
Suatu pagi di suatu tempat terlihat Irise sedang duduk menatap layar laptop bersama Sharp Eye di lantai atas di rumah.
“Aku ingin tahu bagaimana kabarnya Edwin dan Lilia.”ucapnya menatap elang yang ada di dekatnya.
“Baiklah aku akan menunjukkannya padamu.”jawab Sharp Eye singkat.
Seketika langsung muncul slide di layar laptop Irise yang menampilkan Edwin dan Lilia.
Dalam sebuah sel wanita terdapat Lilia yang mengenakan baju tahanan berwarna orange sedang duduk di sudut ruangan.
“Kenapa nasib ku berakhir seperti ini ? Hanya janin ini yang menguatkan diriku untuk saat ini.”gumam Lilia sambil menyentuh perutnya.
Tiba-tiba gadis itu merasa perutnya sakit tanpa sebab.
“Kenapa perut ku sakit sekali ?”ucapnya. Ia pun merasa ada yang merembes dari kakinya.
Saat dia berdiri Lilia terlihat sangat terkejut sekali saat mendapati darah menetes dari kakinya.
“Tidak... ini... darah ini... apa yang terjadi dengan janinku ?”pekik Lilia yang terkejut melihat darah yang keluar semakin banyak.
“Tolong.... ! Bawa aku ke rumah sakit segera dan selamatkan bayi ku !”teriak Lilia meminta tolong.
Dua petugas sipir datang dan masuk ke sel menghampiri Lilia yang terlihat histeris melihatnya terus-menerus berteriak.
“Kau ini menstruasi bukan hamil.”ucap penjaga sipir setelah memeriksa keadaan Lilia.
“Aku hamil dan aku tidak keguguran. Tolong aku cepat bawa aku ke rumah sakit.”teriak Lilia masih histeris dan penjelasan dari penjaga sipir.
Dua penjaga sipir mundur dan berbicara lirih.
“Sepertinya tahanan ini mulai kehilangan akal sehatnya.”ucap seorang penjaga sipir.
“Kita bawa keluar saja dia dari sini sebelum dia mengganggu tahanan lainnya.”jawab petugas sipir lainnya.
Dua petugas tadi kemudian keluar dari sel. Di luar sel salah satu dari mereka menelepon seseorang.
Tak beberapa lama kemudian datanglah tim dari Rumah Sakit Jiwa datang menjemput Lilia.
__ADS_1
“Ayo ikut kami.”ucap petugas medis di luar sel dengan dikawal beberapa petugas sipir.
Lilia membaca nama rumah sakit yang tertera di mobil ambulans.
“Tidaaak... lepaskan aku ! Aku tidak gila ! Aku tidak mau dibawa ke sana !”teriak Lilia histeris dan berusaha melepaskan diri namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
“ck... ck... ck...”ucap Irise kemudian menutup laptopnya setelah meminta Sharp Eye mengakhiri tayangan slide.
Dua puluh menit sebelumnya di luar rumah Irise dari kejauhan mobil Alland berhenti di depan rumahnya.
Setelah mobil itu berhenti datanglah sebuah pick up berwarna putih yang membawa ribuan mawar merah.
Alland turun dari mobil dan menghampiri pengemudi pick up yang masih duduk di tempatnya.
“Tuan tolong tunggu sebentar di sini dan tunggu kode dari ku baru susun semua bunganya.”ucap Alland menjelaskan rencananya.
Selesai menjelaskan lelaki itu masuk ke rumah Irise dan mencari pelayan yang ada di sana.
“Bibi... ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.”ucap Alland pada pelayan yang dia temui.
Alland menceritakan rencananya dan meminta pelayan itu membantunya.
Alland menuju ke lantai satu tempat Irise berada saat ini. Dia melihat gadis itu sedang duduk di kursi. Ia berjalan pelan dan setibanya di samping Irise gadis itu ternyata tertidur.
“Kebetulan sekali.”batin Alland tersenyum kecil. Ia pun segera menutup mata Irise dengan kedua tangannya.
“Irise... bangunlah sebentar.”bisik Alland.
“Alland... kapan kau datang ? Apa ini... lepaskan tangan mu.”ucap Irise berusaha menyingkirkan tangan lelaki itu dari matanya.
“Ayo ikut aku ke depan. Aku punya sesuatu untukmu.”
Irise mengikuti saja permintaan dari Alland dan membiarkan lelaki itu menuntunnya hingga keluar rumah.
“Satu... dua... tiga !”
Alland melepaskan tangannya dan Irise melihat hamparan bunga mawar merah di depan rumahnya yang di susun cantik membentuk sebuah tulisan dan pernyataan cinta untuk dirinya.
__ADS_1
“Alland... apa ini ?”ucap Irise terkejut karena baru kali ini dia mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Inilah perasaanku padamu. Jadi apa jawaban mu ?”tanya Alland menunggu dengan harap-harap cemas.
Irise terlihat sangat senang sekali namun dia bingung harus menjawab apa.
“Alland semua ini terlalu cepat bagi ku. Aku belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.”balas Irise. Dalam hati gadis itu sebenarnya sudah ada hati pada Alland.
“Irise kau terima saja lamarannya masalah pernikahan nanti bisa dibicarakan kembali.”ucap Noah memberi saran.
Sharp Eye mendekati Noah dan menyampaikan sesuatu.
“Bravo Noah... ! Misi mu kali ini sudah selesai dan kau menjalankannya dengan baik.”ucap Sharp Eye.
Arwah Noah kemudian keluar dari tubuh Irise setelah sistem menyatakan misinya benar-benar selesai.
“Baik Alland... aku menerima lamaran mu.”jawab Irise sambil tersenyum lebar.
Alland yang bisa melihat roh Noah menatapnya sebentar.
“Terima kasih sudah membantu Irise dan membantu ku. Semoga kau bisa segera menyelesaikan misi mu.”ucap Alland lirih sambil meramaikan tangan padanya.
“Irise apa benar kau menerima lamaranku ?”
Irise mengangguk dan dia pun segera mengeluarkan sebuah cincin yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Ia kemudian memakaikan cincin itu di jari manis Irise.
“Alland....”ucap Irise kemudian memeluk lelaki itu.
Irise melihat arwah Noah yang tersenyum melihatnya.
“Noah terima kasih banyak sudah membantuku. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.”ucap Irise melambaikan tangan padanya.
“Ya kau sudah menemukan pangeran impianmu Irise seorang lelaki yang bener-bener berbeda dari Edwin. Semoga hubungan kalian berdua bertahan selamanya.”balas Noah tersenyum tulus.
Dalam hitungan detik Noah bersama Sharp Eye menghilang dari sana dan terisap masuk ke sebuah waktu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1