
Di kantor Irise duduk diam dan menatap ayahnya selama beberapa saat. Dia melihat ayahnya tampak dengan wajah yang berseri-seri.
“Kau bodoh sekali dan gampang tertipu oleh keluguan seseorang yang hanya merupakan topeng. Kau tidak tahu siapa sebenarnya Lilia itu...”gumam Noah menatap David dengan rasa iba bercampur kesal.
Diam-diam Noah memikirkan lelaki itu dan berniat mencari cara untuk menolongnya.
“Mungkin aku harus membereskan Edwin dulu baru nanti bisa membantunya.”gumam Noah masih menatap lelaki itu yang terlihat bersenandung kecil dari tadi di tempat duduknya.
“Irise... ada apa kamu lihat aku seperti itu ?”tanya David yang merasa diperhatikan sedari tadi.
“Ah... tidak ayah... aku memperhatikan ayah hari ini terlihat lebih senang dari biasanya ada apa... ?”balas Irise bertanya balik saat ketahuan memperhatikan dirinya.
David sedikit terkejut dengan pertanyaan Irise.
“Apa benar aku terlihat terlalu ceria hari ini...”batin David mencoba membuat dirinya kembali seperti biasanya.
“Oh... tidak... aku hanya ingin lebih banyak tersenyum agar terlihat lebih muda.”jawabnya asal.
David kemudian melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Irise.
Malam hari di rumah.
Edwin berada di kamar setelah makan malam bersama dengan Irise. Sedangkan Irise masih ada di ruang tengah membaca koran.
“Jam berapa sekarang... ?”gumamnya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20.00.
Dia lalu duduk di kursi menatap ke arah pintu sambil melamun dan menemukan ada sesuatu yang aneh.
“Kenapa Irise masih terjaga jam segini...”gumamnya setelah menyadari jika istrinya itu belum memperlihatkan tanda-tanda mengantuk.
“Apa obatnya habis... sehingga efeknya hampir hilang... ?”batin Edwin.
Lelaki itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tempat kotak obat berada untuk memeriksa obat yang biasa di konsumsi oleh Irise.
“kriek...”!
__ADS_1
Edwin membuka kotak obat dan mengambil botol obat milik Irise.
“Obatnya hampir habis...besok aku akan mengambil obatnya dari dokter. Apa sebaiknya aku menambah dosisnya saja...”gumam Edwin setelah melihat obat itu dan mengembalikan ke tempatnya.
Lelaki itu kemudian kembali duduk di tempat tidur dan menunggu Irise masuk ke kamar.
Edwin duduk termenung dan berpikir ada yang aneh dengan Irise. Menurutnya Irise itu kondisinya saat ini seharusnya lebih buruk namun wanita itu terlihat lebih sehat dari biasanya.
“Apa yang salah dengan obatnya... ?”batin Edwin lagi terus berpikir.
“tap... tap... kriek...”
Edwin tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara langkah kaki yang masuk ke kamar dan membuka pintu.
“Irise...”ucap Edwin saat melihat wanita itu berdiri di depannya.
“Ya... mengapa kau melihatku seperti melihat setan saja ?”ucap wanita itu saat melihat tatapan Edwin yang ketakutan menatap dirinya.
“Oh... tidak sayang...itu hanya perasaanmu saja. Mana mungkin aku takut pada istriku yang cantik ini...”balas Edwin mencoba untuk tenang dan bersikap wajar sambil tersenyum lebar pada Irise.
“Sayang... ini obat mu. Minumlah...”ucap Edwin memberikan satu pil pada Irise.
Irise menerimanya kemudian langsung meminumnya.
“Sini obatnya...”ucap Irise mengambil botol obat dari tangan Edwin kemudian mengambil satu pil lagi dan meminumnya.
Sementara Edwin nampak bengong melihat Irise.
“Irise....biasanya kau sulit minum obat dan sekarang kamu malah menambah dosisnya... ?”ucap Edwin terkejut Ada apa yang dilihatnya saat ini.
“Ya.. aku merasa baikan setelah minum obat ini. Aku hanya ingin membuatmu senang. Bukankah kau ingin aku minum ini dengan dosis lebih banyak ?”ucap Noah sambil tersenyum lebar lalu menyentuh dada Edwin dan menekannya.
Edwin mundur karena merasa terintimidasi oleh tatapan Irise yang seolah menelanjangi pikirannya.
“Ya... itu saran dari dokter. Aku hanya ingin istriku kembali sehat seperti sebelumnya.”balas Edwin tersenyum kecil.
__ADS_1
Irise kemudian berbalik dan mengembalikan obatnya ke kotak obat. Dia pun segera tidur di samping Edwin yang masih terjaga dan membaca sebuah buku.
Keesokan harinya di siang hari Edwin keluar kantor sendiri menuju ke rumah sakit.
Di rumah sakit dia menemui dokter Bian untuk meminta kembali obat untuk Irise.
“Dokter Bian aku minta obatnya dengan dosis dua kali lipat dari biasanya.”ucap Edwin pada dokter Bian.
Dokter Bian diam memandang Edwin untuk sejenak.
“Bagaimana ini apa yang harus kulakukan ?”batin sang dokter yang takut jika melakukan hal itu akan menjadi kode etik dokter.
“Maaf dosis yang sebelumnya sudah aku naikkan jika menaikkan dosisnya lagi aku takut jika aku akan terkena masalah...” jelas dokter Bian menolak secara halus.
“Dokter tolonglah aku kumohon. Aku akan memberimu tips tambahan.”ucap Edwin terus memaksa.
Edwin memberikan tips pada Bian, dan dokter itu tak bisa menolaknya. Dia pun masuk ke ruangan dan duduk sebentar di sebuah kursi. kan lagi itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo nona... tuan Edwin ke sini dan memintaku untuk membuatkan obat baru untukmu dengan dosis lebih tinggi dari sebelumnya.”ucap dokter Bian pada Irise setelah telepon bersambung.
Irise yang saat itu sedang makan siang di kantin mengeluarkan ponselnya setelah mendengar panggilan masuk.
“Ya dokter Bian... buatkan saja apa yang dia minta. Dan buatkan juga obat untukku. Aku akan mengambilnya nanti sore.”balas Irise santai dan tenang.
Setelah panggilan berakhir dokter Bian meracik obat sesuai dengan apa yang diminta oleh Edwin. setelah merajuk obat sesuai pesanan Edwin dia pun segera keluar dari ruangan dan menyerahkan obat itu pada Edwin.
“Terima kasih dokter Bian...”ucap Edwin menerima obat pesanannya dengan tersenyum lebar.
Edwin keluar dari rumah sakit dengan wajah berseri-seri kembali ke kantor.
BERSAMBUNG....
Dear all readers... Maaf baru up dan hanya satu eps. Di karenakan penulis masih sakit.
Happy weekend😆
__ADS_1