Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 82 Sekedar Mengamati


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Edwin tiba di kantor. Hari ini dia datang lebih pagi dari hari biasanya.


“tap... tap... tap...” suara langkah kaki Edwin berjalan masuk ke ruangan lain yang bukan merupakan ruang tempat biasanya dia bekerja.


“kriek...”Edwin membuka pintu.


Dari dalam ruangan tampak seorang gadis duduk lalu menoleh ke arahnya setelah mendengar ada suara langkah kaki yang masuk.


“Lilia... kau sudah menunggu lama di sini ?”ucap Edwin berdiri di samping gadis itu.


Lilia berdiri dan menghampiri Edwin.


“Aku barusan lima menit masuk ke ruangan ini.”balas Lilia sambil tersenyum lebar menatap Edwin lalu mengajaknya untuk duduk.


Mereka berdua duduk bersebelahan di kursi dan mengobrol ringan.


“Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan David ?”tanya Edwin pada kekasihnya itu.


“Ya kau bisa lihat sendiri kan... selama di kantor si tua itu selalu memintaku untuk menemani dirinya di luar urusan kantor.”balas Lilia menjelaskan perkembangan hubungannya dengan ayahnya Irise.


Edwin tersenyum lebar mendengar cerita dari Lilia. Itu artinya rencananya yang telah dijalankan berjalan mulus.


“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Irise, sayang ?”ucap Melia bertanya balik pada lelaki itu.


“Yah... kau tahu sendiri... setiap hari aku memberinya obat dan tinggal menghitung hari saja wanita itu akan tinggal nama saja.”jawab Edwin senyum lebar menatap kekasihnya.


“Sebentar lagi kita akan bisa menguasai perusahaan ini...”ucap Edwin lagi menambahkan. Dia lalu memegang tangan Lilia dan meraih bahunya dan menyadarkan ke bahunya.


Dua puluh menit kemudian Irise tiba di kantor. Wanita itu keluar dari tempat parkir setelah memarkirkan mobilnya.


“tap... tap... tap...”suara langkah kaki iris berjalan memasuki kantor.


Jam menunjukkan masih pukul 07.15 pagi hari dan suasana kantor masih tampak sepi.

__ADS_1


Irise membuka pintu ruangan utama dan tidak menepati siapapun di ruangan itu.


“Ayah belum datang... mungkin dia datangnya siang karena ada Edwin yang sudah mengurus perusahaan ini.”gumamnya saat melihat meja ayahnya yang masih kosong.


Dia lalu efek samping dan menatap kemeja Edwin.


“Di mana Edwin... bukankah dia tadi sudah datang lebih duluan daripada aku...”gumamnya menatap meja Edwin yang kosong kemudian menatap ke sekeliling dan mencari lelaki itu namun juga tidak menemukannya.


Sharp Eye yang sedari tadi mengikuti dan terbang di sekitar Noah mengetahui di mana posisi keberadaan Edwin saat ini.


“Noah.... tanpa harus aku kasih tahu sebenarnya kau sudah tahu di mana Edwin berada kan ?”ucap Sharp Eye.


“ck ck... jadi dia saat ini sedang bersama Lilia.”jawabnya tersenyum kecil dan ingin memberikan kejutan kecil pada suaminya Irise.


“Sharp Eye perlihatkan tayangannya sekarang aku ingin lihat dia ada di mana saat ini.”ucap Noah penasaran pada apa yang dilakukan Edwin saat ini.


Sharp Eye kemudian menempelkan tayangan yang diminta oleh Noah. Dari tayangan tampak Edwin sedang berpelukan bersama Lilia.


Kali ini Noah tak melihat tayangan lama mengingat waktu yang semakin pendek dan mendekati jam masuk kerja.


“Irise bawa aku sekarang ke ruangan di mana Edwin berada saat ini.”ucap Noah pada Irise.


Dia pun membiarkan Irise untuk sesaat kembali ke tubuhnya untuk memberitahukan keberadaan Edwin.


“Jadi disini... mereka...”ucap Noah berhenti di depan sebuah ruangan setelah kembali mengambil alih tubuh Irise.


“klak...”Noah memutar gagang pintu.


Dari dalam Edwin dan Lilia segera melepas pelukan saat mendengar suara seseorang yang membuka pintu. Mereka terbalik dan menghadap pintu untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan itu.


“Irise...?”ucap Edwin terkejut saat melihat istrinya datang ke ruangan itu. Mukanya seketika menjadi pucat, begitu pula dengan Lilia yang tampak salah tingkah.


“Apa yang kalian berdua lakukan di sini ?”tanya Noah terus berjalan dan berhenti di depan dua orang yang gugup.

__ADS_1


“Aku kebetulan saja masuk ke ruangan ini untuk mengambil sebuah berkas yang dipesan oleh tuan David sebelumnya dan bertemu dengan tuan Edwin.”jawab Lilia membela diri dengan mengarang cerita bebas dan indah.


Gadis itu pun segera mengambil sebuah berkas secara acak yang kebetulan ada di belakangnya di sebuah meja.


“Nona Irise....aku permisi dulu. Aku sudah menemukan apa yang kucari.”ucap Lilia berpamitan kemudian keluar dari ruangan itu.


Noah tidak menjawab Dia hanya menoleh saja ke belakang menatap Lilia yang pergi meninggalkan mereka.


Dia kemudian beralih menatap Edwin dalam diam.


“Sayang... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Lilia sudah menjelaskannya sendiri padamu. Dia kebetulan bertemu aku di sini.”ucap Edwin membela diri dan menjelaskan agar istrinya tidak mengira dirinya bermain di belakangnya.


Noah hanya diam lalu menarik dasi Edwin.


“Baik... aku percaya padamu. Namun jika aku melihatmu bermain di belakangku apalagi menipuku jangan salah kan aku untuk diam saja.”ucap Noah kemudian melepaskan dasi Edwin.


Dia pun terbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju ke ruangannya.


Beberapa saat kemudian Noah tiba di depan ruangan utama. Namun dia berhenti setelah mendengar suara ayahnya yang sedang bicara dengan Lilia dan melihat saja dari luar apa yang mereka lakukan di sana.


“Lilia... tolong ambilkan kopi ku di sana.”ucap David yang duduk di tempatnya sambil menoleh ke meja Lilia.


“Baik... tuan.”jawab gadis itu.


Lilia berjalan untuk mengambilkan kopi, namun saat dia melewati David lelaki itu tiba-tiba menggodanya dengan menepuk pantatnya.


“Auw... tuan... jangan di sini... sebentar lagi nona akan datang.”ucap Lilia dengan polos.


“Jadi maksud mu kau mengizinkan aku melakukan ini di luar kantor ?”tanya David.


Lilia hanya tersenyum menggoda kemudian kembali berjalan untuk mengambil kopi David.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2