Mafia Penghancur Playboy

Mafia Penghancur Playboy
Eps. 83 Kerja Plus


__ADS_3

Sementara Noah di depan pintu hanya melihat saja tingkah Lilia yang kembali berpura-pura polos dan lugu di depan ayahnya Irise.


Gadis itu kembali ke meja David dengan membawa kopi.


“Tuan... ini kopi untuk tuan...”ucap Lilia sambil menaruh kopi ke meja David.


Lilia berbalik dan berjalan kembali ke mejanya, namun David menahannya.


“Lilia tunggu...”ucap lelaki itu kemudian berdiri dan menarik tangan Lilia.


David membawa Lilia dalam pangkuannya dan memegang pinggangnya.


“Tuan... bagaimana nanti jika ada yang melihat kita di sini...”ucap Lilia memegang tangan David dan berusaha menyingkirkan tangan itu dari pinggangnya.


“Siapa yang akan berani padaku di sini... ?”balas David dengan entengnya dan tak memperdulikan ucapan Lilia karena dia berkuasa di sana. Jika ada yang berani dengan dirinya maka mudah saja dia tinggal memecatnya kapan pun dia mau.


David mengurai rambut panjang pria yang menutupi leher mulusnya. Lelaki itu kemudian mendaratkan ciuman di sana dan meninggalkan jejak.


“Tuan... tolong... jangan di sini...”ucap Lilia berusaha melepaskan diri dari David namun tidak bisa.


Noah yang berada di pintu sudah merasa mual melihat kelakuan David, melangkahkan kakinya masuk.


“tap... tap... tap...”suara langkah kaki Noah berjalan melewati David.


Dia kemudian berhenti di depan David dan Lilia.


“Ayah....”ucapnya menyapa lelaki itu.


David yang sedang asyik bermesraan dengan Lilia seketika menghentikan aktivitasnya karena terkejut mendengar sapaan dari putrinya.


Dia segera melepaskan tangannya dari tubuh Lilia. Sedangkan Lilia segera berdiri dan bergeser menjauh dari David.


“Irise...kau sudah datang rupanya...”jawab David dengan tenang dan biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Lilia tampak diam dan menundukkan kepala di depan Irise karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


“Lilia... sekarang kembalilah kau ke mejamu dan siapkan bahan laporan meeting untukku.”ucap David supaya gadis itu tak mendapat teguran dari putrinya.


“Baik tuan...”jawab Lilia segera pergi dari sana dan kembali ke tempat duduknya. Dia merasa laga karena tidak bicara dengan Irise ya mungkin saja tidak akan suka padanya.


Irise hanya menatap Lilia yang berjalan dengan menahan kesal.


“Dasar gadis penggoda... pelacur murahan. Kau membuat lelaki ini pisah ranjang dengan ibuku.”batin Irise.


“Oh ya... hari ini kau datang sendiri lalu di mana suamimu ?”ucap David mengalihkan pembicaraan karena tahu reaksi dari putrinya yang tak suka melihat hubungannya dengan sekretarisnya.


“Ah... si Edwin ada di gudang...”balasnya terlihat kesal teringat kembali pada apa yang lelaki itu lakukan dengan Lilia.


David teringat ada satu pekerjaan yang belum selesai.


“Irise... coba kau bantu ayah mengerjakan tugas ini.”ucap David mengambil beberapa berkas laporan dari meja dan menyerahkannya pada putrinya.


“Oh... ya baik ayah... aku akan mengerjakannya.” balas Irise menyanggupi permintaan ayahnya.


Dia menerima berkas yang diberikan oleh David lalu membawanya menuju ke tempat duduknya.


Irise mengesampingkan kekesalan yang ada saat ini dan mulai fokus pada pekerjaan yang ada di depannya.


“tap... tap... tap...”suara langkah kaki lain yang masuk.


“kriek...”suara pintu terbuka.


Noah yang tahu siapa yang masuk, sama sekali tidak menoleh ke arah pintu dan tetap fokus mengerjakan tugasnya.


Edwin masuk ke ruangan. Dia tertegun saat melihat sosok Irise yang ada di sana dan sedang serius mengerjakan sesuatu.


“Irise... kenapa dia ada di kantor lagi... bukankah dia jam segini biasanya masih dalam pengaruh obat dan belum bangun...”batin Edwin.

__ADS_1


Lelaki itu sempat punya pikiran akan menambah dosis obatnya saja namun ia urungkan karena ini bukan saat yang tepat untuk melakukan itu.


“Irise... bagaimana keadaanmu... apa kau hari ini baik-baik saja ?”tanya Edwin berhenti di depan istrinya dan berbasa-basi padanya.


“Aku baik-baik saja hari ini. malahan aku merasa lebih segar dan lebih sehat dari biasanya.” jawab wanita itu sambil tersenyum kecil menatap Edwin kemudian melanjutkan pekerjaannya dan tak menghiraukan lelaki itu.


Edwin pun kembali berjalan menuju ke tempat duduknya, yang ada di samping meja Lilia.


Edwin duduk dan menaruh tasnya ke meja. Dia melihat Lilia yang merapikan rambutnya. Ada tanda merah di leher kekasihnya itu.


“Itu pasti kerjaan si tua David...”batin Edwin sambil tersenyum kejar dan merasa senang mengetahui lelaki tua itu sudah terjerat oleh Lilia.


Sore harinya Irise segera pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya dan menikmati waktu di rumah, daripada lembur di kantor.


Edwin juga hari ini pulang ke rumah karena ada Irise di sana. Mungkin nanti dia akan menyelinap pergi menemui Lilia saat Irise tidur.


Saat ini di kantor menyisakan David dan Lilia saja yang memang sedang lembur.


Sepuluh menit kemudian pekerjaan mereka selesai. Karena suasana Kantor sepi maka David leluasa untuk melakukan apa saja yang dia mau tanpa ada yang mengganggu.


David berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Lilia yang sedang berkemas.


“Lilia... aku memberimu pekerjaan tambahan sebagai sekretaris ku.”ucap David sambil memeluk baru Lilia dari samping kiri.


“Tugas apa tuan... ?”jawab Lilia menoleh ke samping.


“Tugas khusus menyenangkan diriku.”balas David tersenyum lebar.


Beberapa saat kemudian David membawa Lilia ke hotel dan check in di sana tanpa bisa menolaknya.


Mereka saat ini menikmati waktu bersama di sebuah kamar di hotel di balik selimut lembut yang membungkus tubuh mereka berdua.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2