Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 113 Tes Cinta


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah kejadian terakhir di rumah sakit. Roh Noah yang sempat menghilang selama tiga hari kini kembali berada di tubuh Irise dan siap beraksi kembali menuntaskan misinya yang tertunda.


Sementara Alland yang sudah mengetahui rahasia Noah tak membahasnya sedikitpun saat dia bertemu dengan Irise. Bahkan dia berjanji dalam hati akan membantu gadis itu menyelesaikan masalahnya apabila diperlukan.


Setelah beberapa kali pertemuan Irise dan Alland membuat mereka berdua dekat tanpa mereka sadari.


Sehari sebelum pesta jamuan makan di rumah David dimulai. Rumah David terlihat ramai sekali. Banyak orang di sana yang sedang mempersiapkan untuk acara besok.


Namun lelaki itu seolah tak merasakan sinar hangat dalam hidupnya yang biasa menghangatkan dirinya. Lelaki itu berdiri di kamarnya menatap keluar dari kejauhan sosok Lilia yang tersenyum ceria dan ikut menata bunga segar yang ditata di sepanjang jalan menuju ke rumah.


“Semuanya palsu... ingin rasanya aku setelah menyingkirkan kepalsuan itu.”batin David menatap kosong pada Lilia.


Sedangkan Lilia asyik menikmati waktunya sebagai nyonya rumah baru yang berkuasa dan sibuk menata dekorasi rumah untuk acara ulang tahun David besok.


Di lain tempat di rumah Ibunya Irise. Terlihat wanita itu duduk termenung di kursi menatap sebuah foto di dinding, foto masa pernikahannya dengan David yang di pasang oleh mendiang ayahnya di sana.


“Besok adalah hari ulang tahun mu. Aku masih saja teringat hari istimewa dalam hidupmu meski kau sudah mencampakkan diriku.”gumam wanita itu tersenyum kecut menatap foto di dinding yang membuat ingatannya terlempar ke masa lalu di masa saat mereka berdua masih penuh cinta.


Di lain tempat di kantor. Hari ini dia masuk ke kantor meski hanya ada dirinya dan Edwin saja di sana.


Tampak Edwin menyibukkan diri meskipun dia tak bisa mengelak kali ini dia merasa kesepian tanpa kehadiran Lilia di sana. Sesali lelaki itu melempar pandangan ke kursi kosong tempat Lilia biasa duduk.


“Lilia meskipun kau bodoh tapi aku masih merindukan kehadiranmu di sini.”batin Edwin menatap kosong ke meja Lilia.


Sementara Irise yang sedari tadi memperhatikan Edwin secara diam-diam hanya tersenyum kecil melihat tingkah Edwin.

__ADS_1


Ia pun berdiri dari tempat duduknya bermaksud untuk memberikan surprise pada suaminya.


Irise menghampiri Edwin yang masih melamun dan duduk di sampingnya. Dia pun beraksi dan memanfaatkan kesempatan yang ada.


Irise tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya ke bahu Edwin yang membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.


“Irise apa yang kau lakukan ? Kau membuatku terkejut saja.”ucap Edwin menggeser tubuhnya menjauh dari Irise karena kaget.


Namun bukan Noah namanya jika tidak mengerjai Edwin. Ia pun menggeser duduknya mendekat Edwin. Karena di kantor hanya ada mereka berdua, ia pun bebas mengekspresikan rasa yang ingin dia ungkap kan.


Irise tiba-tiba menarik dasi Edwin dan berdiri di depannya sambil melepas kancing baju Edwin.


“Irise... apa yang kau lakukan ?”ucap Edwin sambil memegang tangan Irise menghalanginya untuk menyentuh kancing bajunya lagi.


Dia sengaja menggoda Edwin dan ingin mengetesnya saja.


Edwin menjadi merinding karena ia sama sekali tak ada rasa dengan Irise dan menahan tubuhnya yang tidak menolak ajakan Irise.


“Irise.... lepaskan aku... apa kau gila ? Kita ada di kantor.”ucap Edwin saat gadis itu semakin liar dan mulai melepas sabuknya.


Irise terus berpura-pura liar di depan Edwin namun lelaki itu ternyata masih bisa menahan gairahnya.


“Oo... oo... kau menolak ku apa karena kau ada wanita lain ?”ucap Irise kembali menarik dasi Edwin.


Lelaki itu diam dan berpikir jika dia menolaknya maka akan ketahuan jika dirinya ada affair dengan wanita lain.

__ADS_1


“Sayang... kenapa aku harus menolak mu jika kau sempurna di mataku ?”balas Edwin yang akhirnya mengikuti permainan Irise dan tidak tahu jika dia sebenarnya sudah menangkap kail yang dilempar oleh Noah.


Edwin pun mulai mengimbangi Irise. Namun tepat di saat dirinya sudah nggak bisa menahan gairahnya lagi dan ingin menyalurkannya, Irise mengakhiri permainan.


“Hiss... sayang maaf sekali perut ku terasa tidak enak. Sepertinya aku harus ke toilet dulu.”ucap Irise melepaskan tangannya dan buru-buru keluar dari ruangan meninggalkan Edwin sendiri.


Edwin duduk menunggu istrinya kembali dan masih dalam keadaan berantakan.


“Kenapa Irise belum kembali juga ? Aku sudah tidak tahan lagi.”gumam Edwin menatap jam tangannya dan menunjukkan sudah tiga puluh menit berlalu namun istrinya belum kembali juga.


Lima menit kemudian seseorang membuka pintu. Edwin segera duduk dan menatap ke arah pintu. Betapa terkejutnya dia yang masuk bukanlah Irise melainkan staf lain.


“Oh maaf permisi tuan Edwin. Aku hanya ingin menyerahkan dokumen ini saja.”ucap seorang wanita yang merasa malu saat melihat Edwin dalam kondisi setengah terbuka.


Staf wanita tadi segera menaruh berkas tadi di meja Edwin lalu segera keluar dari sana sebelum melihat hal lain yang tak seharusnya dia lihat.


“Sial... kenapa Irise mengunci pintunya dan membuat ku terlihat seperti orang bodoh begini...”gumam Edwin kesal karena sempat mendengar suara tawa staf tadi saat keluar ruangan yang menertawakan dirinya.


Sementara di lain tempat, Irise berada di luar kantor dan sedang menunggu Alland datang menjemputnya sambil melihat tayangan slide Edwin.


“Apa yang kau tertawakan... ?”ucap Alland menghampiri Irise setelah tiga di sana.


“Tidak ada. Aku hanya menertawakan orang bodoh saja.”balas Irise beralih menatap Alland.


Meskipun tak tahu apa yang ditertawakan oleh gadis itu. Namun Alland ikut senang melihat Irise yang terlihat senang. Mereka berdua kemudian masuk ke mobil.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2