baru kembali dari luar kota ?”ucap Lilia berusaha menjelaskan agar lelaki itu percaya pada ucapannya.
“Ya terserah aku mau kembali dari luar kota kapan. Jika selesai lebih awal bukankah itu akan menjadi surprise untukmu?”jawab David sambil tersenyum kecil pada Lilia.
“Ya Tentu saja aku senang kau sudah kembali lebih awal.”balas Lilia yang masih bisa menjawabnya.
David kemudian memegang tangan Lilia tepat di jari manis dia pernah memasangkan cincin di sana. Ia kemudian melepas cincin itu dari jari manis Lilia.
“Sayang kenapa kau ambil kembali cincin ini ?”ucap Lilia bertanya saat David sudah menggenggam cincin dan melepaskan tangannya.
“Aku akan menyimpannya karena kau tidak pantas memakai ini.”balas David dengan nada ketus dan menyimpan cincin itu dalam saku bajunya.
“Apa maksud mu sayang ? Aku benar-benar tidak paham.”balas Lilia terlihat bingung.
David kemudian menunjukkan sebuah dokumen yang dia bawa pada Lilia.
“Apa ini ?”tanya Lilia menerima dokumen dari David. Ia pun segera membuka dan mengeluarkan isinya. Gadis itu menjadi obat mata setelah membaca isinya yang ternyata adalah surat keterangan medis yang menyatakan jika David mandul.
“Jadi... anak ini... anak nya Edwin, bukan anaknya David ?”batin Lilia yang seketika syok hingga rekam medis itu jatuh dari tangannya dan saat ini dia tak tahu harus berkata apa lagi untuk membela dirinya.
__ADS_1
“Katakan pada ku dan Jelaskan pada Edwin jika ada yang kau kandung adalah anaknya !”ucap David mengambil kembali rekap medis miliknya dan melempar pada Edwin.
“Apa ini... ?”gumam Edwin lalu mengambil rekam medis yang jatuh di kakinya dan membacanya.
“Jadi lelaki tua ini mandul dan Lilia hamil anakku ?”batin Edwin menatap surat keterangan medis di tangannya.
Irise yang dari tadi diam kini maju dan menghampiri suaminya.
“Edwin ini hadiah untukmu terimalah.”ucap Irise menyerahkan amplop coklat pada Edwin.
Lelaki itu pun segera membuka dan mengeluarkan isinya. Dia sangat terkejut sekali setelah membaca isinya yang merupakan surat gugatan cerai dari pengadilan untuk dirinya.
“Irise... sayang apa maksudmu ? Kenapa kau melakukan hal ini padaku ?”ucap Edwin menatap Irise karena dia tak ingin bercerai dengannya dulu untuk saat ini.
“Hmm... apa masih kurang jelas ? Baik aku akan tunjukkan sesuatu padamu.”ucap Irise lagi. Ia kemudian mengambil sesuatu dari tasnya.
Irise menyerahkan obat yang biasanya diberikan oleh Edwin padanya beserta sebuah dokumen.
“Bagaimana dia bisa mengetahui ini ? Sedangkan aku sudah menyumpah Dokter Bean agar tidak membocorkan informasi ini.”batin Edwin yang saat ini terbaca dan tak bisa mengelak lagi.
Dengan wajah pucat Edwin kembali bicara dan mencoba menyangkal semuanya.
“Sayang... mana mungkin aku mau mencelakai istriku sendiri ? Kau pasti salah paham atau pasti ada seseorang yang sengaja memalsukan rekapan medis ini untuk menjebak ku.”ucap Edwin membela dirinya dan tetap tidak mau mengakui kesalahannya.
Irise hanya tersenyum kecil mendengar jawaban dari Edwin. Ia pun masih mempunyai bukti lain dan mengambilnya dari dalam tas.
“Coba dengarkan ini !”ucap Irise mengeluarkan Sebuah alat perekam suara dan menyerahkannya pada Edwin.
Edwin menerima alat perekam suara itu dan langsung memutarnya. Terdengar percakapan antara dirinya dan Lilia yang menyebutkan rencananya selama ini.
__ADS_1
Edwin terdiam dengan wajah yang semakin pucat karena dia tak bisa mengelak lagi.
Tiga menit kemudian datanglah sebuah mobil polisi di Villa Edwin. Beberapa polisi turun dan langsung menghampiri Edwin serta Lilia.
“Kalian berdua dijerat hukuman percobaan pembunuhan berencana.”ucap seorang polisi membawa borgol dan membukanya di depan Edwin serta Lilia.
“Aku tidak bersalah... lepaskan aku !”teriak Edwin berteriak dan berontak karena polisi memegang tangannya dan akan memborgol tangannya.
Tepat di saat Irise berbalik datang lagi sebuah mobil di sana. Seorang pengacara turun dan langsung menghampiri Edwin.
“Tunggu sebentar Pak Polisi. Aku minta waktunya satu menit saja.”ucap seorang pengacara yang disewa oleh Irise untuk menyelesaikan masalahnya.
Pengacara itu menghampiri Edwin dan polisi melepaskan tangan Edwin.
“Saudara Edwin tanda tangani berkas ini.”ucap pengacara itu.
Edwin tak bisa menolak Jadi Abang terpaksa menandatangani surat perceraian resmi yang diajukan oleh Irise.
Setelah selesai menandatangani berkas surat perceraian, polisi kembali membuka borgol dan membongkar tangan Edwin.
“Ayo ikut kami ke kantor polisi dan jelaskan semuanya di sana !”ucap polisi menarik paksa Edwin.
Seorang polisi wanita melakukan hal yang sama pada Lilia. Dia membongkar tangan gadis itu dan menggiringnya masuk ke mobil patroli.
“Tidak.... aku tidak mau dipenjara ! Lepaskan aku !”teriak Lilia berontak sebelum masuk ke mobil patroli.
Polisi segera menutup pintu mobil setelah Lilia dan Edwin duduk di sana.
David dan Irise tersenyum lebar melihat mobil polisi itu sudah pergi dari villa dan hilang dari pandangan mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG....